
Aluna kini sedang sibuk di dapur membantu bibi lin menghidangkan makan malam.
"Selesai....!" Serunya seraya menepuk-nepukan tangannya.
"Mana sih tuan arogan itu!? katanya mau makan tapi belum turun juga." Gerutu Aluna.
"Duduklah dulu, tuan muda pasti sebentar lagi turun." Ujar bibi Lin memberi saran.
"Baiklah." Jawab Aluna tersenyum manis.
Dari kejauhan Davin bisa melihat Aluna saat ini, Davin tersenyum hangat melihat tingkah lucu Aluna yang saat ini sedang menunggu nya untuk makan malam.
Aluna duduk manis sambil bernyanyi-nyanyi riang melihat pantulan dirinya di sendok yang sedang dia pegang, dengan raut wajah yang sengaja di buat lucu dan matanya yang terus di buat genit, tak lupa juga kaki pendek nya yang terus ber ayun-ayun menambah kesan kelucuannya di mata Davin.
"Dasar bocah" gumam Davin tersenyum lebar.
Davin terus tertawa geli melihat tingkah konyol Aluna, sungguh Davin benar-benar merasa gemas melihat Aluna yang seperti ini.
"Aishh! Kemana sih orang itu lama sekali? perut ku sudah di peras para cacing di dalam sini, Lapar sekali...., huhuuu." Monolog Aluna mengelus perut ratanya.
Davin yang mendengar keluhan Aluna pun seketika langsung menghampiri nya di meja makan.
"Ahh akhirnya datang juga! ayo silahkan makan tuan." Ujar Aluna berpindah tempat duduk.
"Mau kemana?" Tanya Davin menahan pergelangan tangan Aluna.
"Aku mau pindah, aku duduk di sana sajah." Tunjuk Aluna pada kursi di sebrang Davin.
"Tidak perlu, sudah duduk di sini saja." perintah Davin lagi.
"Emhhh, baiklah." Jawab Aluna duduk kembali di kursi samping Davin.
Mereka berdua makan dengan tenang, sampai pada saat tiba Aluna mulai mempertanyakan pekerjaan nya.
"Tuan...!" Panggil Aluna
"Hemmmz?" Jawab Davin singkat.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Aluna hati-hati.
"Apa?" Jawab Davin dingin.
"Sebenarnya pekerjaan ku apa di sini? Dari tadi pagi aku merasa tidak bekerja apapun, kerjain ini tidak boleh kerjain itu juga tidak pernah di perbolehkan oleh bibi Lin juga ka Lisa." Keluh Aluna pada Davin.
"Kau hanya pelayan ku, jadi kau hanya perlu kerjakan apa yang ku perintahkan. Selain dari itu kau tidak ku izinkan untuk mengerjakan nya!" tegas Davin mengingatkan.
"Mana bisa seperti itu!? status ku di sini sama seperti pelayan lain nya, Kalau aku hanya sedikit bekerja aku tidak enak sama yang lain." Protes Aluna.
"Jadi kau mau nya apa?" Tanya dingin Davin.
"Ya aku mau nya bekerja seperti yang lain di sini, aku juga ingin mendapatkan gajih seperti mereka." Ujar Aluna.
__ADS_1
Davin yang tidak suka dengan permintaan aluna, tiba-tiba saja menghentikan acara makan nya. dengan sedikit emosi Davin menjatuhkan sendok yang ia pegang ke meja makan.
Pranggg!
Dan itu membuat Aluna kaget
"Aku katakan sekali lagi, kerjakan yang ku suruh selain dari itu jangan. paham!" Pungkas Davin tegas, lalu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Aluna.
"Ya Tuhan salah lagi." Ujar Aluna menepuk kening nya.
Lisa yang mengintip percakapan keduanya langsung menghampiri Aluna yang sedang ke bingungan.
"Nona...," Panggil Lisa.
"Ka Lisa? apa Kaka mendengar percakapan ku dengan nya tadi?" Tanya Aluna.
"Iya, Tidak apa-apa, dengarkan saya nona. Tuan muda paling tidak suka di bantah, jadi tolong lakukan saja apa yang di perintahkan tuan." Ujar Lisa memberitahu Aluna.
"Huhh! baiklah." Jawab Aluna lemas.
"Ya sudah lah, ka kalau begitu aku ke kamar dulu." Pamit Aluna.
"Iya nona, beristirahat lah saya sudah menyiapkan pakaian ganti untuk tidur nona." Kata Lisa lagi
"Kau sangat baik Kaka, terimakasih ya." Ucap Aluna memeluk Lisa.
"Sama-sama, sudah sekarang pergilah beristirahat." Titah Lisa.
"Emhh." Jawab Luna menganggukan kepalanya lalu gegas berlari menuju lantai dua.
"Ahh semoga tidur ku tenang kali ini, Semoga tidak ada drama lagi amin." Ucap Aluna pada dirinya sendiri.
Saat Aluna tengah bersiap untuk menyambut mimpi indah nya, berbeda dengan Davin yang sekarang ini justru sedang gelisah berharap gadis nya datang untuk membujuk dirinya yang tengah kesal.
"Ahh sial kemana gadis bodoh itu!? Kenapa dia tidak menyusul ku?" Gerutu Davin kesal.
"Apa iya dia masih bisa makan dengan tenang setelah melihatku kesal padanya?" Lagi Davin berbicara pada dirinya sendiri.
"Baiklah, biar ku lihat sendiri apa yang sedang dia lakukan sekarang." Monolog Davin
Davin turun dan mencari Aluna.
"Lisa...., panggil Davin.
"Iya tuan!" Jawab Lisa takut.
"Kemana dia?" Tanya Davin tanpa basa basi.
"Maksud tuan nona muda?" Tanya balik Lisa.
"Menurut mu siapa lagi yang ku cari!" Jawab kesal Davin.
__ADS_1
"Oh nona sudah pergi ke kamar nya tuan," Ucap Lisa lagi.
"Apa!? Astagaa gadis bodoh itu benar-benar membuat ku kesal." Ujar Davin lalu gegas naik lagi ke lantai dua menuju kamar Aluna.
Lisa yang melihat tuan nya di buat frustasi oleh seorang gadis kecil, hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh Lisa sangat puas melihat Davin kesal seperti itu.
"Menarik orang yang selalu membuat seisi rumah ini kesal, kali ini dia juga merasakan hal yang sama. Kau memang hebat nona." Monolog Lisa cekikikan
Davin yang kesal segera masuk ke dalam kamar Aluna, namun sesampainya dia di dalam kamar Davin malah di buat kelimpungan sendiri oleh tingkah Aluna.
"Oh tuhan...! Gadis ini benar-benar membahayakan." Keluh Davin mengelus dadanya.
"CK! bagai mana bisa dia tidur dengan pakaian kekurangan bahan seperti ini?" Kesal Davin yang langsung membenarkan selimut Aluna.
Davin mendekat, setengah mati dia menahan hasrat yang tiba-tiba muncul saat membetulkan selimut Aluna.
Davin menelan saliva nya kasar, saat melihat paha mulus milik Aluna.
Hasrat nya sebagai seorang pria normal tentu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Tunggu lah saat waktu nya tiba nanti, akan ku buat kau tak bisa beranjak dari ranjang mu gadis kecil!" Batin Davin tersenyum devil.
Setelah puas melihat gadis kesayangan nya itu, Davin langsung ke meninggalkan kamar Aluna. dan kembali ke ruang kerja nya.
Davin memanggil Bian sang asisten setia nya, untuk menemani nya bergadang malam ini.
[Bian ke ruang kerja ku sekarang! Jangan lupa kau bawa berkas hasil pertemuan tadi.] Perintah Davin lewat sambungan telponnya
Setelah menutup panggilan nya, Davin lalu duduk di kursi kebesaran nya. Tak hentinya ia memikirkan Aluna pikiran nya terus di hantui oleh godaan gadis kecil itu.
"Astagaa..! Kenapa dia tidak pergi juga dari kepala ku!?" Frustrasi Davin menyugar rambut nya ke belakang.
"Lihat saja besok, kau harus menerima hukuman dari ku gadis kecil! berani nya kau menggoda ku dan membuat ku tidak bisa tidur malam ini." Monolog Davin lagi
Saat sedang asyik melamun, tiba-tiba Davin di sadarkan oleh suara ketukan pintu dari luar.
Tokk..tokk...tok.
"Masuklah! " Teriak Davin tak sabaran.
Bian masuk dan langsung duduk di hadapan Davin, menyodorkan dua berkas ke pada Davin.
"Dua berkas?" Tanya Davin bingung.
"Benar tuan, Ini berkas hasil pertemuan, dan ini berkas hasil penelusuran mengenai nona kecil."
" Ah ya, Kenapa aku melupakan itu?" Ucap Davin.
"Baiklah terimakasih, kau memang selalu bisa ku andalkan, " Ucap Davin tulus.
"Sama-sama tuan," Balas bian tersenyum hangat
__ADS_1
"Ya Tuhan..., Tuanku benar-benar telah berubah, sejak kapan dia bisa berterimakasih pada orang lain? Sungguh ini perubahan yang baik." Ucap batin Bian.
Bersambung.........