GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 19


__ADS_3

Davin memarahi semua orang yang ada di mansion, sungguh Davin sangat takut jika Aluna benar-benar pergi darinya.


"Bian! Teriak Davin, memanggil asisten nya.


Bian berlari dengan cepat menghampiri Davin.


"Saya tuan," Jawab Bian ngos-ngosan.


"Ayo pergi, Kita cari gadis itu sekarang." Ucapannya.


"Nona kecil pergi?" Kaget Bian.


"Kalau dia tidak pergi, untuk apa kita mencarinya, Sudah cepatlah." Ujarnya lagi dengan kesal.


Mobil Davin mulai ke luar meninggalkan mansion, di ikuti dengan Alex dan rombongan anak buah nya. 


Semua nampak sibuk berpencar untuk dapat cepat menemukan Aluna.


"Cepatlah Bian! Aku tidak mau kehilangan dia," titah Davin tidak sabar.


"Tenanglah tuan, Saya yakin Nona kecil tidak akan pergi jauh dari wilayah ini." Ujar Bian menenangkan.


Davin terus merenung, batinnya begitu menyesal telah memperlalukan Aluna begitu buruk. 


"Jangan pergi Aluna, Jangan tinggalkan aku, ku mohon maafkan aku, kembalilah padaku. Aku berjanji tidak akan bersikap buruk lagi padamu." Jerit batin Davin menyesali perbuatannya pada Aluna.


Saat mobil Davin melaju pelan, tiba-tiba Bian melihat Aluna sedang duduk dan menangis di salah satu kedai kopi yang kebetulan tidak jauh dari mansion. Aluna terlihat sedang menangis dengan menyandarkan kepalanya ke pundak seorang pria seusianya.


"T-t-u-a-n, Bukankah itu Nona kecil?" Tunjuk Bian pada dua orang yang tengah duduk di kedai pinggir jalan.


Davin tersadar dari lamunan nya, segera ia menoleh melihat ke arah yang Bian tunjukan.


Seketika saja dada nya bergemuruh menahan marah, pemandangan di depan matanya kini seperti telah mencabik-cabik hati Davin. Sakit, Itu yang tengah Davin rasakan saat ini sehingga tanpa sadar cairan bening mulai lolos begitu saja dari sebelah mata elang nya.


Sambil tersenyum kecut Davin kembali mengarahkan pandangannya lurus ke depan, mata dan hatinya terlalu sakit melihat gadis kesayangan nya ada di pelukan pria lain.


"T-t-u-a-n, apa sebaiknya kita turun untuk menghampiri Nona kecil?" Tanya Bian hati-hati. "Tidak perlu, kita kembali saja." Sahut Davin dengan getir. " Apa anda baik-baik saja tuan?" Lagi, Bian bertanya untuk memastikan.


"Hemmmz." Jawab Davin singkat seraya menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan matanya dengan tenang.


"Ayo jalan lagi Bian," Perintah Davin dingin


"T-tapi Nona ke___ ucapan Bian terpotong kala Davin dengan tiba-tiba menyelahnya.


"Biarkan saja, Dia bersama kekasihnya saat ini." Ucap Davin lagi masih dengan mata terpejam.


"B-baiklah jika begitu," sahut Bian menuruti perintahnya.


Mobil Davin kembali berjalan pelan, Bian sengaja memelankan laju mobilnya. Berharap Aluna melihat keberadaan tuan nya, dan lalu kembali ikut bersama tuan nya kembali ke mansion. Namun, baru beberapa langkah laju mobil, tiba-tiba Bian melihat ada keributan antara Aluna dengan teman pria nya tersebut.

__ADS_1


Hingga tanpa pikir panjang lagi Bian mengerem mobil dengan tiba-tiba, hal itupun membuat Davin terbangun dan bingung.


"Ada apa Bian?" Tanya bingung Davin.


"Tuan, Nona kecil sepertinya sedang berdebat dengan teman prianya!" Ucap Bian lalu ke luar dari mobilnya.


Mendengar perkataan Bian, Davin dengan segera menyusul Bian ke luar mobil dan benar saja ia melihat Aluna sedang berdebat. Melihat itu dengan tanpa pikir panjang, Davin langsung berlari menghampiri Aluna. Davin berlari sampai tidak memperhatikan jalanan.


Ia tidak perduli, meski banyak pengendara yang memarahinya karna dia menyebrang dengan sembarangan.


Meski kecewa, Davin tetap khawatir jika ada yang menyakiti gadis kesayangan nya itu.


Hingga pada saat tiba, Davin menghampiri Aluna yang masih dengan menangis sesegukan.


"Aluna!" Teriak Davin memanggilnya.


Aluna menoleh, dan tanpa di sangka ia malah berlari menghampiri Davin seraya memeluknya.


Davin kaget sampai mulutnya ternganga, dengan segera Davin membalas pelukan Aluna dengan lembut.


"Apa yang terjadi hem?" Tanya Davin dengan lembut.


Aluna mengurai pelukan nya, dengan masih sesegukan Aluna mengangkat wajahnya untuk melihat Davin. 


"Dia jahat," Tunjuk Aluna pada teman prianya.


Davin mengalihkan pandangannya pada pria muda di depan nya, Davin menggeser tubuh Aluna ke samping nya. Dan lalu berjalan perlahan menghampiri pria itu.


Pria tersebutpun beringsut takut, melihat kilatan amarah di mata Davin. Davin hampir melayangkan pukulan nya pada pria tersebut, sebelum Aluna berlari menahan nya.


"Aku tidak melakukan apapun paman," Jawab takut pria itu.


"Aku bukan paman mu!" Bentak Davin, Seraya menatap nyalang pada anak muda di hadapan nya.


"Beraninya kau membuat gadis ku menangis hah!?" Lagi Davin berteriak marah pada anak itu, ia sudah bersiap untuk melayangkan pukulan padanya. Namun, Aluna dengan cepat menahan nya.


"Jangan!" Cegah Aluna menengahi mereka berdua.


Bian yang melihat itupun segera membantu Aluna untuk memisahkan ke duanya.


"Jangan memukulnya!" Ucap Aluna pada Davin.


"Kenapa Aluna?" Tanya heran Davin, mengerutkan keningnya. "Jangan pukul dia! Dia teman baik ku, kau sudah salah paham tuan," Ujar Aluna, seraya merentangkan kedua tangannya untuk memisahkan keduanya. "Apa maksud mu?" Sahut Davin semakin bingung.


"Bukankah tadi kau bilang, dia sudah Jahat padamu?" Pungkas Davin lagi. "Itu memang benar, Hanya saja bukan jahat padaku! Tapi pada pacar ku," sahut Aluna lagi dengan menyusut ingus nya.


Hahh!?" Kaget semuanya. "Dia jahat sudah membiarkan pacar kesayangan ku mati huwaaaaaaaaa," kembali, tangis Aluna pecah di hadapan Davin.


"Apa?"

__ADS_1


"Maksud nya pacar mu bukan dia?" Tunjuk Davin pada teman Aluna. "Bukan, Dia terlalu jelek untuk ku pacari. pacar ku ada di sana," Tunjuk Aluna pada anak bebek yang sudah terbujur kaku di atas meja.


"Astagaa...!" Ucap Davin dan Bian bersamaan.


Ntah, harus senang atau miris Davin sekarang ini. mendengar kebenaran jika pacar Aluna bukan seorang pria seperti bayangan nya.Tapi Davin juga di buat miris, bagai mana bisa gadis cantik sepertinya menganggap anak bebek sebagai pacarnya.


"Ya Tuhan..., kau memang sangat unik Aluna." Batin Davin miris.


"Tuan," Ringis Bian menoleh lemas pada sang majikan.


"It's oke Bian. Bawa saja, kita harus mengurus nya." Pasrah Davin. Memerintah sang asisten untuk mengurus bangkai anak bebek tersebut.


"Tuan patuh, tolong bawa dia ya? Aku akan mengubur nya dan memberi penghormatan terakhir untuk nya. Kasihan sekali dia, saking rindunya pada ku dia Samapi tidak mau makan. Hikss... Hikss." Ujar Aluna sedih seraya terus menyusut ingus yang keluar dari hidungnya.


Davin merangkul Aluna, kembali menenangkan nya.


"Tenanglah, kita akan mengurus pemakaman nya hari ini oke." Hibur Davin dengan terpaksa.


"Benarkah?" Sahut antusias Aluna, seraya buru-buru menghapus air matanya.


"Hem." Jawab Davin mengangguk.


"Huwaaaaaaa! Terimakasih tuan!" Seru Aluna memeluk erat tubuh Davin.


Davin tersenyum bahagia menyambut pelukan itu, ia begitu lega karena ternyata ketakutan nya tidak terjadi, ia benar-benar bersyukur karena Aluna sepertinya sudah tidak marah lagi padanya.


"Kalau begitu kita pulang sekarang ya?" Ajak Davin pada Aluna, yang langsung di sambut anggukan antusias oleh gadis cantik itu.


"Baiklah ayo! biar nanti ka Lisa yang membantu ku mengurus Chan." Ujarnya lagi tidak sabar.


"Chan? Tanya Davin bingung.


"Iya, nama pacarku Chan, tuan." Sahut Aluna menjelaskan. "Ahh begitu ya? Baiklah ayo." Ajak Davin lagi, seraya menggandeng tangan mungil Aluna.


"Tuan patuh, tolong bawa Chan dengan hati-hati ya? Jangan kasar kasihan dia." Pesan Aluna pada Bian.


"Hehee..., Ii-ya baik Nona," Jawab Bian terpaksa.


"Dan kau Yuda, pulang sana! Ingat ya aku masih belum selesai memberi pelajaran padamu. karena kau tidak bisa menjaga Chan dengan baik." Ancam Aluna pada sang sahabat.


"Dasar nenek sihir galak! bukan nya berterimakasih padaku, Kau malah menyalahkan ku!" Kesal Yuda pada Aluna.


"Diamlah! Untuk beberapa hari ke depan jangan bicara dulu padaku, Mengerti!?" Tunjuk Aluna pada yuda dan lalu pergi begitu saja, menggandeng tangan Davin menuju mobilnya.


"Terserah kau saja! Lagi pula siapa juga yang mau bicara padamu. dasar nenek sihir! Aku menyesal telah membantumu." Teriak yuda lagi semakin kesal.


"Nye Nye nyeeeee, Wleee...!" Balas Aluna menjulurkan lidah nya.


Davin dan Bian hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol Aluna.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2