GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 3


__ADS_3

 Davin melewati Aluna begitu saja, ia masuk dan langsung menuju ke ruangan kerja nya. Di iktuti oleh bian, bian yang sedari tak hentinya tersenyum karena melihat kejahilan tuan nya pada aluna.


"Ternyata tuan ku bisa jahil juga." Batin bian tersenyum senang.


"Kau kenapa senyum-senyum sendiri bian?" Tanya Davin keheranan.


"Ah tidak apa-apa tuan, Saya hanya merasa senang saja melihat tuan yang sekarang." Ujar bian jujur


"Memang nya aku kenapa bian?" Tanya Davin penasaran.


"Tidak apa-apa tuan, Lupakan saja" sahut bian lagi.


"Hari ini kau sangat aneh bian." Gerutu davin.


Semetara di luar, Aluna masih setia berdiri mengamati sekeliling mansion.


Setelah puas, barulah dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam mansion mewah tersebut.


"Wahh..! mewah dan luas sekali rumah nya, ini sih kayanya muat untuk di tinggali orang sekomplek." Ujar Aluna kagum.


Aluna terus mengagumi setiap sudut interior di masion tersebut, sampai ia tak sadar jika ada seseorang di belakang mengikuti nya.


"Wah cantik sekali lukisan ini." Kagum Aluna meraba sebuah lukisan yang terdapat di salah satu dinding ruangan tersebut.


"Hati-hati itu lukisan kesayangan tuan muda." Ujar seseorang di belakang Aluna.


"Astaga! Kau mengagetkan ku saja." Teriak kaget Aluna sambil mengelus dada nya.


"Maaf nona, Saya tidak bermaksud mengagetkan nona, saya di suruh tuan muda untuk mengantar nona ke kamar." Ujar sang pelayan


"Ah begitu ya? Ya sudah ayo," Jawab Aluna.


"Mari ikut saya nona," Ajak sang pelayan.


 Aluna gegas mengikuti sang pelayan, sesaat kemudian Aluna mencoba berkenalan pada pelayan itu.


"Siapa nama mu?" Tanya Aluna.


"Nama saya Monalisa nona, panggil saja saya Lisa nona," Jawab Lisa dengan ramah.


"Baik, berapa usia mu sekarang?" Tanya Aluna lagi.


"Sudah dua puluh lima tahun nona." Timpal Lisa.


"Wah ternyata kamu lebih tua dariku, Baik lah aku akan memanggil mu Kaka saja, sepertinya kurang sopan jika aku memanggil mu dengan sebutan nama." Ujar aluna


"Baiklah, terserah nona saja." Balas Lisa tersenyum ramah.


 Sepanjang berjalan menuju kamar yang terletak di lantai dua, Aluna dan Lisa terus saja mengobrol.


"Kaka sangat cantik dan anggun, kenapa mau jadi pelayan di sini? Apa Kaka juga bernasib sama seperti ku yang di jual oleh keluarga mu ke pada tuan arogan itu?" Tanya panjang lebar Aluna.


 Lisa tersenyum mendengar pengakuan jujur Aluna yang menurut nya sangatlah polos.


"Saya tidak di beli oleh tuan muda nona, saya memang suka rela mau bekerja di sini." Jawab Lisa ramah.


"Kenapa Kaka mau bekerja di sini?" tanya Aluna kembali.


"Untuk membalas jasa tuan muda, Tuan muda sudah begitu banyak membantu keluarga saya, tuan sudah menyelamatkan saya dan ibu saya dari kekejaman papah saya. Beliau juga lah yang sudah menampung kami di sini, memberi ibu saya pekerjaan dan menyekolahkan saya sampai tuntas. Untuk itu saya memutuskan untuk mengabdi pada beliau sebagai tanda balas jasa saya dan ibu saya." Jelas Lisa panjang lebar.


"Apa benar dia sebaik itu?" Monolog Aluna tak percaya.


"Silahkan nona." Ucap Lisa mempersilahkan Aluna masuk.


Lisa membuka pintu kamar untuk Aluna.


"Wahh, apa ini kamar ku? Luas sekali, Tempat tidur nya juga lebih besar dari tempat tidur ku di rumah paman." Cerocos Aluna kegirangan.


"Aishh, mengingat pria jahat itu aku jadi ingin sekali memukul kepala cilok nya." Gerutu aluna.


 Mendengar ucapan random Aluna, membuat Lisa tak bisa menghentikan senyum manis di bibir nya. Menurut nya Aluna begitu manis dan polos, akan sangat cocok jika mereka di takdirkan untuk berjodoh.


"Ini sangat bagus, semoga kalian memang berjodoh." ucap batin Lisa penuh harap.


"Kenapa Kaka melamun?" Tanya penasaran Aluna.


"Ti-tidak apa-apa nona." Jawab gugup lisa

__ADS_1


"Ini kamar mandi nya, silahkan nona membersihkan diri dulu. Nanti saya datang lagi untuk membawa pakaian ganti untuk nona." ujar Lisa lagi.


"Hemm, baiklah jangan panggil aku dengan sebutan itu, Kaka panggil aku Aluna atau Luna saja biar lebih akrab oke." Pinta Aluna mengangkat jari tangan nya membentuk huruf O.


"Baiklah non__maksud saya Luna." Jawab Lisa tersenyum kikuk.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Lisa.


"Hemm." Jawab singkat Aluna.


 Setelah kepergian Lisa, Aluna langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan nya yang kotor.


"Aishh, lihat lah betapa jelek nya aku, Pantas saja dia menyebut ku cumi bacem." Huhuuu monolog Aluna di depan cermin


 Lima belas menit berlalu, akhirnya Aluna selesai dengan ritual mandi nya.


"Huhh akhirnya, Nyaman juga setelah aku mandi."


Tok__tok__tok.


Masuk! Teriak Aluna.


 Lisa masuk membawa sebuah paper bag, dan juga nampan berisi air minum dan obat.


"Ini pakaian untuk nona pakai, dan ini obat untuk nona minum."


"Aku tidak sakit Kaka, kenapa di suruh minum obat." Tanya Aluna ketakutan.


"Tuan muda bilang, jika nona sedang demam itu sebab nya beliau menyuruh saya memberi obat untuk nona." Jelas Lisa.


"Ah dia sangat berlebihan, Kaka aku sudah terbiasa dengan demam seperti ini, jadi aku tidak memerlukan obat itu." Ujar Aluna menolak halus.


"Satu lagi, jangan panggil aku nona Kaka," Aku bukan nona mu di rumah ini, status kita sama di sini Kaka." Cerocos Aluna lagi


"Maaf nona, saya tidak bisa. Tuan bian sudah memperingatkan semua pekerja di sini untuk tidak memanggil nona dengan sebutan nama."jawab lisa


"Kenapa begitu aneh sekali." Heran aluna


"Sini baju nya, aku mau pakai dulu."


"Ini silahkan nona, nanti setelah selesai nona di minta tuan untuk menemui nya di ruang kerja." Ujar Lisa.


 Lisa keluar dari dalam kamar Aluna, dan segera melaporkan keadaan Aluna pada Davin.


Tok


Tok


"Masuk," titah davin lagi.


"Tuan..! Panggil Lisa takut.


"Bagai mana?" Tanya Davin langsung.


"Nona Luna menolak meminum obatnya, katanya nona sudah terbiasa membiarkan demam nya sampai sembuh sendiri." Ujar lisa menjelaskan


"Apa-apaan dia! Berani nya mengabaikan perintah ku." Kata Davin emosi.


"Kau boleh pergi Lisa." Perintah Davin.


"Baik tuan, saya permisi." Pamit Lisa


"Hemmm.! Jawab dingin Davin.


"Bian...! Panggil Davin.


"Saya tuan." sahut bian dengan segera.


"Kau cari tahu semua tentang kehidupan gadis itu, semua nya tanpa ada yang terlewat." Perintah davin


"Baik tuan." Balas bian lag.i


"Kau tunggulah di mobil terlebih dahulu, aku akan memeriksa gadis ceroboh itu dulu." Ucap biangera.


"Baiklah tuan." Ucap bian lagi.


Davin gegas keluar dari dalam ruang kerjanya, dengan langkah kaki yang lebar davin menuju kamar Aluna.

__ADS_1


Cklekk.


"Astaga! sejak kapan tuan di sini?" Mengagetkan ku saja." Ucap Aluna mengelus dada nya yang kaget


"Apa kau sudah meminum obat mu?" Tanya langsung Davin.


"Ah itu, Tidak aku tidak meminum nya, lagi pula demam ku sudah mendingan." kilah Aluna karena takut.


"Aku menyuruh mu meminum nya! Kenapa tidak kau meminum nya," Ujar Davin lagi.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja." sahut Aluna takut.


"Mau kau minum sendiri, atau aku yang meminumkan nya padamu?" Tanya Davin seraya melangkah kan kakinya masuk ke dalam kamar Aluna.


Davin terus berjalan maju, membuat aluna takut dan bejalan mundur.


"Jadi bagai mana, Kau mau meminum nya sendri ataw_____


"I-iya, i-ya aku minum sendiri sekarang." Jawab terbata Aluna.


Setelah itu, Aluna buru-buru mengambil air serta memasukan obat ke dalam mulut nya.


"Sudahkan?" Tanya Aluna takut.


"Bagus, Ucap Davin mengacak sedikit rambut Aluna.


"Ishh,jangan di berantakin lagi." Keluh aluna kesal


"Ayo turun dan ikut aku." Ajak davin menarik tangan Aluna tiba-tiba.


"Kita mau kemana? Tanya heran Aluna.


"Hari ini kau harus memulai pekerjaan mu." pekik davin, sambil terus berjalan menuruni tangga.


  Sesampainya di bawah, semua pelayan dan penjaga menyapa dan membukuk kan tubuh mereka untuk menghormati sang tuan rumah.


 Davin menganggukan kepalanya saat melewati semua pekerjanya, sesampai nya di luar bian dengan cepat membuka pintu mobil.


"Silahkan tuan, nona!" Ucap bian ramah.


Davin terus menggandeng tangan mungil itu menuju mobil, namun saat henda nyuruh Aluna masuk tiba-tiba ke dua mata Davin terbelalak melihat penampilan Aluna.


 Dengan marah Davin menarik lagi kembali tangan aluna yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Pakaian apa yang kau pakai ini hah?" geram marah Davin.


"Ada apa memang nya dengan baju ku?" Tanya Aluna heran.


"Dari mana kau dapatkan pakaian jelek ini hah?" Teriak Davin tak suka melihat pakaian Aluna yang sangat terbuka itu.


"Hey...! Pelan kan nada suara mu itu! kenapa kamu sangat marah seperti itu? Memang nya apa yang salah dengan pakaian ku?" Balas Aluna tak terima.


Semua orang yang ada di mansion sangat ketar ketir kala mendengar suara lantang dari tuan mereka,


Semuanya langsung berhamburan ke halaman depan,untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.


"Bian...!!" teriak Davin.


 Bian yang di panggil seketika buru-buru menghadap sang tuan nya.


"I-iya t-uan." Jawab bian gugup tak berani melihat wajah Davin.


"Siapa yang memberikan dia pakaian jelek ini?" Tanya dingin davin menahan marah.


"S-saya menyuruh Lisa membelikan pakaian untuk nona, tapi saya tidak tahu kalau pakaian nya seperti ini tuan." Jawab jujur bian


"Ahh, dasar tidak becus." Teriak marah davin


Aluna yang kaget dengan teriak Davin, seketika memarahi balik Davin.


"Ada apa dengan mu? Kenapa kamu marah-marah seperti ini?" Tanya Aluna kesal.


Davin tiba-tiba menatap Aluna dengan tatapan tajam nya.


"Masuk!" teriak Davin pada Aluna.


Davin dengan kasar mendorong Aluna untuk masuk dalam mobi.

__ADS_1


"AWw!! sakit tuan," Ringis Aluna.


Bersambung....


__ADS_2