GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 2


__ADS_3

Akhhhhh.....


 Teriak Davin kesakitan, karna ulah Aluna yang tiba-tiba menggigit tangan nya.


Sedangkan Aluna tanpa merasa bersalah langsung lari mencoba untuk kabur dari genggaman Davin.


 Namun saat sedang berlari, Aluna tampak tak begitu memperhatikan jalanan di depan nya, karna dia sibuk menengok ke belakang, takut Davin akan mengejar nya.


Tiba-tiba saja Aluna menabrak tong sampah yang ada di pinggir jalan.


Brakk!


"Awhh.....!" Ringis Aluna kesakitan.


Aluna jatuh tersungkur ke kubangan air comberan yang menggenang di jalanan.


"Huuaaaaaaaa!!! Tangis Aluna seketika pecah.


 Wajah serta pakaian yang Aluna kenakan seketika kotor dan basah kuyup.


 Davin yang melihat kejadian lucu itu pun, seketika tertawa terpingkal-pingkal amarah yang tadi siap meledak seketika lenyap dan berganti dengan tawa lepas.


 Para pengawal nya pun Samapi terbelalak menyaksikan tuan mereka tertawa lepas seperti itu, pasal hampir sepuluh tahun lama nya mereka nyaris tak pernah melihat tuanya tertawa bahagia, jangankan untuk tertawa selepas itu sekedar senyum pun sepertinya mustahil Davin lakukan.


Kesan dingin dan arogan yang selalu melekat pada diri Davin, juga kurang nya perhatian dari sosok sang ibu menjadi alasan bagi Davin untuk bersikap lebih tertutup pada siapapun.


Bian sang asisten pribadi Davin pun langsung terperangah kala melihat tuan muda nya tertawa seperti itu, tak lupa diam-diam dia mengabadikan momen langka tersebut melalui ponsel pintar milik nya.


"Huaaaaaaaa......ini sangat sakit," pekik Aluna kesakitan.


"Kenapa sih tuhan, kau malah menghukum ku seperti ini? Huaaaa padahal aku ini anak yang baik kenapa nasib ku selalu sial?" keluh Aluna dengan sesegukan.


"Wahahaaaaaa...! Suara tawa davin pecah.


Terlihat sesekali Davin menghapus air mata nya, saking puas nya dia tertawa sampai meneteskan air mata.


Aluna seketika bangkit dari duduk nya, mengusap air mata nya kasar.


"Apa kau puas melihat penderitaan ku tuan arogan?" pungkas Aluna marah.


Tawa davin seketika terhenti, saat mendengar perkataan Aluna.


"Apa? Siapa yang kamu maksud dengan sebutan arogan.? jawab Davin dengan mendelikan kedua matanya.


"Kau! Memang siapa lagi?" sarkas Aluna menunjuk wajah Davin.


 Davin perlahan melangkah kan kaki panjang nya menghampiri Aluna, sambil menyipitkan ke dua mata indah nya. Davin lalu menunduk melihat wajah cantik Aluna yang terkena percikan air kotor.


Saking dekat nya jarak di antara mereka berdua, sampai membuat kedua nya di landa ke gugupan. Namun bukan Davin nama nya jika tak pintar menyembunyikan perasaannya.


Aluna mengerajap kan mata indah nya yang membuat Davin semakin gugup di buat nya.


" Wajah mu sepertinya sudah siap?" Ucap Davin mencoba menggoda Aluna.


"Siap apa?" Tanya Aluna polos.


"Siap untuk di goreng." Hahaaa.


lihat lah penampilan mu sekarang sudah seperti cumi bacem,"" Ledek Davin sambil tertawa.


"Keterlaluan! Tidak lucu tau gak?" Jawab Aluna kesal sambil mengerucutkan bibir ranum nya.


Davin tiba-tiba melepaskan jas mahal yang di kenakan nya, lalu memakaikan nya pada tubuh mungil Aluna.


 Aluna yang kaget dengan perlakuan Davin hanya bisa melongo, begitu juga dengan bian yang tak percaya melihat perlakuan manis tuan nya pada gadis kecil yang baru ia temui nya beberapa saat lalu.


"Kaka apa kita tidak salah melihat?" Tanya salah satu pengawal pada bian.


"Aku rasa tidak, itu benar-benar tuan muda kita." Jawab bian tanpa melepaskan pandangan nya dari kedua sejoli di hadapan nya.


"Luar biasa pengaruh gadis kecil itu, baru bertemu saja gadis itu sudah membawa perubahan besar pada tuan muda." Ujar sang pengawal lagi.


"Kamu benar Fathir, Bersiaplah sepertinya tugas kita akan bertambah." Ucap bian lagi.


"Kaka tenang saja, tanpa perintah tuan muda pun kami akan tetap siaga menjaga calon nyonya muda kita." Ujar Fathir.

__ADS_1


"Itu bagus." Jawab bian.


Kembali lagi ke pada pasangan yang tak henti nya berdebat.


"Hey! kenapa kau memberikan jas mu pada ku?" Tanya heran Aluna.


"Sudah pakai saja, jangan cerewet kalo kau gak mau masuk angin." Jawab Davin acuh.


Davin membuka kan pintu mobil, dan mempersilahkan Aluna untuk masuk.


"Ayo masuk, sebelum banyak orang yang jijik melihat mu." Titah Davin lagi.


Aluna seketika celingukan, melihat ke sekitar mereka benar kata Davin, Begitu banyak orang yang berlalu lalang di jalan itu.


Tanpa pikir panjang lagi, akhirnya Aluna berlari masuk ke dalam mobil, di ikuti juga oleh Davin.


"Ayo jalan." Perintah Davin pada bian.


"Kita langsung ke kantor tuan?" Tanya bian pada sang majikan.


"Kembali ke mansion." Jawab Davin kembali ke mode dingin.


"Baik tuan." Ucap bian lagi.


Sepanjang perjalanan menuju mansion milik Davin, Aluna terus menerus bersin Aluna sangat sensitif dengan dingin.


Hacuhh


Hacuhhh.


 Aluna terus menggosok hidung nya yang sudah memerah.


"Jangan terus di gosok, nanti hidung bengkak kaya hidung badut." Ujar Davin tanpa menoleh.


"Tidak akan! Hidung ku terlalu imut untuk di samakan dengan hidung badut." Jawab sepontan aluna


"Astaga...! Pede sekali kau." Ledek Davin tersenyum tipis, ia benar-benar ingin tertawa melihat kepolosan Aluna.


"Bukan pede ini tuh lebih ke fakta, bagai mana bisa hidung sekecil ini berubah jadi hidung badut hanya karna aku menggosok nya? kau ini aneh sekali tuan," ujar Aluna meledek kembali Davin.


"Kecuali hidung ku habis di sengat lebah, itu mungkin." Cicit Aluna lagi, yang masih terus memejamkan mata nya.


 Sepertinya Davin benar-benar telah jatuh hati pada gadis kecil di hadapan nya.


"Perasaan macam apa ini?" Batin Davin berteriak.


Tanpa sadar ia memegang dada nya sendiri, memastikan jika debaran kencang itu berasal dari dalam dada nya.


 Bian yang mengintip dari spion mobil pun tersenyum manis melihat tingkah tuan muda nya.


 Davin yang sadar jika sang asisten sedang memerhatikan nya, seketika ia berubah menjadi dingin kembali.


"Apa? kau lihat apa Bian?" Tanya dingin davin.


"Nona Aluna sangat manis dan lucu tuan." Puji bian tersenyum manis.


"Biasa sajah, Sudah kau fokus saja menyetir tidak perlu perhatikan yang lain lagi." Jawab ketus Davin


Davin begitu kesal, saat mendengar sang asisten memuji gadis nya.


Davin segera menoleh kembali melihat Aluna yang sedang terlelap di samping nya.


"Kau benar bian, dia begitu manis sangat manis." Batin Davin mengakui jika Aluna memang cantik dan manis.


"Aishhh Awas kau bian! berani nya kau memuji kecantikan gadis ku." Batin Davin lagi menajamkan pandangan nya pada sang asisten.


 Setelah tiga puluh menit lama nya, akhirnya mereka sampai ke mansion milik Davin. Aluna yang mulai membuka mata nya sangat kaget saat melihat ke luar jendela mobil


"Dimana aku? Tempat apa ini? Kenapa begitu banyak orang berbaju hitam disini?" Monolog Aluna kebingungan.


"Ayo turun." perintah Davin pada Aluna.


"Tunggu!! Aluna menarik tangan Davin untuk mencegah Davin keluar dari mobil.


"Kau membawa ku kemana? Tampat apa ini?" Tanya Aluna yang mulai ketakutan.

__ADS_1


"Pasar manusia." Jawab singkat davin lalu keluar dari mobil.


"Pasar manusia?" seru Aluna.


"Tunggu! Aluna segera turun dari mobil dan mengejar davin.


"Hey apa benar ini pasar manusia?" tanya penasaran Aluna.


"Ya," Jawab singkat davin.


"Apa kau sengaja membawaku ke sini? untuk menjual ku pada para pedagang di dalam sana? Tunjuk Aluna pada mansion mewah milik davin.


 Davin mengerutkan kening nya sambil mengikuti arah yang di tunjuk Aluna, setelah melihat nya seketika ide jahil muncul di otak Davin.


"Ya! Aku akan mencoba menawarkan mu di dalam pasar sana." Bisik Davin di telinga aluna.


"Meskipun kau terlihat jelek, tapi setidak nya daging dan organ dalam mu sehat. Pasti akan laku keras di pasaran," Ucap Davin lagi sambil berlalu meninggalkan Aluna yang sedang ternganga.


"A-apa katanya barusan? Daging? Organ dalam?" I-itu artinya____


Aluna melanjutkan lagi perkataan nya, ia suguh takut membayangkan nya saja sudah membuat dia merinding.


"Tidak! Aku tidak mau tubuh ku di potong-potong,! Ihh amit-amit..!" Serunya lagi.


 Davin tersenyum puas kala ia berhasil mengerjai Aluna.


"Tuan! Tuan tunggu....!" Teriak Aluna.


Kaki pendek Aluna berlari cepat menyusul Davin yang sudah hampir masuk ke dalam mansion.


"Jangan masuk dulu!" Cegah Aluna merentangkan kedua tangan nya, untuk menghalangi Davin masuk.


"Apa?" Tanya heran Davin.


"T-tuan, aku mohon jangan jual aku ya? Please." Mohon Aluna.


"Apa kau tidak kasihan melihat tubuh sekecil ini di potong-potong? Lagi pula daging dan organ dalam ku tidak sehat, karna aku suka sembarangan makan. Jadi sudah di pastikan jika daging ku tidak akan sehat untuk di konsumsi." Cerocos Aluna panjang lebar.


 Davin mengangkat sebelah alis nya, setelah mendengar perkataan Aluna.


"Ya, tidak sehat untuk manusia tapi sepertinya baik untuk pakan harimau dan kawan-kawan nya." Goda Davin lagi.


"HAhhh!! tidak, Tidak! Jangan lakukan itu aku mohon?"


"Aku janji akan melakukan apapun untuk mu, jadi pelayan di rumah mu juga aku tidak keberatan, asal jangan jual aku tolong." Ucap memohon Aluna menautkan kedua tangan di depan dadanya.


"Kau serius mau jadi pelayan ku?" Tanya Davin memastikan.


 Aluna dengan cepat menganggukan kepalanya.


"Meski tanpa di bayar sekalipun?" ujar Davin lagi.


"Iya, Aku bersedia meski tanpa di bayar sepeser pun, kamu cukup memberi ku makan dan Tempat tinggal itu sudah lebih dari cukup untuk ku." Jawab Aluna apa adanya.


"Baik, deal!" Ucap Davin sambil menjabat tangan Aluna.


"Kalau begitu, kau sudah bisa mulai dengan tugas mu sekarang?" Ujarnya lagi.


 Aluna menyambut senang ke putusan Davin, dengan antusias ia meng iya kan perkataan davin.


"Nah itu lebih baik, Kalau begitu ayo kita pergi dari sini, kita ke rumah mu saja sekarang." Ajak Aluna antusias.


"Baiklah, ayo masuk." Jawab Davin segera.


HAhhh cengo Aluna tak mengerti.


"Iya, ayo masuk! Kau bilang kau akan mulai jadi pelayan ku, jadi ayo masuk sekarang." Ujar davin


"Maksud mu? Ini rumah mu?" Tanya pasti Aluna tak percaya.


"Ya." jawab Davin singkat.


"Jadi tadi kau menipuku?" Kesal Aluna.


"Tidak! Kau sendiri yang bilang rumahku sebagai pasar, bukan aku." Jawab santai Davin.

__ADS_1


"Aishh, dasar keterlaluan...!" geram Aluna.


Bersambung..........


__ADS_2