GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 11


__ADS_3

Setelah semalaman Davin tak bisa tidur karna terus memikirkan Aluna, pagi ini Davin memutuskan untuk memberi Aluna ke sempatan ikut bekerja di kantor milik nya.


"Benar aku harus membawa nya ke kantor, aku tidak bisa meninggalkan nya di rumah. Bagai mana kalau dia sembarang lagi berpakaian dan menjadi tontonan gratis para penjaga di rumah? Tidak, itu tidak boleh terjadi." Ucap Davin pada dirinya sendiri


Davin sudah siap untuk berangkat kekantor, setelah merapihkan dasi juga jas mahal yang melekat pada tubuhnya, gegas Davin keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.


Sesampainya di ruang makan, Davin melihat Aluna yang tengah sibuk menata sarapan untuknya. Aluna begitu cantik pagi ini dengan hanya mengenakan setelan celana jeans panjang dan kaos oblong yang terlihat kebesaran di badan nya, juga dengan gaya rambut Cepol yang terlihat sembarangan ia ikat menambah kesan kecantikan yang Aluna miliki.


Davin semakin di buat terpikat, oleh kecantikan alami yang terpancar dari diri seorang sagita Aluna.


"Ya Tuhan,,,! Godaan apa lagi ini? Baru juga aku bisa menenangkan pikiran ku setelah semalaman aku di buat tak berdaya oleh nya, Dan apa lagi sekarang ini? mengapa dia mempertontonkan leher jenjang nya padaku? Benar-benar gadis ceroboh." Batin Davin kesal.


 Davin berjalan menghampiri Aluna, dan lalu duduk di kursi untuk memulai sarapan nya.


"Kau sudah bangun rupanya?" Sapa Davin basa basi


"Eh! kau sudah bangun ternyata, Sarapan nya sudah siap tadinya aku mau membangunkan mu, tapi baguslah jika kau sekarang sudah bangun." Ujar Aluna tersenyum manis


"Aku orang sibuk! jadi harus bangun lebih awal." Ucap nya sombong


"CK! bangun jam segini di bilang awal, Aku biasa bangun jam empat pagi gak sok sibuk seperti mu." Cibir Aluna sambil memasukan roti ke dalam mulut nya.


 Davin kesal tak terima dengan cibiran Aluna, dengan wajah yang di tekuk. Ia meletakan cangkir teh begitu keras, Membuat semua orang di rumah itu kaget.


"Iya karna kau bodoh, menyia-nyiakan waktu muda mu dengan tidak berguna." Ujar Davin tak terima.


"Siapa bilang tidak berguna? sebelum nya aku selalu berangkat kerja jam lima pagi. Dan lagi aku tidak bodoh, hanya saja sedikit kurang pintar." Ucap Aluna tak mau kalah.


"Perusahaan mana yang mempekerjakan karyawan nya sepagi itu?" Tanya Davin pura-pura tidak tahu.


"Perusahaan pembela kelaparan hahaa.....," Jawab Aluna dengan terbahak-bahak.


"Hey! Apa ada yang lucu? Mengapa kau tertawa sampai sekencang itu?" Teriak Davin semakin kesal.


Aluna seketika menghentikan tawa nya, dan lalu berubah menatap horor pada Davin.


Davin yang mendapat tatapan itu pun tiba-tiba merinding mengusap tengkuknya salah tingkah.


"Astaga! Mengapa tatapan nya menakutkan seperti itu?" Teriak batin Davin.


Sementara para pelayan mulai terdengar cekikikan, melihat tuan dingin mereka ketakutan seperti itu.


"Kalian lihat apa hah?" Teriak Davin melotot pada semua pelayan.


Mendengar teriakan Davin, Aluna yang masih tetap menatap horor pada Davin tiba-tiba bangkit dari duduk nya dan perlahan mendekati Davin. Dan hap Aluna langsung menangkup kedua pipi Davin, dia terus memperhatikan setiap inci dari wajah tampan itu.


Davin yang gugup seketika salah tingkah di buat Aluna.


"K-kau mau apa?" Tanya gugup Davin.


Sementara Aluna, tetap saja memperhatikan wajah tampan Davin tanpa berniat menjawab pertanyaan nya.

__ADS_1


Davin benar-benar di buat tidak berdaya oleh gadis di hadapan nya, jantung nya mulai tidak aman jika saat dekat dengan Aluna.


Aluna perlahan menggoyangkan kepala Davin ke kanan dan ke kiri, lalu tiba-tiba menepuk sebelah pipi nya.


 Pukk!


"Untung saja urat-urat mu masih aman tuan, tidak ada yang putus sama sekali." Ucap konyol Aluna yang langsung mengalihkan pandangan nya pada sarapan milik Davin.


"Apa maksud mu Aluna?" Sahut Davin penasaran.


 Bukan nya menjawab perkataan Davin, Aluna malah dengan tenang menyuapkan sandwich ke mulut Davin, Perlahan namun pasti Aluna menyuapi Davin sampai sarapan nya tandas tak tersisa. Dan setelah itu Aluna kembali mendudukan dirinya di kursi tempat nya duduk tadi.


"Kedepan nya jangan terlalu sering berteriak, bagai mana kalau tiba-tiba urat mu putus. Memang nya kau tidak takut, jika tiba-tiba saja kau meninggal akibat sering berteriak pada orang lain?" Ucap Aluna tanpa merasa berdosa.


Lagi para pelayan cekikikan mendengar perkataan konyol Aluna.


Sementara Davin hanya bisa melongo mendengar perkataan random Aluna.


Cukup! Menurut Davin Aluna sudah cukup mempermainkan nya seperti ini.


"Sudah? Tanya Davin kesal.


"Ya."Jawab Aluna acuh.


"Kalau begitu, cepat siap-siap dan ikut aku ke kantor hari ini." Perintah Davin pada Aluna.


"Lagi!?" Ulang Aluna memastikan.


"Cepatlah aku tidak suka di bantah, dan juga tidak suka menunggu lama." Kata Davin lagi tegas.


"Baiklah-baiklah aku siap-siap sekarang." Ujar Aluna berlalu pergi.


Setelah mengatakan itu, Aluna langsung lari terbirit-birit menuju kamar nya di lantai atas.


Sementara Davin, setelah selesai dengan sarapannya, gegas pergi dari ruang makan menuju halaman depan mansion nya.


Tak butuh waktu lama untuk Aluna bersiap-siap, dan sekarang dia sudah siap untuk pergi.


"Masuk." Titah Davin dingin.


Tanpa protes Aluna segera masuk ke mobil, dan duduk dengan tertib.


 Davin menyusul masuk, dan mereka mulai meninggalkan mansion.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun dari ke dua nya, hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil tersebut. 


 Sampai tiba-tiba Bian mencoba memberani kan diri nya untuk bercengkrama dengan Aluna.


"Nona," panggil Bian hati-hati.


Aluna menoleh pada Bian, dan langsung menyahuti panggilan Bian padanya. 

__ADS_1


"Ada apa tuan patuh?" Tanya Aluna memajukan wajahnya ke depan.


"Kenapa nona tidak bersekolah? Sepertinya usia Nona saat masih cocok jadi seorang siswi."


"Aku sudah terlalu pintar tuan, jadi aku tidak lagi memerlukan sekolah." Jawab asal Aluna yang membuat Davin ingin terbahak mendengar nya.


Davin memalingkan wajah nya melihat ke luar jendela mobil, dengan ekspresi wajah yang puas ia tersenyum geli sambil menutup mulut dengan tangan besar nya.


"Mampus kau Bian, Ayo sekarang kau mau menjawab apa lagi?" Sorak batin Davin bahagia melihat sang asisten yang langsung di nistakan oleh gadis kecil di samping nya.


Bian diam, tak melanjutkan lagi pertanyaan nya.


"Apa ada yang mau di tanyakan lagi tuan patuh..? Tanya Aluna dengan wajah polosnya.


Bian nampak berpikir. Namun, sesaat kemudian muncul ide untuk mengerjai tuan nya.


"Emhh! Apa nona sudah punya kekasih?" Tanya Bian lagi dengan sesekali melirik sang majikannya dari kaca spion di depan nya.


"Emhhh,Iya sudah! mengapa memang nya?" Jawab Aluna spontan yang berhasil membuat wajah Davin berubah muram dengan tatapan horornya.


 Sedangkan Bian, kini tersenyum puas karena telah berhasil membuat tuanya itu kesal karena cemburu.


"Sudah-Sudah jangan bicara lagi, dan kau Bian fokus lah menyetir." Perintah Davin tegas dengan raut wajah yang masih kesal.


"Baik tuan." Jawab Bian yang terus tersenyum mengejek. Dan di balas dengan tatapan tajam dari sang majikan.


Suasana hening kembali, sampai pada saat 


Kini giliran Aluna yang bertanya pada Davin.


"Tuan sebetulnya untuk apa aku ikut kekantor?bukan kah di sana tidak ada kerjaan untuk ku?" Tanya Aluna penasaran.


"Siapa bilang tidak ada kerajaan untuk mu?" Jawab Davin dingin.


"Mulai hari ini dan seterus nya, kau harus selalu ikut kekantor bersama ku." Ucap Davin lagi dengan tegas.


"Maksud nya apa tuan?" Tanya Aluna  bingung.


"Mulai hari ini kau telah resmi menjadi pegawai di kantor ku." Ucap Davin lagi memberitahu Aluna.


Aluna kaget sampai tidak bisa berkata-kata apa pun lagi, matanya mulai berkaca-kaca sungguh Aluna tidak bisa percaya jika keinginan nya untuk bekerja di sebuah prusaah akan terwujud.


"Tuan.....," Panggil Aluna segera, dengan kedua mata sudah berembun.


"Apa kau serius ingin mempekerjakan aku di kantor mu?" Lagi Aluna bertanya untuk memastikan.


"Ya, apa kau tidak mau?" Tanya Davin balik.


"Tidak, aku sangat ingin bekerja di kantor." Sahut Aluna lagi.


"Ya sudah kalau begitu," jawab final Davin.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2