GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 5


__ADS_3

  Tidak butuh waktu lama dari toko pakaian sampai ke kantor Davin, kini mereka sudah sampai di lobi kantor milik Davin.


"Ayo turun." ajak Davin.


Aluna mengangguk tanpa bantahan, saat dia sudah di luar mobil seketika mata nya terbelalak mengagumi gedung tinggi hadapan nya.


Prokk!


 Aluna bertepuk tangan saat melihat keindahan gedung pencakar langit ada di depan mata nya.


"Wahh hebat...! Heboh Aluna.


"Apa ini perusahaan milik mu tuan?" Tanya polos Aluna tanpa melepaskan pandangan kagum nya.


"Menurut mu?"Jawab singkat Davin.


"Aku rasa iya sih, Karena kan gak mungkin kamu di sini hanya pegawai biasa. Iyakan tuan penurut?" Tanya Aluna pada bian.


Davin tersenyum geli saat asisten setia nya dapat julukan baru dari sang calon nyonya nya.


"Nona___ucapan bian terpotong.


"Aishh shutttt...! Tidak perlu di jawab, aku sudah tau jawaban nya," Ujarnya dengan tersenyum polos.


"Ayo, ayo tuan! Kita masuk sekarang, aku sudah tidak sabar ingin melihat di dalam nya bagai mana," Ucap antusias Aluna sambil menggoyangkan tangan Davin.


Davin mengaguk dan mulai melangkahkan kaki panjang nya ke dalam perusahaan tersebut, namun saat baru sampai di dalam tiba-tiba Davin mendengar para karyawan laki-lakinya mulai memperhatikan dan memuji ke cantikan Aluna.


"Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi melihat bidadari secantik ini!?" Ujar salah satu karyawan Davin.


"Siapa dia? Apa dia karyawan baru di sini!? Kalau iya ini sih pasti jadi vitamin buat kita-kita, Iya gak bro?" Ucap karyawan lain nya lagi.


"Kira-kira dia sudah menikah apa belum ya? jika belum akan ku Pepet terus sampai dapat, inimh alsi spek bidadari." Begitulah kiranya yang di katakan para karyawan laki-laki yang melihat kecantikan Aluna.


Wajah Davin seketika merah padam, tangan nya mengepal kuat. kala mendengar banyak pasang mata yang mengagumi kecantikan gadis milik nya.


 Berbeda dengan Davin, Aluna justru nampak nya tidak perduli bahkan seolah menulikan pendengaran nya, saat orang-orang di sekitarnya mulai membicarakan nya.


Aluna nampak anteng-anteng saja dengan kekaguman nya, sampai saat tiba-tiba Davin menarik kasar tangan aluna.


"Aww..! apa kamu selalu hobi menarik tangan orang dengan sekasar ini!?" sarkas Aluna kesal.


"Ayo masuk, jangan seperti orang bodoh di sini." Jawab Davin emosi.


"Ishh, kamu kenapa lagi sih? Jangan menarik ku seperti ini, sakit tau." Protes Aluna.


"Diam lah!" Kata Davin tegas.


 Membuat Aluna seketika terdiam, mereka masuk ke dalam lift menuju ruang pribadi Davin yang terletak di lantai paling atas.


Sesampainya di lantai ruangan Davin, mereka bertiga langsung di sambut ramah oleh Ajeng sang sekertaris Davin.


"Selamat siang pak se___ ucapan sekertaris itupun terpotong kala Davin tanpa kata mengangkat tangan nya, memberi kode kalau dia tidak ingin di ganggu.


Senyum yang semula Ajeng tunjukan, seketika berubah menjadi umpatan. Tampak nya Ajeng kesal dan cemburu melihat Davin menggandeng seorang gadis ke ruangan nya.

__ADS_1


"Sial..! Siapa gadis kecil itu? Apa dia sodara nya pak Davin? Kenapa dia terlihat sangat cantik walau sepertinya tidak ada riasan di wajah nya!?" Ucap batin Ajeng.


"Aww..!Pelan-pelan dong, sakit ini." Keluh Aluna.


Davin langsung melonggarkan pegangan nya, lalu Davin melihat pergelangan tangan Aluna yang mulai memerah karna ulah nya.


"Bian...!" Panggil Davin keras.


"Iya tuan!?" Jawab cepat Bian.


"Bawakan komperesan ke ruangan ku!" Perintah Davin lagi.


"Baik tuan, akan saya bawakan." ujar Bian sambil mulai pergi ke ruang perawatan karyawan.


"Ayo masuk!" Titah Davin pada Aluna.


Aluna tak menjawab, dia langsung pergi melewati Davin. Sambil memanyunkan bibir mungil nya Aluna masuk ke ruangan Davin, yang dengan buru-buru di susul oleh Davin sendiri.


"Ajeng...! Batalkan semua pertemuan untuk hari ini, saya sedang tidak mau di ganggu siapa pun." Ucap Davin tegas.


"Tapi pak!? hari ini ada meeting penting bersama investor dari Taiwan." Kata Ajeng lagi.


"Biar Bian yang mengurus semua nya, Poko nya saya tidak mau tau, hari ini saya tidak mau di ganggu siapapun dan dengan alasan apapun. Mengerti!?" Ucap final Davin.


"Ba-baik pak!" Jawab Ajeng pasrah.


Setelah mengatakan itu Davin segera masuk ke dalam ruangan pribadinya, sesampainya di dalam Davin melihat Aluna yang sedang asyik mencoba duduk di kursi kebesaran nya.


"Siapa yang menyuruh mu duduk di sana?" Tanya davin


"Maaf,aku hanya mencoba nya sebentar.!" Jawab acuh Aluna, Aluna berlalu dan kembali mendudukan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Davin duduk di kursi kebesaran nya, lalu ia meminta Aluna untuk duduk di hadapan nya.


"Kemari!?" Ujar Davin sambil melipatkan kedua tangan pada dadanya.


Aluna bangkit dari duduk nya dan langsung menghampiri Davin di depan nya.


"Ada apa?" Tanya Aluna acuh.


"Duduk." Titah Davin.


Tanpa protes aluna menuruti perintah Davin untuk duduk.


"Siapa nama aslimu?" Tanya Davin serius.


"Aku!?" Tanya balik Aluna menunjuk dirinya sendiri.


"CK, iya memang di sini ada orang lain?" Ujar Davin malas.


"Ah benar juga, Aku Sagita Aluna! Orang-orang biasa manggil aku Aluna atau hanya Luna saja," Jawab Aluna jujur.


"Hemmmz, baik! Berapa usia mu?" Tanya lanjut Davin.


"18tahun," Jawab Aluna lagi.

__ADS_1


"Ternyata benar kau masih anak kecil," Ledek Davin dengan tersenyum kecil.


"Heyy...! Jangan menghina ku, biar kecil-kecil begini juga aku sudah pandai mencari uang sendiri," Ucap bangga Aluna pada dirinya sendiri.


"Oh ya?!? Berapa banyak uang yang sudah kau hasilkan selama ini? Tanya Davin lagi.


"Sudah banyak dan tak terhitung jumlah nya, pokonya sangat banyak." Ujar Aluna memperagakan seperti anak kecil.


"Lalu kemana uang banyak yang kau hasilkan itu? Kenapa paman mu sampai nekad menjual mu?" Kata Davin mulai penasaran.


 Saat di tanya seperti itu, Aluna tiba-tiba menundudukan kepalanya. 


Jujur saja Aluna sangat sedih, saat mengingat bagai mana keluarga paman nya memperlakukan dia seperti sapi perah. Mata Aluna tiba-tiba saja mengembun tat kala mengingat semua ke Malangan yang menimpa hidup nya.


"Kenapa?" Tanya Davin lagi makin penasaran.


"T-tidak! sangkal Aluna mencoba menyembunyikan kesedihan nya.


"Kenapa kau tak menjawab pertanyaan ku lagi? Kata Davin yang tiba-tiba merasakan sesak dalam dadanya, Davin jelas melihat ada kesedihan di wajah Aluna saat Davin bertanya seperti itu.


"I-itu___ belum selesai Aluna berkata Davin sudah memotong nya.


"Katakan! Ucap tegas Davin.


 Aluna diam dia bingung antara harus memberitahu Davin atau tidak.


"Katakan Aluna! Bentak Davin tiba-tiba emosi.


Aluna yang kaget seketika bergeming sambil melotot.


"Yakk! Kau bisa tidak jangan membentak ku!?" Teriak Aluna kesal dan seketika saja buliran bening yang sedari tadi ia tahan lolos begitu saja dari mata indah nya.


"Kamu tau tidak!? selama ini aku sudah cukup kenyang dengan semua bentakan, dan teriakan dari orang-orang yang tidak menyukai ku." ujarnya dengan meneteskan air matanya.


"Asal kamu tau! dari kecil aku sudah menjadi sapi perah untuk keluarga paman dan bibiku. Ntah sudah berapa banyak uang yang ku hasilkan untuk mereka, tapi paman tetap saja kekurangan uang sampai-sampai dia tega menjual ku. hikss," Kata Aluna sambil menangis.


"Kalau kamu juga tidak menyukai keberadaan ku, kamu boleh mempekerjakan aku jauh dari mu atau kamu bisa lepaskan aku, dan biarkan aku bekerja untuk menghasilkan uang sendiri aku berjanji akan mencicil uang yang sudah kamu berikan pada paman ku." Ucap Aluna lagi.


Seketika dada Davin merasa sesak, ia marah entah mengapa Davin begitu marah saat mendengar jawaban Aluna yang menurut nya sangat memilukan itu.


"Kenapa kau tak melawan mereka!?" Jawab Davin dingin.


"Kamu pikir aku bisa melalukan itu pada keluarga ku sediri?" Tanya Aluna sedih.


"Kenapa kau tak bisa? Mereka juga tidak berperasaan padamu!" Kata Davin lagi.


"Meraka satu-satunya keluarga yang ku punya tuan, Hanya mereka yang ku punya sekarang aku tidak punya siapa pun lagi di dunia ini selain mereka," Ujar Aluna bangkit dan hendak keluar ruangan namun di tahan oleh Davin.


"Mau kemana kau!?" Aku belum selesai bicara padamu." ujar Davin lagi.


Aluna menoleh menatap Davin lekat, dan tiba-tiba saja Aluna menghambur memeluk tubuh pria jangkung itu.


 Aluna menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Davin, Aluna mencurahkan semua ke sakitan yang telah bertahun-tahun ia pendam sendiri pada Davin. Entah mengapa ia begitu ingin melakukan itu pada Davin sekarang.


Bersambung.............

__ADS_1


__ADS_2