Gadis Yang Tak Tersentuh

Gadis Yang Tak Tersentuh
29


__ADS_3

"mama..." rengek Jeje.


"mau papa jewer lagi?" tanya tuan Adersn.


"cih"


Sky menghela nafas kasar kemudian menjulurkan lidah ke arah sang adik, Jeje yang melihat itu pun sontak berteriak kesal memanggil nama sang Kakak sedang Sky sudah berlari menapaki tangga dan menuju kamar nya.


"papa mandi juga gih, si bontot kita sudah lapar" ucap nyonya Jessika.


tuan Adersn terkekeh, ia mencium hidung bangir sang istri kemudian berlalu.


"papa ngga boleh cium cium mama Jeje"


"kenapa istri papa kok"


nyonya Jessika menggeleng, memang jika mengenai dirinya pada pria di rumah ini tak ada yang mau mengalah. Ia duduk kembali di kursi makan menemani Jeje yang masih setia menunggu papa dan kakak nya.


Beberapa menit tuan Adersn datang dengan wajah yang lebih segar. dengan celana pendek dan kaos oblong membuat papa beranak dua itu terlihat begitu muda.


"ayo papa cepet, Jeje udah laper banget"


"dasar doyan makan" ledek tuan Adersn mengacak rambut sang putra.


"kakak mu mana?"


Jeje mengangkat bahu nya acuh, beruntung bocah itu sudah makan satu cup kecil salad buah sehingga tidak rewel karena kakak nya tak kunjung turun.


"biar mama lihat kakak dulu"


nyonya Jessika naik dan mengetuk kamar putra sulung nya. Tiga kali ketukan dan panggilan nyonya Jessika di abaikan oleh sang pemilik kamar. nyonya Jessika memutar kenop pintu dan ternyata tak di kunci. nyonya Jessika masuk dan sontak menggelengkan kepalanya mendapati Sky tertidur bahkan belum ganti baju.


nyonya Jessika mendekati Sky dan melepas sepatu juga kaus kaki yang di pakai Sky. Setelah itu di selimuti nya tubuh Sky dan berlalu ke luar kamar.


"mana kakak ma?" tanya Jeje.


"kakak mu ketiduran, mungkin kelelahan"


"ya sudah, kita makan dulu biar nanti mama sisih kan untuk kakak mu" ucap tuan Adersn.

__ADS_1


nyonya Jessika mengangguk, ia mengambil piring mengisi nya dengan nasi dan lauk kesukaan suaminya kemudian meletakkan piring itu di depan sang suami. Sementara Jeje sudah lahap memakan makanan nya yang sejak tadi sudah sedia.


Tuan Adersn menikmati sesuap demi sesuap nasi yang ia sendokkan ke dalam mulut nya. Rasa nikmat masakan sang istri memang tak pernah tak memanjakan lidah nya.


***


"Bara, menurut lu kenapa sih Zeline selalu menghindar dari gua?"


Bara menoleh, menatap ke arah kawan bicara yang menanyakan pertanyaan konyol pada nya.


"kenapa lu ngga tanya langsung sama orang nya?"


"gua udah pernah tanya tapi Zeline bilang kalo gua harus nya sadar diri"


Bara menghela nafas, entah dengan bahasa apa ia akan menjelaskan agar pria tampan tapi bo*doh di samping nya itu sadar. Tapi ia sedang malas ribut. Jadinya ia hanya diam memandang ke depan rentetan kendaraan yang sedang terkena macet. Pemandangan itu tampak indah di lihat dari roof toof restoran Andra.


***


"gua yakin Sky pria baik yang ngga akan gampang percaya dengan apa yang di katakan oleh orang lain Zel"


"bukan nya gua juga pernah percaya sama cowok Yun"


"gua yakin Sky berbeda Zel"


Yuni merengkuh tubuh Zeline, tubuh itu bergetar mengingat penyiksaan yang dulu pernah di alami nya. hanya karena kesalahan kecil maka tubuh Zeline akan meninggalkan lebam kebiruan. Dan disaat ia mencoba percaya dengan makhluk pria yang lainnya ternyata kepercayaan itu hanya sia-sia karena ternyata semua tak jauh berbeda. Hanya Yuni lah satu-satunya orang yang bisa Zeline percaya. karena hanya Yuni yang selalu ada kala Zeline terpuruk.


***


Hooaam...


Sky mengerjapkan matanya, temaram lampu tidur membuat ia meraih benda pipih di atas nakas nya. matanya melotot ketika layar terbuka dan jam sudah menunjukkan angka 9 malam. Ia terbangun dan terkejut mendapati sepatu nya telah lepas dari kaki nya. Ia tersenyum sudah pasti sang mama lah yang telah bersikap manis seperti ini.


Sky menyibak selimut kemudian masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tak lama ia keluar dengan piyama berwarna putih keabuan. Ia keluar dari kamar karena perut keroncongan minta di isi. Saat menapaki tangga ia melihat lampu ruang keluarga masih menyala dan terdengar suara televisi ia merasa lega karena ternyata kedua orang tua nya belum tidur. Sky melangkah ke meja makan yang telah bersih tak ada apapun di sana. Ia menuju kemari yang biasanya di gunakan untuk menyimpan makanan.


kosong. Ia mencoba membuka kulkas siapa tau saja makanan nya di simpan disini. namun tak ada juga. Ia menghela nafas, sangat tidak mungkin jika makanan nya habis dan sang mama tak menyisakan barang sedikit pun untuk dirinya. Akhirnya ia pun memutuskan menemui sang mama.


"ma..." panggil Sky.


"kamu sudah bangun sayang? Sudah makan?"

__ADS_1


"dimana makanan nya ma?"


"kamu itu sudah besar nyari makanan aja ngga bisa" sahut sang papa.


nyonya Jessika menepuk paha sang suami kemudian beranjak. Sky pun meledek sang papa kemudian mengikuti langkah mama nya.


nyonya Jessika berjalan melewati kulkas, lemari penyimpan makanan dan menuju ke arah lemari kecil yang ada di atas rak piring. lemari yang biasanya di gunakan untuk menyimpan persediaan mie instan.


"mama mau masakin aku mie?"


"makanan nya ada disini"


"loh tumben di simpen disana"


nyonya Jessika tak menjawab, akan terjadi keributan jika seandainya wanita cantik itu mengatakan alasannya menyimpan makanan disana adalah karena kekesalan Jeje pada Sky yang membuat bocah kecil itu harus menahan lapar.


"makan lah, atau mau mama panasin dulu"


"enggak usah ma, nasi nya juga udah anget kok di rice cooker"


nyonya Jessika mengangguk ia meninggalkan Sky dan menghampiri kembali suami nya. Sementara Jeje sedang tidur pulas di kamar nya yang bernuansa biru. bocah itu tidur dengan nyenyak nya sembari memeluk guling berbentuk ikan hiu besar.


***


"sudah makan nya?" tanya nyonya Jessika.


Sky mengangguk kemudian duduk di sofa yang berdekatan dengan kedua orang tua nya. Sky memandang ke arah televisi namun sering melirik ke arah sang papa. Tuan Adersn yang peka dengan tingkah anak nya pun menatap Sky.


"ada apa?" tanya tuan Adersn.


nyonya Jessika ikut menoleh dan mendapati sang putra tengah ragu-ragu seperti hendak menyampaikan sesuatu.


"kalo aku bilang papa sama mama bakal percaya enggak?" tanya Sky menatap manik mata kedua orang tua nya bergantian.


nyonya Jessika dan tuan Adersn saling pandang kemudian menatap kembali pada Sky.


"tentang apa?" tanya sang mama.


"jawab aja dulu ma"

__ADS_1


"kami akan percaya, apapun yang kau katakan kami akan mencoba mempercayai nya" seru tuan Adersn tegas.


Sky menghela nafas, ia menatap kembali wajah hangat milik kedua orang tua nya kemudian mulai bercerita.


__ADS_2