
Aluna merentangkan ke dua tangan nya, bersiap untuk memeluk Davin. namun ia urungkan setelah mengingat ke jadian di mana ia pernah tidak sengaja mengotori jas mahal milik Davin.
Sementara Davin yang menyadari kalau Aluna akan memeluk nya, seketika hati nya berbunga seolah sedang menantikan hadiah besar dalam hati Davin bersorak ke girangan.
"Tuan," Seru Aluna terharu.
Davin menoleh serta mengubah posisi duduk nya menjadi menghadap Aluna, Davin sudah begitu siap menerima pelukan dari gadis kesayangan nya. Tapi nyatanya respon Aluna tak seperti harapan Davin.
"Tuan terimakasih karna telah memberi kesempatan untuk ku merasakan bekerja di kantoran, Sekali lagi terimakasih tuan, aku janji akan bekerja dengan giat." Ucap Aluna antusias sambil menjabat tangan Davin.
"Apa ini? Kukira dia akan memeluk ku atau bahkan mencium ku sebagai ucapan terimakasih nya. Ah dasar bodoh kau Davin, bisa-bisanya kau mengharapkan sesuatu dari gadis bodoh ini!" Teriak batin Davin kesal.
Sementara Bian yang melihat kejadian lucu itu tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.
"Apa yang kau tertawaan sialan!?" Sarkas Davin menatap horor pada Bian.
Davin begitu kesal, dengan kasar ia menepis tangan aluna.
"Tidak perlu berlebihan begitu, ingat kesempatan ini hanya untuk satu kali. Jadi manfaat kan dengan benar! fokus bekerja dan...
Davin menggantungkan perkataan nya, membuat Aluna jadi penasaran.
"Dan apa tuan?" Penasaran Aluna.
"Jangan pernah kau coba-coba berdekatan dengan karyawan pria! Kau mengerti?" Teriak Davin kesal.
"Ishh! ku kira apa? Kau tenang saja tuan, aku berjanji tidak akan berdekatan dengan yang karyawan laki-laki mana pun, Suer deh." Ujar Aluna tersenyum dan mengangkat dua jari tangan nya membentuk huruf V.
"Eh, tapi kenapa memang nya tidak boleh deket-deket karyawan laki-laki?" Tanya Aluna penasaran.
"Tidak boleh, ya tidak boleh saja kau tidak perlu tau apa alasan nya!" Tegas Davin.
"Hemm baiklah,Tapi bukan karna kau cemburu kan tuan? Hehee." Goda Aluna tersenyum genit
"Astagaa anak ini! Tingkat percaya dirimu tinggi sekali Nona, huh yang benar saja! untuk apa aku cemburu pada mu? Bahkan kau saja bukan tipe ku, dasar bodoh!" Teriak kesal Davin sambil mengendorkan ikatan dasi di leher nya.
"Apa benar begitu hemm?" Goda Aluna semakin menjadi.
"Tentu saja begitu! aku melarang mu berdekatan dengan pria di kantor ku, itu semua demi menghindari hal yang tidak baik! karna di perusahaan ku, sudah menetapkan peraturan sesama karyawan tidak boleh sampai ada yang berpacaran. Apa sekarang kau mengerti?" Dusta Davin mengelak.
"Jelas saja aku melarang mu dekat dengan pria mana pun selain aku, karna kau hanya milik ku! Dan hanya aku yang berhak atas dirimu, Sagita Aluna." Batin Davin.
Bian terus tertawa geli, melihat kelakuan konyol tuan nya.
"Sepertinya tuan benar-benar sudah jatuh hati pada Nona kecil, itu sebabnya dia melarang Nona kecil untuk dekat dengan pria lain. Hihii..." Ucap Batin Bian.
"Owhh, Ternyata itu alasan nya? baiklah aku mengerti. Lagi pula aku hanya bercanda menuduh mu cemburu padaku, jadi tenang lah kamu tidak perlu berteriak-teriak lagi padaku." Ujar Aluna menyengir kuda.
"Kaauuuu...! Gemas Davin mengepalkan telapak tangan nya di udara. "hehee, maaf tuan," ujar Aluna tersenyum manis, membuat Davin tak bisa berkutik lagi.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di kantor. Aluna tak hentinya mengembangkan senyum manisnya, menyapa setiap karyawan yang ada di sana.
Davin benar-benar di buat frustrasi oleh kelakuan Aluna.
Tak sedikit karyawan laki-laki yang terpikat dengan senyum manis Aluna, begitu banyak pujian-pujian yang terdengar jelas di telinga Davin. Dan itu membuat Davin semakin kesal.
"Kau sengaja melakukan itu pada mereka?" Sindir Davin lalu berlalu melewati Aluna begitu saja, lalu masuk ke dalam lift.
"Apa sih maksud nya?" Gerutu Aluna bingung gegas menyusul masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Apa maksud mu? Memang nya aku melakukan apa? Tanya Aluna bingung.
"Ck, Kau sengaja kan tersenyum genit pada mereka? Untuk apa? Kau mau tebar pesona pada mereka tadi hah!?" Tuduh Davin pada Aluna.
"Ya ampun! Aku hanya menyapa mereka sewajar nya, dari mana nya aku tebar pesona coba? Dasar aneh!?" Balas Aluna tak mau kalah.
"Huhh, Kenapa mereka berdua begitu rumit? setiap bertemu ada saja perdebatan di antara ke duanya." Bingung Bian.
Setelah sampai di lantai paling atas, Davin memerintahkan Bian untuk mengantar Aluna ke meja kerjanya, sementara Davin menunggu di luar ruangan. Davin sengaja menempatkan Aluna tidak jauh dari ruangan nya agar Davin bisa dengan mudah memantau aktivitas Aluna.
"Bian, Antar dia ke meja kerjanya, setelah itu keu cepat kembali." Perintah Davin segera.
"Baik tuan." Jawab Bian cepat.
"Kalau begitu Aku masuk dulu ya tuan?" Pamit Aluna pada Davin.
"Hemmmz," Jawab Davin acuh.
"Selamat bekerja dan semangat...!" Ucap manis Aluna mengepalkan tangan nya di udara.
Membuat Davin menjadi salah tingkah, kala Aluna menyemangatinya.
"Sana masuk!" Usir Davin, takut jika Aluna melihat wajahnya yang sedang salah tingkah.
Bian membawa Aluna masuk, dan menitipkan nya pada kepala bagian keuangan di sana.
"Nona, Silahkan. Ini meja kerja Anda, dan nanti akan ada seseorang yang akan menjelaskan pekerjaan Nona di sini." Ujar Bian menjelaskan.
"Baiklah tuan patuh, terimakasih sudah membantu ku." Ucap tulus Aluna.
"Sudah tugas saya nona, Baiklah kalau begitu saya permisi pamit dulu, tuan muda sudah menunggu." Pamit Bian dengan segera.
Bian tak membalas perkataan Aluna, dia hanya mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Aluna.
Bian kembali bersama Davin, mereka berdua masuk ke ruangan Davin. Bian kaget melihat Davin yang langsung uring-uringan tak jelas.
Rupanya Davin masih kesal pada Aluna, sampai ia tak hentinya mengumpati Aluna. Davin duduk di kursi kebesaran nya. Namun, ia tak kunjung juga merasa tenang. Rupanya ucapan Aluna yang mengatakan bahwa dia sudah memiliki pacar yang terus menganggu pikiran Davin.
"Tidak! tidak, Ini tidak bisa di biarkan." Monolog Davin gelisah.
"Tidak apa tuan?" Timpal Bian yang tak sengaja mendengar ucapan Davin.
"Bian...!" Teriak Davin.
"Saya tuan!" Jawab Bian takut.
"Apa kau sungguh tidak melewatkan satupun informasi mengenai gadis itu hah!?" Tanya Davin seperti orang ketakutan.
"Saya yakin tidak tuan, Semua informasi yang saya dapat sudah dari sumber yang terdekatnya. jadi tidak mungkin jika ada yang saya lewatkan," ujar menjelaskan.
"Tapi mengapa? di informasi nya tidak menjelaskan kalau dia sudah memiliki kekasih Bian? Tapi nyatanya dia sudah memiliki kekasih kau dengar sendiri tadi pengakuan nya kan?" Pungkas Davin tak habis pikir.
"Saya juga tidak tau tuan," Jawab Bian bingung.
"Mengapa informasi nya sampai berbeda seperti itu? Lalu siapa pria yang dia maksud sebagai kekasih nya itu?" Monolog Davin, "Ahh...sial! Dia membuatku tidak tenang saja." Teriak frustrasi Davin mengacak rambutnya. Membuat Bian meringis keheranan.
Davin bangkit dari duduknya, dan lalu menghampiri Bian.
"Cari tau sekarang juga! siapa pria itu jika perlu bawa dan sekap dia di markas kita, Aku tidak mau jika miliku di miliki orang lain juga.Kau mengerti apa yang ku perintah kan bian!?" Ucap Davin tegas.
__ADS_1
"Ba-baik tuan! Akan saya kerjakan." Balas Bian gugup.
"Bagus, Pergilah sekarang juga." Titah Davin lagi.
Bian keluar dari ruangan Davin, seketika dia merinding ketakutan melihat kilatan amarah di diri Davin.
"Astagaa! ternya tuan muda lebih mengerikan jika sedang cemburu seperti itu, iihhhh." Monolog Bian dan langsung berlari menuju lift.
Ajeng yang baru saja tiba, merasa aneh melihat sikap Bian seperti itu.
"Ada apa dengan nya? Aneh sekali." Tanya Ajeng pada dirinya sendiri.
Sementara di ruang kerja nya, Aluna sedang serius mendengarkan arahan mengenai posisi kerjanya. Ia dengan cekatan dapat dengan mudah memahami pekerjaan barunya itu.
"Apa kau sudah paham Nona sagita Aluna?" Tanya Rossi.
"Sudah ka." Jawab Aluna segera.
"Bagus, kau sangat mudah memahami perkataan ku. Baiklah sekarang kau coba salin laporan ini, dan nanti setelah selesai kau bawa laporan ini ke ruang presdir. minta beliau untuk tandangtangan ya?" Perintah Rossi lagi.
"Presdir? Siapa itu ka?" Tanya polos Aluna.
"Keu belum tau Presdir di perusahaan ini siapa? Tanya Rossi penasaran. Aluna menggeleng tidak tahu.
"Ya tuhan, kau benar-benar tidak mengenal tuan Davin Damian Nona sagita Aluna?" Tanya Rossi tak percaya.
"Owhh dia? ku kira siapa, Ka jangan panggil aku dengan panggilan lengkap seperti tadi ya," Pinta Aluna.
"Kenapa?" Bingung Rossi.
"Itu terlalu kepanjangan ka, ka Rossi cukup panggil aku Aluna saja bagai mana?" Saran Aluna.
"Baiklah Aluna, eh tunggu! tadi kau bilang dia pada Presdir? memang nya kau sudah mengenal beliau?" Kepo Rossi lagi.
"Sudah, Aku sering berdebat dengan nya, bahkan tadi waktu di jalan saja kita sempet berdebat dulu." Jelas Aluna santai.
Rossi melongo mendengar pengakuan Aluna yang menurut nya mustahil.
"Apa kau serius Aluna?" Tanya Rossi lagi memastikan.
"Ya itu benar ka Rossi, kau tau tidak dia itu orang paling menyebalkan yang pernah aku temui." Pungkas Aluna menjelaskan.
Rosi semakin di buat tak percaya dengan perkataan Aluna, ia hanya bisa menutup mulutnya yang tengah menganga dengan kedua tangan nya.
"Kau jangan bercanda Aluna! hahaaa mana mungkin presdir melirik pegawai bawahan seperti kita? apalagi kau yang sepolos ini." Ucap Rossi tak percaya.
"Ishh, ka Rossi belum tau sajah, Aku bukan hanya di lirik dia, bahkan setiap kali kami berdebat dia selalu melotot seperti ini padaku." Dengan polosnya Aluna memeragakan gaya Davin ketika sedang memelototi nya.
"Hahh...." Cengo Rossi semakin tak percaya.
"Tidak mungkin Aluna? kau pasti sedang berhayal iyakan? Kami semua yang bekerja di sini, sudah pada tau bagai mana dinginnya beliau. jangan kan melirik gadis polos seperti mu, di goda wanita seseksi Ajeng saja beliau tidak pernah melihatnya." Jelas Rossi lagi.
"Ya sudah kalau Kaka tidak percaya, Aku tidak akan memaksa Kaka untuk mempercayai ku." Jawab final Aluna.
"Ya sudahlah kau kerjakan dulu ini, seberesnya saja. karna seperti nya sebentar lagi jam istirahat, nanti kita makan siang bersama di kantin oke?" Ujar Rossi pada Aluna.
"Emm, Baiklah." Balas Aluna dengan senyum termanis nya.
Bersambung........
__ADS_1