Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
29. Pengakuan


__ADS_3

“Dokter, bukankah Clarisa hanya mengandung satu bayi. Kenapa dokter bilang mereka?” tanya Devan.


Dokter wanita itu menoleh pada Devan dan tersenyum.


“Mungkin pada waktu diperiksa salah satunya masih belum terlihat, pak. Tapi hasil pemeriksaan saya tidak salah. Ibu Clarisa memang hamil dua bayi dan mereka kembar. Kandungan ibu Clarisa masih berumur 8 minggu, jadi sudah memasuki bulan ke dua,”


Clarisa menerbitkan senyumnya, lalu tersenyum pada Devan.


“Maaf, Dev. Aku akan membuatmu menjadi ayah  anak ini nanti,”


Flasback OFF


Devan mendadak panik karena Lala yang terus mematikan telfon darinya. Ia baru mengetahui kalau ia sudah diberitakan. Dan Aris memberi tahunya bahwa berita tentangnya sudah tersebar luas di Indonesia. Devan yakin saat ini Xander juga sudah mengetahuinya. Ia tidak tau lagi harus seperti apa.


Saat Devan akan menghubungi Lala lagi, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya dengan nama Xander yang tertera. Devan sudah menduganya, Xander pasti menghubunginya karena masalah ini. Devan langsung mengangkatnya. Dan belum sempat ia bicara, Xander langsung menyerocos.


“Devan!!! Apa yang kau lakukan disana?! kenapa sampai ada berita seperti itu tentang kamu.”


Devan menghela nafasnya lalu menjawab pertanyaan itu dengan tenang.


“Berita itu tidak benar, pa. Memang benar aku bersama Clarisa di rumah sakit untuk cek kandungan. Tapi apa yang tertulis di berita itu tidak benar. Pertama, aku tidak balikan sama Clarisa. Dan kedua Clarisa bukan hamil anak aku,” jawabnya.


Xander tentu saja tidak langsung percaya, “Tapi semua foto itu sudah menjadi bukti?! Mau ngelak apa lagi kamu. Bahkan Clarisa saja sudah mengakui itu anak kamu. Jadi mau bohong apa lagi?”


Devan mengernyitkan keningnya saat Xander mengatakan Clarisa sudah mengakui. Tanpa mematikan telfonnya Devan membuka web yang menampilkan beritanya. Ia terus menggulir layarnya sampai akhirnya menemukan satu video dimana Clarisa di kerumuni oleh wartawan Korea yang juga  memberitakan berita di indonesia.


Devan memutar Video itu dan melihatnya dengan jelas.


“Jadi, apa benar anak yang dikandung anda itu anaknya pak Devan?” tanya salah satu wartawan sambil menyodorkan mic pada Clarisa.


Clarisa memasang wajah tersenyum bahagia lalu menjawab, “Iya, ini benar anak kami. Devan sudah mengajakku untuk kembali bersamanya. Hanya saja belum ada bukti secara resmi. Kami melakukannya sebelum kembali menjadi suami istri lagi. Doakan saja agar secepatnya kami bisa langsung mengadakan resepsi kembali,”


“Sudah berapa lama anda berhubungan dengan pak Devan sejak bercerai itu?”


“Masih belum terlalu lama, kita bertemu kembali empat bulan yang lalu dan melakukan hubungan suami istri lagi,” jawabnya dengan tidak tau malu.

__ADS_1


Devan mengeraskan rahangnya saat melihat video itu, matanya menggelap dengan rasa marahnya melihat Clarisa yang berbohong di depan publik. jika tau kejadiannya akan seperti itu  Devan tidak akan menolongnya. Ternyata mantan istrinya itu masih sama liciknya seperti dulu.


“Dasar jal*ng,” umpatnya tak sengaja.


Xander bisa mendengar umpatan Devan.


“Papa gak mau tau, Devan. Malam ini juga kamu lakukan penerbangan dan kembali indonesia. Perusahaan mengalami kerugian yang cukup besar karena beritamu ini!”


Setelah itu Xander memutuskan panggilannya secara sepihak. Devan langsung memesan tiket untuk penerbangannya malam ini. Setelahnya barulah ia keluar dari kamar hotelnya. Devan tidak akan melepaskan Clarisa begitu saja. Dia harus mendapatkan penjelasannya dulu.


.


.


.


Sementara Devan, pergi untuk mencari Clarisa. Aris dan Fitri disibukkan dengan orang orang yang berkumpul di depan kamar hotel Devan. Mereka adalah wartawan dari indonesia yang langsung diperintah untuk ke Korea dan memastikan kebenarannya sendiri. Aris dan empat bodyguard lainnya berusaha untuk mengusir mereka dari depan kamar Devan.


Akan tetapi mereka masih kalah jumlah, jumlah wartawan yang ada di depan kamar Devan sebanyak dua puluh lima orang.


Fitri yang baru saja selesai menerima telfon, ia menghampiri Aris yang terus dikerumuni karyawan dan dimintai keterangan.


Aris menoleh sebentar, ia mengangkat alisnya dengan bingung.


“Apa?” tanyanya.


Fitri sedikit berjinjit dan membisiki Aris, “Pak Xander bilang, jangan sampai kita memberi mereka informasi apapun. Salah satu dari mereka adalah suruhan dari perusahaan lain yang bersaing dengan ketat dengan perusahaan kita. Pak Xander khawatir jika kita sampai salah bicara, mereka akan memanfaatkan itu dengan baik untuk menjatuhkan kita.”


Aris mengangguk mengerti, lalu ia menoleh pada bodyguard bodyguard itu dan membisikkan hal yang sama. Aris mengacungkan jempolnya pada Fitri yang dibalas dengan senyuman manisnya.


.


.


Devan mendatangi hotel Clarisa, kali ini dia tidak perlu bantuan Aris untuk mencari tahu keberadaan seseorang. Devan sangat mengenal Clarisa, jadi kemungkinan besar dia sangat tau dimana Clarisa berada.

__ADS_1


Hotel Neogo Ya


Dengan ekspresi wajah yang terlihat emosi, Devan memarkirkan mobilnya di depan hotel itu. Sebelum keluar dari mobil, Devan menutupi kepalanya dengan tudung jaketnya lalu ia menambahkannya dengan topi dan kaca mata hitam miliknya. Setelah memastikan ia tidak akan ketahuan, Devan pun turun dari mobil.


Devan masuk ke dalam hotel itu, ia berjalan lurus dan tidak menghiraukan pandangan orang disekitarnya. Ia masuk ke dala lift dan menekan tombol yang bertuliskan angka 4.


“Jangan pernah bermain main denganku Clarisa! Cukup dulu saja kau mempermainkanku. Sekarang akan aku balas semua perbuatanmu itu,” gumam Devan dengan sorot matanya yang tajam.


Setelah liftnya tiba di lantai empat, dengan kakinyayang panjang Devan melangkah. Ia mencari sebuah nomor yang menempel di pintu kamar itu. Devan sudah mengetahui dimana kamar Clarisa karena ia sempat melihatnya dalam tas Clarisa saat cek kandungan.


“406?”


Devan mengangguk setelah menemukan kamar yang bernomor seperti itu. tanpa pikir panjang lagi dia langsung mengetuk pintu sekaligus membunyikan belnya.


“Siapa?” tanya suara dari dalam kamar itu. Devan yakin itu adalah suara Clarisa. Itulah sebabnya dia tidak menjawab dan menunggu pintu dibukakan saja.


Saat pintu terbuka, Clarisa langsung membulatkan matanya melihat siapa yang datang.


“Devan?! Kenapa kamu tau aku ada disini?” tanyanya sekaligus heran.


Devan tersenyum sinis, dia menoleh ke kanan dan kirinya. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Devan langsung masuk ke kamar Clarisa dan mengunci pintunya.


Clarisa tersenyum saat Devan mengunci kamarnya.


“Kamu mau jengukin anak kita, Devan?!” ucapnya sambil mengelus bahu Devan dengan jari jari lentiknya.


Devan masih diam, dia hanya melihat apa yang Clarisa lakukan padanya.


“Maaf ya, Devan. Aku terpaksa berbohong dengan berita itu. Kalau aku mengaku aku hamil dengan kekasihku mungkin karirku sebagai model akan hancur begitu saja,” lanjut Clarisa lagi sambil mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Devan yang semakin terlihat tampan di matanya.


“Sudah?”


 


Bersambung..

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca


Jangan lupa like+komentar


__ADS_2