
"kenapa Zel? lagi ada masalah, perasaan dari pulang belanja sampe sekarang lu diem bae?" tanya Yuni.
Zeline menghela nafas kemudian menoleh ke samping dimana Yuni yang baru datang dan meletakkan nampan berisi menu sarapan untuk Zeline.
"ya elah Yun ngga perlu lah kamu bawain aku begini. Aku udah cukup kenyang makan martabak tadi"
"jangan mengalihkan pembicaraan Zel"
Zeline terdiam, memang Yuni selalu bisa memahami apa yang terjadi dengan nya.
"Zel...."
"mbak, mau pesan dong" ucap seorang pembeli yang baru restoran itu.
Yuni menoleh dan langsung menghampiri orang itu membuat Zeline menghela nafas lega.
"mau pesan apa mas?"
"mbak cuma sendirian ya kok ngga ada temen nya?" tanya pembeli itu justru mengalihkan pembicaraan.
"eh, ada mas satu karyawan tapi lagi izin" jawab Yuni.
"maaf ya, tadi sebenarnya saya sudah angkat tangan tapi sepertinya mbak ngga lihat"
"tidak apa-apa mas, maaf atas kelalaian saya"
"jadi mas nya mau pesen apa?"
"saya mau nasi goreng seafood sama jus jeruk. Bisa bungkus ngga mbak?"
"bisa mas, menu apa yang mau di bungkus?"
"nasi goreng biasa dua porsi, kerang mix dua porsi"
"baik mas tunggu sebentar. Untuk menu yang di bungkus bisa di ambil di meja kasir nanti ketika mas nya sudah selesai"
Pria itu mengangguk dan Yuni pun berlalu ke dapur. memang jika menjelang siang sampai malam restoran lumayan rame dan jika sendirian Yuni akan kuwalahan. Tapi untuk menambah satu karyawan lagi Yuni dan Zeline belum berani.
sesekali Zeline terlihat melayani pembeli, semenjak kenal dengan pria bernama Sky, Zeline sedikit bisa berekspresi ramah pada orang lain. Meskipun sebenarnya memang gadis itu ramah hanya saja sebuah insiden membuat nya menjadi cuek.
***
"btw kita ngapain sih ke dealer motor?" tanya Varo bingung.
Seharusnya mereka bisa menggunakan waktu istirahat untuk makan siang dan melanjutkan pekerjaan mereka agar bisa pulang lebih awal dan nongkrong setidak nya di cafe atau pinggiran jalan sembari makan somay. Tapi justru Sky mengajak nya dan Enda ke dealer motor.
__ADS_1
Sky tak menjawab pertanyaan Varo dan mengabaikan tatapan bingung kedua sahabat nya. ia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dealer motor dekat kantor nya.
"si Sky udah bosen kali ya sama di merah kok udah ke dealer aja" ucap Varo.
"tau deh, yuk mending turun. cepet kelar cepat makan laper banget gua" seru Enda.
Keduanya pun keluar dan menghampiri Sky yang sedang berbincang dengan salah satu pegawai dealer itu.
"njiir,, lu udah bosen sama kuda merah Ky, kenapa beli matic?" tanya Enda.
"nanti anter ke alamat restoran ini ya mas" ucap Sky.
"resto bread and butter" pegawai itu membaca ulang alamat nama alamat yang akan ia datangi.
Enda dan Varo saling pandang kemudian menatap Sky dengan pandangan jail.
"ekhem, untuk ayang Zeline rupa nya" ledek Varo.
"diem lu pada"
Varo dan Enda pun terkikik, mereka pun kembali masuk ke mobil dan segera mencari resto karena perut mereka sudah keroncongan minta di isi.
***
"ngomong deh sebenernya lu kenapa?"
"gue kepikiran nyokap Yun"
Yuni terdiam, sudah lama sejak insiden yang merenggut kebahagiaan Zeline. Gadis itu memang belum pernah kembali ke rumah lagi. Meski begitu Zeline tetap memantau keadaan rumah dan keluarga nya. Terakhir yang Yuni tau, ibu Zeline berjualan jajanan di pasar. dan dugaan Yuni benar jika Zeline ingin bertemu sang ibu dengan alasan ingin membeli jajanan.
"samperin yok" ajak Yuni.
Zeline yak menjawab justru menggeleng. Terpancar sedikit kekecewakan dalam mata Zeline. Yuni tau itu dan berusaha memaklumi.
"kita pantau dari jauh Zel"
"udah ngga jualan lagi, tadi ngga ada di tempat"
"kita jalan-jalan aja yuk. Udah menjelang sore juga. Restoran kita tutup aja. Dea izin, chef juga pulang lebih awal. Daripada ada yang dateng dan ngga ada yang masak kita juga yang repot"
Zeline memandang ke arah pada pembeli yang masih duduk anteng di meja masing-masing. Memang chef tadi memasak banyak sebelum pulang dan Yuni tinggal memanaskan saja. tapi stok sudah habis dan terakhir sudah di berikan kepada mereka yang masih tinggal.
"ya udah deh" putus Zeline.
Yuni bersorak, ia kemudian berjalan menuju pintu untuk membalik tulisan buka/tutup.
__ADS_1
"loh, udah mau tutup ya mbak?" tanya seorang pembeli yang melihat Yuni membalik tulisan itu.
"iya Bu maaf. Karyawan kami izin dan koki izin pulang karena anak nya di rawat di rumah sakit" ucap Yuni sopan.
"yah,, padahal saya mau nyuruh temen-temen saya kesini"
"wah,, terima kasih buk. tapi maaf untuk sekarang belum bisa. Mungkin lain kali"
"besok tutup atau buka mbak?" tanya pembeli lain.
"besok kami buka mas, tapi hanya menu kue saja"
para pembeli pun maklum, mereka menyadari bahwa pemilik restoran ini masih muda. Memang ma resto itu adalah bread and butter dimana memang pada awalnya mereka hanya menjual sejenis kue dan puding. Namun semenjak bertemu dengan chef Ardi mereka menambah menu menjadi restoran pada umum nya meskipun tidak ada menu Barat di dalam nya.
satu per satu pembeli beranjak. setelah kosong Yuni dan Zeline segera merapikan meja dan kursi. Mereka membagi tugas agar cepat selesai dan mereka tidak akan kesorean saat jalan-jalan nanti.
***
Di suatu tempat, seorang wanita setengah baya sedang kesusahan berjalan karena kedua tangan nya membawa barang-barang dagangan. Masih ada beberapa sisa jualan nya hari ini karena ia berangkat kesiangan. ingin menjajakan nya di pinggir jalan namun ia takut karena waktu pulang kantor sudah dekat.
Akhirnya ia memutuskan hendak pulang saja untuk mencari aman.
***
Yuni dan Zeline sudah bersiap pergi dan melangkah kan kaki nya namun kedatangan mobil pick up yang membawa sebuah motor matic berwarna biru membuat mereka berhenti. bukan karena kagum dengan kecantikan motor itu namun karena mobil itu berhenti tepat di restoran mereka.
Mereka saling pandang seolah bertanya lewat tatapan mata tapi kedua nya sama-sama mengangkat bahu tak tahu.
"maaf mbak, benar ini restoran bread and butter milik Safira Zeline?" tanya seorang pemuda yang dari seragam nya seperti nya pemuda itu pegawai dealer.
Zeline mengangguk membenarkan. Namun ia sedikit bingung.
"benar Rud, ayo turun kan"
dia bersama satu rekan nya pun menurunkan motor itu dan membawa nya di dekat Zeline.
"silah kan tanda tangani mbak" ucap pegawai itu menyodorkan sebuah kertas pada Zeline.
"ini apa ya mas? Kenapa tiba-tiba ada motor?" tanya Zeline bingung.
kedua pegawai itu saling pandang namun kemudian tersenyum.
"ini dari pacar mbak Zeline, silah kan di tanda tangani mbak"
Mau tak mau Zeline menanda tangani kertas itu. Setelah nya kedua pegawai itu pergi meninggalkan Zeline dan Yuni yang masih terpaku kebingungan.
__ADS_1