
"Apa kau bercanda yang benar saja!? butuh waktu selama itu untuk mengunjungi tempat mu. Tidak, aku tidak mau mengantar mu!" Tolak Davin spontan. "Hahaaa..., Aku hanya bercanda tuan, Desa ku tidak jauh dari tempatnya paman di jalan xxx." Jelasnya lagi pada Davin. "Haiss kau ini." Kesal Davin tak terelakkan. "Baiklah kita ke sana sekarang, tapi ingat! Hanya sebentar. Mengerti!?" Sahut Davin memastikan. "Serius, tuan mau mengantar ku?" Seru Aluna tak percaya. " Hemm." Sahut Davin kembali. "Horeee...,terimakasih tuan," Ucap Aluna bersorak kegirangan.
Davin hanya mampu menggelengkan kepalanya, saat melihat Aluna yang begitu bahagia. Sampai tiba-tiba Davin berkata. "Ini tidak gratis, Kau harus membayar ku." Ujar Davin dengan tersenyum penuh kemenangan. "Aishh perhitungan sekali, Baiklah katakan! berapa aku harus membayar mu? Tenang saja sekarang aku sudah memiliki banyak uang. Jadi katakan lah berapa jumlah uang yang kau inginkan dari ku?" Ucap Aluna dengan bangganya.
"CK, Sombong!" Cibir Davin
"Lagi pula, siapa yang menginginkan uang mu? Uang ku jauh lebih banyak dari mu, Jadi simpanlah uang mu itu! aku tidak membutuhkan nya." Sombong Davin tak mau kalah. "Ishh, Kalau bukan uang, lalu kau apa dariku?" Penasaran Aluna.
Seketika Davin menghentikan mobil nya ke pinggir jalan, Davin langsung menatap intens pada Aluna. Sehingga Aluna gugup di buatnya.
"A-ada apa? Kenapa kau menatap ku seperti itu? Tanya Aluna gugup.
Bukan nya menjawab, Davin malah semakin merapatkan tubuh nya pada Aluna.
Dan dengan tiba-tiba Davin mengangkat tubuh mungil Aluna ke pangkuan nya, sampai membuat Aluna melotot karena syok.
"Yak! Apa yang kau lakukan? Bagai mana jika ada orang yang melihat kita tuan," ucap panik Aluna. "Biarkan saja," sahutnya tak peduli. "Ishh, Bagai mana jika orang yang melihat kita salah paham?" Ujar Aluna lagi. "Biarkan saja, Itu malah lebih bagus." Jawab Davin tenang, dengan masih setia menatap lekat wajah cantik Aluna di depan nya.
"Kenapa kau begitu cantik hem? Ujar Davin seraya merapihkan setiap anak rambut yang berantakan di wajah bulat Aluna. "Aishh, kau ini kenapa? Ayo turunkan aku," Rengek Aluna menggoyang-goyangkan badan nya.
Bukan nya menuruti permintaan Aluna, Davin malah semakin erat memeluk pinggang ramping Aluna.
Davin semakin merapatkan tubuhnya pada Aluna, dan lalu membisikan sesuatu padanya.
"Aku mencintaimu Aluna."
"Kau tau, jika kau sudah membuatku jatuh hati padamu, kau juga telah membuatku gila Aluna." Bisik Davin tepat di telinga Aluna.
"Hahh! Kalau kau gila, sebaiknya kau di rawat di rumah sakit jiwa. Jangan berkeliaran di tempat umum seperti ini, nanti kau bisa membahayakan orang lain tuan." Jawab Aluna polos. Yang sukses membuat Davin gemas sekaligus kesal karena kepolosan Aluna.
"Hey! Kau pikir aku gila karena penyakit hah!? Dasar tidak peka." Kesal Davin memalingkan wajahnya.
Aluna tersenyum puas karena telah berhasil mengerjai Davin, Aluna tidak bisa lagi untuk menahan tawanya.
"Hahaaaaa..., Tawa Aluna pun pecah, ia sungguh sangat senang melihat wajah tampan Davin jika sedang kesal seperti itu.
"Apa yang kau tertawakan? Memangnya ada yang lucu apa?" Ujar Davin semakin kesal. "Wajah mu sangat lucu kalau sedang cemberut begitu." Sahut Aluna tertawa geli sampai memegang perut nya.
"Turun sana!" Usir Davin melepaskan pelukannya dari pinggang Aluna.
Kini giliran Aluna yang menggoda balik Davin, bukan nya turun dari pangkuan Davin, Aluna malah semakin berani. Aluna mengalungkan ke dua tangan nya pada leher Davin, dan tanpa di sangka Aluna malah mencium pipi Davin dengan tiba-tiba.
Cup!
"Jangan marah lagi oke." Ucap Aluna tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
Hati Davin seketika langsung berbunga, seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan dari dalam perut nya sungguh menggelitik.
Davin meleleh dengan perlakuan Aluna, sungguh Davin tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu pada gadis kesayangan nya itu.
Dengan buru-buru, Davin langsung ******* lembut habis bibir manis yang sudah sejak tadi menggoda nya. Aluna yang awalnya menolak karena kaget dengan reaksi Davin padanya. Namun, semakin lama ia malah semakin menikmati permainan yang Davin mainkan. Hingga tanpa sadar Aluna pun membalas ciuman Davin tersebut.
Davin semakin berbunga, saat merasakan ada perlawanan dari Aluna. Hatinya seketika bersorak kegirangan, itu artinya kini Aluna sudah mulai menerima nya.Setelah beberapa menit mereka berciuman, Aluna yang sudah mulai ke habisan nafas memukul-mukul dada Davin.
Davin yang mengerti pun akhirnya melepaskan pagutan mereka. Aluna menutup wajah nya karena merasa malu. Davin tersenyum geli, melihat Aluna yang kini sedang salah tingkah itu.
"Kenapa menutupnya hem?" Bisik Davin sambil mencoba menyingkirkan ke dua tangan Aluna yang menutup wajahnya. "Aku malu...," Rengek Aluna mengintip dari sela-sela jari tangan nya.
Davin kembali tersenyum bahagia, dan memeluk Aluna dengan begitu sayang.
"Mulai sekarang, kau jangan lagi memanggil ku dengan sebutan tuan, Mengerti?" Perintah Davin.
__ADS_1
Aluna menurunkan ke dua tangan nya dari wajah kecil nya, dan kalau membalas perkataan Davin dengan serius.
"Jika aku tidak boleh memanggil mu dengan sebutan tuan, Lantas aku harus memanggil mu bagai mana?" Tanyanya dengan polos. "Terserah padamu saja, kau bisa memanggil ku apa saja tapi tidak untuk sebutan tuan, Karna aku bukan tuan mu." Timpal Davin lagi.
"Baiklah aku akan memanggil mu dengan nama saja, Apa boleh? Tanya Aluna hati-hati. "Baiklah tidak masalah sama sekali, Selagi kita belum menikah kau boleh memanggil ku dengan sebutan nama. Tapi jika setelah menikah nanti kau tidak ku izinkan memanggil ku dengan sebutan nama, kau mengerti?" Ujar Davin menjelaskan.
Mendengar soal pernikahan membuat Aluna menjadi sedikit sedih, Jujur saja Aluna memang belum mencintai Davin saat ini.
Ia takut mengecewakan Davin nanti nya.
Wajah Aluna berubah menjadi murung, melihat itu Davin menjadi panik sendiri.
"Hey ada apa? Apa aku sudah menyinggung mu?" Tanya panik Davin. "Tidak, aku tidak apa-apa." Jawab Aluna dengan senyum terpaksa. "Katakan lah, jika aku menyinggung mu. Kau hukum lah aku." Ujar Davin lagi
Aluna menggeleng kan kepalanya lalu menatap lekat wajah Davin.
"Boleh aku tanyakan sesuatu padamu? Tanya Aluna ragu. "Tanyakan saja, Ada apa? Davin mulai gelisah.
"Jika dalam waktu dekat, Aku belum bisa mencintai mu, apa kau akan langsung meninggalkan aku?" Tanya Aluna dengan hati-hati.
Davin membalas tatapan Aluna dengan penuh kasih sayang, dan lalu menjawab pertanyaan Aluna dengan yakin.
"Mengapa aku harus meninggalkan mu? Jika kau masih belum bisa mencintai ku, Maka aku akan tetap menunggu mu." Jawab pasti Davin.
"Jika selama nya aku tidak kunjung juga mencintai mu? Apa yang akan kamu lakukan padaku?" Tanya Aluna lagi.
"Aku tidak peduli, meski butuh waktu lama untuk membuat mu mencintai ku, Aku akan tetap terus menunggu mu." Kata Davin tak terbantahkan.
"Dan aku yakin suatu saat nanti, kau akan membalas perasaan ku terhadap mu." Lanjutnya lagi penuh keyakinan.
Mendengar itu, tiba-tiba saja mata Aluna menjadi berkaca-kaca karena terharu dengan perkataan Davin padanya.
"Terimakasih." Ucap Aluna kembali memeluk Davin.
Cup!
Davin kembali mengecup kilat bibir ranum Aluna.
"Baiklah, kau jangan khawatir aku pasti membantu mu untuk segera mencintai ku." Ujar Davin menggoda Aluna. "Ishh," Pekik aluna memukul pelan bahu kekar Davin.
"Sudah, Sekarang tolong lepaskan aku dulu oke? Biarkan aku duduk Normal di kursi. mengerti?" Perintah Aluna. "Baiklah dengan senang hati," sahut Davin tersenyum manis, dan lalu kembali mendudukan Aluna di kursi samping dirinya.
"Ya sudah, ayo! kita teruskan lagi perjalan nya. Sebentar lagi kita akan sampai." Ujar Aluna pada pria bertubuh jangkung itu.
"Baiklah nyonya Davin Damian." Balas Davin bersemangat. "Aishh apaan sih...," Pekik Aluna salah tingkah.
Dan setelah itu, mereka melanjutkan lagi perjalan mereka menuju ke pemakaman ke dua orang tua Aluna.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di desa tempat asal Aluna tinggal.
Davin dan Aluna pun turun dari mobil, dan langsung menghampiri warung kios kecil di samping pintu masuk pemakaman.
Keduanya gegas membeli sebuket bunga kecil dan air mineral yang di jual di kios tersebut.
Saat Davin sedang menenggak air minum di tangannya, tiba-tiba saja muncul seorang pria seusia Aluna memanggil dan menghampiri Aluna.
Davin di buat kaget, sampai memuncratkan air minum di mulut nya. Setelah melihat anak pria itu tiba-tiba memeluk erat tubuh Aluna.
"Luna...!" Teriak seorang pria dari arah samping mereka.
Mendengar panggilan itu, keduanya lantas menoleh, pada sumber suara tersebut.
__ADS_1
"Adrian?" Tunjuk Aluna memastikan.
"Iya ini aku Adrian, Apa kau melupakan ku setelah tinggal di kota hah?" Tanya Adrian pada Aluna.
Davin masih memperhatikan interaksi ke duanya sambil terus menenggak minuman nya, namun tiba-tiba saja__
Brugh!
Adrian tiba-tiba saja memeluk Aluna, tanpa izin dari Aluna sendiri.
Sewurrrr...
Seketika saja Davin memuncratkan air minum di mulut nya, ia sampai terbatuk-batuk. Karena kaget melihat anak laki-laki itu tiba-tiba memeluk gadis kesayangan nya, tepat di depan matanya. Davin seketika mengepalkan sebelah tangannya, karena mencoba menahan kekesalannya pada anak laki-laki di depannya.
Aluna yang kaget pun, dengan buru-buru melepaskan diri dari pelukan Andrian, dan langsung menghampiri Davin dengan wajah cemas.
"Hey ada apa, mengapa tidak pelan-pelan saja minum nya?" Omel Aluna dengan terus menepuk-nepuk punggung davin.
"Apa sudah lebih baik?" Tanya Aluna memastikan
Davin mengangguk, dan tiba-tiba berubah menjadi muram.
Rupanya Davin cemburu pada laki-laki tersebut.
Aluna mulai paham, dan dengan segera memperkenalkan Adrian pada Davin.
"Oh iya, Davin perkenalkan dia adalah Adrian, dia sahabat ku sewaktu kecil sampai sekarang." Ucap Aluna memperkenalkan keduanya.
Adrian mengulurkan tangan nya pada Davin.
"Adrian, Teman masa kecil Aluna di sini.
Dengan cepat Davin menjabat uluran tangan Adrian.
"Davin! Calon suaminya Aluna." Jawab tegas Davin penuh penekanan.
Adrian bingung lalu menoleh pada Aluna, untuk
Meminta penjelasan dari Aluna sendiri.
Aluna mengkedipkan sebelah matanya, tanda mengiyakan perkataan Davin.
"Baiklah selamat kalau begitu." Ucap Adrian lalu gegas meninggalkan Aluna dan Davin .
"Terimakasih Adri!" Jawab Aluna tersenyum hangat.
**************
Kini Aluna dan Davin sudah di depan makam mendiang ke dua orang tuan Aluna.
"Selamat siang ayah, ibu." Sapa Aluna pada batu nisan di depan nya.
"Maaf ya, Bu Luna baru sempat mengunjungi kalian lagi." Apa kalian baik-baik saja di sana?" Tanya Aluna sedih.
Davin merangkul Aluna dari samping, Davin mencoba menguatkan Aluna.
"Ayah, ibu, apa kalian berdua tau? Jika sekarang putri kalian ini telah mendapatkan keluarga yang baik hati. Seperti halnya kalian berdua, merekapun begitu menyayangi ku layaknya keluarga sendiri. Jadi ayah dan ibu, sekarang tidak perlu khawatir lagi, karena aku sudah berada di tempat yang jauh lebih baik dari tempat paman dan bibi." Ujar Aluna panjang lebar, mengadu pada ke dua orang tuanya.
Davin yang mulai kesal karena tak kunjung di perkenalkan, akhirnya ia dengan penuh percaya diri memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Aluna. Dan sekaligus meminta izin untuk menikahinya.
" Selamt siang Ayah, ibu. Perkenalkan saya Davin, calon menantu kalian. Semoga kalian berdua merestuiku untuk menikahi putri kalian." terimakasih juga karena kalian sudah melahirkan putri secantik dan sebaik ini, Saya berjanji akan selalu menjaga dan melindungi putri kesayangan kalian. Jadi dengan penuh rasa hormat, saya mohon kalian bisa memberikan restu untuk ku menjaga putri kalian seumur hidupku." Pungkas Davin dengan panjang lebar.
__ADS_1
Mendengar itu, seketika Aluna tersenyum hangat menyambut perkataan calon suaminya itu.
.Bersambung........