
Siang pun tiba, sekarang Davin sudah rapih dan siap untuk pergi ke kantor. "Kau tidak perlu ke kantor hari ini," ujarnya.
"Kenapa begitu? Apa kau memecat ku tuan?" Tanya Aluna berubah sedih. "Tidak! Bukan seperti itu, kau kan masih dalam keadaan berduka jadi sebaiknya kau di rumah saja." Jelas Davin lagi.
"Aku sudah tidak apa-apa tuan, Jadi biarkan aku ke kantor juga ya?" Pinta Aluna pada Davin.
"Tidak kau di rumah saja, lagi pula di kantor juga sedang tidak ada banyak pekerjaan, Nanti kau akan bosan di sana." Pungkasnya tetap kekeuh melarang Aluna ikut bersamanya.
"Diam di rumah juga sama aku akan bosan." Protes Aluna, seraya mengerucutkan bibirnya.
"Jika kau bosan di sini, kau bisa mengajak Leon bermain bersama mu." Kata Davin yang membuat Aluna kegirangan. "Apa kau serius tuan? Aku boleh mengunjungi tuan Leon?" Sahut antusias Aluna.
"Membawanya keluar, ke halaman untuk jalan-jalan juga boleh? Tanya Aluna dengan mata berbinar.
"Ya jika dia mau, kau boleh membawa nya keluar kandang." Jawab Davin lagi. "Wahhh! Baiklah kalau begitu aku di rumah saja tuan." Ujar Aluna teriak kegirangan. "Bagus! anak pintar." Seru Davin mengacak rambut Aluna.
"Ishh.." Aluna memanyunkan bibir kecil nya.
"Ya sudah kau baik-baik di rumah, aku pergi dulu." Pamit Davin pada Aluna.
"Emhh," Jawab Aluna menganggukan kepalanya.
Davin gegas ke luar dari mansion menuju mobil mewah nya.
"Alex...! Panggil Davin.
"Saya tuan," Jawab Alex menghampiri Davin.
"Jaga baik-baik calon nyonya mu, jangan biarkan dia keluar sendirian lagi." Pesan Davin pada sang anak buah nya.
"Baik tuan!" Jawab Sigap Alex.
Setelah berpesan pada Alex, Davin masuk mobil dan mulai meninggalkan mansion.
************************
Aluna kini sedang bermain dengan Leon, sudah banyak permainan yang dia mainkan bersama binatang buas itu.
Meski sebenarnya hanya Aluna yang bermain, karna Leon tidak mengerti. Ia hanya menemani Aluna saja.
Saat Aluna sedang asyik berbaring di halaman rumah, Lisa datang membawakan Aluna makanan ringan tapi Lisa tidak berani untuk mendekat.
Jangankan Lisa, para penjaga rumah pun enggan untuk mendekat karena takut dengan singa pemangsa itu.
"N-nona, Ini cemilan untuk nona." Ucap Lisa terbata karena takut.
"Hai ka Lisa! Kemarilah, kita bermain bersama." Teriak Aluna mengajak Lisa. "Tidak nona, saya di sini saja." Jawab Lisa takut.
"Ayo kemari lah, Kaka tenang saja tuan Leon tidak akan memangsa Kaka!" Ujar Aluna sambil tertawa riangan. "Tidak nona, saya tetap di sini saja." Tolak Lisa lembut.
"Baiklah jika Kaka tidak mau, tolong Potokan aku sebentar ya ka," Pinta Aluna pada Lisa.
"Baik Nona, saya Potokan Nona dari sini saja ya?" Sahut Lisa pada Aluna.
"Tidak masalah ka, Tolong potokan yang bagus ya ka." Perintah Aluna dengan manis.
Lisa gegas menuruti permintaan Aluna untuk memotret nya.Namun, saat sedang asyik berpoto, tiba-tiba...
Brakk!
Pintu gerbang terbuka dengan keras, menampilkan sesosok wanita berumur namun masih terlihat cantik.
"Ayo masuk" ajak wanita tersebut pada para pengawal nya.
"Maaf anda di larang masuk nyonya!" Ujar Alex melarang wanita itu untuk masuk.
"Siapa yang melarang nya? berani sekali orang itu!" Cibir wanita cantik itu lagi.
Aluna terdiam melihat kedatangan wanita paruh baya itu.
"Ka Lisa, Siapa dia? cantik sekali." Kagum Aluna tanpa berkedip.
"Itu...belum Lisa memberi tahu, Aluna sudah di tarik terlebih dulu oleh wanita itu.
Leon menggeram, melihat Aluna di tarik oleh wanita itu.
"Diam Leon! aku tidak ada urusan dengan mu. Sentak wanita cantik itu.
"Nyonya kau mengenal tuan Leon juga ya?" Tanya Aluna polos, seraya tersenyum manis. "Aku memang mengenal nya," Balas wanita itu.
"Wahhh itu sangat keren nyonya!" Teriak heboh Aluna dengan bertepuk tangan.
"Sudah jangan tanyakan hal yang tidak penting lagi padaku, Ayo ikutlah dengan ku." Ujar wanita itu, seraya menarik tangan Aluna untuk pergi bersama nya.
__ADS_1
Semua para pelayan juga pengawal, di hadang oleh anak buah wanita itu.
"Nyonya saya mohon jangan bawa Nona kecil, Tuan akan marah jika tau Nona kecilnya tidak ada." Mohon Alex pada wanita paruh baya itu.
"Bilang pada tuan mu, jika dia ingin gadis ini kembali, datang sendiri padaku." Pungkasnya sebelum ia membawa Aluna masuk kedalam mobil nya.
"Nyonya saya mohon jangaan bawa Nona kecil!" Teriak mohon Alek, berusaha mencegah wanita itu membawa Aluna.
Aluna di tarik terus oleh wanita sampai ke dalam mobil.
"Nyonya anda siapa? Dan kita akan pergi kemana?" Tanya Aluna mulai takut.
"Sudah kau diam saja, tidak perlu tau aku akan membawa mu kemana." Sahut wanita cantik itu. "Tapi nyonya, tuan akan marah jika saya pergi tanpa izin darinya." Ucap Aluna lagi mulai panik.
"Tenanglah,Tuan mu sudah mengenal ku! jadi kau tidak perlu secemas ini." Sahutnya lagi.
Aluna tidak bisa berkutik lagi, mobil pun sudah melaju jauh membawa nya pergi keluar dari mansion. Pasrah hanya itu yang Aluna bisa lakukan saat ini.
"Tuan tolong aku, Aku takut wanita cantik ini akan menjualku!" Teriak batin Aluna.
"Ada apa? Mengapa kau menatap ku seperti itu?" Tanya wanita itu, seraya mendelikan kedua matanya. "Tenanglah, Aku tidak akan menyakiti mu! justru aku datang untuk menyelamatkan mu, dari bocah itu." Pungkasnya lagi, mencoba menenangkan Aluna.
"Bocah itu? Siapa yang nyonya maksud?" Tanya Aluna polos. "Aishh! Tuan mu memang nya siapa lagi!" Sentaknya pada Aluna.
Aluna langsung terdiam, saat wanita parubaya itu membentaknya tanpa sadar.
"Ngomong-ngomong Siapa namamu? Tanya wanita itu lagi.
"Saya Aluna, Sagita Aluna. tapi biasa di panggil Aluna nyonya." Sahut Aluna polos.
"Hemm!" Lanjutnya lagi.
"Mengapa kau ada di rumah putraku?" Tanyanya lagi. Mendengar itu, seketika saja kedua mata Aluna melotot kaget.
"Pu-putra mu?" Tanya Aluna kaget.
"Maksud nyonya tuan arogan, Eh ma-ksud ku tuan Davin itu putramu?" Tanya Aluna mendadak gugup.
"Ya, Dia putraku dulu, tapi sekarang dia sudah memusuhiku!" Kesal nyonya Megan.
"Maafkan saya nyonya, saya tidak tau jika nyonya adalah ibu dari tuan Davin, Salam hormat dari saya nyonya," Ucap hormat Aluna menundukan kepalanya pada Megan.
Nyonya Megan tersenyum hangat melihat Aluna yang polos. "sangat manis sekali." Ucap batin Megan.
"Kau sangat cantik dan manis, Ceritakan padaku dari mana kau mengenal putraku yang kurang ngajar itu, dan sejak kapan kalian tinggal bersama? Ayo coba kau jelaskan semuanya padaku." Pungkas beruntun nyonya Megan.
"Saya baru mengenal tuan beberapa waktu lalu nyonya, Tuan yang sudah menolong saya dari paman saya, yang hendak menjual saya pada pria buruk di tempat hiburan." Sahut Aluna, yang tiba-tiba sedih, seraya menundukan kepalanya.
"Kasihan sekali nasib gadis ini, syukurlah putraku yang menemukan mu. Bagai mana bisa ada manusia setega itu mau menghancurkan gadis sebaik dan semanis ini, haiss! Aku jadi ingin memberinya pelajaran." Ucap batin Megan sedih
"Baiklah, sudah lupakan saja, Maaf jika aku sudah mengingatkan mu pada kejadian buruk itu." Sesal nyonya Megan tak enak.
"Tidak apa-apa nyonya," timpal Aluna dengan senyum manis di wajahnya.
"Ya Tuhan! Mengapa kau sangat manis sekali, kemarilah biarkan aku memeluk mu gadis manis." Ujar nyonya Megan begitu gemas pada Aluna.
Aluna mendekat, dengan haru ia segera memeluk nyonya Megan dengan erat, Aluna sangat terharu sampai meneteskan air matanya di sebelah mata indahnya. Aluna begitu menikmati pelukan hangat tersebut, ingatan nya kembali pada saat masa-masa dimana Aluna masih bersama ibunya.
Dulu kehangatan ini selalu Aluna rasakan saat mendiang ibunya masih hidup, dan setelah ibunya meninggal kehangatan itupun sirna dari kehidupan Aluna.
Nyonya Megan mengurai pelukan nya. Namun, seketika saja ia langsung panik saat melihat Aluna menangis.
"Ada apa hey? Mengapa kau menangis? Apa aku telah membuat mu takut sayang?" Panik nyonya Megan, seraya mengusap air mata Aluna yang terus mengalir dengan ke dua tangan lembut nya.
Aluna memegang tangan lembut itu, dan lalu mengusap nya.
"Tidak nyonya! Saya baik-baik saja." Jawab Aluna dengan senyum yang di paksakan.
"Bicaralah ada apa? Apa putraku telah menyakiti mu hem?" Tanya nyonya Megan khawatir.
"Tidak sama sekali nyonya, Tuan selalu baik pada saya, saya hanya teringat mendiang ibu saya. Saat nyonya memeluk saya," Jawab Aluna sedih.
"Ibu mu sudah tidak ada?" Tanya nyonya Megan lagi.
"Kedua orang tua saya sudah tiada sejak usia saya 10tahun nyonya." Sahutnya dengan sedih.
"Ya Tuhan... Kemarilah sayang," Nyonya Megan kembali mendekap tubuh mungil itu.
"Mulai sekarang kau jangan bersedih lagi, Sekarang kau punya aku dan Dady nya Davin, kami akan menjadi orang tua mu juga sayang," Ucap Nyonya Megan menenangkan. "Benarkah nyonya? Tanya Aluna terharu.
"Tentu saja benar, Tapi dengan satu syarat." Kata Megan tegas.
"Syarat apa nyonya?" Penasaran Aluna.
__ADS_1
"Kau harus menjadi menantu keluarga Damian dulu!" Jawab Megan tegas tak terbantahkan
"Apa? Itu artinya saya harus menikah dulu dengan putra nyonya begitu?" Tanya Aluna kaget.
"Ya itu benar, Putra ku hanya Davin jadi kau harus menikah dengan nya terlebih dulh baru bisa jadi anak ku.!" Tegas megan
"Huhfff.!" Desah Aluna.
"Ada apa?" Penasaran nyonya Megan.
"Tuan arogan itu tempramen sangat buruk nyonya, saya tidak yakin bisa meluluhkan nya," Resah Aluna
"Tenanglah aku percaya padamu, kau pasti bisa menaklukkan bocah itu!" Ucap Final nyonya megan.
"Biar saya pikirkan dulu.!"ucap Aluna lagi
**********
Sementara di mansion Davin, semua orang sedang ketar ketir, karna mereka gagal mencegah nyonya besar membawa pergi Aluna.
"Sial!" Aku harus segera menghubungi tuan muda.
Alex terus Menerus mencoba menghubungi Davin, namun tidak kunjung ada jawaban juga.
"Ayolah Bian angkat tlpon nya." Kesal Alex.
"Kaka, Apa sudah ada jawaban dari tuan muda? Tanya Fathir pada Alex.
"Belum, tuan muda tidak merespon sama sekali, begitu juga dengan bian.!" Ujar Alex lagi.
"Kalau begitu ayo ka kita ke kantor saja,. Ajak fathir
"Aku pikir juga sebaiknya begitu, Baiklah ayo pergi..!
Alex dan Fathir pun pergi dengan cepat menggunakan mobil.
Sedangkan di kantor, Davin sedang sibuk mengikuti meeting siang ini.
Saat semua nya sedang fokus, tiba-tiba pintu di buka paksa oleh seseorang.
Brakk...
Pintu pun terbuka lebar, menampilkan dua orang pria menghampiri Davin dengan cepat.
"Hey ada apa dengan kalian.?" Tanya bian menahan mereka berdua
"Diamlah dulu Bian, biarkan kami bicara penting pada tuan muda." Jawab Alex.
Mendengar itu, Davin seketika menghentikan fokusnya pada pekerjaan. Gegas ia bangkit,berjalan menghampiri mereka berdua.
"Katakan ada apa Alex?" Tanya Davin dingin.
"T-t-u-a-n, Nona kecil di bawa pergi oleh nyonya besar," Ucap Alex takut.
"CK! Jangan membohongi ku Alex ini tidak lucu." Cibir Davin.
"Tuan saya berkata jujur, saya sudah menghubungi tuan dan Bian berkali-kali untuk memberi tahukan nya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Maka dari itu saya dan Fathir langsung datang ke sini untuk memberi tahu tuan muda secara langsung." Jelas Alex panjang lebar
"Berengsek! Kenapa kalian tidak mencegahnya.
hah? Tong lada teuing. Teriak marah Davin.
"Apa sebenarnya pekerjaan mu di rumah ku Alex?
"Mengapa kalian semua tidak becus untuk menjaga gadisku." Teriak semakin marah davin menarik kerah baju Alex.
"Maafkan saya tuan, anak buah saya kalah jumlah dengan para pengawal yang nyonya besar bawa." Ujar Alex penuh sesal.
"Kalian semua payah." Geram Davin dan langsung pergi menuju ke parkiran kantor
Bian, Alex beserta Fathir pun mengejar Davin sampai ke parkiran. Namun mereka bertiga kalah cepat dengan Davin.
Secepat kilat mobil Davin sudah menghilang dari pandangan mereka bertiga.
"Tuan muda! Teriak Bian khawatir.
"Ayo cepat kita harus menyusul tuan muda!" Ajak Bian langsung masuk ke dalam mobil.
Davin melajukan mobil nya seperti orang yang sedang kesetanan, ia tidak lagi memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Fikiran nya sudah di penuhi oleh ketakutan, Davin sungguh takut jika orang tua nya akan mencelakai Aluna gadis kesayangan nya.
"Tidak, tidak! Jangan! jangan lakukan apapun pada Alunaku mom ku mohon." Teriak batin Daavin lagi.
__ADS_1
Bersambung....