GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 7


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 14:00 siang. Aluna terusik dari tidur nyaman nya, dengan perlahan ia membuka mata indah nya, mengumpulkan kembali kesadaran nya namun tiba-tiba ia merasakan ada beban berat di perut nya saat Aluna mencoba melihat nya, seketika mata nya melotot karna kaget. Saking kagetnya Aluna sampai berteriak dan menendang orang yang berbaring di samping nya.


"AAaaaaaaa!"


Brukkkk!


"Awwh!" Ringis Davin saat terjatuh dari sofa.


"Apa yang kau lakukan!? Kenapa kau menendang ku!? Teriak kesal davin.


"Hey tuan! Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu tidur di sini dan memeluk ku tadi?" Sarkas Aluna tak mau kalah.


"Kau lupa kalau ini kantor ku hah!? aku bebas melakukan apapun di sini," timpal Davin lagi.


"Ahh benar juga, Lalu kenapa tadi kamu memeluk ku!? apa jangan-jangan?" Ujar Aluna menyilang kan kedua tangan nya di dada.


"Jangan-jangan apa? Jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku tidak ngapa-ngapain kamu. Mungkin tadi itu aku tidak sengaja, nama nya orang tidur kan gak sadar." Kilah Davin.


"Huhh untung saja." Ucap Aluna lega.


 Di tengah-tengah pertengkaran mereka, tiba-tiba saja terdengar suara perut yang keroncongan. Siapa lagi kalau buka perut nya Aluna


Kryuk...kryuk....


Davin menoleh menatap Aluna yang sedang cengengesan.


"Maaf tuan itu suara perutku yang keroncongan." Ucap Aluna malu-malu.


"Kau belum makan? Tanya davin.


"Tadi pagi aku hanya makan sepotong roti, karna paman memintaku untuk pergi cepat, Jadi sekarang perut ku kelaparan." Ucap Aluna mengelus perut ratanya.


"Dasar bodoh! Ayo keluar kita cari makan." Kata Davin yang buru-buru di angguki oleh Aluna.


Keduanya pun keluar dari ruangan Davin. Mereka mulai meninggalkan kantor untuk mencari pengganjal perut.


"Kita mau kemana? Kenapa harus keluar dari kantor mu? Apakah di kantor mu tidak ada kantin?" Tanya Aluna beruntun.


"Tidak ada, kantin nya sudah ku jual untuk membeli mu." Jawab spontan Davin.


"Hah!? Bukannya kamu ini orang kaya? Mengapa untuk membeli ku saja harus menjual kantin dulu?" Ujar Aluna tak percaya.


"Tapi tunggu!? Memang nya bisa kantin prusahaan di perjual belikan?" Kembali Aluna bertanya dengan polosnya.


"Bisa lah, kau yang jelek saja bisa di jual apalagi kantin yang di dalam nya terdapat berbagai macam jenis makanan." Goda davin melirik sekilas pada Aluna.


"Aishh kamu ini!? Jangan terus mengingatkan ku pada kejadian tadi pagi! aku sungguh muak mendengarnya, Dasar menyebalkan!" Protes Aluna pada Davin.


Davin tak menjawab, ia hanya tersenyum sedikit melihat Aluna yang kesal padanya.


Mobil melaju dengan cepat, sampai lah mereka di halaman mansion milik Davin.


"Kita ke sini lagi?" Tanya Aluna gegas keluar dari dalam mobil.


"Aku tidak terbiasa makan di luar, untuk itu setiap jam makan aku selalu pulang."  Jelas Davin memberi tahu Aluna.


"Tau begini, lebih baik tadi aku tidak ikut dengan mu. sudah saja diam di sini bersama ka Lisa." Gerutu aluna.


"Aku bos mu! jadi apapun yang ku perintah kan kau harus mematuhi nya." Sarkas Davin.


"Aishh, kenapa aku bisa lupa itu." Cicit Aluna menepuk kening nya.


Aluna berlari kecil menyusul Davin yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Selamat siang tuan muda, nona." Sapa bibi Lin membungkuk hormat.


"Hemmmz." Jawab Davin singkat.

__ADS_1


"Siang juga." Jawab Aluna tersenyum manis.


"Apa makanan nya sudah siap?" Tanya Davin tanpa basa-basi.


"Sudah tuan, Mari silahkan." Ajak bibi Lin pada ke duanya.


Semuanya langsung menuju ke ruang makan, rupanya di sana sudah tersaji berbagai jenis masakan lezat yang menggoda selera Aluna. Dengan antusias Aluna duduk tanpa memperdulikan Davin terlebih dahulu.


Davin yang melihat ke hebohan Aluna hanya mampu menggelengkan kepalanya, Davin bingung sebelum nya belum pernah ada seorang pun yang berani mendahului nya dalam hal apapun.


 Tapi sekarang gadis kecil nya malah sengaja berbuat lancang padanya, dan aneh nya lagi Davin tidak bisa memarahi nya.


"Ayo-ayo duduk semua nya, lihat lah semua makanan ini tampak sangat lezat sekali." Ujar Aluna heboh.


Para pelayan yang ada di belakang aluna hanya mampu menahan nafas, mereka sangat takut kalau-kalau Davin akan marah besar pada mereka, karna tidak menghentikan Aluna.


"Nona, silahkan makan terlebih dahulu bersama tuan muda, Kami sudah biasa makan belakangan." Ucap bibi Lin memberi pengertian pada Aluna.


"Kenapa begitu? Bukan kah makan bersama itu lebih baik ya?" Tanya Aluna bingung.


"Itu sudah peraturan kami di sini nona." Ujar bibi Lin lagi.


"Sudahlah jangan bicara lagi, sekarang cepat kau makan! Apa kau mau mati kelaparan hah.?" Sela Davin menatap tajam pada Aluna.


"Baik lah." Jawab Aluna lemas.


Setelah perdebatan kecil itu, akhirnya mereka berdua makan dengan hidmat. Selesai makan Aluna seperti nya kekenyangan sampai ia terkulai lemas di kursi tempat ia duduk saat makan.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya bingung Davin.


"T-t-u-a-n...! Sepertinya aku makan terlalu banyak, Sekarang aku merasa perut ku sedikit tidak nyaman." Ucap Aluna lemas.


"Dasar bodoh! kenapa kau ceroboh sekali!? sana masuk kamar mu dan istirahat lah sebentar. Aku akan kembali ke kantor, kau di sini saja dan ya jangan membuat masalah di rumahku!" Printah Davin pada Aluna.


"Aishh baiklah, baiklah aku mengerti!? Aku berjanji aku tidak akan buat masalah pada rumah mu." Jawab ketus Aluna.


"Kau benari mengusir ku dari rumah ku sendiri?" Sarkas Davin tidak suka.


"Astaga...! Salah lagi kan?" Gerutu Aluna menepuk jidat nya sendiri.


"Bukan begitu maksud ku tuan!" Bela Aluna.


"CK, sudah lah aku pergi saja." Kesal Davin berlalu dari hadapan Aluna.


Aluna yang bingung melihat tingkah Davin hanya bisa cengo.


"Ada apa dengan orang itu? sungguh pria yang aneh kadang baik, kadang juga nyebelin." Omel Aluna


Saat Aluna hendak bangkit dari duduk nya, Davin yang jelas-jelas sudah berpamitan untuk pergi kembali muncul di hadapan Aluna. dengan wajah yang cemberut, Dan itu membuat Aluna kaget.


"Astaga nagaaa....!?" Teriak kaget Aluna.


"Yak tuan! Bukan kah tadi kamu sudah pergi?" Kenapa tiba-tiba muncul lagi? bikin aku kaget saja." Bentak Aluna mengelus dadanya.


"Kenapa? Memang nya aku tidak boleh balik lagi ke rumah ku sendiri? Tanya marah Davin.


"Tidak, Bukan seperti itu maksud ku tapi___ belum selesai bicara Davin sudah menyela nya.


"Sudahlah, aku kembali hanya mau bertanya saja, apa perlu ku panggilkan dokter untuk memeriksa mu?" Tanya Davin pura-pura dingin.


"Ah tidak perlu, aku bisa mengurus nya sendiri. Kamu pergi lah, kembali ke kantor mu. Takut nya ada yang penting di sana." Tolak Aluna dengan halus.


"Hemm, baiklah." Jawab Davin dingin.


"Berhati-hatilah di jalan tuan." Ucap Aluna manis dengan melambaikan satu tangan ke udara.


Davin tak menjawab. ia hanya menyungging kan senyum tipis di bibirnya, sangat tipis sekali.

__ADS_1


Sungguh Davin di buat salah tingkah oleh sikap manis Aluna.


Setelah kepergian Davin, Aluna juga bangkit dari duduknya. Dia pergi untuk beristirahat di kamar nya.


"Ka Lisa...? Panggil Aluna tiba-tiba.


"Saya nona." Jawab Lisa segera.


"Perut ku sedikit tidak nyaman, aku pergi beristirahat sebentar, Nanti tolong bangunkan aku jika tuan arogan itu sudah kembali oke." Ujar Aluna berpesan pada Lisa.


"Baik nona." Jawab Lisa patuh.


 Setelah mengatakan itu, gegas Aluna naik ke lantai dua menuju kamar nya sendiri.


 Brughh!


Aluna menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur dan mulai menarik selimut nya untuk tidur sebentar.


"Ah...! Nyaman sekali." Monolog Aluna sambil memejamkan ke dua matanya.


Tanpa terasa waktu begitu cepat berputar, sekarang sudah menunjukan pukul 18:00 malam. Artinya Davin dan asistennya kembali pulang ke mansion megah itu.


"Selamat malam tuan..! Sapa para pelayan sambil membungkuk hormat pada Davin.


Davin menganggukan kepalanya. Lalu dia meminta Lisa untuk memanggilkan Aluna agar menemui nya di ruangan kerjanya.


"Lisa...! Apa dia sudah membaik sekarang? Tanya Davin pada pelayan setianya.


"Seharus begitu tuan muda." jawab Lisa.


"Biar saya periksa terlebih dahulu tuan," ucap Lisa lagi.


"Hemmmz, Suruh dia menemui ku di ruang kerja." Ujar davin.


"Baik tuan! "Jawab Lisa lagi.


 Lisa pergi lalu naik ke lantai dua untuk membangunkan aluna. namun tiba-tiba saja saat Lisa membuka pintu kamar aluna, Lisa kaget dan panik. Karna rupanya Aluna tidak di kamar,


Gegas Lisa mencoba mencari ke setiap penjuru kamar tersebut. Namun, nihil Lisa tidak menemukan keberadaan majikan barunya itu. Dan tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat Lisa berlari ke lantai dasar. untuk mencari keberadaan Aluna.


"Ibu....?" teriak Lisa panik, menuruni anak tangga.


"Ada apa Lisa? Kenapa kamu sepanik ini hah?" Tanya bibi Lin bingung.


"Ibu! apa ibu melihat nona muda ke luar dari kamarnya?" Tanya Lisa khawatir.


"Tidak nak, Memang ada apa?" Tanya bibi Lin penasaran.


" Ini gawat Bu, gawat..! Nona muda tidak ada di kamarnya Bu." Ujar Lisa mulai ketakutan.


"Apa maksud mu Lisa?" Teriak Davin yang baru saja keluar dari ruang kerja nya.


"Tuan maaf kan saya, Nona Aluna tidak ada di kamarnya." Ujar Lisa hati-hati karena takut di amuk sang tuan mudanya.


"Apa yang kau katakan Lisa? Bagai mana bisa gadis itu tidak ada di kamarnya hah?" Sarkas Davin marah.


"Sungguh tuan, saya sudah mencarinya di dalam kamar, namun, nona tidak ada di sana." Ujar Lisa lagi.


"Jadi maksud mu gadis kecil itu hilang?" Pungkas Davin menahan amarahnya.


"Saya juga belum yakin Tuan." Jawab Lisa dengan gemeteran.


"Kurang ngajar...!" Teriak Davin murka.


"Apa saja yang kau lakukan di rumah hah? Aku sudah menyuruhmu untuk menjaganya." Sarkas Davin lagi dengan emosi.


Alex....!!

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2