GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 18


__ADS_3

Apa..!?" Teriak kaget Davin.


Aluna meringis ikut kaget juga bingung dengan reaksi Davin.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Heran Aluna mengerutkan keningnya.


Davin tiba-tiba menjadi kesal sendiri, hingga tanpa sadar ia melemparkan sendok di tangan nya. Dengan wajah yang kesal Davin bangkit dari tempat duduknya, dan lalu pergi begitu saja meninggalkan Aluna yang masih menatapnya bingung.


"Yak! Tuan kau mau kemana? Selesaikan dulu makan mu!" Teriak Aluna berusaha menahan Davin untuk pergi.


"Kau saja yang makan, Aku sudah tidak berselera!" Jawab Davin mengibaskan tangan nya ke belakang.


Davin masuk ke ruang kerjanya, lalu menutup pintu dengan begitu keras. Sampai semua orang terperanjat kaget.


Brakk!


"Aishh! Kenapa dia mudah sekali marah?" Gerutu Aluna.


"Nona, sepertinya tuan tidak suka mendengar nona membicarakan kekasih nona." Ucap Lisa menebak.


"Hah! Kenapa begitu? aneh sekali," heran Aluna.


"Sebaiknya nona segera menyusul tuan, biar tuan tidak marah lagi." Saran Lisa pada Aluna.


"Begitu ya? Baiklah kalau begitu. ka Lisa tolong beresin ini ya, aku pergi melihatnya dulu."Ujar Aluna bergegas bangkit dari duduknya.


"Iya, iya silahkan nona." jawab Lisa cepat.


Aluna gegas pergi menyusul Davin ke ruang kerjanya.


Tokk..tokk...


Tidak ada Jawaban dari dalam, lalu Aluna memutuskan untuk masuk.


Cklek!


"Kenapa gelap sekali?" Ucap Aluna masuk perlahan.


Aluna masuk dengan mengendap-endap,jujur saja Aluna takut dengan gelap tapi kali ini dia mengabaikan ketakutan nya. karna baginya sekarang tidak ada yang lebih menakutkan kecuali kemarahan singa pecemburu nya itu.


"Tuan...!"


"Dimana kau? Apa kau di dalam!?" Teriak Aluna memanggil-manggil nama Davin.


"Kenapa kau mematikan lampunya? Aku takut gelap, aku tak bisa melihat apapun." Lagi, Aluna memanggil Davin dengan ketakutan.


Tidak ada sahutan apapun dari Davin, Aluna semakin takut sampai ia berniat untuk ke luar lagi. Namun, saat Aluna berbalik untuk keluar tiba-tiba saja seseorang mendorong nya sampai ke meja kerja Davin.


Aluna yang ketakutan langsung berteriak panik.


"Aaaaaaaah hantuuuuuu...!"


Teriak Aluna seketika memeluk erat tubuh seseorang yang telah mendorong nya.


"Hhuaaaaaa...! Mau ke luar, aku tidak mau di sini. Di sini gelap menyeramkan," Tangis Aluna pecah sambil menarik-narik pakaian orang di depan nya.

__ADS_1


Hati Davin bersorak girang saat merasakan pelukan hangat Aluna. Tidak di sangka niat Davin hanya ingin mengerjai Aluna malah mendapat hadiah dadakan.


Setelah puas merasakan pelukan Aluna, Davin menyalakan lampu dan melihat Aluna yang masih ketakutan. 


Davin mengangkat wajah Aluna untuk menghadapnya.


Aluna masih terus menangis dan meremas pakaian Davin.


"Tenanglah aku di sini," Bisik Davin di telinga Aluna.


Aluna membuka matanya, dan seketika memukul-mukul dada Davin kesal.


"Keterlaluan! Kau jahat, aku sangat ketakutan hhuaaaaa!" Teriak Aluna menangis kecang.


"Baiklah, baiklah aku minta maaf oke?" Mohon Davin menenangkan Aluna.


Davin kembali memeluk Aluna, dan langsung di dorong kuat oleh Aluna.


"Hey! Aku sudah minta maaf padamu, mengapa kau malah mendorong ku?" Ujar Davin bingung.


"Aku kesal padamu! Aku tidak mau melihat mu lagi!" Kata Aluna bersiap pergi. Namun, dengan cepat Davin menahan nya.


Davin kembali mengangkat tubuh mengil itu, dan mendudukan nya lagi di meja kerjanya. Davin terus menghimpit tubuh kecil Aluna, hingga perlahan wajah mereka semakin dekat. 


Saking dekatnya hingga nyaris tak berjarak, kembali jantung Davin berdetak lebih kencang nafas yang memburu sudah Aluna rasakan. Dan itu membuat Aluna menjadi gugup, sedikit lagi Davin nyaris merasakan bibir ranum Aluna lagi. 


Namun, hal tak terduga terjadi, membuat Davin berteriak kesakitan.


"K-kau mau apa?" Tanya Aluna gugup.


"Pejamkan matamu," sahut Davin dengan terus mencoba menggapai bibir Aluna.


Grepp..


Awhhh!


Teriak Davin kesakitan.


Ya kali ini Aluna berulah lagi dengan menggigit pipi mulus Davin.


"Ada apa dengan mu? Kenapa kau selalu merusak kesenangan ku!?" Teriak marah Davin.


Aluna turun dari meja dan lalu memarahi balik Davin.


"Dengarkan aku tuan Davin Damian. Kau memang telah membeli ku, tapi bukan berarti kau bisa melecehkan ku sesuka hatimu! Jika kau benar-benar butuh hiburan pergilah, cari wanita lain yang mau menyenangkan mu. karna aku bukan wanita penghibur untuk mu." Ucap kecewa Aluna menunjuk wajah Davin dan lalu berlari keluar ruangan tersebut.


"Aku kecewa padamu tuan arogan! Kukira kau pria berbeda, nyatanya kau sama saja brengseknya seperti kebanyakan pria di luar sana." Ucap batin Aluna dengan berderai air mata.


Lisa yang tak sengaja melihat Aluna menangis memasuki kamarnya, seketika berlari menyusul Aluna.


Tokk..Tokk...


"Nona buka pintunya, Apa nona baik-baik saja?" Teriak Lisa khawatir.


"Maaf ka, sekarang aku mau sendiri dulu. Kaka pergilah aku baik-baik saja," sahut Aluna dari dalam kamar.

__ADS_1


Lisa mengerti dan tidak mau mengganggu Aluna lagi, akhirnya Lisa pergi dengan pasrah.


Di ruang kerjanya, Davin sedang mengamuk dia benar-benar merutuki kecerobohan nya karna telah memaksa Aluna.


"Dasar bodoh! Mengapa aku harus melakukan itu padanya? Lihatlah sekarang dia pasti membenciku.!" Ucap Davin pada dirinya sendiri.


"Ahhhhh sial!" Teriak nya lagi sambil menghancurkan semua barang yang ada di ruangan tersebut.


Para pelayan yang ada di luar, langsung bersahutan mempertanyakan apa yang sudah terjadi hingga tuan muda mereka marah seperti itu.


"Kalian sedang apa? Teruskan perkerjaan kalian jangan bergosip terus." Tegur bibi Lin pada para pelayan.


Setelah mendengar teguran bibi Lin, para pelayan pun kembali ke pada pekerjaan nya masing-masing. 


"Kebiasaan, Selalu saja mau tau urusan orang." Omel bibi Lin kesal.


**************************


Pagi tiba, sinar matahari menyapa dan mengusik seorang pria yang sedang terlelap di ruangan yang berantakan.


Davin mengkerejapkan matanya, rupanya Davin tertidur di ruang kerjanya yang berantakan. dia nampak meraba sebelah pipinya nya yang masih terasa sedikit sakit. Hingga ingatan nya kembali ke kejadian tadi malam.


Seketika Davin bangkit dari tidurnya, dan lalu berlari ke luar menuju lantai dua tepatnya kamar Aluna.


"Tuan! Sarapan sudah siap, dan non_____ belum Lisa melanjutkan perkataan nya, Davin memotong nya dengan melambaikan sebelah tangan nya.


Davin terus berlari menaiki setiap anak tangga, sampai ia akhirnya sampai di depan pintu kamar Aluna. Dengan tidak sabaran Davin langsung mendorong pintu kamar dan ia langsung masuk. 


Namun, tampak kamar itu sudah kosong, tidak ada tanda-tanda keberadaan Aluna di kamar itu.


Davin terus mencari Aluna ke setiap sudut kamar, tak hentinya Davin memanggil-manggil nama Aluna namun nihil tak ada jawaban sama sekali.


Davin kembali berlari menuju lantai bawah. Dan langsung bertanya pada Lisa tentang keberadaan Aluna.


"Lisaaa! Teriak Davin keras.


Lisa yang di panggil pun seketika berlari cepat menghampiri sang tuan rumah.


"Saya tuan!" Jawab Lisa


"Dimana Aluna? Mengapa dia tidak ada di kamarnya?" Tanya Davin mulai panik.


"Maaf tuan, Tadi pagi-pagi sekali Nona sudah pergi keluar rumah." Sahut Lisa hati-hati.


"Pergi kemana? bersama siapa Lisa?" Tanya Davin lagi semakin takut.


"Saya kurang tau tuan, Nona tidak bilang mau kemana, dan Nona juga melarang siapapun mengantar nya." Ucap Lisa lagi.


"Ahhh siall...! Mengap kau tidak menahan nya Lisa? Mengapa kau membiarkan nya pergi sendirian!" Sarkas marah Davin.


"Maaf tuan," Sesal Lisa sedih.


"Dimana Bian? panggil dia sekarang juga!" Perintah Davin.


"Alex...!" Teriak Davin menggema ke seluruh penjuru mansion.

__ADS_1


"Kerahkan semua anak buahmu untuk mencari gadis ku!" Teriak Davin semakin marah dan membuat semua penghuni mansion ketar ketir melihatnya.


Bersambung.........


__ADS_2