
"jadi papa lihat kalo yang nampar penjual kue itu pak Maheswari?"
Tuan Adersn mengangguk, ia menatap tiga pemuda di hadapan nya kemudian menghela nafas.
"sebenarnya sudah sering papa mendengar kabar miring tentang pria itu"
"kabar miring apa pa?"
"kamu sudah baca laporan dari papa tentang Zeline?"
Sky mengangguk ragu, karena ia ingat hanya membaca sebatas lembar kedua saja.
"pasti belum kan?"
Tiga pemuda saling pandang, kemudian Sky dengan sendiri nya berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa lembar kertas yang di berikan oleh orang kepercayaan sang papa tadi pagi. setelah menemukan yang di cari Sky gegas ke balkon kembali tempat mereka duduk.
Dengan di temani oleh segelas kopi dan brownies kering mereka berbincang bagai keluarga meskipun ada Varo dan Enda yang bukan siapa-siapa di keluarga itu. tapi sekali lagi atas kebaikan tuan Adersn dua pemuda seumuran putra nya itu sudah di anggap keluarga dan anak sendiri. jadi mereka berbincang tanpa rasa canggung sama sekali.
"dimana om lihat mama nya Zeline jualan?" tanya Varo.
"di persimpangan yang tak jauh dari restoran milik teman mu itu, yang namanya siapa.... Andra, iya Deket restoran Andra"
"kalau gitu rumah nya nggak jauh dari sana, beberapa waktu lalu juga kami melihat tuan Maheswari datang ke restoran Andra"
"untuk rumah nya yang memang benar-benar rumah singgah om nggak tau, karena selama ini jika ada seorang klien yang di undang makan malam atau sekedar menjalin silaturahmi rumah nya ada di komplek sebelah"
"hah?!"
"tapi kita ngga pernah tau pa" sahut Sky yang sedang memegang kertas.
"rumah itu memang hanya sesekali di tempati, seperti yang papa bilang rumah itu akan hidup jika akan ada klien yang datang"
__ADS_1
"kenapa gitu ya?" tanya Enda.
Mereka terdiam, tuan Adersn membiarkan ketiga nya berpikir dengan sendiri. Ia menyesap kopi nya kemudian melirik Sky yang tengah serius membaca.
"ketemu!!!" seru Sky girang.
Varo dan Enda menoleh, Sky menatap keduanya kemudian menatap sang papa yang bersikap tenang.
"mama nya bernama Nadin, biasanya nyonya Nadin berjualan jajanan tradisional di pasar" ucap Sky menunjukkan foto yang ternyata di necis pada kertas itu.
Varo dan Enda menerima foto itu kemudian saling tatap karena wajah nya terlihat sangat asing.
"ini om mama nya Zeline?" tanya Varo.
tuan Adersn mengangguk. "sebenarnya ada beberapa klien yang memergoki nyonya Maheswari berjualan di pasar dan di pinggir jalan. tapi sudah lama sekali beliau tidak lagi berjualan dan om baru lihat sore tadi"
"nyonya Nadin berjualan di jam yang bisa di tentukan yaitu pada jam sembilan setelah tuan Maheswari berangkat ke kantor dan akan kembali pukul tiga sore sebelum tuan Maheswari pulang dari kantor" ucap Sky kembali membaca lanjutan laporan.
"apa?" tanya Varo dan Sky bersamaan.
"antara Tante Nadin ngga di kasih uang belanja sama tuan Maheswari makanya sampe jualan di pasar. atau memang Tante Nadin yang memiliki hoby membuat jajanan terus menjual nya"
Varo dan Sky terdiam, sementara tuan Adersn hanya menjadi pengamat dan pendengar ketiga nya.
"kedua nya salah kalo menurut gua En" ucap Varo.
"Tante Nadin istri dari pengusaha kaya coy, ya kali jualan di pasar kenapa ngga bikin restoran aja. kalo cuma modal restoran gua mah yakin ngga akan ngaruh sama keuangan tuan Maheswari" lanjut Varo.
"kalo masalah nafkah seperti uang belanja pun jadi pertanyaan. Sementara kalian tau sendiri gimana royal nya tuan Maheswari sama karyawan dan orang-orang lain. kita aja waktu itu di jamu dengan makanan restoran padahal kita cuma beberapa menit aja disana"
Ketiga nya kembali terdiam, mereka memikirkan kemungkinan apa lagi akan membuat seorang istri pengusaha berjualan di pasar bahkan sampai di pinggir jalan. Dan jam jualan nya pun seperti menghindari supaya tuan Maheswari tidak tau.
__ADS_1
Mereka bertiga menoleh ke arah tuan Adersn ketika pria setengah baya itu terkekeh.
"kalian lanjutkan berpikir besok pagi lagi, sekarang lebih baik tidur. waktu sudah tengah malam tidak baik begadang apalagi besok harus kerja" ucap Adersn kemudian berlalu.
Sky memencet tombol hp nya dan ketika layar menyala ternyata benar waktu sudah menunjukkan lewat 12 malam. Sky pun beranjak masuk ke kamar dengan membawa kertas tadi. sementara Varo dan Enda membawa nampan berisi tiga empat gelas kopi yang sudah tandas dan satu rodong brownies kering.
Mereka meletakkan itu di atas meja yang ada di kamar Sky. ketiga nya kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang Sky yang berukuran besar.
"menurut kalian apa alasannya?" tanya Sky.
"kita ngga tau kalo ngga nyelidikin. dan gua rasa kayak nya tuan Maheswari memiliki dua kepribadian deh" jawab Varo.
"dua kepribadian maksud nya?"
"Varo!" Sky menoleh dan mendapati Varo telah tertidur.
"temen lu En" Sky menoleh ke arah Enda dan rupa nya pria itu juga sudah tertidur.
"punya temen gini amat" gumam Sky mendengus.
***
waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. namun Mata Zeline belum mau terpejam padahal ia merasa tubuh nya amat lelah. Ia melihat ke samping dimana Yuni sudah terlelap sembari memeluk sebuah boneka bear dengan ukuran nya yang besar.
karena tak kunjung mengantuk akhirnya Zeline mencoba keluar dari kostan Yuni. Siapa tau saja ada penjual atau kalo enggak sekedar mencari angin malam. dengan mengenakan sweater tebal Zeline keluar dari kamar kost Yuni.
Gadis itu berjalan ke arah luar dengan tenang. Sampai di teras kost ia duduk dan melihat ke depan yang suasana nya terang sebab kostan itu memang berada di jalan raya. Zeline terdiam dengan otak nya yang terus memikirkan seorang wanita setengah baya yang sudah bertahun-tahun tak di temui nya.
Semenjak kejadian dimana kebahagiaan nya di renggut. Zeline tak lagi bertemu wanita itu. Namun, Zeline selalu mengawasi nya. Tak bertemu bukan berarti tidak tau. Zeline sering datang ke pasar hanya untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. Meskipun tidak melihat dari jarak dekat karena masih ada sakit yang sampai sekarang belum terobati. Tapi setidaknya ia tidak menjadi anak durhaka yang abai kepada wanita yang telah melahirkan nya.
"mungkin besok aku akan ikut chef belanja ke pasar. Siapa tau bisa mengobati perasaan aneh dalam diriku ini" gumam nya.
__ADS_1
Ia melihat jam melalui ponsel nya dan kembali masuk ke dalam kamar ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Rupanya berdiam diri cukup memakan waktu.