GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 1


__ADS_3

Aluna begitu biasa di sapa, gadis cantik yang memiliki tubuh mungil, berkulit putih pucat serta mata bulat nan indah. Paras yang begitu sempurna tak heran jika banyak kaum pria yang terpikat oleh kecantikan yang dia miliki.


Pagi-pagi sekali Aluna sudah bersiap-siap untuk pergi melamar pekerjaan yang paman nya tawarkan, Luna tampak bersemangat karna impian nya untuk bisa bekerja di kantoran akan segera dia dapatkan. Maka dari itu ia tidak mau datang terlambat untuk interview pagi ini. 


"Paman apa kita bisa berangkat sekarang?" Tanya Luna begitu bersemangat


"Iya bisa Apa kamu sudah siap?" Tanya balik sang paman


"Aku sudah siap dari tadi paman ayo berangkat Aku tidak mau datang terlambat barang sedetik pun!" Ujar Aluna 


"Itu bagus Luna! Ayo berangkat" Ajak sang paman


 Aluna menganggukan kepalanya cepat, tak mau membuang-buang waktu lagi. 


Akhirnya mereka berdua pun pergi tak lupa Luna juga berpamitan pada sang bibi, meski hanya hinaan dan cibiran yang selalu dia dapatkan dari sang bibi.


ALuna yang sudah menjadi yatim piatu sejak usia nya baru 10 tahun, sejak ke dua orang tuanya meninggal mau tidak mau Aluna harus tinggal bersama keluarga sang paman yang tak lain adalah adik dari mendiang ayah nya.


Meskipun keluarga tersebut tidak sepenuhnya menerima Luna di kehidupan mereka, tapi Luna tetap bertahan karena dia tidak memiliki keluarga lain selain mereka.


Maka dari itu, sejak kecil Luna sudah terbiasa bekerja keras untuk membantu menafkahi keluarga paman nya juga untuk membiayai sekolah nya sendiri. 


Namun sekarang Aluna terpaksa berhenti sekolah, karna tuntutan sang bibi yang mengharuskan nya bekerja dari pagi sampai malam.


Dengan berat hati Luna mengubur dalam-dalam ke inginan nya untuk bisa bersekolah di tempat yang bagus.


"Paman! Apa tempat nya masih jauh? Ko kita gak sampai-sampai dari tadi" Tanya Luna.


"Sebentar lagi Luna sudah kamu duduk saja nanti juga kita sampai" Jawab sang paman.


Lima belas menit kemudian, mereka berdua sampai di sebuah gedung mewah Luna yang kagum sampai tak berhentinya ia memuji gedung tinggi di hadapan nya.


"Paman! Apa paman serius memasukan aku kerja di sini? Tempat ini sangat mewah paman mustahil orang sepertiku bisa di terima kerja di tempat sebagus ini" Ujar Aluna tak percaya.


"Pemilik perusahaan ini temen paman Luna jadi paman yakin kamu pasti bisa di terima kerja di sini," Jawab sang pamannya.


"Ah begitu ya?" Ucap nya lagi.


"Sudah ayo masuk, Calon bos mu pasti sudah menunggu kita," Ujar sang paman lagi.


Aluna mengangguk, lalu mengekor paman nya untuk masuk ke gedung tersebut. 


Tanpa Aluna tau, sang paman rupanya sudah memberitahukan kedatangan nya pada seseorang di club tersebut.


Sepanjang berjalan, Aluna tak hentinya mengembangkan senyum manis kepada para pekerja yang ia lihat. Namun senyum nya perlahan memudar kala ia mulai menyadari ruangan yang akan dia dan paman nya tuju adalah sebuah club.


Langkah nya mulai menelan, sampai sang paman pun menyadari perubahan Aluna yang seperti mencurigai nya.


"Apa kau baik-baik saja Luna? Tanya sang paman


"I-iya paman," Jawab Aluna terbata.


"Jangan gugup Luna kita ke sini mau menemui calon bos kamu! Jangan berpikiran yang macam-macam" Peringat sang paman.


Aluna mengangguk ragu, akhirnya mereka pun masuk ke ruangan tersebut.


"Simon! Akhirnya kau datang juga ayo ayo kita duduk dulu" Sambut bima.


"Ayo Luna" Ajak sang paman.


"Paman! Ucap Aluna cemas.


"Jangan kawatir Luna mereka semua temen paman! Tunjuk Simon pada sekumpulan pria yang sedang minum di ruangan tersebut.


"Mereka sedang ada acara di sini sudah jangan takut mereka gak akan ngapa-ngapain kamu" Ujar Simon lagi


 Aluna menghirup udara perlahan, lalu membuang nya lagi untuk menetralkan ke gugupan nya.


Dengan pasrah Aluna mengikuti Simon untuk duduk di hadapan para mafia tersebut, tanpa Aluna tau ada sepasang mata tajam yang sedari tadi terus memperhatikan nya.


"Jadi berapa akan kau lepas barang bagus ini?" Tanya Bima sambil memandang lapar pada aluna


"Sabar dong! Aku Takan melepas nya dengan harga murah" Jawab Simon tersenyum bangga

__ADS_1


Aluna yang tampak tak mengerti dengan apa yang mereka diskusikan, akhirnya bertanya pada sang paman.


"Paman barang apa yang di maksud orang itu? Bisik Aluna pada simon.


"Ah itu-itu barang bekas, Iya barang bekas yang masih terlihat bagus" jawab Simon gugup.


"Sejak kapan paman mengoleksi barang bekas? Tanya Aluna lagi.


"Sudah lah Luna jangan banyak bertanya lagi kamu cukup diam saja biar paman selesaikan dulu pembicaraan paman sama calon bos mu ini."


"Dia calon bos ku?" Tunjuk Aluna pada bima.


"Aluna!" Bentak simon.


 Bima yang tersinggung dengan reaksi kaget Aluna, seketika bangkit dari duduk nya dan langsung menarik tangan mungil milik Aluna.


Dengan sedikit emosi, Bima menarik kasar Aluna sampai kepelukan nya.


Aluna yang kaget, langsung berontak mencoba melepaskan diri dari pelukan Bima.


"Lepaskan!" Teriak aluna.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Aluna dengan marah.


"Eh anak kecil! Berani nya kau berteriak padaku kau belum siapa aku hah?" Sentak Bima dengan mencengkram rahang Aluna.


"Awwh s-sakit," Ringis Aluna.


"Apa Simon tidak memberi tahumu, siapa aku..?" Tanya Bima dengan terus menekan Aluna.


Simon yang panik, terus mencoba menenangkan Bima agar tak memberi tahu Aluna tentang ia yang berniat menjual Aluna padanya.


"S-sudah, sudah bim kita bicarakan baik-baik,! Tolong Maafkan atas sikap keponakan ku." Mohon Simon


 Aluna yang merasa kesakitan, hampir meneteskan air matanya.


"Asal kau tau saja gadis kecil, Simon membawa mu kemari untuk menjual mu padaku, Apa kau mengerti maksud ku? Ujar Bima lalu menghempaskan tubuh mungil itu ke lantai


Aluna bingung dengan maksud perkataan Bima barusan, lalu ia coba bertanya langsung pada simon.


"I-itu, i-tu.....


Belum sempat Simon menjawab pertanyaan Aluna, Bima sekali lagi memberitahu Aluna kalau Simon berniat menjual nya pada bima untuk di jadikan budak *** nya Bima.


"Simon mau menjual mu pada ku, dengan harga yang sangat tinggi" Ujar Bima lagi


"A-apa maksud nya dengan menjual ku paman?" Tanya Aluna tak percaya.


"Setelah aku membeli mu, kau akan langsung jadi peliharaan ku,sekaligus menjadi pemuas *** ku." Senyum Bima meremehkan Aluna.


Simon gugup, tak bisa menjawab pertanyaan yang Aluna ajukan padanya. Ia hanya mampu memalingkan wajah nya untuk menghindari Aluna.


Aluna yang mulai emosi, seketika berteriak pada simon.


"Jawab aku paman!" Bentak Aluna mulai menangis.


"Apa benar paman mau menjual ku pada bajingan seperti dia?" Tunjuk Aluna pada bima.


"Hey! Jaga mulut mu itu gadis kecil." Teriak Bima tak kalah keras


Bima hampir menampar Aluna, namun tiba-tiba.


"Prang,,,,,,


 Sebuah gelas pecah di hadapan mereka, tak lama se sosok pria tampan muncul dari kegelapan menghampiri mereka semua.


Seorang pria yang memiliki tubuh tegap nan atletis, wajah tampan sempurna yang nyaris tanpa kurang suatu apapun. tak lupa juga dengan sepasang mata indah namun tajam, rahang yang tegas yang juga melengkapi tingkat kesempurnaan yang dia miliki.


Davin Damian, ya orang itu tak lain dan tak bukan adalah Davin Damian. Seorang pengusaha muda yang sukses juga seorang ketua mafia yang cukup di segani di belahan Asia.


Davin sudah terkenal dengan kehebatan nya di dunia bisnis juga di dunia hitam nya,


Sebagai seorang ketua mafia dia juga sering di juluki sebagai raja nya iblis dingin penguasa segalanya.

__ADS_1


Davin menghampiri ke tiga orang yang sedang terlibat keributan, ini pertama kali dalam hidup nya dia mau terlibat dengan hal yang mungkin menurut orang lain tidak penting.


Ntah apa yang membuat Davin begitu tertarik untuk terlibat, yang jelas tujuan nya hanya satu yaitu adalah Aluna. Gadis kecil yang sejak tadi menarik perhatian nya.


Davin merogoh sesuatu dalam saku jas mewah nya, di ambil nya sebuah cek kosong lalu ia mulai menandatangani dan menyodorkan nya pada simon.


"Ambil ini, tulis berapapun jumlah yang kau inginkan, Berikan dia padaku" Ucap Davin dingin


Simon membelalakkan matanya tak percaya, buru-buru dia mengangguk dan mengambil cek tersebut.


"Paman! Teriak aluna tak percaya jika paman nya akan tega menjual dirinya seperti barang


"Kenapa paman tega menipu ku? Hiks paman jahat, paman bilang padaku akan memasukan ku bekerja di perusahaan, Apa ini perusahaan yang paman maksud perdagangan manusia? Ujar Aluna yang tak hentinya terus menangis


Bima yang juga tak terima dengan keputusan Simon, seketika naik pitam.


"Berengsek kau Simon"


Bughh


Bughh


Dua pukulan sukses mendarat pada wajah Simon.


"Berani nya kau mempermainkan ku bajingan!" Teriak bima.


"Maaf Bima, tuan muda lebih tau apa yang ku butuhkan, tak seperti mu yang terus bertele-tele." Ucap Simon dengan senyum meremeh.


"Keparat kau Simon, kau pikir aku tak mampu memberikan jumlah yang sama dengan yang di berikan Davin hah" Sarkas Bima tak mau kalah.


"Sudalah aku sudah terlanjur tertarik dengan tawaran tuan muda! Aku pergi dulu." Pamit simon.


"Awas kau Simon!" Teriak Bima lagi.


"Paman! aku mohon jangan tinggalin aku, Jangan berikan aku pada mereka paman." Cegah Aluna menahan tangan simon.


"Sudahlah Luna, nikmati saja hidup baru mu bersama tuan muda." Ucap Simon menghempaskan Aluna kasar.


Perlakuan Simon yang kasar pada Aluna, membuat Davin sedikit marah hatinya seperti tak terima jika ada yang menyakiti gadis nya itu.


"Ayo ikut aku" Ucap Davin menarik tangan aluna.


Tunggu!


Ucapan Bima menghentikan langkah Davin.


"Katakan!" Titah Davin dingin.


"Berikan dia pada ku, aku akan mengganti uangmu dua kali lipat" Ujar Bima pada davin.


CK, Davin tersenyum meremeh lalu melangkah menghampiri Bima.


"Aku tidak butuh uang mu,! Dengarkan aku baik-baik, simpan saja uang mu atau kau bisa memberikan nya pada gadis lain, sekarang dia milik ku, dan kau sudah tau bukan jika aku tidak pernah suka membagi milik ku dengan siapapun." Ujar Davin menepuk sebelah pipih bima


"Tapi dia milik ku Vin, aku yang sudah lebih dulu menawar nya." Jawab Bima lagi.


Davin tak menggubris lagi perkataan Bima, dia dengan tenang mulai melenggang pergi meninggalkan club itu, tak lupa juga dengan tangan nya yang terus memegang tangan mungil milik Aluna.


Aluna yang tak punya pilihan lain pun akhirnya, hanya bisa pasrah mengekori Davin dari belakang. 


Sambil terus menangis, meratapi nasib nya yang mungkin buruk.


"Ayah, ibu mu Lihat lah anak bodoh kalian ini yang mungkin sebentar lagi akan menjadi ******" Huhuuu Batin aluna


"Jangan menangis terus, dasar cengeng!" Ledek davin


Aluna yang tak terima dengan ledekan Davin tiba-tiba...


Gep......


Krek.....


Akhhhhhh.........

__ADS_1


Bersambung................


__ADS_2