Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
16. Sebuah pelukan


__ADS_3

Lala melirik pada Devan yang menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


“Dia sudah menyadari kesalahannya, lepasin aja La.” Ujar Devan.


Lala pun melepaskan rambut wanita itu begitu saja.


“Cepat! Bayar ganti rugimu sesuai cabai yang dihancurkan,”


Wanita itu mengangguk, rambutnya sudah terlihat acak acakan karena jambakan Lala. Ia segera mengambil dompetnya dan memberikan semua uang penjualannya hari ini. Setelah itu ia langsung pergi dan berlari menjauh.


Lala menghitung uangnya tapi tiba tiba ia sudah berada dalam dekapan seseorang. Lala tertegun, Devan memeluknya dengan erat. Lala terdiam kaku dalam pelukan Devan. Meskipun beegitu ia tidak memberontak seperti biasanya. Lala menikmati pelukan Devan. Perlahan tangannya juga membalas pelukan Devan.


“Maaf, saya datang terlambat,” ucap Devan di sela sela pelukannya.


Lala tidak menjawab, ia malah semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Devan. Lala kembali menumpahkan tangisnya. Ini pertama kalinya ia merasa dilindungi oleh seseorang. Padahal awalnya Lala begitu tidak menyukai Devan. Namun seiring berjalannya waktu Lala sudah terbiasa dengan kehadiran Devan dalam hidupnya.


“Makasih, kak.” Jawab Lala dengan suaranya yang tidak terlalu jelas.


Devan membulatkan matanya saat mendengar panggilan itu keluar dari mulut Lala. Seketika ia melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah Lala dengan kedua tangannya.


“Kamu memanggil saya apa?” tanya Devan dengan raut wajah yang bahagia.


Lala yang diperlakukan seperti itu tiba tiba merasa gugup di hatinya. Pipinya memanas karena tangan Devan yang menempel di pipinya. Lala memberanikan diri mengangkat wajah dan melihat wajah Devan yang kini sangat dekat dengannya.


“Aku memanggilmu kak, apa kamu keberatan?” tanya Lala dengan wajah polosnya.


Devan yang merasa gemas dengan Lala seketika mencubit pipinya dengan pelan. “Gemesin banget sih kamu. Justru saya senang kalau kamu memanggil saya seperti itu. setidaknya saya tidak jadi om om untuk kamu,”


“Kalau gitu mulai sekarang aku manggilnya kak Devan ya?”


“Boleh, kalau gitu aku juga tidak akan menyebut diriku sebagai saya lagi. Sekarang hanya ada aku, kamu dan kita.” Jawab Devan


Lala tersenyum dan melepaskan tangan Devan dari pipinya. Semakin lama tangan itu ada disana mungkin wajah Lala akan semakin menghangat. Ia tidak akan membiarkannya. Devan yang tangannya dilepas langsung menurunkan tangannya.


“Dari pada kita lama lama disini lebih baik ita balik ke lapakmu. Sebenarnya aku kesini untuk mengajakmu makan siang bersama berhubung tadi aku melihatmu seperti itu yaudah aku tinggalin makanannya disana dan memukul orang itu,”

__ADS_1


“Kalau gitu ayo kita balik,”


Lala berjalan dan meninggalkan Devan sendirian. Ia akan menyebrang tapi sebuah tangan malah memegang tangannya. Lala menoleh ke sampingnya dan menemukan Devan yang tersenyum manis padanya.


“Biar aman,” ujar Devan agar Lala tidak bertanya.


Lala mengangguk dan membiarkan Devan menggenggam tangannya.


Setelah kendaraan mulai sepi mereka berdua langsung menyebrang. Meski begitu Devan tidak melepaskan tangannya walaupun mereka sudah selesai menyebrang. Lala dan Devan masuk ke pasar dengan bergandengan tangan.


Setelah tiba di lapaknya, Lala melepas genggaman itu.


Devan juga mengambil makanan yang ia simpan di samping lapak Lala. Untung saja makanan itu masih utuh dan tidak ada yang mengambilnya.


“Minumnya udah gak dingin, kamu gak masalah kan?” tanya Devan sambil menunjukkan minuman cokelat dengan gelas plastik ala Restoran.


“Gpp kok, kak.” Jawab Lala.


Devan mengangguk mengerti, ia menghampiri Lala yang membersihkan tempatnya. Devan juga ikut membantunya, dia membuka jasnya kemudian menyimpannya terlebih dahulu.


Banyak orang yang memperhatikan mereka akan tetapi keduanya tidak menghiraukannya. Setelah membersihkan tempat baru lah mereka makan siang bersama. Lala membuka nasi kotak miliknya dan mulai menyuapi dirinya dengan menggunakan tangan. Sedangkan Devan, ia tidak terbiasa menggunakan tangan alhasil ia menggunakan sendok. Lala yang melihatnya langsung menegurnya.


“Coba deh, kak. Jangan pakai sendok mulu. Makan pakai tangan lebih enak tau,” ucapnya.


“Aku gak terbiasa,” jawab Devan dengan kikuk.


Lala hanya menggelengkan kepalanya kemudian mengambil sesuap nasi dan lauknya kemudian ia menyodorkannya pada Devan. “Coba dulu, sini aku suapin,” ujarnya sambil menatap wajah Devan yang tiba tiba memerah.


Devan mendekatkan wajahnya dan makan dari suapan yang diberikan Lala. Bibir tipisnya bersentuhan dengan tangan lembut Lala. Setelah itu ia kembali memundurkan wajahnya sambil mengunyah makanan itu.


“Gimana kak? Enak gak?” tanya Lala setelah melihat reaksi Devan.


Devan mengangguk, “Lebih enak disuapin kamu ternyata.”


Lala tertawa kemudian melanjutkan makannya. Begitu pun dengan Devan, mereka makan sambil sesekali mengobrol. Sampai tak terasa waktu berjalan begitu cepat, selesai makan siang Devan berpamitan untuk kembali ke kantor.

__ADS_1


.


.


.


Tak terasa hari sudah sore, Lala sudah bersiap untuk pulang dari pasar. Seharusnya ia sudah pulang dari siang tadi karena semua cabainya sudah rusak dan tak ada yang bisa dijual. Akan tetapi Lala memilih untuk tetap di pasar. Ia tidak mau membuat ibunya penasaran jika dia harus pulang lebih awal.


Lala mengambil kunci motornya untuk pulang. Dalam perjalanan pulang Lala terus kepikiran tentang Devan. Perlakuan Devan hari ini membuat Lala tiba tiba merindukan laki laki itu. padahal baru beberapa jam saja mereka bertemu sekarang Lala malah merindukannya.


“Aduh Lala, kamu kenapa sih! Gak biasanya kamu kepikiran cowok!” gumamnya dalam hati.


Lala menggelengkan kepalanya berusaha mengeyahkan pikirannya tentang Devan. Ia melanjutkan perjalanan pulangnya hingga benar benar tiba di rumah.


.


.


Malam hari


Lala masih terjaga meskipun waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. sedari tadi ia berusaha untuk tidur namun tak bisa. Lala mencari posisi yang nyaman tetap saja ia tidak bisa tidur. Lala berdecak kesal dan memutuskan untuk turun dari kasur. Ia keluar dari kamarnya dan memilih untuk ke luar rumah. Lala duduk di kursi depan rumah sambil melihat gelapnya malam di luar.


Setiap kali Lala tidak bisa tidur, ia selalu keluar rumah untuk melihat hamparan bintang di langit. Meskipun malam hari, Lala tidak pernah takut untuk duduk di luar sendirian. Justru ia merasa tenang setiap ada di luar sendirian. Lala memeluk tubuh dirinya sendiri saat rasa dingin mulai menusuk kulitnya.


“Malam itu begitu indah, kamu hanya akan mengetahui keindahannya saat sudah terbiasa dengan kegelapan. Jika ada yang bilang malam itu menakutkan itu artinya dia hanya melihat dari sudut ketakutannya. Dia tidak melihatnya berdasarkan ketenangan hati. Malam memang identik dengan kegelapan, kegelapan yang bisa memberikan cahaya.”


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa tinggalin jejak biar makin semangat


Update setiap hari


TTD

__ADS_1


Lala


__ADS_2