GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 6


__ADS_3

Aluna terus menangis pilu di pelukan Davin, Davin tak menolak ataupun memeluk balik Aluna. Davin hanya membiarkan Aluna mencurahkan kesedihan nya padanya, Davin dapat merasakan sedikit ke sedihan Aluna, ingin rasanya Davin memeluk balik Aluna memberinya ke tenangan. Namun Davin terlalu gengsi untuk melakukan itu.


Sesaat kemudian tangis Aluna mulai berhenti, dengan pelan Davin mengurai pelukan Aluna padanya. Tapi tiba-tiba Davin di kagetkan dengan suara tangis Aluna yang lebih kencang.


"Huaaaaaa....!" lagi tangis Aluna menggema.


 Davin yang kaget, dengan cepat memeriksa Aluna.


"Hey, Ada apa? Kenapa kau mengeraskan tangisan mu, Aku tidak melukai mu!?" Ujar Davin panik.


"Huaaaaa...! I-itu," Tunjuk Aluna pada jas yang Davin kenakan.


"Ada apa dengan ku? Kenapa kau menunjuk ku? Bukan aku yang membuat mu menangis!?" Ucap Davin kesal.


"B-buka seperti itu, Huaaaa! i-itu jas mu terkena ingus ku," Ujar Aluna tak berhenti menangis.


Mendengar jawaban Aluna, seketika Davin melotot horor. Dia mulai melihat ke arah yang di tunjukan Aluna. Benar saja, jika jas mahal yang ia kenakan sudah ternodai dengan ingus nya Aluna.


"Astaga anak ini!?" Ucap Davin memejamkan matanya, dadanya sudah mulai naik turun menahan kekesalan yang mulai Davin rasakan.


Aluna yang melihat ekspresi Davin seperti itu, buru-buru meminta maaf. Aluna takut jika Davin akan marah besar padanya.


"Ma-ma-af tuan," Ucap Aluna menundukkan kepalanya menyesali perbuatannya.


"Tuan maafkan aku!? Lepas saja jas nya biar nanti aku cuci dengan bersih," Ujar Aluna lagi, sambil mengedip-kedip kan mata indah nya.


 Davin yang tidak tahan dengan godaan mata cantik itu hampir saja tidak bisa mengendalikan diri nya sendiri, sungguh Davin di buat tak berdaya dengan ekspresi lucu yang Aluna tunjukan. Sungguh Aluna terlalu menggemaskan menurutnya.


Aluna mulai berjalan mendekati Davin kembali, seraya bersiap untuk membantu Davin melepaskan jasnya. namun Davin dengan tegas menolaknya.


"Hey! Berhenti!? Jangan coba-coba kau menyentuh apalagi sampai lancang membuka pakaian ku." Sarkas Davin menoyor kepala Aluna.


"Ishh tuan, Aku hanya mau bertanggung jawab dengan perbuatan ku," Ujar Aluna memanyunkan bibir mungil nya.


"Tanggung jawab apanya!? Yang ada pakaian ku akan jadi tambah rusak di tangan mu!" Jawab Davin kekeh menolak.


"Memang nya tangan ku mesin perusak apa!? Keterlaluan sekali, Ya sudah jika tidak boleh kamu sendiri saja yang membersihkan nya." Ucap kesal Aluna berlalu dari hadapan Davin.


Aluna kembali duduk di sofa memanyunkan bibir nya sambil melipat ke dua tangan di depan dadanya. Sungguh Aluna kesal dengan kesombongan Davin.


Davin menghembuskan nafas nya kasar, sungguh Davin tidak nyaman melihat Aluna yang merajuk seperti ini. Padahal maksud Davin baik, dia tidak mengizinkan Aluna membersihkan jas nya karna ini bukan tugas Aluna meskipun Aluna yang telah mengotori nya.


Davin berjalan menghampiri Aluna sambil membuka jas kotor nya, lekas Davin pun ikut duduk di sebelah Aluna, mencoba mengajak nya untuk berbincang lagi.


"Apa kau selalu seperti ini?" Tanya Davin hati-hati.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" sahut Aluna singkat menoleh kan pandangan nya pada Davin.


"Apa kau selalu seperti ini? Maksudku, tadi kau menangis begitu pilu, sekarang kau bersikap seolah tak pernah melakukan itu?" tanya Davin penasaran.


"Iya, kau benar tuan. Aku memang selalu seperti ini, biasanya saat aku sedih aku akan memeluk batu nisan kuburan ke dua orang tua ku, karna aku tidak memiliki teman untuk berbagi kesedihan ku, aku akan menangis sejadi-jadinya Samapi kekesalan dan kesedihan ku tercurahkan. Jika sudah seperti itu aku akan kembali seperti ini lagi." Ujar Aluna panjang lebar menjelaskan.


Davin hanya menganga mendengar perkataan Aluna, miris sungguh nasib gadis nya itu.


" Maaf ya tuan, aku sudah lancang memeluk mu tanpa izin. Kau pasti merasa jijik padaku iyakan!? tolong maafkan aku sekali lagi," Ucap Aluna menyesali perbuatan nya tadi pada Davin.


"Sudahlah lupakan saja, kau tunggu lah di sini aku akan membereskan pekerjaan ku dulu. Ingat kau jangan merusuh!?" Ujar Davin lalu bangkit dari duduk nya dan kembali ke meja kerjanya.


"Baiklah tuan aro__ upss maksudku, tuan Davin. Heheee...." Jawab Aluna cengengesan.


Davin yang gemas seketika mengacak rambut indah milik Aluna.


"Dasar bocah..." Ucapnya sambil berlalu.


"Ishhh tangan nya!?" Ujar Aluna kesal melototi Davin.


Saat ke duanya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar dan muncul lah Ajeng sang sekretaris Davin yang seksi.


Tokk...tokk...tokk.


Cklek.


"Pak maaf mengganggu, Ini saya hanya di suruh asisten bian mengantarkan ini pada bapak," Ujar Ajeng menyodorkan alat kompresan pada Davin.


Sementara Aluna terus memperhatikan Ajeng, yang sepertinya sengaja untuk menggoda Davin.


 Ajeng terus melancarkan aksinya untuk terus menggoda Davin, dengan terus menarik belahan dada baju ketat nya. matanya terus melirik melihat Aluna di samping belakang nya.


"Astaga....! Ulat bulu pelanet mana ini? sepertinya dia sengaja berpakaian kekurangan bahan begitu untuk menarik perhatian bos nya, Emhhh dasar siluman ulat bulu." Cibir batin Aluna.


"Baik kau letakan saja." Ujar Davin dingin tanpa melihatnya.


"Dimana Bian?" Tanya Davin lagi.


"Asisten Bian sedang menghadiri pertemuan dengan investor Taiwan pak." Jawab Ajeng segera.


"Hemm, baiklah kalau begitu kau boleh teruskan lagi pekerjaan mu." Ucap Davin masih dengan kesibukan nya samapi tak melirik Ajeng barang sedikit pun.


"Baik pak," Jawab pasrah sekaligus kesal Ajeng, dan lalu berlalu dari hadapan Davin.


Namun saat Ajeng hendak ke luar, tiba-tiba Aluna menghentikan nya.

__ADS_1


"halo nona!?" sapa Aluna berpura-pura ramah.


"Yak, ada yang bisa saya bantu nona? Tanya Ajeng pura-pura lembut.


"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya saja!?" Ucap Aluna tengil.


"Nona mau bertanya apa?" Tanya Ajeng penasaran.


"Apa nona sedang kepanasan memakai pakaian seperti itu?" Tanya Aluna polos.


"Tidak sama sekali nona, Memang nya kenapa?" Tanya bingung Ajeng.


"Ah tidak apa-apa! heheeee, kulihat tadi nona terus menarik pakaiannya ke bawah, Kukira mbak nya kepanasan begitu. heheee," Jawab tengil Aluna .


"Hahaha, tidak sama sekali nona." Sangkal Ajeng kesal menahan malu.


"Maaf saya permisi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Pamit Ajeng buru-buru.


Aluna hanya mengangguk dan tersenyum manis menanggapi perkataan Ajeng.


Begitupun dengan Davin, dia hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat melihat ke usilan Aluna.


Setelah kepergian Ajeng, Aluna kembali mendudukan bobot tubuh nya di sofa sambil melihat-lihat majalah yang ada di atas meja di hadapan nya. sesaat kemudian Aluna merasakan bosan dan mulai mengantuk.


"tuan..! apa pekerjaannya masih lama? jika iya, boleh tidak aku tidur dulu sebentar?" tanya Aluna pelan.


"Baiklah, kau tidur saja dulu. jika pekerjaan ku sudah selesai nanti aku bangunkan kamu." jawab Davin segera.


"Baiklah kalau begitu," sahut Aluna kembali.


Aluna terus saja menguap, sampai akhirnya tanpa sadar ia sudah terlelap tidur dengan tenang,


Dengan posisi nya yang masih terduduk di sofa.


Davin yang merasa jika tidak ada aktivitas lagi dari Aluna langsung menoleh melihat Aluna.


Davin terus memperhatikan wajah cantik itu sampai tiba-tiba tubuh Aluna condong ke samping seperti akan terjatuh, Davin dengan cepat dan sigap menahan kepala aluna agar tidak terbentur pinggir sofa. Dan dengan hati-hati Davin meletakan kepala aluna pada bantal kecil yang ada di sofa itu.


Seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Davin mulai mengelus kepala Alun,. Dengan hati-hati dia terus memperhatikan wajah cantik milik gadis di hadapan nya.


"Kau sangat cantik." pekik Davin spontan, Tiga kalimat itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut pria yang terkenal arogan itu.


Tanpa sadar Davin juga mulai berbaringdi samping Aluna, sambil memeluk tubuh mungil gadisnya itu.


"Nyaman sekali." Ujar Davin yang langsung memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2