
Aluna gegas kembali berlari kecil menuju ruangan nya.
"Kau dari mana saja? kenapa lama sekali?" Tanya Rossi kesal
"Maaf ka tadi pak Davin nya lagi sibuk, Jadi aku menunggu nya dulu." Bohong Aluna.
"Terus sekarang mana berkasnya?" Tanya Rossi lagi
"Masih di ruangan pak Davin ka," Jawab Aluna takut.
"Kenapa tidak kau bawa lagi Aluna?" Kata Rossi
"Berkasnya belum pak Davin tandatangan ka, tadi dia masih sibuk berbincang dengan asisten nya." Kembali Aluna berdusta.
"Ya sudah kalau begitu, ayo sekarang kita pergi makan siang dulu." Ucap final Rossi pada Aluna.
Aluna tersenyum mengangguk, dan mengekor Rossi dari belakang.
Sepanjang perjalanan menuju kantin, Aluna tak hentinya mengoceh ini dan itu. Saking asiknya ia bercerita sampai tak sadar jika begitu banyak orang yang membicarakan nya terutama para kaum laki-laki.
Sesampainya di kantin Aluna langsung heboh sendiri, karena melihat begitu banyak aneka makanan dan minuman yang tersaji di sana.
"Wahh...! Banyak sekali makanan di sini ka," Kata Aluna heboh.
"Aluna, jangan seperti itu malu orang-orang pada melihat kita," Protes Rossi pada Aluna.
"Hehee, Maaf ka. habis aku kagum begitu banyak makanan enak di sini." Ujar Aluna apa adanya.
"Ya sudah ayo kita cari meja yang kosong." Ajak Rossi lagi.
Baru juga Aluna dan Rossi duduk, mereka tiba-tiba di kagetkan dengan datang nya segerombolan laki-laki yang berlomba-lomba menarik perhatian Aluna.
"Hay cantik, kau mau makan ini tidak? Ini sangat enak kauharus mencobanya." Ujar salah satu karyawan laki-laki, yang menawarkan makanan pada Aluna.
"Nona, lebih baik kau mencoba makan ini saja, Ini lebih lezat dari itu." Timpal karyawan satunya lagi menyodorkan makanan lain pada Aluna.
Aluna meringis bingung, ia tidak tau harus bagai mana sekarang. Baginya, ini baru pertama kalinya Aluna merasa risih di perhatikan seperti ini.
Berbeda dengan Rossi, yang menyambut antusias situasi langka tersebut. Rossi begitu senang saat menjadi pusat perhatian banyak orang, terlebih lagi itu adalah para karyawan laki-laki.
"Ka Rossi, sebaiknya kita pindah saja dari sini. Aku mulai tidak tidak nyaman di sini," bisik Aluna pada Rossi.
"Tidak perlu Aluna, meja di sini sudah terlalu penuh. Tidak apa-apa kita di sini saja, lihatlah begitu banyak pria yang ingin mentraktir kita. Lumayan kan kita jadi tidak perlu keluar uang buat membayar makanan ini." Ujar Rossi menolak ajakan Aluna.
"Nona cantik silahkan makan, ini aku kasih geratis untuk mu. Jika ada yang kurang katakan lah, kau tidak perlu sungkan. aku dengan senang hati memberikan nya untuk mu." Ujar laki-laki di samping Aluna.
"Hahaha iya iya, sudah tidak perlu repot-repot aku bisa membelinya sendiri." Tolak Aluna halus.
Aluna semakin di buat bingung menghadapi kerumunan para pria di depan nya.
"Bagai mana ini? bagai mana bisa aku makan dengan tenang kalau situasi nya seperti ini?" Monolog Aluna menutup wajahnya dengan satu tangan nya.
Keadaan semakin riuh, sampai banyak dari karyawan lain yang mulai merekam keadaan kantin saat ini. Tak terkecuali Rossi sendiri, dengan bangga ia mulai mengabadikan momen langka tersebut.
Sampai Vidio yang Rossi posting pun di lihat oleh langsung oleh Bian.
Berasa menjadi bintang film.
Begitulah bunyi caption yang di tulis Rossi, Bian yang ke betulan sedang menemani Davin makan siang di ruangan nya. Dengan penasaran mulai memutar Vidio tersebut.
Bian sangat syok begitu melihat Aluna yang ternyata menjadi sumber pusat perhatian tersebut, dengan replek Bian menyebut nama Aluna yang membuat aktivitas makan Davin terhenti.
"Nona kecil!?" Ceplos Bian spontan.
Davin seketika mengangkat kepalanya dan mengerutkan kedua alisnya bingung.
"Apa katamu barusan Bian? Kenapa kau menyebut gadis itu?" Tanya Davin penasaran.
__ADS_1
Bian tak menjawab, malah menyodorkan handphone miliknya pada Davin.
"I-ini tuan," Ucap Bian gugup.
Davin mengambil handphone tersebut, dan mulai melihat apa yang di tunjukan Bian dalam handphone nya.
Seketika saja mata elang Davin melotot, menatap nyalang Vidio tersebut.
Emosi Davin tiba-tiba memuncak, dengan perasaan yang kesal bercampur emosi Davin membanting sendok yang sedang ia pegang ke sembarang arah.
"Kurang ngajar! Teriak Davin dengan wajah muram.
"Berani sekali mereka menggoda gadisku! Tidak bisa, ini tidak bisa ku biarkan. Ayo Bian antarkan aku ke kantin sekarang juga!" Bentak Davin pada Bian.
Bian mengangguk dan mengikuti Davin dari belakang, Bian terus berlari kecil untuk mengimbangi langkah besar kaki Davin.
"Ya Tuhan, Sepertinya aku telah melakukan kesalahan besar dengan menunjukan Vidio itu, harusnya ku biarkan saja serigala pecemburu ini untuk tidak mengetahuinya. Bodoh...bodoh... kau memang bodoh Bian!" Batin Bian mengutuk dirinya sendiri.
Davin sampai di pintu kantin, dengan jelas ia bisa melihat kerumunan yang semakin banyak. Ke dua tangan Davin sudah mengepal kuat, rahangnya mengeras menahan emosi yang siap meledak.
Dengan langkah besar Davin menghampiri kerumunan itu.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" Suara bariton Davin membuyarkan kerumunan tersebut.
Semua para karyawan menoleh, betapa terkejutnya mereka terutama para karyawan wanita. yang tidak menyaka jika, bos besar mereka menginjakan kakinya di kantin untuk pertama kalinya.
"Astaga! Teriak salah satu karyawan wanita.
"Ada apa ini? Tumben sekali pak Davin datang ke sini? Apa beliau juga mau makan siang di sini juga?" Ucap wanita itu lagi.
"Sepertinya tidak, Mustahil pak Davin mau makan makanan di sini? beliau itu sangat amat menjaga kebersihan." Timpal wanita lainnya.
"Ya Tuhan, Hari apa ini? Mengapa tiba-tiba pak Davin datang ke sini?" Ujar salah satu wanita yang mengagumi Davin.
"Lihatlah betapa tampan dan gagahnya tuan Davin. Ahh aku rasanya ingin memeluk tubuh kekarnya," Puji wanita lain.
"Selamat siang Presdir," Sapa semua karyawan laki-laki membungkuk hormat pada Davin.
"Kenapa kalian berkerumun di sini?" Lagi suara dingin mematikan itu keluar lagi.
Semua karyawan menunduk tidak berani menatap bahkan menjawab pertanyaan Davin.
Davin menghembuskan nafasnya kasar, berjalan perlahan menghampiri Aluna yang sedang mematung ke bingungan.
"Apa sudah selesai makan nya?" Tanya lembut Davin.
"Hahh? Ii-ya, aku sudah selesai." Jawab Aluna sembarangan.
Semua orang di buat melongo melihat sikap dan perlakuan Davin pada aluna, tak sedikit juga para wanita yang mulai mencibir Aluna.
"Dia karyawan baru itukan? Berani sekali menggoda pak Davin seperti itu?" Ucap salah satu wanita yang tak menyukai Aluna.
"Pasti dia telah menjual tubuhnya untuk menarik perhatian pak Davin." Ujar wanita lain.
"Iya benar! Tidak ku sangka ternya penampilan nya saja sok polos, tidak taunya seorang pemain juga." Timpal teman wanita lain nya lagi.
Davin gerah mendengar setiap tuduhan yang di tujukan pada gadis kesayangan nya itu.
"Ayo pergi! Ajak davin pada Aluna, seraya menarik lembut salah satu tangan Aluna.
Rossi begitu syok melihat kejadian di depan nya, bagai mana bisa? seorang Davin Damian yang terkenal dingin tak tersentuh itu, ternyata bisa memperlakukan seorang gadis dengan selembut itu.
Mata Rossi melotot dengan mulut menganga lebar. sungguh Rossi sangat iri melihat gadis polos seperti Aluna di dekati tuan muda tampan yang selama ini jadi rebutan ribuan wanita.
Davin menggenggam erat pergelangan tangan Aluna dan bersiap untuk membawa nya pergi.
"Ayo," Ajaknya hendak melangkah pergi. Namun, tiba-tiba saja Aluna tersadar dari kebingungan nya dan mencoba menahan Davin untuk membawanya pergi.
__ADS_1
"Eh...eh...! tunggu dulu, kau mau membawa ku kemana? Aku belum makan apapun, perutku juga sudah sangat lapar sekali." Keluh Aluna dengan ekspresi yang sengaja di buat imut.
"Kita makan di luar saja." Lagi Davin menarik tangan Aluna.
"Tidak mau! Jawab Aluna menepis genggaman tangan kekar itu.
"Ke luar sangat lama, perut ku sudah tidak bisa menahan lagi." Jawab Aluna memanyunkan bibir mungilnya.
Habis sudah kesabaran Davin menghadapi gadis kecil di hadapan nya itu, tidak ada pilihan lain lagi bagi Davin selain membawa paksa Aluna untuk pergi dari tempat itu.
"Ayo ikut aku jangan membuatku kesal Aluna," Bisik Davin tepat di sebelah telinga Aluna.
Tapi Aluna dengan masih kekeuh menolak ajakan Davin.
"Tidak mau, aku...........
Belum selesai bicara tubuh mungil Aluna sudah melayang ke udara, karena di angkat oleh tubuh jangkung Davin.
Davin mengangkat tubuh kecil Aluna, dan menaruh nya pada salah satu pundak Davin.
Menggendongnya seperti seorang anak kecil.
Aluna yang kaget, seketika berontak memukul-mukul punggung Davin dan mengegarakan ke dua kakinya tak karuan.
"Heyy! Apa yang kau lakukan? Turun kan aku, aku bisa berjalan sendiri, tanpa kau harus mrepot menggendong ku seperti ini." Teriak Aluna berontak.
Davin terus berjalan, melewati para karyawan yang sedang melongo menyaksikan kelakuan nya.
"Pukul lah sesukamu, tapi jangan harap aku bisa melepaskan mu! Kau benar-benar harus ku hukum kelinci nakal." Ujar Davin tersenyum semirik.
"Ahh kurang ngajar! Turunkan aku, ka Rossi tolong aku." Teriak Aluna meminta tolong.
Sedangkan Rossi yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum kagum.
"kau memang hebat adik kecil, saat semua wanita berlomba -lomba berdandan cantik dan seksi untuk menarik perhatian pak Presdir, kau yang hanya gadis biasa malah mampu membuat pak Presdir bertekuk lutut padamu. Huh aku sangat terharu, kira-kira kapan ya aku bisa menemukan seseorang yang begitu padaku?" Monolog Rossi kagum, sekaligus sedih.
Davin terus berjalan dan tak menghiraukan terikan Aluna, sampai melewati ruangan Ajeng Davin berhenti. Dia berbalik dan memanggil Ajeng.
"Ajeng...! Teriakan Davin menggema.
Ajeng menoleh, dan segera berlari menghampiri Davin.
"Saya pak? Jawab Ajeng segera.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan ku! Siapapun tanpa terkecuali. Kau mengerti?" Perintah Davin tegas.
"Dan kau Bian!? handle semu meeting hari ini, dan malam nanti laporkan padaku." Ujar Davin lagi.
"Baik tuan," Jawab Ajeng dan Bian berbarengan.
Ajeng terbakar cemburu melihat Davin yang menggendong Aluna, dalam hatinya begitu sakit melihat laki-laki yang di cintai nya malah terang-terangan membawa gadis lain kehadapan nya.
Tiba-tiba saja air matanya menetes begitu saja, Bian yang menyadari bahwa Ajeng terus memperhatikan Davin dengan segera menyadarkan Ajeng.
"Apa kau baik-baik saja? Tanya lembut Bian.
Namun, Ajeng enggan menjawab pertanyaan yang bian ajukan padanya.
"Jangan terlalu berharap dengan sesuatu yang mustahil kau dapatkan." Ucap Bian mengingatkan.
Ajeng mengusap air matanya kasar, lalu menoleh pada Bian.
"Jangan sok tau, dan jangan pernah ikut campur dalam kehidupan ku." Jawab Ajeng tegas dan lalu berlalu masuk kembali ke ruangan nya.
Melihat itu Bian hanya menggeleng dan menghembuskan nafasnya kasar, sungguh Ajeng sangat begitu keras kepala.
Bersambung.....
__ADS_1