GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN

GADIS POLOS PENAKLUK HATI TUAN AROGAN
Bab 23


__ADS_3

Merasakan ke hangatan keluarga Damian membuat Aluna menangis haru, bagai mana tidak selama ia tumbuh dewasa baru kali ini Aluna merasakan yang namanya di perhatikan.


"Ada apa? Mengapa kau menangis hem?" Tanya Davin lembut.


Aluna menatap lekat wajah Davin, dengan mata yang masih berkaca-kaca, Aluna meminta Davin untuk mencubit dirinya.


"Tuan, bisakah kau mencubit pipiku? apa sekarang aku sedang dalam mimpi? Ujarnya di sela tangis harunya.


Davin menuruti permintaan Aluna, Davin langsung saja mencubit pipi bulat Aluna dengan gemas.


"Awwh sakit, Pekiknya kesakitan. "Apa itu sakit? Tanya Davin sambil mengusap-usap pipi mulus Aluna. Aluna mengangguk kembali menangis haru.


"Tuan, itu berarti aku sedang tidak bermimpi kan? "Ternyata benar, Ini sungguh nyata." Ujarnya lagi.


"Apa maksud mu Aluna?" Bingung Davin. "Kau tau tuan, jika selama aku tinggal bersama keluarganya paman, aku tidak pernah sekalipun merasakan kedekatan seperti ini." Keluarga yang hangat, bahkan orang tua mu juga tidak menjaga jarak dengan ku, mereka sungguh baik, kau beruntung karna telah terlahir dari orang hebat seperti mereka." Puji Aluna pada keluarga Damian.


Perkataan Aluna seakan menampar hati Davin, selama ini Davin bahkan tidak pernah memperhatikan orang tua nya. 


Ia bahkan pernah merasa kecewa pada mereka, karna telah memisahkan nya dari cinta pertamanya.


Sungguh Davin kini menyesal telah melakukan itu pada mereka, Aluna benar bahwa mereka sebenarnya orang baik, amat sangat baik.


Davin menarik Aluna pada pelukan nya.


"Tenang lah, Kau tidak perlu bersedih lagi, sekarang kami adalah keluarga mu Aluna," pungkasnya menenangkan


Aluna membalas pelukan Davin dengan senang hati. Nyaman, itulah yang selalu Aluna rasakan saat Davin memeluk nya.


Saat ke dua nya tengah asyik berpelukan, tiba-tiba Mario datang mengganggu momen romantis itu.


"Ehemm! Suara Mario berdehem.


Mendengar ada Mario, Aluna dengan cepat melepaskan diri dari pelukan Davin.


Sungguh Aluna sangat malu.


"Kalian ini, pacaran teruss!" Sindirnya seraya berpura-pura menutup wajahnya.


"Hah! Tidak ko ka, Kita tidak pacaran! Iyakan tuan?" Sangkal Aluna gugup.


Davin yang kesal karna telah di ganggu oleh Mario, seketika saja ia melayangkan bantal kecil yang ada di sofa kepada Mario.


"Eitss gak kena!" Ledek Mario dengan memeletkan lidahnya. "Sialan kau, pulang sana! Mengapa kau berlama-lama di sini!" Kesal Davin mengusir Mario.


"Sengaja lah biar terus melihat bidadari cantik di sini, iyakan Queen?" Goda Mario mengedipkan sebelah mata genit nya pada Aluna.

__ADS_1


"Jangan macam-macam Rio! Berani kau mengganggunya aku tidak akan segan-segan menendang mu sampai ke Afrika!" Geram Davin menatap nyalang pada Mario yang berada tepat di depan nya.


Melihat putra dan sepupunya berantem, membuat Nyonya Megan tidak tahan untuk menghukum ke dua nya.


Nyonya Megan menghampiri ke dua nya, dan lalu mencubit pinggang kedua tukang rusuh itu. Sampai Aluna tertawa geli melihatnya.


"Kalian ini, kenapa sih kalian ini selalu ribut kalau bertemu!?" Sana jika kalian ingin ribut terus jangan di rumahku, silahkan teruskan di luar sana. Aku tidak akan melerai kalian lagi, teruskan lah biar aku pergi membawa calon menantuku!" Ujar Nyonya Megan menggebu, seraya menarik tangan kecil Aluna, dan langsung membawa nya naik ke lantai atas menuju kamar pribadinya.


Sebenarnya Nyonya Megan telah menyiapkan hadiah kecil untuk Aluna.


Saat akan menaiki tangga, Davin dengan tiba-tiba menghalangi ibunya membawa Aluna ke lantai atas. Davin menarik Aluna kembali. Dan hendak membawa nya ke luar mansion.


"Davin!" Geram Nyonya Megan. "Momy mau menunjukan sesuatu pada Aluna, kau tidak bisa membawa nya begitu saja!" Sarkas Nyonya Megan menghalangi putranya.


Aluna yang bingung akhirnya memutuskan untuk menepiskan tangan Davin yang menahannya.


"Tuan biarkan aku bersama momy dulu, aku janji setelah ini kita akan pulang oke." Ucap Aluna menenagkan.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Davin mengalah dan membiarkan Aluna bersama ibu nya dulu. "Baiklah hanya sebentar." Ucap Final Davin. "Ya aku janji hanya sebentar," ujar Aluna lagi.


Setelah mengatakan itu Aluna berlari menghampiri sang calon mamertua.


"Ayo," ajak Nyonya Megan menyambutnya dengan senyum manis.


"Serakah sekali anak itu," Cibir nyonya Megan pada putra nya sendiri.


"Terimakasih tuhan, karna telah mengirimkan orang-orang baik pada ku." Ucap batin Aluna penuh syukur.


*****************


Kini Aluna tengah duduk di samping ranjang nyonya Megan, ia memegang lembut tangan kecil itu.


Sampai tiba-tiba nyonya Megan mengeluarkan kotak beludru kecil di sebelah tangan nya.


"Ini coba kau buka sayang," Printah Nyonya Megan


Aluna mengangguk lalu membuka kotak kecil tersebut, dan betapa terkejutnya Aluna melihat ada cincin berlian mewah di dalam kotak kecil tersebut.


"I-ini a-apa mom?" Tanya Aluna bingung seraya mengerutkan dahinya. "Ini untuk mu sayang," sahut Nyonya Megan dengan masih terus mengusap lembut tangan Aluna.


"Tidak, tidak.ini terlalu berlebihan mom, cincin ini terlalu mewah jika untuk ku mom." Ujar Aluna mencoba menolak halus pemberian Nyonya Megan.


"Cincin ini sangat cantik, dan akan lebih cantik lagi jika kau yang menggunakan nya." Puji Nyonya Megan pada calon menantunya itu.


"Sebenarnya ini adalah cincin warisan Oma nya Davin, sudah tradisi kami cincin ini akan di turunkan pada penerus keluarga Damian selanjutnya.

__ADS_1


Aluna semakin syok mendengar perkataan dari ibu nya Davin.


"Ini berlebihan mom, aku merasa aku tidak pan...," Ujar Aluna tidak enak. "Jangan bilang begitu! karna ini sudah menjadi takdir untuk mu. "Kau pantas memakai nya sayang." Timpal Nyonya Megan lagi.Seraya memasangkan cincin tersebut pada jari kecil milik Aluna.


"Nah! Begini sudah benar, cantik sekali." Puji Nyonya Megan pada Aluna.


Saat Nyonya Megan dan Aluna bicara serius di kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar dan masuklah tuan David menghampiri ke duanya.


"Apa sudah kamu berikan padanya mom?"


"Sudah dad, coba Dady lihat ini sangat cantik bukan?" Tanya Nyonya Megan pada sang suami.


"Coba ulurkan tanganmu sayang, biar aku juga melihatnya." Ucap tuan David pada sang calon menantunya.


Aluna mengulurkan tangannya pada tuan David, dan sekali lagi Aluna di buat kaget tak percaya, dengan kelakuan suami istri ini, karena dengan tiba-tiba saja tuan David memberikan sebuah kartu berwana hitam padanya.


"Ini apalagi dad?" Tanya Aluna semakin kebingungan.


"Itu untuk mu dariku, kau bisa menggunakan nya dimana pun." Ujar David yang langsung kembali ke luar kamar. "Momy...," Bingung Aluna tak percaya.


"Sudah kamu ambil saja, besok momy akan menjemput mu ke mansion. kita akan bersenang-senang besok, Jadi sekarang lebih baik kamu pulang bersama Davin." Perintah nyonya Megan.


"Ingat, kau harus menjaga warisan itu dengan sangat baik. Kau mengerti?" Ujarnya lagi berpesan pada sang calon menantu.


Aluna mengangguk seraya berpamitan, dan gegas keluar kamar itu. Sesampainya di lantai bawah ia lalu menghampiri Davin yang sudah memasang wajah jelek nya dia.


"Kenapa lama sekali?" Gerutu Davin kesal.


"Maaf, Kau tau momy sama Dady memberi ku Hadiah istimewa ini." Tunjuk Aluna pada cincin di jari manisnya serta sebuah black card di sebelah tangan nya.


"CK, Apa kau mau pamer padaku?" Sindir Davin tak suka. "Tidak sama sekali, Aku hanya mau memberi tahu mu betapa baik nya ke dua orang tua mu padaku." Timpal Aluna seraya tersenyum manis, dan terus menatap benda cantik yang kini telah melingkar di jari manisnya itu.


"Aku bahkan bisa memberi mu lebih dari itu!" Ucap sombong Davin. "Ishh, sombong sekali." Cibir Aluna


"Lagipula, siapa juga yang mau minta padamu huh!" Ujarnya lagi seraya memeletkan lidahnya pada Davin. "Kau...," Kesal Davin mengepalkan satu tangannya ke udara. "Apa!?" Sahut Aluna melotot horor pada Davin.


"Baik terserah padamu saja, Ayo kita pulang sekarang!" Ajak Davin dan lalu menarik tangannya Aluna.


Aluna tak melawan saat di ajak paksa untuk pulang. sepanjang perjalanan Aluna terus memperhatikan cincin cantik itu, sampai Davin tiba-tiba bertanya padanya.


"Apa kau senang memakainya?" Tanya Davin pada Aluna. "Ya aku sangat senang sekali tuan," sahut Aluna dengan tersenyum sangat manis. Melihat itu Davin sampai tak berhenti memuji kecantikan gadis di sampingnya itu. " Ya tuhan, mengapa gadis ini semakin cantik saja," teriak bantin Davin, yang memuji kecantikan gadis di sampingnya itu.


"Baguslah jika kau benar menyukai nya, kau harus menjaganya dengan baik." Ujar Davin lagi. "Aku tau, dan aku berjanji akan menjaga nya dengan amat sangat baik." Ujar Aluna berjanji.


"Tuan, Bisakah kamu mengantar ku mengunjungi ke dua orang tua ku?" Tanya Aluna hati-hati. "Dimana? Apa letaknya jauh dari sini?" Tanya balik Davin. "Tidak, tidak jauh sama sekali, Untuk sampai di sana hanya butuh waktu dua hari dua malam saja." Goda Aluna seraya tersenyum jahil.

__ADS_1


"Apaaa!?" Teriak kaget Davin.


Bersambung.........


__ADS_2