GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 13


__ADS_3

Aluna begitu serius mengerjakan pekerjaan nya, dengan sangat cekatan laporan yang dia kerjakan selesai sebelum jam istirahat.


"Huhh, akhirnya selesai juga." Monolog Aluna merenggangkan jari-jari tangan nya.


"Apa sudah selesai semua Aluna? Tanya Rossi


"Sudah ka," Jawab Aluna tersenyum manis.


"Se-semua nya?" Ucap Rossi tak percaya.


"Semuanya, Ini coba Kaka periksa dulu apa sudah benar seperti ini?" Ujar Aluna menyodorkan berkas laporan tadi.


Dengan cepat Rossi mengambil berkas tersebut, dan lalu memeriksanya dengan teliti. Betapa terkejutnya Rossi melihat hasil pekerjaan Aluna.


"Gadis ini benar-benar pintar, dengan sekejap saja dia mampu menyelesaikan laporan ini. Sebenarnya siapa gadis ini? Sepertinya dia bukan keturunan orang sembarangan?" Ucap batin Rossi.


"Bagus. kau sangat hebat Luna, Sekarang kau bawa laporan ini ke ruangan Presdir dan minta beliau untuk tandatangan ya." Perintah Rossi lagi.


"Baiklah ka." Balas Aluna penuh semangat.


Aluna pergi menuju ruangan Davin, tapi saat akan mengetuk pintu tangan Aluna di tarik  oleh Ajeng.


"Kamu siapa, Dan mau apa ke ruangan pak Davin?" Sarkas Ajeng tak suka.


"Aku karyawan baru mbak, dan aku ingin mengantarkan berkas ini pada nya." Ucap Aluna mengangkat berkas yang ia bawa.


"Tunggu di sini! dan berikan berkasnya padaku, Biar aku saja yang masuk." Kata Ajeng lagi sinis merebut berkas yang Aluna bawa.


Aluna mencebik, menanggapi perlakuan Ajeng, dan


Ajeng langsung masuk ke dalam ruangan Davin, dengan gaya nya yang di buat seksi Ajeng dengan percaya diri menghampiri Davin.


"Ada apa? Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu dulu?" Tanya Davin tanpa mengalihkan pandangan nya dari komputer di depan nya.


"Maaf pak, di luar ada karyawan baru mau bertemu bapak, Katanya mau mengantar berkas ini. karna saya tau bapak tidak suka jika orang asing mengganggu kesibukan bapak, jadi saya putuskan untuk mewakilinya saja." Ujar Ajeng beralasan.


"Ini berkas nya pak," Kata Ajeng lagi menyerahkan berkas pada Davin.

__ADS_1


Davin menghentikan aktivitas di komputer nya, setelah mendengar penjelasan Ajeng. Dan dengan tiba-tiba Davin bangkit dari duduk nya dan langsung melenggang pergi melewati Ajeng begitu saja, Davin melangkahkan kakinya menuju pintu di buka nya pintu tersebut lalu dengan nada dingin dia mempersilahkan Ajeng keluar dari ruangan nya.


"Pergilah." titah Davin sambil menyilang kan kedua tangan nya di dada.


Aluna menoleh setelah mendengar suara Davin, dan dengan polosnya ia malah menghampiri Davin dan menanyakan berkas yang tadi di bawa Ajeng.


"Tuan apa berkasnya sudah di tandangi? Tanya Aluna tidak sabar.


Davin tak menjawab, ia hanya mengakat sebelah tangan nya sebagai tanda tunggu dulu.


"Ajeng keluar lah." Usir Davin pada Ajeng.


Ajeng tampak kesal dengan sikap Davin yang begitu acuh padanya, dengan raut muka yang marah Ajeng keluar sambil menghentakkan langkah kakinya.


"Mbak kamu kenapa? Tanya polos Aluna.


Ajeng tak menjawab, ia hanya melirik sinis pada Aluna sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Aluna juga Davin.


"Hati-hati mbak bejalan begitu, takut sepatu nya patah kalau di hentak-hentakan seperti itu." Ucap Aluna tanpa berdosa.


Davin tersenyum geli saat mendengar perkataan Aluna.


Hal itu di saksikan langsung oleh Ajeng, dan seketika Ajeng mengepalkan ke dua tangan nya, dia begitu marah dan tersinggung dengan perlakuan Davin padanya.


"Keterlaluan kau Davin, kau berani mengusirku demi gadis kampung itu! Lihat saja aku akan membalas semua perlakuan mu padaku." Batin Ajeng emosi, dan lalu pergi kembali ke ruangan nya.


Sementara di dalam ruangan Davin sendiri, kembali terjadi sedikit perdebatan antara Aluna dan Davin.


"Hey, Mana berkasnya? sudah kamu periksa dan tandatangan belum? Tanya Aluna tidak sabar.


"Kenapa kau menyuruh sekertaris ku yang mengantarkan berkas ini padaku? Bukan kah ini tugas mu? Mengapa kau tidak bertanggung jawab pada tugasmu? Tanya Davin panjang lebar.


"Aku tidak menyuruhnya, dia sendiri yang mengambil berkas itu dari tangan ku." Bela Aluna tak mau kalah.


"Mengapa kau tak menolak nya.? Ujar Davin lagi


"Mana sempat aku menolak, orang dia mengambil berkas itu tiba-tiba dan langsung masuk ke sini." Ucap Aluna lagi.

__ADS_1


"Sudah, sudah jangan berdebat lagi, Cepat lah kamu tandatangan saja agar aku bisa segera kembali ke ruangan ku." Kata Aluna lagi.


setelah mendengar perkataan Aluna, Davin yang tidak suka tiba-tiba menatap Aluna. Namun, tatapan nya semakin lama semakin lekat.


Aluna yang di tatap seperti itu pun menjadi salah tingkah, dengan perlahan Aluna berjalan mundur untuk menghindari Davin. Namun, dengan cepat Davin memeluk pinggang Aluna dengan salah satu tangan nya.


 Seketika saja Aluna melotot kaget, dengan cepat Aluna berontak berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Davin.


"Lepas ishh! Kamu mau apa? Tanya Aluna terus berontak sesekali tangan kecil Aluna memukul-mukul dada bidang Davin.


"Davin tak bergeming, dengan masih terus memeluk Aluna juga tatapan matanya yang masih terkunci pada mata indah Aluna.


"Hari ini kau sudah terlalu banyak membuatku kesal, jadi kau harus aku hukum mu," Ujar Davin dengan suara nya beratnya.


Aluna tiba-tiba merinding mendengar perkataan Davin, dengan sedikit keberanian yang ia miliki Aluna mencoba memberanikan diri untuk menengadahkan kepalanya, menatap balik Davin yang lebih tinggi darinya.


"Apa yang ku lakukan hingga membuat mu kesal padaku?" Tanya Aluna lembut.


Jantung Davin berdetak semakin kencang, setelah mendengar perkataan lembut Aluna. Davin menjadi gugup, hatinya begitu menghangat mendengar suara lembut itu.


Perlahan Davin menyentuh dan mengangkat sedikit lebih tinggi dagu Aluna, Davin menundukan kepalanya agar bisa lebih dekat dengan wajah Aluna. 


 Aluna yang gugup seketika mengkerejap-krejapkan mata indahnya, kini ia dan Davin semakin dekat hampir tak berjarak sampai kini Davin bisa merasakan hembusan nafas hangat Aluna. Sedikit lagi Davin hampir saja bisa mencicipi bibir merah ceri milik Aluna, sampai tiba-tiba 


"Astagaa! Aku lupa kalau aku ada janji makan siang bersama ka Rossi," Teriak Aluna menepuk jidatnya dan lalu mendorong tubuh jangkung Davin tiba-tiba.


"Aku pergi dulu ya, Berkasnya biar nanti aku ambil lagi setelah makan siang oke!?" Bayyyy." Pamit Aluna buru-buru dan langsung berlari keluar ruangan Davin


"Aluna...!" Teriak kesal Davin.


"Ahhh Sial! Gadis itu benar-benar membuatku gila." Frustrasi Davin mengacak-ngacak rambutnya.


"Awas kau kelinci nakal, suatu hari nanti kau tidak akan bisa lolos dari ku." Ucap Davin penuh keyakinan.


Jika Davin di dalam sedang merasakan frustrasi, berdeba dengan Aluna, yang kini telah berada di luar ruangan Davin.


"Astagaa! Hampir saja serigala jahat itu memakan ku, untung lah aku masih bisa lolos darinya." Ujar Aluna lega sambil terus mengelus dadanya.

__ADS_1


"Pria itu benar-benar berbahaya, aku tidak boleh lengah, Lihat saja nanti aku akan mengadukan mu pada tuan Leon." Monolog Aluna melirik sinis pada pintu ruangan Davin.


Bersambung......


__ADS_2