Gadis Kesayangan Duda

Gadis Kesayangan Duda
33. Masih berduka


__ADS_3

 “Wow, ini dia yang ditunggu tunggu! Akhirnya setelah sekian lama tidak bertemu pada akhirnya sekarang kita bertemu lagi Clarisa,” ujar Xander sambil menyeringai ke arah Clarisa.


Clarisa pun akhirnya memberanikan diri untuk menatap Xander.


“Ya, senang bertemu anda kembali, papa mertua,” balas Clarisa seolah menantan Xander dengan memanggilnya papa mertua.


“Oh Clarisa, rupanya kamu masih sama seperti dulu ya. Wanita yang tidak tau diri, sama seperti mendiang ibumu juga,” balas Xander.


Wajah Clarisa memerah saat Xander membawa nama ibunya dalam permasalahannya ini.


“Diamlah! Anda tidak berhak mengatakan itu.”


Xander terkekeh pelan lalu maju dan mendekati Clarisa. Xander melihat penampilan Clarisa dari atas sampai ke bawah lalu berdecak.


“Lalu apa hak kamu mengakui Devan sebagai anak kamu padahal bukan?!”


 


Clarisa langsung terdiam saat Xander malah menyerangnya dengan telak. Clarisa tau, Xander bukan orang yang sembarangan. Dia tidak mungkin tidak tau jika semua ini hanya akal akalannya saja. Dua tahun sudah dia tidak berhadapan langsung dengannya tapi sekarang mereka dipertemukan lagi dengan dirinya yang kembali mencari masalah dengan Devan.


“Kenapa diam saja Clarisa? Apa diammu ini akan berarti disini,” sindir Xander lagi.


Devan yang mendengarnya langsung memilih duduk di sofa dengan santainya, Xander hanya membiarkannya, ia bisa mengomeli putranya nanti tapi saat ini yang penting adalah memberi pelajaran pada mantan menantunya itu.


“Sudahlah, pa. Sekarang langsung katakan saja apa tujuanmu membawaku kemari. Aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara omong kosong denganmu,” ucap Clarisa pada akhirnya.


Xander kembali pada mejanya lalu membuka lacinya, ia mengambil sebuah amplop cokelat yang sangat tebal. Setelah ia mengambilnya, Xander kembali melangkah dan mendekati Clarisa. Xander memberikan amplop yang berisi uang itu pada Clarisa dan meletakkan di tangannya langsung.


“Uang ini sangat cukup untuk membayar mulutmu yang busuk itu! jadi aku menyuruhmu kesini hanya untuk klarifikasi tentang ucapanmu di Korea itu. Dan kamu juga harusnya berterima kasih padaku karena aku tidak menuntutmu dan malah memberikanmu uang. Gara gara kamu perusahaanku mengalami kerugian yang cukup besar,”


“Hanya itu saja?” tanya Clarisa sambil mengernyitkan keningnya.


Devan tersenyum sinis lalu ikut menimpali pembicaraan mereka, “Cla, itu hanya syarat dari papa. Belum lagi dariku, aku juga harus memberimu hukuman supaya mulut cantikmu itu tidak lagi berulah,”

__ADS_1


Xander mengacungkan jempolnya pada Devan. Pada awalnya Xander memang sempat marah karena Devan diam diam berhubungan lagi dengan wanita itu. Tapi ia menyelidikinya juga, sebab ada keraguan dalam hatinya kalau Devan akan berbuat seperti itu. Xander mempercayakan semuanya pada Aris, untung saja Xander menyuruh Aris untuk ikut Devan. Sebab Aris sangat berguna dalam hal ini. Aris memberitahukan semuanya pada Xander bahwa Devan hanya menolong Clarisa.


“Kalau aku melakukannya aku juga akan hancur! Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku sebagai model,”


Devan berdecak, padahal baru semalam dia melihat raut wajah penyesalan dan ketakutan dari Clarisa. Tapi sekarang dia sudah berontak lagi.


“Aku hanya memberimu dua pilihan, kamu klarifikasi atau aku akan melaporkanmu ke polisi. Sangat mudah bagiku untuk mencari bukti karena disini aku tidak bersalah. Dan tentu saja nama kekasihmu akan kuseret dalam hal ini,”


Clarisa terdiam tidak menjawab apapun lagi. Ia sudah terjebak di ruangan ini berarti dia juga harus siap dengan segala kemungkinannya.


.


.


.


Pulang dari pemakaman ibunya, Lala langsung masuk ke dalam kamar Siti. Ia membuka pintunya dengan perlahan lahan seperti biasanya. Biasanya yang ia lihat pertama kali adalah ibunya yang tertidur lelap di ranjang itu. Namun sekarang, tidak ada lagi tubuh yang selalu tidur di atas kasur itu. hanya tersisa bantal dan gulingnya saja.


Lala melangkahkan kakinya ke arah ranjang kecil itu, dia duduk di atasnya sambil melihat lihat sekeliling kamar itu.


Air matanya sudah habis karena ia terlalu banyak menangis hari ini. Lala tidak pernah menyangka ia akan kehilangan sosok ibu secepat ini. Lala memeluk guling ibunya sambil menghirup aromanya. Saat Lala asik memeluk guling itu, Lala tiba tiba teringat dengan surat putih yang sempat mau dibukanya waktu itu.


Langsung saja ia terbangun, lalu turun dari kasur untuk mengambil surat itu lagi. Lala tiba tiba penasaran dengan isinya. Sebab waktu itu ia pernah hampir membukanya akan tetapi tidak jadi karena takut ibunya mengetahuinya.


Dengan terburu buru Lala langsung merobek amplopnya lalu mengambil kertas di dalamnya. Lala segera membuka lalu membacanya. Lala terkejut saat membaca isinya, air matanya kembali mengalir di pipinya.


Nama: Siti


Nomor antrian: 2104


Umur: 50 tahun


Status: Janda anak 1

__ADS_1


Diagnosa: Kanker jantung


Pasien diduga mengalami gejala kanker dua tahun lalu. Hal itu terbukti saat di cek kankernya sudah stadium akhir. Hal ini sudah terlambat untuk ditindak lanjutin. Karena jantungnya juga sudah rusak karena kanker yang menggerogotinya. Sekian terima kasih. Demikian hasil diagnosa yang sudah dilakukan Dr. Farhan.


 


Ttd: Dokter


Wali: Devan Praditya Revanuel


 


Lala menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan rasa tidak percaya.


“Jadi selama ini ibu mengidap kanker?” lirihnya.


Ia semakin merasa pada dirinya sendiri karena selama ini ia hanya membiarkan ibunya begitu saja. Seharusnya Lala memaksa ibunya untuk dibawanya ke rumah sakit dan memastikan penyakitnya itu. Namun apa yang ia lakukan? Hanya karena ibunya menolak Lala tidak membawanya ke rumah sakit.


“Maafin, Lala bu. Lala sudah gagal menjaga ibu. Lala juga sudah melanggar janji pada ayah,”


Lala memeluk surat di tangannya itu dan kembali menangis. Meskipun air matanya sudah tidak turun lagi, tetap saja rasa sesak di dadanya tak tertahankan. Lala benar benar merasa bersalah. Jika saja Lala bisa lebih mampu dari ini mungkin dia bisa membawa ibunya ke rumah sakit sampai sembuh. Akan tetapi Lala hanyalah gadis remaja yang dipaksa kuat oleh keadaan. Seharusnya di umurnya yang masih sangat muda dia harus menikmati masa masa remajanya sama seperti anak anak lainnya.


Hal yang ia takuti nyatanya sudah terjadi lagi. Lala benci kehilangan karena dia pernah kehilangan seorang ayah.  Dan kini dia juga harus kehilangan sosok ibu dalam hidupnya. Sekarang dia hanyalah gadis sebatang kara yang sudah tidak punya siapapun lagi dalam hidupnya.


Lala mendudukkan dirinya di lantai dan memeluk lututnya. Ia kini hanya sendirian. Tidak ada lagi orang yang selalu diajaknya bicara ketika dia lagi sedih. Tidak ada lagi senyuman tulus dari seorang ibu. Lala tersenyum pahit, sekarang dia benar benar sendirian. Rasa sakitnya tidak berhenti di situ saja, Lala harus merasakan pahit yang lebit menyakitkan lagi.


Selain menemukan surat rumah sakit, Lala juga menemukan obat di samping laci itu. yang Lala simpulkan, ibunya meminum semua obat itu untuk membunuh dirinya sendiri.


 


Bersambung


Terima kasih sudah membaca

__ADS_1


Jangan lupa like+komentar


__ADS_2