
"kak Zeline enggak papa?" tanya Jeje khawatir.
Zeline menoleh tersentak kaget ketika ternyata dirinya berada di tengah-tengah keluarga Sky. Sejenak tadi ia kepikiran oleh keluarga nya sehingga ia makan sampai tersedak.
"kak Zeline?"
"iya Jeje, kakak ngga apa-apa kok"
"bener?"
"iya sayang" ucap Zeline mengelus rambut Jeje.
Bocah itu pun kembali makan dengan tenang, Zeline memandang ke arah dua orang di depan nya. tampak Yuni memandang dengan raut khawatir sementara Sky memandang nya dengan ekspresi penasaran.
Zeline mengangguk dan tersenyum kepada Yuni untuk meyakinkan kepada sang sahabat bahwa dirinya baik-baik saja. Yuni tampak menghela nafas kemudian melanjutkan makan nya. Zeline tak sadar bahwa ada sepasang orang tua yang sejak tadi Mengamati nya. Mulai dari Zeline yang melamun ketika makan seperti sedang memikirkan sesuatu hingga ia tersedak dan bagaimana cara ia memandang Jeje dengan penuh kasih sayang dan seperti ada kerinduan pada seseorang.
nyonya Jessika memandang ke arah sang suami. Dan tuan Adersn memberi kode untuk melanjutkan makan nya terlebih dahulu. Gadis di hadapannya adalah gadis paling introvert yang ia temui. Namun, di balik introvert nya Zeline seperti ada sebuah kesedihan yang mendalam. dan itu tampak dari tatap mata nya.
Meskipun raut wajah itu selalu datar namun tak bisa menyembunyikan apa yang tersirat oleh mata. karena disaat tertentu Zeline kadang lupa memasang topeng dingin nya hingga wajah lembut nan sendu tak sengaja ia perlihatkan seperti saat ini.
mereka melanjutkan makan masing-masing dan bertindak seolah tidak terjadi apapun karena takut Zeline merasa tak nyaman jika terlalu di perhatikan. Makan malam pun usai dan kedua gadis itu berencana pulang langsung ke kostan.
"kalian ngga nginep aja disini?" tawar nyonya Jessika.
"aduh maaf banget Tan, si Zeline ngga bisa tidur di tempat asing" jawab Yuni.
"padahal Tante seneng banget kalo seandainya kalian nginep disini. Tante jadi ada temen ngobrol. Tau sendiri cuma Tante yang perempuan di rumah ini" keluh nyonya Jessika.
Yuni terkekeh, ternyata tak semua orang kaya memandang orang lain dari kasta dan harta. dan salah satunya mungkin kedua orang tua Sky ini. Dan hal itu membuat Yuni nyaman dan mungkin Zeline pun sama.
"kalian di anter sama supir ya. Tante khawatir kalo gadis-gadis cantik pulang sendiri. Biar besok motor kalian di antar sama orang"
"em, gimana ya Tan.." Yuni ragu, sebenarnya ia pun sedikit merinding jika harus pulang berdua dengan Zeline saja.
"terima kasih Tante, kami menerima tawaran Tante dan maaf merepotkan" jawab Zeline membuat Yuni menghela nafas lega.
"ya sudah sebentar Tante panggil kan sopir dulu" nyonya Jessika pun beranjak dan hendak keluar rumah.
"eh, ma ma!!"
nyonya Jessika berhenti dan menoleh ke belakang memandang putra nya heran.
__ADS_1
"biar Sky aja yang antar mereka"
nyonya Jessika memandang sang suami dan tuan Adersn pun mengangguk.
"ya sudah, hati-hati bawa mobil jaga baik-baik anak gadis orang"
"siap mama!!" seru Sky berpose hormat.
Yuni dan nyonya Jessika terkekeh geli melihat tingkah Sky. sedang di dingin hanya tersenyum tipis.
"Tante kita berangkat ya" ucap Yuni say bye-bye kepada nyonya Jessika.
"hati-hati ya, kalo anak Tante nakal geplak aja kepala nya"
"abis itu ambil mobil nya boleh tan?" goda Yuni.
"boleh-boleh" jawab nyonya Jessika menanggapi.
Akhirnya mobil melaju, tampak jalanan sedikit macet namun tak sampai membuat mobil berhenti.
"duh,, ngeri banget ngga sih Zel ternyata kita sampe komplek sana. Padahal jauh banget loh jarak nya dari resto kita" seru Yuni memandang sekitar dari jendela.
"padahal semua tampak biasa Yun"
Sky melihat dari kaca dalam mobil itu, ia memandang wajah cantik Zeline yang telah memejamkan mata. entah karena lelah atau karena suatu hal yang jelas mata itu telah terpejam.
"makasih ya Ky lu udah repot-repot beliin Zeline motor" ucap Yuni memecah keheningan.
"sama-sama Yun, kalian suka motor nya kan?"
"suka banget, jadi kami ngga perlu jalan kaki lagi deh kalo mau ke resto"
Sky mengangguk menanggapi, hingga beberapa saat kemudian mereka sampai di depan kost an Yuni.
"gua langsung pulang ya" ucap Sky.
"iya, hati-hati salam buat om dan Tante"
Sky mengangguk dan melajukan kembali mobil nya lurus untuk menghampiri tukang martabak yang dekat dari kostan Yuni.
"masuk Zel"
__ADS_1
Zeline mengangguk, rasanya ia ingin memejamkan mata dan mengistirahatkan badan yang lelah. Tapi bukan hanya badan nya saja yang lelah, melainkan juga hati dan pikirannya.
"Zel"
Zeline menoleh ke arah Yuni yang sedang rebahan di kasur.
"lu okay kan?"
Zeline mengangguk, ia masuk ke kamar mandi dan tak lama terdengar suara gemericik air. Yuni memandang sendu ke arah pintu kamar mandi.
"lu pasti kangen sama Nizam ya Zel kalo lihat Jeje" lirih Yuni.
***
"jadi motor yang tadi di bawa dua dara itu pemberian dari Sky?" seru nyonya Jessika kaget.
"iya, romantis kan putra mama"
"mama cuma takut kalo perasaan Sky di abaikan oleh Zeline pa. Mama lihat gadis itu selalu cuek"
Tuan Adersn merangkul istrinya membuat nyonya Jessika menoleh.
"untuk gadis seperti Zeline, sebuah hal baik jika mau menerima pemberian dari pria ma. Seperti motor itu, kalung yang di pakai oleh Zeline bukan kah dari Sky?"
Nyonya Jessika mengangguk, ia sebenarnya sangat menyukai Zeline karena gadis itu mampu membuat Jeje nyaman meskipun baru beberapa kali bertemu.
"itu adalah awal yang bagus. Meskipun terkesan cuek dan dingin tapi sebenarnya Zeline adalah gadis perasa. Ia tahu cara menghargai pemberian orang lain. Dan papa lihat ada kesedihan di balik mata Zeline"
nyonya Jessika termenung, ia jadi ingat dengan tatapan penuh kasih sayang Zeline kepada sang putra bungsu. Dari tatapan gadis itu terlihat sebuah kerinduan yang dalam.
"mama sama papa belum tidur?" ucap Sky yang baru pulang.
Sky duduk di sofa yang ada di hadapan kedua orang tua nya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"kau ingin berbicara sesuatu?" tanya tuan Adersn.
Sky mengangguk meski sedikit merasa ragu.
"kau tak nyaman ada mama sayang?"
"bukan ma, hanya saja Sky bingung mau mulai dari mana"
__ADS_1
"bicara lah, anggap kamu sebagai sahabat mu seperti kau bercerita kepada Varo dan Enda" ucap sang papa sembari menyomot martabak toping coklat yang di bawa putra sulung nya.
"bagaimana tanggapan papa tentang Zeline?"