
Aluna pamit meninggalkan caffe, namun tiba-tiba saja Davin kebelet ke toilet dan meminta pada salah satu pelayanan di caffe menunjukan letak toilet di caffe itu.
"Kau tunggu saja di mobil, aku segera menyusul mu" Perintah Davin pada Aluna.
"Baiklah." Sahut Aluna berlalu ke luar caffe.
Saat Aluna ke luar, terlihat ada keributan di meja depan caffe. Karena penasaran Aluna berjalan mendekati kerumunan itu.
Terlihat ada seorang pengunjung wanita yang sedang memaki-maki salah satu pelayan di sana.
"Ada apa?" Tanya Aluna pada salah satu pelayan di sebelahnya.
"Itu loh lun, sodara mu makan di sini. tapi dia tidak mau membayarnya, malah menyalahkan anak baru itu karena salah menyajikan pesanannya." Jelas sang pelayan. "Sodaraku? Maksud mu alesha, Dia di sini?" Tanyanya lagi kaget.
"Dia memang sering datang ke sini, tapi ya begitu setiap habis makan tidak pernah mau membayarnya, dia lebih milih ribut sama kami," Kesal pelayan itu lagi.
"Maaf ya, masalah ini biar nanti aku yang bicara pada bibi Rima, Aku janji akan mengganti semua ke rugian yang sudah dia lakukan di sini." Ujar Aluna meminta maaf.
Aluna menengok dan lalu menatap nyalang pada sodaranya itu, dengan kesal Aluna mulai menerobos kerumunan untuk bertemu si tukang pembuat onar itu.
"Yah alesha!" Teriak Aluna, memanggil nama sepupunya itu.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini hah?"
"Kenapa kau selalu membuat keributan dimana-mana?" Geram Aluna bertolak pinggang.
Alesha kaget melihat Aluna tiba-tiba ada di sana. Namun, Alesha segera merubah ke kagetan nya dengan senyum semirik.
"Ini sangat bagus, Aku akan memanfaatkan nya untuk membayar semua makanan ku tadi " Batin Alesha bersorak ria.
"Kalian lihat? Dia saudara ku, dan dia yang akan membayar semua tagihan nya. Bay!" Ucap Alesha hendak pergi meninggalkan kekacauan itu.
Namun dengan cepat Aluna menarik rambut kuncir Alesha, hingga membuat nya hampir terjembab ke belakang. Sontak saja perbuatan Aluna tersebut mengundang gelak tawa dari para pelayan yang menyaksikan keributan itu.
"Kau mau kemana?" Tahan Aluna menarik rambut pirang Alesha.
"Awhh, Sakit Aluna!"pekik Alesha kesakitan.
"Enak saja kau main lempar-lempar tagihan ke orang lain, Sana bayar sendiri!" Bentak Aluna mendorong pelan tubuh Alesha.
"Yak Aluna! Aku tidak punya uang sebanyak itu, untuk membayar nya." Ucap Alesha tertunduk lesu
"Aishh! Makanya lain kali jangan sok-sokan makan di caffe, kalau kau tidak punya uang, Menyusahkan orang saja." Cibir Aluna kesal.
"Sudahlah, kau pikirkan sendiri saja bagai mana cara nya membayar semua tagihan mu. aku tidak bisa membantu mu, belajar bertanggung jawab dengan perbuatan mu sendiri." Ujar Aluna menasehati Alesha.
Setelah mengatakan itu, Aluna gegas pergi meninggalkan kerumunan.
Tak terima di nasehati Aluna, Alesha dengan lantang menghina Aluna.
__ADS_1
"Hey Aluna! jangan sombong kau, Baru juga jadi ****** kau sudah sombong. oh iya bagai mana rasanya jadi simpanan pria tua yang banyak istrinya!?" Teriak Alesha menghina Aluna.
Deg!
Seketika hati Aluna terasa sakit, saat mendengar perkataan Alesha. Aluna hampir menangis. Namun, tiba-tiba saja ada tangan yang mengusap pundak Aluna lembut.
"Jangan dengarkan perkataan nya, Lihat aku! kau hanya boleh mendengarkan aku, mengert?Ayo kita pergi dari sini." Titah Davin membawa Aluna menjauh dari kerumunan.
"Apa! Bukan kah itu tuan muda dari keluarga Damian? Kenapa dia bisa bersama Aluna? Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Aku harus memberi tahu ibu tentang ini." Ucap batin Alesha.
"Minggir kalian semua, Aku mau pulang dulu, nanti akan ku bayar semua tagihan nya." Ucap sombong Alesha, dan lalu bergegas pergi meninggalkan caffe tersebut.
Di dalam mobil, Aluna terus melamun karena terus menerus mengingat perkataan Alesha. yang sudah menuduhnya menjadi simpanan pria beristri.
Davin, yang tidak tahan di abaikan oleh Aluna. Akhirnya kembali menepikan mobilnya di pinggir jalan, dan lalu melihat Aluna yang masih anteng melamun.
"Ehemm!" Dehemnya
Aluna segera sadar, dan lalu melirik ke arah Davin.
"Sudah sampai ya? Tanya Aluna melepas seatbelt dan hendak keluar dari dalam mobil. Namun, dengan cepat Davin menahan nya.
"Ada apa? Tanya Aluna melihat Davin menahan pergelangan tangan nya.
"Kau mau kemana? Kita bahkan belum Samapi rumah Aluna," Jelas Davin.
"Belum sampai? Lalu mengapa kita berhenti?" Tanya bingung Aluna.
"Kapan aku mengabaikan mu?" Tanya heran Aluna mengerutkan ke dua alis nya.
"Kau tidak merasa sudah mengabaikan ku? Makanya jangan terus memikirkan perkataan gadis gila itu!" Protes Davin pada Aluna.
"Siapa yang memikirkan nya? Aku hanya sedikit kesal saja tadi padanya." Sangkal Aluna
"Harus nya tadi kau berikan saja dia uang, biar semua nya beres tidak perlu ribut seperti tadi!" Ucap kesal Davin.
"Kenapa ko jadi kau yang membela dia? Geram Aluna, seraya mendelikan kedua matanya.
"Aku tidak membelanya Aluna, hanya saja saran ku, sebaiknya tadi kau berikan saja dia uang. biar dia tidak mengganggu mu seperti ini." Ujar Davin menjelaskan.
"Jelas-jelas kau membelanya! Dasar menyebalkan!" Tuduh Aluna kesal lalu keluar dari mobil.
"Hey! kau mau kemana!? Teriak Davin panik, seraya bergegas mengejar Aluna.
" Jangan ikuti aku, Dan jangan bicara padaku!" Sarkas Aluna menunjuk wajah Davin dengan kesal.
"Hey! Jangan pergi sendirian bahaya." Teriak Davin khawatir.
"Iya bahaya nya itu kau!" Omel Aluna tanpa menoleh ke pada Davin.
__ADS_1
"Aishhh...!" Frustrasi Davin mengacak rambut nya.
Aluna terus berjalan sambil menghentak-hentakan ke dua kakinya, juga tak henti mulutnya berkomat Kamit entah merapalkan mantra apa.
Davin masih setia mengikuti Aluna dari belakang, meski sesekali Aluna memelototi nya dengan horor.
Hingga tiba-tiba saja Aluna di hadang oleh pria asing yang mau mengganggu nya, Davin sudah hampir naik darah melihat gadis kesayangan nya di ganggu pria lain.
Davin sudah bersiap untuk melayangkan pukulan pada pria asing itu, tapi tiba-tiba saja.
"Hai nona cantik, ko jalan nya sendirian saja? Mau di temani tidak? Ini sudah sore jalanan di sini sangat berbahaya untuk wanita cantik seperti mu." Ujar pria asing itu, berusaha menggoda Aluna.
Aluna menghembuskan nafas nya kasar, ia meniup poni tipis nya ke atas karena kesal pada pria di asing di depan nya.
"Benarkah begitu? Huhh! kau tau tuan aku ini seorang atlet loh," Goda balik Aluna
"Atlet apa cantik? Tanya genit pria itu.
"Atlet spesialis tendang menendang burung,"sahut Aluna tersenyum jahat. "Tendang menendang burung?" Cengo pria itu lagi. "Hem! Dan kau tau tuan, aku sudah banyak sekali menendang burung seperti ini,
Bguhh!
Aaaaaaaaahh...!
Teriak kesakitan pria asing itu.
HAhhh...!
Kaget Davin melotot.
"Bagai mana, apa burung mu sudah lepas tuan? Tanya Aluna tersenyum semirik.
Pria asing tersebut terus meringis kesakitan memegang area sensitif nya, sampai berguling-guling di tanah.
"Nona tolong saya!" Mohon pria itu meracau
"Tolong, tolong! Jalan sendiri sana!dasar payah. lain kali jangan jadi pengganggu lagi, kalau nasib mu tidak mau seperti ini lagi. Kau mengerti!?" Teriak marah Aluna.
Melihat pria asing itu tergeletak di tanah, seketika dengan refleks Davin menghalangi burungnya biar aman.
Aluna menoleh, melihat Davin dengan senyum jahilnya,dan lalu berkata pada Davin.
"Apa burung mu juga mau merasakan tendangan ku tuan arogan?" Ujarnya, seraya tersenyum semirik. Aluna perlahan mendekati Davin.
Davin merinding mendengar perkataan Aluna, dengan cepat Davin berlari kembali ke mobil.
"Wahaahahaaaa...! Tawa Aluna pecah, melihat ketakutan Davin.
"Dasar penakut." Monolog Aluna gegas menyusul Davin kembali ke mobil.
__ADS_1
Bersambung........