Gadis Yang Tak Tersentuh

Gadis Yang Tak Tersentuh
#40


__ADS_3

"siapa pa?" tanya nyonya Jessika baru keluar dari Kaman mandi dengan memakai handuk yang hanya melilit tubuh polos nya saja.


"kenapa papa liatin mama kayak gitu?"


Nyonya Jessika dengan cepat masuk walk in closet dan mengunci pintu. Ia tau tatapan genit sang suami. Sementara tuan Adersn hanya terkekeh, padahal ia hanya ingin berniat menggoda tapi ternyata sang istri begitu tidak ingin di ganggu oleh nya. Akhir nya ia pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


"mas Andra sama mas Bara silahkan masuk dan duduk terlebih dahulu. Tuan besar dan nyonya sedang beristirahat sedangkan tuan muda belum kembali"


Andra dan Bara yang sedang duduk di teras pun menoleh. mereka melihat pelayan wanita yang sedang tersenyum ramah kepada mereka.


"mari mas"


Andra dan Bara mengikuti pelayan itu, mereka duduk di sofa dan pelayan itu kembali ke dapur. Tak lama ia datang dengan membawa nampan berisi setoples cookies dan dua gelas jus jeruk.


"sambil menunggu tuan besar turun atau tuan muda sampai silahkan di nikmati hidangan nya dulu"


"terima kasih"


Pelayan itu mengangguk kemudian kembali ke dapur.


"kemana kira-kira Sky ya?" tanya Andra.


Bara hanya mengangkat bahu nya acuh dan meraih jua jeruk milik nya. Ia merasakan haus sang sangat sebab cuaca yang sedikit panas. Ia membuka toples dan mengambil cookies untuk di nikmati.


"hei boy, maaf apakah om terlalu lama?"


Andra dan Bara menoleh, mereka mengangguk sopan.


"enggak apa-apa om, seharusnya kami yang meminta maaf sebab bertamu di waktu yang seharusnya tidur siang"


"tidak apa-apa, om dan Tante juga baru saja pulang dari jalan-jalan. Kebetulan tanggal merah jadi quality time"


Bara tersenyum pun dengan Andra. bagi mereka contoh suami idaman ada pada tuan Adersn. yang meskipun sibuk dengan urusan perusahaan tapi tak pernah lupa dengan keluarga. selalu menyempatkan diri untuk bersama anak dan istri.


Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti di halaman. Semenit kemudian suara panggilan Jeje sudah terdengar menggema di rumah itu.


"Jeje pulang!!!" teriak Jeje ketika kaki nya masuk ke dalam rumah.


"biasa ae cil, apaan sih teriak-teriak" seru Sky dari arah belakang.


"biarin"


Jeje pun meneruskan langkah nya dengan bersenandung ria. bocah itu masih memeluk cup berisi puding buatannya bersama Sari tadi.


"eh ada kak Andra sama kak Bara" ucap Jeje sembari duduk di samping sang papa.


"darimana boy?"

__ADS_1


"dari restoran kak Zeline pa, lihat ini.... Ini puding buatan Jeje sama kak Sari loh" pamer Jeje.


"Sari siapa?"


"kak Sari itu kerja di restoran kak Zeline pa"


Tuan Adersn pun mengangguk paham.


"udah lama?" tanya Sky duduk di sebelah Jeje.


"baru aja. Mana Enda sama Varo?" tanya Bara.


"mereka udah pulang tadi sekalian gua anter"


"ngga jadi main PS kita?"


"kagak lah, gua udah ngga mood"


"sorry, gua ketiduran tadi pagi" seru Andra.


"enggak apa-apa, tadi juga gua sama anak-anak momong nih bocah"


"mama mana pa?"


"ada di kamar, kenapa?"


Sky mencebik, Jeje dan tuan Adersn pun naik ke lantai atas.


"dari mana?" tanya Andra.


"gua? dari jalan-jalan, niat nya mau nongkrong ke mall eh Jeje justru pengen ke resto Zeline jadi ya udah kita kesana rame-rame. lu belum pernah kesana?"


Andra pun menggeleng. Entah mengapa ada perasaan sedikit nyeri ketika Jeje dengan bahagia mengatakan bahwa bocah itu berkunjung ke restoran Zeline apalagi panggilan kakak yang di sematkan Jeje pada Zeline sungguh terdengar akrab.


"kita berenang aja lah, daripada nganggur gini mau ngapain juga" ajak Sky.


Bara pun mengangguk kemudian beranjak dan melepas jaket nya.


"kuy lah, udah lama banget gua ngga berendam di kolam lu"


Sky mengangguk, ia pun melakukan hal yang sama.


"lu ngga ikutan Ndra?" tanya Sky.


"enggak deh, kalian aja. Gua mau ada keperluan"


Andra pun beranjak.


"nanti kalo gua belum balik kesini lu minta jemput anak-anak aja" pesan Andra.

__ADS_1


Bara hanya mengangguk, karena ia memiliki rencana untuk menginap di rumah Sky. Setelah kepergian Andra, Sky dan Bara pun menuju kolam renang.


Dari lantai atas, tepat nya di balkon kamar tuan Adersn. Rupa nya Jeje dan kedua orang tua nya sedang duduk santai sembari menikmati puding yang di bawa oleh Jeje.


"enak loh, ternyata putra mama memiliki bakat membuat puding ya" ucap nyonya Jessika membuah Jeje tersipu.


"katanya mau nongkrong di mall tadi, terus nggak jadi?" tanya sang papa.


"enggak. Jeje kangen sama kak Zeline kok. Tapi eh malah kak Zeline ngga ada tadi" jawab Jeje sembari menatap sang papa kemudian melanjutkan memakan puding.


"kak Zeline kemana emang?" sahut sang mama.


"kata kak Yuni kak Zeline lagi pengen malas-malasan. tapi pas Jeje mau pulang tadi Jeje ketemu kak Zel di dapur"


"tapi ada yang bikin Jeje bingung"


"apa?" tanya kedua orang tua nya bersamaan.


"ihh,, mama sama papa kompak banget tanya nya" seru Jeje.


"iya dong" seru sang papa mencium kening istrinya.


"papa" tegur nyonya jessika memukul paha tuan Adersn.


"jadi apa yang di katakan kakak Zeline sampai putra mama ini bingung?"


"tadi kan Jeje bilang kalo Jeje suka karena di kasih izin bikin puding bareng kak Sari. terus kak Zel tanya apakah Jeje suka puding atau enggak. terus Jeje jawab kalo Jeje suka. habis itu kak Zeline kok jadi sedih, terus bilang gini 'jeje beruntung bisa bikin sekaligus makan puding mangga ini, ngga kayak Nizam yang belum pernah nyobain puding sama sekali" jelas Jeje menirukan ucapan Zeline tadi.


"siapa Nizam nak?" tanya sang mama sembari melirik suami nya.


"nah, makanya itu Jeje lupa tanya ma. Jeje juga lupa bilang sama kak Sky. Siapa tau aja kan kak kyky tau siapa itu Nizam"


nyonya Jessika mengelus lembut rambut Jeje kemudian menatap tuan Adersn.


***


"Kak Zeline, maaf menganggu. Di depan ada yang nyariin kakak" ucap Dea.


Zeline yang sedang berkutat dengan adonan donat pun menoleh.


"siapa de?"


"enggak tau kak, belum pernah kesini. Dea takut wajah nya galak"


Deg.


Zeline langsung mencuci tangan nya dan mengikuti Dea. Zeline takut jika yang datang adalah tuan Maheswari yang ingin membuat kekacauan. tapi ketika ia sudah keluar, kaki nya terpaku seolah berat untuk melangkah saat melihat Andra sedang duduk di bangku kosong.


jantung Zeline berdetak kencang, ingatan buruk tentang mereka berputar di memori seperti kaset rusak. Memori ketika Andra menghardik Zeline anak durhaka, ketika Andra menatapnya tajam sebab mendengar laporan bahwa Zeline memarahi kedua orang tua nya. Dan yang terpenting adalah ketika Andra turut andil menyalahkan Zeline atas kepergian Nizam.

__ADS_1


__ADS_2