GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 16


__ADS_3

"pak Davin!?" Cicit Ajeng kaget.


"Singkirkan tangan mu!" Ucap Davin dingin.


"Ini kantor Ajeng, bukan tempat pertunjukan drama! Sekarang juga temui saya di ruangan saya." Pungkas Davin menahan marah.


"Pak, say._____ ucapan Ajeng terpotong kala Davin menyuruh nya untuk diam.


Shutttt..,


Bungkam Davin pada Ajeng.


Ajeng semakin marah, setelah melihat Davin yang terang-terangn membela Aluna. Wanita itu menatap nyalang pada Aluna, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas sakit hatinya pada Aluna.


Sebelum benar-benar pergi ia melotot sinis pada Aluna, dan lalu pergi menyusul Davin ke ruangan nya.


"Apa? Jangan melotot seperti itu padaku, kau yang salah juga, Wleee!" Ujar Aluna menjulurkan lidahnya.


"Sudah, sudah jangan ladeni dia lagi! Sekarang ayo cepat bereskan barang mu kita pulang." Ujar Rossi pada Aluna.


Aluna mengangguk, dan gegas mengambil tas kecil miliknya. 


Aluna yang merasa kegerahan mencoba mengikat rambut panjangnya, dan betapa terkejutnya Rossi melihat ada beberapa bekas tanda merah di leher Aluna.


"Astagaa Luna! Kaget Rossi menutup mulutnya.


"Ada apa ka? Tanya Aluna bingung.


Dengan cepat Rossi menarik ikatan rambut Aluna, dan lalu merapihkan lagi rambut Aluna untuk menutupi tanda merah itu.


"Ada apa sih ka?" Lagi, Aluna semakin di buat bingung sekaligus penasaran oleh Rossi.


"Ayo ikut aku sekarang." Ajak Rossi menyeret Aluna ke toilet.


"Ka ada apa? Kenapa Kaka membawa ku ke sini?" Tanya Aluna lagi.


Rossi celingukan memantau kondisi di sekitarnya, setelah di rasa aman menurutnya, lalu Rossi kembali masuk ke dalam toilet dan mulai mengintrogasi Aluna.


"Sekarang jelaskan padaku Aluna, apa yang sudah kalian lakukan di ruang pak presdir siang tadi?" Tanya Rossi penasaran.


"Hah! Apa maksud kaka? aku dan tuan arogan itu tidak melakukan apapun," sahut Aluna malas.


"Jangan membohongi ku Aluna! Kau pikir aku ini anak kecil apa? Ini coba kau lihat ini." Ujar Rossi membalikan badan Aluna menghadap cermin.


"Astagaa! Kaget Aluna seketika melotot.


"Ka Rossi, apa yang terjadi pada ku? Kenapa banyak sekali tanda merah di sini, Nyamuk mana yang menggigit ku sampai seperti ini?" Tanya Heboh Aluna.


"Nyamuk besar kepalanya, Kau jangan pura-pura tidak tau Aluna! jadi sekarang jawab jujur aku, Apa yang sudah kau lakukan bersama pak presdir?" Tanya Rossi semakin penasaran.


"Melakukan apa maksud Ka Rossi? kenapa bertanya itu terus, sudah ku katakan aku tidak melakukan apapun dengan nya." Ucap Aluna mulai kesal.


"Tidak mungkin Aluna! Tidak mungkin kalian tidak melakukan apapun Samapai kau mendapatkan tanda merah itu." Cibir Rossi.


"Memangnya ini tanda apa ka? Bukan kah ini hanya bekas gigitan nyamuk biasa?" Tanya polos Aluna.


"Ya Tuhan Aluna!" Gereget Rossi.


"Kau sungguh tidak tahu tanda merah itu tanda apa?" Tanya kesal Rossi.


Aluna menggeleng kan kepalanya, tanda ia tidak mengerti. Yang membuat Rossi menepuk jidatnya.


"Apa kau serius sepolos ini Aluna?" Miris Rossi.


"Kau tau? Tanda merah ini adalah tanda yang di buat oleh pasangan yang sudah melakukan___ Rossi tak melanjutkan perkataanya, Rossi ingin melihat apa Aluna mengerti dengan maksud dari perkataan nya atau tidak.


"Melakukan apa ka?" Tanya penasaran Aluna.

__ADS_1


Rosi menghembuskan nafasnya perlahan.


"Begini Aluna, tanda merah ini biasanya di buat oleh pasangan yang sudah melakukan hubungan suami istri." Jelas Rossi hati-hati.


"Hubungan su-suami istri?" Tanya Aluna terbata.


Rosi mengangguk, membenarkan perkataan Aluna.


"Apa kau sudah melakukan itu dengan pak Presdir?" Tanya balik Rossi.


"Tidak ka Rossi," Jawab Aluna pasti.


"Kau yakin Aluna? Kalau pun sudah, juga itu tidak apa-apa, malah sangat bagus." Ucap Rossi tersenyum lebar.


"Tapi aku serius tidak melakukan nya ka," Timpal Aluna.


"Lalu kau ngapain saja dari tadi siang di ruang pak presdir?" Tanya penasaran Rossi penasaran.


" Sebentar, biar ku ingat-ingat dulu. Seingat ku, aku hanya makan siang bersama, Setelah itu aku tertidur." Jawab Aluna jujur.


"Kau makan bersama pak presdir?" Heboh Rossi tak percaya.


"Kau tau tidak Aluna, para wanita di sini banyak yang menginginkan itu. Kau sangat beruntung!" Seru Rossi pada Aluna.


"Eh tapi tunggu! Ujar Rossi menelisik.


"Apa daerah itu mu sakit?" Tunjuk Rossi pada daerah inti milik Aluna.


Aluna mengikuti arah yang di tunjuk Rossi, seketika menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak, tidak sama sekali." Jawab jujur Aluna.


"Syukurlah lah, itu artinya pak Presdir sudah mengerjai mu." Pungkas Rossi lagi.


"Keterlaluan! Aku harus membuat perhitungan dengan nya." Ujar Aluna dendam.


"Ayo ka kita keluar sekarang!" Ajak Aluna pada Rossi.


Pintu lift terbuka, Aluna masuk saat pintu lift akan tertutup Aluna melihat Davin berjalan menuju lift khusus untuknya. Seketika saja dendam nya langsung berkobar.


"Lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu tuan arogan!" Batin Aluna.


Pintu lift terbuka, Aluna keluar dan ternyata kebetulan berpapasan dengan Davin. Davin menghampiri Aluna dan hampir menggapai tangan Aluna.


Namun tanpa di duga, Aluna menepis nya dan hanya melewati Davin begitu saja. Melihat sikap Aluna yang mengabaikan nya Davin seketika bingung sekaligus kecewa.


"Ada apa dengan nya?" Bingung Davin dan langsung mengikuti Aluna dari belakang.


"Aluna aku pergi duluan ya, Adik ku sudah menunggu di depan." Pamit Rossi.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya ka." Sahut Aluna tersenyum manis seraya melambaikan tangan nya pada Rossi.


"Baiklah, sampai bertemu besok! Bay.." Ucap Rossi berlalu meninggalkan Aluna.


Aluna terus melambaikan tangan nya pada Rossi, sampai tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakangnya.


"Ekhemmm! Davin berdehem menghentikan aktivitas Aluna.


 Aluna menoleh dan menatap Davin dengan sengit, tanpa kata Aluna langsung masuk ke dalam mobil.


Davin segera menyusul Aluna ke dalam mobil.


Ia masuk seraya membanting pintu mobil, karena kesal melihat Aluna yang mengacuhkan nya.


"Apa ada yang terjadi?" Tanya Davin dingin.


Tidak ada sepatah katapun jawaban dari mulut Aluna, ia hanya sibuk memperhatikan pemandangan di luar mobil.

__ADS_1


"Apa kau tuli?" Lagi, Davin bertanya dengan menahan marah.


 Aluna mulai terpancing emosi, dengan langsung memicingkan mata indah nya.


"Kau yang kenapa?" Sinis Aluna.


"Apa maksudmu?" Bingung Davin.


 Sementara Bian yang duduk di kursi kemudi hanya bisa menepuk jidatnya heran.


"Ribut lagi." Ucap Bian gegas keluar dari mobil.


"Jangan pura-pura bodoh tuan arogan!" Cibir Aluna kesal.


"Kau berani mengataiku hah?" Kesal Davin


"Ya! memangnya kenapa aku tidak berani mengatai mu hah!? Kau saja sudah berani melecehkan ku." Teriak Aluna semakin kesal.


Setelah mendengar perkataan Aluna, tiba-tiba saja Davin merubah ekspresi marahnya menjadi tersenyum bangga. 


Ya, Davin kini mengerti mengapa gadisnya kesal padanya. Davin merubah posisi duduknya, menjadi menghadap Aluna.


"Apa kau kesal karna tanda ini hemm?" Bisik Davin di telinga Aluna sambil meraba leher jenjang milik Aluna.


"Yak! Menyingkir dari ku, Kau benar-benar sangat berbahaya!" Omel Aluna mendorong tubuh jangkung Davin. " Wahaaaaaa!" Seketika saja tawa Davin pecah melihat gadis kesayangan nya mengerucutkan bibir mungilnya.


Davin semakin suka dan ingin terus menggoda gadis kecil kesayangan nya. 


Tanpa di sangka Aluna, Davin malah menarik tangan Aluna dan mendudukan tubuh mungil itu di pangkuan nya.


"Aaaaaaaaa!" Teriak Aluna kaget.


"Hey! Apa kau sudah gila? Lepas, turunkan aku tuan arogan! Eh bukan, kau lebih pantas ku panggil si tuan mesum." Pungkas Aluna lagi, yang sukses membuat Davin semakin tertawa geli.


"Emhhh, terserah kau saja." Ucap Davin tersenyum manis.


 Davin menurunkan kaca mobil, dan langsung memanggil Bian untuk masuk.


"Biann! Teriak Davin.


Bian dengan segera menghampiri sang tuan muda.


"Iya tuan." Sahut segera Bian.


"Ayo masuk, kita pulang sekarang." Perintah Davin.


"Baik tuan." balas cepat bian, yang langsung masuk ke dalam mobil.


Bian mulai melajukan mobil nya, dan sesekali tersenyum kecil melihat tuan nya yang mulai bucin terhadap gadis kecil di pangkuan nya.


"Turunkan aku, aku bisa duduk sendiri tidak perlu kau memangku ku seperti ini." Ucap Aluna mengomeli Davin.


 Davin hanya tertawa melihat wajah panik Aluna, bukan nya menuruti permintaan Aluna. Davin malah semakin erat memeluk pinggang ramping itu.


"Selain berubah jadi mesum, apa kamu sekarang juga sudah tuli? Turunkan aku tuan apa kau tidak malu di lihat tuan patuh hah?" Ujar Aluna lagi.


"Baiklah aku akan menuruti permintaan mu, tapi dengan satu syarat! Bagaimana?" Ucap Davin dengan terus tertawa bahagia.


"Syarat apa maksud mu? Harusnya aku yang meminta ganti rugi padamu, kau kan yang sudah merugikan aku!" Jawab Aluna kesal.


"Ya sudah kalau tidak mau, sampai rumah kita akan tetep seperti ini." Timpal Davin tak mau menyerah.


"Baiklah, baiklah.. katakan apa syaratnya?" Ucap final Aluna.


"Sekarang katakan apa syarat nya?" tanya nya lagi.


Davin tampak membisikan sesuatu pada Aluna, dan tiba-tiba saja.

__ADS_1


"Apa..?" Teriak Aluna kaget.


Bersambung............


__ADS_2