
Heh, kamu siapa?! Ikut campur masalah kami. Kalau tidak tau apa apa jangan ikut campur dong,” protes salah satu laki laki yang baru saja dipukul Devan.
Devan melirik pada Lala yang tengah berlutut sambil menangis. Lalu kembali fokus pada orang orang itu. “kalau begitu sekarang katakan apa alasan kalian melakukan itu?” tanyanya dengan sorot matanya yang tajam.
“Dia berjualan dengan tidak jujur, dia mengurangi timbangan saat kami membeli cabainya tadi,” ujar salah satu laki laki yang berkumis tebal itu.
Devan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Dia bukan tipe orang seperti itu! Memangnya apa buktinya kalau dia mengurangi timbangan? Kalian bilang membeli cabainya kan. Sekarang mana cabai yang kalian beli? Kenapa tangan kalian kosong,” desak Devan yang membuat mereka terdiam seribu bahasa.
“Kalau kalian tidak ada bukti seperti ini, saya akan laporkan kalian pada pihak yang berwajib. Karena kalian sudah merusak dan menghancurkan dagangannya!,” tegas Devan bersiap mengambil ponselnya untuk menghubungi polisi.
“J-jangan pak, kami tidak bersalah. Disini kami hanya disuruh saja!” akhirnya salah satu dari mereka mengaku.
Devan mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel lalu kembali menatap mereka. Devan mencengkram kerah baju pria berkumis itu dengan kuat, ia tidak bisa menahan emosinya saat mereka mengatakan hanya disuruh.
“Katakan! Siapa yang menyuruh kalian?!” gertaknya.
“Pedagang cabai di sebelah itu, pak. Saya dibayar untuk memfitnah gadis ini dan merusak barang dagangannya,” jawab mereka dengan cepat.
“Kalian seret dia kesini atau wajah kalian akan saya buat hancur!” ancam Devan yang membuat mereka ketakutan.
Devan dengan sengaja mendorong pria itu sampai terjatuh ke tanah. Salah satu dari mereka tiba tiba pergi dan kembali dengan membawa seorang wanita yang Devan tebak umurnya hampir sama dengannya.
“Dia pak yang menyuruh kami,” pria itu mendorong Pedagang itu pada Devan. Jelas sekali saat ini pedagang cabai itu ketakutan. Tubuhnya bahkan bergetar karena melihat sorot mata Devan yang seolah ingin membunuhnya sekarang juga.
Devan mengangkat tangannya mengusir orang orang itu pergi. Kali ini dia melepaskannya karena ia tidak mau memperpanjangnya. Tapi tidak dengan wanita yang notabene pedagang yang menyuruh mereka itu. Devan langsung menyeret wanita itu dan membawanya keluar dari kerumunan pasar. Sebenarnya ia paling tidak suka kasar dengan wanita, tapi hari ini pengecualian.
Lala yang melihat semua itu hanya bisa terdiam sambil meratapi nasibnya. Dengan sisa sisa air matanya Lala memungut semua cabainya yang berceceran di tanah karena ulah orang itu. Lala tidak menyangka jika yang melakukan semua ini adalah ulah pedagang baru itu. Andai dari awal dia tau ini ulahnya Lala pasti tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
“Kita memang orang baik, Nak. Tapi orang baik tidak harus diam saat disakiti. Ada kalanya kita melepaskan amarah kita pada orang itu sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sikapnya yang salah.”
Tiba tiba perkataan dari ayahnya terngiang dalam pikiran Lala. Lala memejamkan matanya sejenak, seharusnya dari awal ia harus melawan penindasan itu. Tapi apalah dayanya yang hanya seorang perempuan biasa. Lala tidak berani melawan mereka karena jumlah mereka.
Sementara itu, Devan terus menyeret Pedagang wanita itu sampai ke mobilnya. Entah apa yang akan ia lakukan. Wajahnya saja sudah menunjukkan kemarahan yang tidak terkontrol. Saat sampai di mobil Devan langsung mendorong wanitu itu hingga membentur pintu mobilnya dengan keras.
Wanita itu memekik kesakitan karena dorongan yang begitu keras itu.
“M-maafkan saya, Tuan. Tolong lepasin saya, saya harus pulang,” ucap wanita itu dengan terbata bata dan tidak berani menatap wajah Devan.
Devan tersenyum sinis, ingin rasanya ia menampar wanita itu karena ulahnya. Tapi Devan tidak sekejam itu. ia hanya memberinya tatapan menyeramkan.
“Enak saja kamu mau pulang! Kamu harus tanggung jawab dengan perbuatanmu itu!” dengus Devan.
“Tapi ini tidak sepenuhnya salah saya, Tuan. Kalau saja gadis itu tidak membocorkan apa yang saya lakukan mungkin saya tidak akan melakukan ini,” wanita itu masih mencoba untuk membela dirinya sendiri meskipun rasa takut masih menguasainya.
Devan mengurung wanita itu dengan kedua tangannya kemudian mendekatkan wajahnya di samping telinganya. Wanita itu tidak bisa mundur lagi, ia memejamkan matanya dengan erat karena saat ini jaraknya dengan Devan benar benar dekat. Nafas Devan tak beraturan di telinganya. Seandainya ini bukan masalah ia rela jika harus dicium Devan. Sayangnya bukan itu yang akan Devan lakukan.
Wanita itu langsung membuka mata begitu mengetahui siapa Devan sesungguhnya. Wajahnya menunjukkan kepanikan.
“M-maafkan saya Tuan, saya janji akan segera minta maaf dan membayar kerugian dari gadis bod....”
Devan melototkan matanya saat mendengar wanita itu akan menyebut Lala sebagai gadis yang bodoh. Segera saja wanita itu meralat ucapannya.
“Maksud saya gadis cantik itu,”
“Lalu?” tanya Devan.
“Lalu apa?” wanita itu juga bertanya balik.
__ADS_1
Baru saja Devan akan menjawabnya, Lala tiba tiba saja datang menyusul mereka. Tatapan Lala hanya tertuju pada wanita itu. Devan memberinya kode agar segera minta maaf. Saat wanita itu akan minta maaf, Lala sudah menjambaknya terlebih dahulu. Hal itu membuat Devan langsung terkejut.
“Ternyata kamu dalang di balik penghancuran jualanku. Sekarang kamu rasakan ini, aku tidak akan mengampunimu!”
Lala menarik rambut wanita itu dengan kuat kuat. Wanita itu kesakitan dan minta tolong pada Devan untuk melepaskannya.
“Kalau om sampai bantuin dia, aku gak mau ketemu om lagi,” ancam Lala dan berhasil membuat Devan mengurungkan niatnya untuk membantu. Alhasil Devan hanya menjadi penonton di tengah tengah dua orang itu.
“Aku sudah memperingatkanmu untuk berhenti berbuat curang seperti itu, kenapa kamu membalasnya dengan menghancurkan daganganku! Kamu pikir aku berjualan di pasar hanya untuk kau hancurkan.” Hardik Lala pada wanita itu.
wanita itu terus meronta kesakitan dan berusaha melepas tangan Lala.
‘A-aku minta maaf, aku akan segera membayar kerugianmu. Tapi tolong lepasin tangan kamu sekarang juga,”
Lala melirik pada Devan yang menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
“Dia sudah menyadari kesalahannya, lepasin aja La.” Ujar Devan.
Lala pun melepaskan rambut wanita itu begitu saja.
“Cepat! Bayar ganti rugimu sesuai cabai yang dihancurkan,”
Wanita itu mengangguk, rambutnya sudah terlihat acak acakan karena jambakan Lala. Ia segera mengambil dompetnya dan memberikan semua uang penjualannya hari ini. Setelah itu ia langsung pergi dan berlari menjauh.
Lala menghitung uangnya tapi tiba tiba ia sudah berada dalam dekapan seseorang. Lala tertegun, Devan memeluknya dengan erat.
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak
Like kalian penyemangatku