
Aluna terus menggandeng tangan besar davin, mereka kembali ke mobil dan langsung pulang ke mansion.
Davin duduk di kursi penumpang,dengan Aluna di samping nya.
"Bian, Hubungi Alex. beri tahu dia kalau Aluna sudah kita temukan." Perintah Davin pada Bian.
"Baik tuan," sahut bian segera.
Kening Aluna mengerut heran, mendengar perkataan Davin yang telah menemukan nya.
"Ada apa tuan? Apa maksud dari perkataan mu tadi, kau bilang kalau kalian sudah menemukan ku?"tanya bingung Aluna.
"Apakah kalian pergi untuk mencariku?" Lanjutnya lagi penasaran. "Ya, Kami semua memang pergi untuk mencari mu." Jawab Davin jujur.
Aluna menoleh, menatap langsung wajah lelah Davin, seketika saja hatinya terenyuh haru. Gadis cantik itu tidak menyaka jika ternyata masih ada orang yang peduli dan menghawatirkan dirinya saat tidak ada.
"Tu-tuan, Apa kamu menghawatirkan ku, saat aku pergi?" Tanya Aluna penasaran. "Bukan hanya aku, Kita semua yang ada di rumah mencemaskan mu." Pungkas Davin dengan menatap dalam pada Aluna.
Hati Aluna menghangat, andai saja tidak ada Davin di depan nya saat ini. Aluna ingin berteriak dengan keras betapa bahagianya dia sekarang ini.
Aluna terharu sampai meneteskan air matanya, menubrukan badan nya pada dada kekar Davin.
Dan kembali , Aluna memeluk tubuh pria di depan nya, pria yang sempat ia anggap buruk tersebut.
"Terimakasih tuan, Karna telah mencemaskan ku. dan maaf juga aku pernah berburuk sangka padamu," Ucap sesal Aluna pada sang Davin.
"Tidak, jangan menangis," ujar Davin segera mengusap air mata Aluna. "Kau tidak salah, Aku yang telah berbuat salah padamu. jadi aku yang harusnya meminta maaf padamu." Ucapannya lagi seraya membalas pelukan Aluna. "Maaf untuk kejadian tadi malam, Sungguh aku tidak bermaksud untuk memaksamu." Sesal Davin memegang kedua tangan Aluna.
Aluna melihat ke tulusan di mata Davin, tapi hatinya belum yakin sepenuhnya jika Davin sebaik itu. Ia takut jika kebaikan Davin hanya untuk tujuan tertentu. Maka dari itu Aluna tetap harus waspada, tidak boleh terbuai dengan ke baikan sesaat nya.
__ADS_1
Aluna menangkup wajah tampan itu, dan lalu bertanya dengan hati-hati.
"Apa tuan menyukai ku?" Tanya Aluna hati-hati.
Davin tidak menjawab, ia hanya terus menatap dalam mata indah gadis di depannya. Hingga tanpa sadar menganggukan kepalanya. Aluna menganga tak percaya, dengan cepat ia segera merubah ekspresi kaget nya dengan kembali bersikap tengil.
"Ah, Tidak! tidak. Kau pasti bercanda, mana mungkin orang kaya seperti mu menyukai gadis biasa seperti ku hehee, dan juga, kita tidak pernah akur." pungkas Aluna berusaha mengusir ke gugupan nya.
"Aku serius menyukai mu sagita Aluna," Ucap Davin tegas dengan masih terus menatap lekat pada Aluna.
Aluna semakin di buat gugup dengan tatapan dalam itu, ia terus menghindar dari tatapan tersebut. "Hahaa! Tapi aku tidak menyukai mu tuan," Jawab Aluna spontan.
Aluna langsung merutuki perkataan nya, dia sudah yakin kalau Davin akan langsung kecewa dan marah mendengar jawaban Aluna.
"Baiklah tidak apa, Jika saat ini kau belum menyukai ku. berikan aku sedikit waktu untuk membuatmu menyukai ku, Bagai mana?" Ujar Davin mengelus sebelah pipi Aluna. "Hah!?" Syok Aluna seketika memelototkan kedua matanya.
Bian senang, saat melihat sang tuan akhirnya mengakui juga perihal perasaan nya pada Nona kecilnya.
*******************
Tak terasa akhirnya mereka sampai kembali ke mansion, kedatangan Aluna di sambut haru oleh Lisa dan bibi Lin. Gadis mungil itu keluar dari mobil dan langsung di hampiri bibi Lin.
"Ya Tuhan nona, Syukurlah kau baik-baik saja. kami semua mencemaskan mu di sini," Ucap haru bibi Lin yang langsung memeluk nya. "Tenanglah, Aku tidak pergi jauh bibi. lagi pula tadi pagi aku sudah izin ka Lisa untuk pergi keluar." Ujar Aluna menjelaskan.
"Ayo masuk lah, bibi sudah masakan makanan ke sukaan nona. Ayo mari ikut dengan ku!" Ajak bibi Lin pada Aluna. "Terimakasih bibi," Ucap haru Aluna. Aluna lalu mengikuti bibi Lin untuk masuk ke dalam mansion.
"Nona maafkan saya, Maaf karena sudah membiarkan Nona pergi sendirian." Ucap Lisa penuh sesal. "Kau bicara apa ka Lisa? Aku pergi atas ke inginan ku sendiri, dan aku memang tidak mau di temani, bukan salah mu juga! mengapa kau malah meminta maaf?" Pungkas Aluna heran.
"Ayo duduklah dulu, Sebentar bibi sajikan makanan untuk mu." Sela bibi Lin, memotong pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Apa Nona tau? Tuan muda begitu marah besar, saat ku beri tahu jika Nona pergi ke luar rumah sendirian tanpa pengawalan." Ujar lisa memberi tahu
"Ahh! Dia sangat berlebihan sekali sampai memarahi orang." Gerutu Aluna tak habis pikir. "Tuan muda begitu, karena sangat menyayangi Nona kecil. Jadi wajar jika dia bersikap begitu marah saat tau Nona pergi tanpa berpamitan padanya!" Ucap bibi Lin memberitahu. "Apa benar dia terlihat seperti itu bibi?" Ujar Aluna memastikan.
"Tentu saja begitu! kau tau, tadi dia sudah seperti anak ayam yang di tinggal ibunya saat mencari mu di setiap sudut mansion ini." Ujar bibi Lin sembari tersenyum geli, saat mengingat lagi ekspresi Davin pagi tadi. "Hahaaaaa! Lucu sekali dia," Tawa Aluna pecah setelah mendengar perkataan bibi Lin.
Semua orang pun ikut tertawa mendengar tawa Aluna.Tak terkecuali, dengan Davin yang sedang berada di halaman depan mansion.
Davin tersenyum hangat mendengar tawa Aluna dari dalam mansion.
"Nona terdengar sangat senang di dalam," Ujar Bian memperhatikan ekspresi tuan nya. "Kau benar Bian, aku senang mendengar nya seperti ini, Ku harap dia akan tetap bahagia saat bersamaku suatu hari nanti." Ucap Davin penuh harap. "Bersabarlah tuan, saya yakin kelak Nona kecil akan menyadari perasaan tulus anda." Sahut Bian menenangkan sang majikan. "Aku berharap juga begitu Bian." Timpal Davin lagi.
"Jangan menyerah tuan, Saya yakin tuan bisa meluluhkan hati Nona kecil." Kata Bian lagi menyemangati sang tuan nya. "Terimakasih Bian, Kau memang yang paling bisa mengerti diriku." Ucap tulus Davin.
Mereka tersenyum satu sama lain, dan kembali dengan aktivitas nya mengurus pemakaman bebek ke sayangnya Aluna. Aluna kembali ke halaman depan untuk melihat pemakaman Chan kesayangan nya.
"Apa sudah selesai tuan-tuan?" Tanya Aluna menghampiri mereka. "Hampir selesai, apa kau ingin menyampaikan sesuatu padanya, sebelum dia kita kuburkan?" Tanya Davin dengan lembut.
"Tentu saja, aku akan berpesan dulu padanya agar dia tidak tersesat lagi, di surga sana saat mencari ibunya." Pungkas polos Aluna.
Semua orang menahan tawanya, saat mereka mendengar ucapan polos sang calon nyonya muda mereka.
"Silahkan nona," Ucap Bian memberi jalan pada Aluna. Aluna bejalan menghampiri jasad bebek kesayangan nya, dan lalu berpamitan. "Chan, kau harus baik-baik di sana. jangan tersesat lagi, Kabari aku jika kau sudah bertemu ibu mu ya, kau mengerti!?" pesan Aluna pada anak bebek tersebut.
Davin tersenyum miris melihat kelakuan Aluna.
"Ya tuhan! Apa benar aku menyukai gadis polos ini? Ucap batin Davin meringis tak percaya.
Bersambung.......
__ADS_1