GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 25


__ADS_3

Setelah selesai mengunjungi makam ke dua orang tua Aluna, kini Davin dan Aluna dalam perjalanan pulang.


Di tengah perjalanan, Aluna meminta izin untuk mampir sebentar ke caffe tempat Aluna bekerja dulu.


"Tuan, Eh. Maaf maksudku Davin, hehee...," Ucap Aluna cengengesan.


"Apa.?" Jawab Davin singkat.


"Boleh tidak, Aku mampir ke tempat kerja ku dulu sebentar saja, hanya sebentar?" Tanya nya lagi ragu-ragu.


"Dimana?" Jawab Davin lagi


"Di belokan depan sana," Tunjuk Aluna antusias.


"Kau mau apa mampir ke sana? Apa mau menemui pria lain seperti tadi? Kalau iya aku tidak akan mengizinkan mu mampir ke sana." Ujar Davin posesif.


"Aishh mana ada, lagi pula juga tadi tidak sengaja bertemu Adrian di sana," sahut Aluna kesal.


"Aku mampir hanya mau bertemu bibi Rima saja, Aku mau meminta maaf, karna berhenti bekerja tanpa pamit terlebih dahulu." Ucap Aluna sedih.


Tak tahan melihat Aluna bersedih, akhirnya Davin mengizinkan nya untuk mampir.


"Baiklah hanya sebentar saja, dan tidak boleh ada drama peluk-pelukan dengan pria lain. Kau mengerti?" Titah Davin tegas.


"Baiklah aku mengerti, Aku janji tidak akan ada acara peluk teman pria lagi." Jawab Aluna meyakinkan.


"Baiklah, ayo turun." Ajak Davin setelah sampai di depan caffe.


Aluna mengangguk, seraya bergegas keluar dari dalam mobil.


"Kau masuklah dulu, aku akan menghubungi Bian terlebih dahulu," Perintah Davin pada Aluna.


"Baiklah, aku masuk dulu ya?" Pamit Aluna lalu berlari memasuki caffe tersebut.


Begitu Aluna masuk, teman-teman kerja Aluna yang kaget langsung berteriak heboh menyambut Aluna.


"Aluna...!" Teriak salah satu teman Aluna.


Aluna melangkah masuk lebih dalam, terlihat caffe itu sedang sepi pengunjung. Aluna menghampiri teman-teman kerjanya, memeluknya satu persatu.


"Kau kemana saja Aluna? Kau tau caffe ini jadi sepi setelah kau pergi," Ujar Nia teman baik Aluna semasa bekerja di caffe itu.


"Apa benar begitu, lalu dimana bibi Rima?" Tanya Aluna khawatir.


"Bos ada di dalam ruangan nya, kau masuklah jika ingin bertemu dengan nya." Ujar Nia lagi.


"Iya aku memang mau bertemu dengan nya, Aku mau meminta maaf padanya, karna aku berhenti tanpa memberitahu nya terlebih dahulu." Jawab Aluna menjelaskan. "Ya sudah kau masuklah sana." Suruh Nia pada Aluna.


Aluna pamit dan lalau pergi untuk menemui mantan bos nya dulu.


Tokk..Tokk...,


Aluna mulai mengetuk pintu, dan terdengar suara wanita paruh baya menyahut nya dari dalam.


"Masuklah." Sahutnya dengan suara sayu.


Cklek!


Pintu di buka, Aluna masuk dan nampaklah seorang wanita paruh baya sedang sibuk dengan komputer di depan nya.


"Bibi apa kabar?" Sapa Aluna dengan perlahan.


Mendengar suara itu, membuat bibi Rima seketika menghentikan aktivitas nya. Bibi Rima lalu menoleh dan hampir saja dia terjatuh dari kursi nya karna kehilangan ke seimbangan. Namun, dengan cepat Aluna menahan nya. membuat bibi Rima tidak percaya melihat Aluna lagi.

__ADS_1


"K-kau...," Kaget bibi Rima.


"Iya, ini aku bibi, Aku Aluna." Ujar Aluna.


"Kau Aluna, Kau sungguh Aluna?" Tanya bibi Rima memastikan.


Aluna mengangguk cepat, Aluna sungguh sangat terharu. karna akhirnya bisa bertemu lagi dengan orang yang slalu baik padanya.


"Ya Tuhan..., Putriku!" Teriak haru bibi Rima lalu memeluk erat tubuh mungil Aluna.


"Kau kemana saja? Mengapa kau pergi tanpa mengabari ku dulu?"ujar bibi Rima lagi.


"Maafkan aku bibi, Aku pergi tanpa izin dulu padamu. aku sungguh tidak bermaksud meninggalkan bibi," Ucap sesal Aluna.


"Sudah-sudah, Yang terpenting sekarang kau sudah kembali ke sini Aluna, aku sungguh sangat senang jika kau masih mau bekerja di sini, Kau tau Aluna. sejak kau pergi caffe ini menjadi sepi pengunjung." Ucap bibi Rima sedih.


"Maafkan aku bibi, karena aku sudah tidak bisa bekerja di sini lagi. Tapi aku berjanji akan sering berkunjung ke sini, sungguh bibi." Ujar Aluna lagi.


"Mengapa kau tidak bisa kembali bekerja di sini Aluna? Apa karena gajih yang ku berikan terlalu sedikit untuk mu? Apa karna sekarang kau sudah mendapatkan pekerjaan bagus di pusat kota?" Tanya bibi Rima sedih.


"Tidak, bukan seperti itu bibi. Hanya saja setatus ku sekarang berbeda dengan dulu." Jawab Aluna tak kalah sedih.


"Apa maksud mu Luna?" Penasaran bibi Rima.


"Paman sudah menjual ku pada pengusaha bibi," Jelas Aluna sedih. "Apah!?" Kaget bibi Rima.


Aluna mengangguk sedih.


"Simon benar-benar keterlaluan! Setelah membuat mu jadi sapi perah, sekarang dia tega menjual mu juga?" Ucap bibi Rima tak habis pikir.


Aluna tak menjawab, ia hanya bisa meneteskan air matanya sedih.


Bibi Rima yang kasihan, dengan segera memeluk erat Aluna.


"Tidak bibi, Bibi tidak perlu melakukan itu, selama ini bibi sudah banyak membantu ku. Aku sudah terlalu sering menyusahkan mu."


"Lagi pula, hidup ku sekarang jauh lebih baik setelah terlepas dari keluarga itu." Jawab Aluna panjang lebar.


"Apa benar seperti itu nak?" Tanya bibi Rima lagi memastikan.


Aluna mengangguk cepat." Kau tau bibi, orang yang membeli ku.ternyata tak sejahat dugaan ku, Dia dan keluarganya justru memperlakukan ku layaknya keluarga sendiri. Mereka selalu menjaga ku dengan baik." Ujar Aluna pada memberitahu bibi Rima.


"Benarkah seperti itu nak? Kau tidak sedang membohongi ku kan?" Penasaran bibi Rima.


"Tentu tidak bibi, Mereka sungguh sangat baik." Jawab pasti Aluna.


"Syukurlah jika memang seperti itu, Memang nya siapa yang telah mengangkat mu sekarang nak? Tanya bibi Rima lagi.


"Namanya...belum juga Aluna selesai bicara Davin sudah memotong nya.


"Apa sudah selesai?" Terdengar suara bariton dari arah belakang Aluna.


Menyadari jika orang yang datang adalah orang penting, bibi Rima sampai menutup mulut nya syok.


Aluna yang merasa heran langsung bertanya pada bibi Rima.


"Bibi ada apa?" Tanya Aluna keheranan.


Bukan nya menjawab pertanyaan Aluna, bibi Rima malah dengan cepat membungkuk memberi hormat pada Davin.


"Selamat siang, dan selamat datang tuan muda." Sambut bibi Rima, seraya membungkuk hormat.


Aluna menyikut bibi Rima, mempertanyakan apa bibi Rima juga mengenal Davin.

__ADS_1


"Bibi, Apa bibi mengenal dia?" Bisik Aluna pada bibi Rima.


"Tentu saja aku mengenal nya. kau tau, beliau itu terkenal sebagai seorang pengusaha muda yang tersukses di negara kita." Jelas bibi Rima berbisik balik.


Davin yang kebingungan melihat interaksi ke dua orang di depan nya, langsung menegurnya.


"Ada apa Aluna, mengapa kalian terus berbisik seperti itu? Apa kau sedang merencanakan sesuatu padaku?" Tuduh Davin mencurigai kedua orang di depannya.


"Aishh kau ini, selalu berpikiran buruk tentang ku. Tidak bisa apa kau tidak mencurigai ku seperti itu? Memang nya tampang ku terlihat seperti penjahat." Jawab Aluna kesal.


Davin mengulum senyum nya, dan tanpa ragu lagi ia segera memeluk Aluna penuh sayang di depan bibi Rima. Lalu membisikan sesuatu.


"Ya kau benar, Kau memang penjahat. karena telah berani mencuri hati ku." Gombal Davin tanpa malu.


Aluna segera melepaskan diri darinya, karna merasa malu di lihat bibi Rima.


"Ishh! Kau ini. jangan begitu malu, di lihat bibi." Protes Aluna.


Bibi Rima semakin kebingungan, dan Davin paham betul dengan reaksi bibi Rima. Untuk itu Davin segera menjelaskan jika dia dan Aluna sudah saling mengenal.


"Bibi kau kenapa?'tanya heran Aluna.


"Kalian... ucapan bibi Rima terpotong oleh Davin. Dan Davin segera memperkenalkan dirinya termasuk setatusnya dengan Aluna.


"Kami sudah saling mengenal bibi, Bahkan kita sudah berencana untuk menikah." Jelas Davin tegas


"Apahh!?" kaget bibi Rima.


"Apa itu benar Aluna? Apa dia orang yang...


"Benar bibi, dia orang nya." Jawab Aluna tersenyum manis.


Bibi Rima menyambut kebahagian Aluna dengan segera memeluknya, dengan perasaan bahagia tentunya.


"Selamat nak, selamat untuk mu sayang. Akhirnya kau akan memiliki keluarga sendiri, aku ikut bahagia melihat kau bahagia." Ucap bibi Rima terharu.


Aluna membalas pelukan itu dengan senang hati.


"Terimakasih bibi, Terimakasih banyak. karena bibi selalu mendukung ku selama ini." Ujar Aluna.


Bibi Rima mengurai pelukan nya, dan lalu menoleh menatap Davin.


"Tuan, Terimakasih karena telah menolong Aluna, dan tolong jaga selalu dia. Dia gadis yang baik, tapi dia memiliki nasib yang kurang baik. Maka dari itu saya meminta pada anda untuk selalu menjaga nya, bahagiakan dia karena semasa tumbuh dewasa dia tidak pernah sekalipun merasakan kebahagian di keluarga nya." Pesan bibi Rima pada Davin.


"Kau tenanglah nyonya, Tanpa kau meminta nya pun, saya akan melakukan itu semua pada Aluna." Jawab Davin tegas.


"Aku senang mendengar nya, terimakasih." Ucap bibi Rima lagi.


"Hemm."sahut Davin singkat.


"Aluna, karena kau sudah mampir ke mari, Jadi sebaiknya kau makan dulu sebelum pergi."


"Tidak perlu bibi, Lain kali jika aku datang lagi aku akan makan, sekarang kami tidak punya banyak waktu. Davin harus segera kembali ke kantornya." Ujar Aluna menjelaskan.


"Begitu ya? Baiklah kalau begitu, kau janjikan lain waktu kau akan berkunjung kembali ke mari?" Tanya bibi Rima. "Aku janji bibi." Sahut Aluna mengangguk pasti.


"Baiklah kalau begitu, sekarang aku pamit pulang dulu ya bi." Pamit Aluna.


"Baiklah, berhati-hatilah nak,Tolong jangan lupakan kami yang ada di sini ya.?" Ucap bibi Rima sedih.


"Kalian adalah keluarga ku, mana mungkin aku melupakan kalian semua." Jawab Aluna tersenyum lebar, dan lalu pamit menuju keluar caffe


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2