Gadis Yang Tak Tersentuh

Gadis Yang Tak Tersentuh
Zeline mulai tenang


__ADS_3

"sorry gua kebawa emosi" ucap Sky lirih.


Bara menepuk punggung Sky.


"gua paham. Dari awal gua udah tau kalo lu suka sama Zeline. Zeline asli nya baik coy, ramah banget. Apalagi kalo udah cinta beeehh bucin abis. Dulu aja gua sampe males kalo liat dia sama Andra. Tapi ya itu, salah sedikit aja minta maaf nya susah. Gua aja sampe sekarang belum di maafin sama dia"


"kesalahan lu apa?"


"gua temen Andra"


"tapi lu ngga ikut-ikutan kayak si breng*sek itu kan?"


"ya kagak lah, tapi ya itu. Lu tau sendiri Zeline punya trauma sama cowok karena papa nya jadi pas tau kalo Andra kayak gitu mikir nya dia gua sama kek Andra karena gua temen nya"


Sky terdiam, ia jadi teringat dengan sikap Zeline beberapa hari yang lalu ketika menjadi cuek kembali. Apakah mungkin ada sangkut pautnya dengan ia yang waktu itu bersama Andra.


"malah ngelamun" seru Bara.


"gua nginep sini ya Ky, gua jenuh di restoran. Apalagi semalem gua sempet debat sama Andra"


Sky mengangguk sebagai jawaban. Ia masih memikirkan Zeline, tiba-tiba saja dia rindu.


"yuk masuk, udah sore"


Mereka pun masuk, sampai di ruang tamu Sky mengambil kemeja dan ponsel nya kemudian naik ke lantai atas. Sementara Bara masuk ke kamar tamu yang ada di ruang tamu itu.


Sampai di kamar Sky meletakkan kemeja nya di tempat baju kotor setelah itu langsung ke kamar mandi.


***


Zeline mengerjapkan matanya, melihat sekeliling yang ternyata adalah ruangan baru di resto nya. Zeline mendudukkan tubuhnya dan meregangkan otot-otot yang terasa lelah.


Ceklek.


Zeline menoleh ke pintu dan mendapati Yuni yang datang membawa nampan berisi nasi goreng ayam suwir dan sepiring puding jeruk.


"udah bangun Zel"

__ADS_1


Yuni meletakkan nampan itu di atas meja.


"minum dulu tapi udah dingin"


Zeline menerima gelas teh dari Yuni kemudian meminum nya. rasa tawar dari teh itu menerobos masuk ke tenggorokan nya. Tapi memang rasa tawar itu di sukai oleh Zeline.


"makan dulu, siang tadi lu belum sempet makan kan?"


Zeline mengangguk, Yuni mengambil nasi goreng kemudian menyerahkan pada Zeline.


"gua tinggal dulu ya"


Zeline mengangguk, Yuni segera beranjak untuk melanjutkan aktivitas nya. sungguh sikap Yuni yang seperti kakak nya membuat Zeline terharu.


"Yun.."


"iya" Yuni berbalik menatap Zeline.


"makasih ya.. Makasiiiiih banget"


Yuni tersenyum manis, hanya ucapan terima kasih tapi mampu membuat Yuni merasa sangat di hargai.


"apa masih bisa sembuh Yun? luka nya dalem banget" ucap Zeline.


Sesuap demi sesuap nasi goreng ia masukkan ke dalam mulut. Masakkan chef Ardi memang tidak bisa di remeh kan selalu memanjakan lidah. Entah Zeline yang lapar atau memang masakan nya yang top enak. Nasi goreng ayam suwir itu habis hanya dalam beberapa menit. Zeline meminum sisa teh tadi dan mengambil puding.


"emang kalo lagi sedih gini enaknya makan. Duuhh puding buatan Yuni enak banget sih" gumam Zeline yang sudah ceria hanya karena nasi goreng.


Yuni menyuap kan puding itu dan menikmati rasa manis serta dingin, lembut yang menggoyang lidah nya.


***


Indah semburat merah di angkasa, serta warna oranye matahari yang hendak pergi ke peraduan nya memang enak di pandang mata. Sky yang baru saja selesai mandi memilih berdiri di balkon menikmati keindahan senja yang hendak berlalu. Menikmati semilir angin yang membuat mata mengantuk tapi menoleh tidur karena ada sunset yang masih perlu di lihat. Sky jadi mengkhayal kan jika seandainya ia berdiri di sini bersama Zeline dan sama-sama menikmati keindahan sore hari. Ah pasti sungguh manis sekali.


tak lama berdiri di balkon karena hawa dingin sebab semilir angin membuat Sky memutuskan masuk kembali ke dalam rumah. Sky memakai celana boxer kemudian merebahkan tubuh nya di atas ranjang besar milik nya.


Sky membuka ponsel nya dan mengernyit ketika kontak bernama 'hack papa' mengirimi nya sebuah video. Sky langsung mengklik video itu dan raut wajah nya menjadi datar melihat isi video itu.

__ADS_1


"emang nggak tau malu itu orang. kalo gua jadi dia setiap ketemu Zeline gua bakal melipir biar nggak ketemu karena malu" gumam Sky greget.


***


"sore menjelang mbak Zeline" sapa chef Ardi sopan dan sedikit bercanda.


"hhee,,, maaf chef ketiduran" ucap Zeline.


"tidak apa-apa mbak. Badan yang lelah memang sudah seharusnya di istirahat kan"


Zeline mengangguk, ia meletakkan piring bekas nya ke tempat pencucian.


"pesenan udah di antar semua de?" tanya Zeline.


"sudah kak. Ini Dea lagi nyatat apa-apa yang mau di beli besok. Soalnya chef Ardi ngga sempet. Liat hari udah mau Maghrib masih masak aja" ucap Dea.


Zeline menoleh, ia pun terkekeh melihat chef Ardi yang sedang memasak sesekali mengusap keringat dengan baju koki nya. Zeline duduk di kursi dapur sembari memantau Dea dan chef Ardi. bukan memantau sebenarnya tapi lebih ke melihat saja sembari tersenyum. Ia merasa bahagia karena bisa mencapai di titik inim restoran yang ia bangun berkat kerja keras nya kerja part time dan menjadi seorang joki tugas semasa kuliah membuat ia memiliki banyak tabungan dan membangun restoran yang semakin lama bisa semakin berkembang hingga ia bisa merekrut tiga karyawan tambahan.


Meskipun dalam kondisi tertentu ia merasa sedih karena tak ada sedikit pun dukungan dari orang tua nya tapi justru itu yang membuat Zeline bangga pada dirinya sendiri yang bisa berjuang hanya dengan Yuni, ya hanya Yuni yang menemani dirinya sampai ketitik ini. Bahkan Yuni pun menyumbang kan sedikit tabungan nya untuk membantu kemajuan restoran ini.


"Zel..."


Zeline berjingkat kaget merasakan tepukan di bahu nya.


"kenapa?" tanya Yuni.


Yuni duduk di kursi depan Zeline. Gadis itu terlihat memakan bakwan dan ternyata membawa nya juga di hadapan Zeline.


Selain makanan manis, tentu saja gorengan adalah makanan favorit Zeline. Jangan di tanya kenapa Zeline menyukai nya karena memang meskipun dia anak pengusaha tapi sejak kecil ia harus berusaha mencukupi kebutuhan nya sendiri.


"siapa yang bikin?"


"beli. Gua tiba-tiba pengen gorengan. kalo bikin mana sempet Zel, ini aja tadi delivery"


Zeline mencebik, ia mengambil bakwan dan mulai memakan nya.


***

__ADS_1


"maaf om, seperti nya saya harus berhenti untuk merecoki hidup Zeline lagi. Jujur saya malu terlalu menuntut dia untuk menjadi yang seperti saya ingin kan. Saya salah di masa lalu karena hanya melihat dari satu sisi. tapi sekarang saya sudah paham dengan sikap Zeline. Saya minta maaf, dan jika memang om mau menarik semua dana om saya rela. Tidak apa-apa jika saya kehilangan restoran itu, karena memang sejak awal saya tak pernah memiliki nya"


__ADS_2