
Zeline menatap manik mata bening milik Sky. Tampak sebuah cinta di sana. Sejauh ini memang penilaian Zeline terhadap Sky cukup baik. Sebab Sky sendiri selalu bersikap apa adanya. Bahkan setelah pertemuan antara Sky dan ibu Zeline tak merubah sikap Sky pada Zeline. Mungkin benar apa kata Yuni bahwa Sky berbeda dengan Andra. pria masa lalu nya yang meninggalkan dirinya dan lebih memiliki percaya pada ayah nya.
"kamu.... Ngga terpengaruh sama ucapan mama aku?"
"ucapan yang mana?" tanya Sky tersenyum.
"yang itu ....."
"Zel, itu adalah ucapan ibu mu, aku sendiri bingung akan percaya atau tidak. tapi mengenai dirimu aku lebih percaya dengan apa yang kau katakan. Ucapan mu, bibir mu yang bergetar ketika mengatakan itu. Suara serak mu karena menahan tangis. Apalagi tatap mata mu yang penuh kesedihan. Aku percaya apapun yang kau katakan"
"bagaimana jika yang benar adalah mama ku?"
"jika memang mama mu benar, lalu kenapa justru kau yang pergi dari rumah. Justru kenapa ibu mu yang mendatangi dirimu dengan iba. Harusnya bukan kah ia membenci mu"
Zeline tercengang, setidak nya Sky lolos tahap seleksi pertanyaan nya.
"aku tau perkenalan kita singkat, tapi aku sudah lama memperhatikan mu. Hanya saja aku tak memiliki keberanian untuk mendekati mu lebih awal. Apalagi wajah mu yang selalu datar tanpa ekspresi"
Zeline terkekeh begitu pun Sky. Tak menyangka bahwa sikap acuh dan wajah datar yang selalu di tampilkan Zeline membuat Sky sedikit minder.
"kenapa aku ky? kau kaya, papa mu pemilik perusahaan, kau pun.. Tampan" ucap Zeline dengan memelankan saat ia memuji Sky.
"apa???" tanya Sky.
"apa?"
"yang kau katakan tadi"
"apa? Kau kaya, calon penerus perusahaan papa mu"
"bukan itu, yang terakhir tadi...."
"hanya itu. Aku tak mengatakan apapun"
"benarkah?"
Mata Sky terlihat menyipit memandang Zeline sedang gadis itu pura-pura tak tau dan mengalihkan pandangan nya untuk menyembunyikan pipi nya yang memerah.
"kau bilang aku tampan?"
"kau mendengar nya?" pekik Zeline.
__ADS_1
"ya tentu saja, telinga ku masih normal untuk mendengar suara bisikan mu itu"
Zeline mendengus.
"lalu kenapa kau harus bertanya lagi?"
"karena aku ingin mendengar nya lagi. mendengar pujian dari mu"
"huh, kau tampan ky. Kau bahkan sangat tampan" puji Zeline tersenyum manis.
Sky tersenyum, terkekeh hingga kemudian tertawa kencang.
"aaaaaa,,, Zeline baru saja memuji ku!!!" teriak Sky.
"diam. bagaimana jika mereka mendengar"
"haha... tidak akan mungkin"
Sky tertawa bahagia, Zeline hanya memalingkan wajahnya namun diam-diam tersenyum. Sudah lama sekali ia tak merasakan perasaan seperti ini.
sebeku apapun perasaan seorang wanita pasti akan luluh juga jika di hadapkan dengan seorang pria yang tangguh dan tak mudah menyerah. Seperti Zeline yang lama kelamaan luluh akan perhatian dan ucapan manis Sky. karena memang semua bukan sekedar ucapan, tapi juga di sertai bukti.
***
Yuni melihat jam dinding, sudah hampir pukul setengah 11 malam. tapi belum ada tanda-tanda Zeline pulang. Tapi tak apa, Yuni yakin Sky bukan pria aneh-aneh yang akan mencari kesempatan dalam kesempitan.
Yuni juga bersyukur setidaknya akhir-akhir ini ia merasakan perubahan sikap Zeline yang sudah sedikit hangat dan ramah. dan itu tentu saja ada pengaruh dari Sky. Yuni berharap Sky akan menghadirkan Zeline yang dulu. Zeline yang ramah dan murah senyum. Tapi semoga saja setelah apa yang terjadi meksipun menjadi gadis baik dan ramah Zeline tak akan mudah percaya seperti di masa lalu.
Yuni memejamkan matanya, senyum masih terpatri di bibir nya. ikut bahagia atas kebahagiaan Zeline. perlahan nafas Yuni menjadi beraturan dan mulai berlabuh ke alam mimpi. Hingga tak sadar ketika pintu kamar di buka dan Zeline masuk dengan membawa dua kotak martabak.
"yah,,, ni anak pantes aja ngga di angkat telpon nya udah tidur ternyata" gumam Zeline.
Zeline meletakkan tas selempang nya kemudian membawa dua kotak martabak itu ke dapur dan meletakkan nya di kulkas agar bisa di makan besok pagi. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan berganti baju. Setelah selesai ia segera berbaring di samping Yuni. Memejamkan mata dengan perasaan bahagia. Bahkan setelah ia tertidur bibir nya masih menyunggingkan senyum.
***
tak berbeda dengan Zeline, Sky yang baru saja masuk ke dalam rumah pun tak melunturkan senyum yang sejak tadi menghiasi bibir nya. Rumah sudah dalam keadaan gelap. Hanya ruang keluar yang masih menyala lampu nya. Tadi nya Sky pikir bahwa kedua orang tua nya masih belum tidur tapi ternyata itu adalah ketiga sahabat nya yang masih asyik memainkan game Playstation.
"widih,,, jagoan papa Adersn sudah pulang nih" ledek Varo yang menyadari kehadiran Sky.
Sky tersenyum, meletakkan tiga kotak martabak yang tadi sengaja di beli nya. Awalnya Sky ingin memberikan tiga kotak itu kepada Zeline. Tapi ternyata Zeline memilih dua kotak, takut tidak habis katanya.
__ADS_1
"apaan nih" seru Enda meletakkan stik PS nya dan meraih kotak martabak nya.
"si kampret pake nanya padahal udah jelas itu martabak"
Enda terkekeh mendengar ucapan Varo. Varo dan Bara pun menghentikan bermain game karena memang sudah usai. Mereka duduk di sofa kemudian mengambil masing-masing sepotong martabak.
"gimana?" tanya ketiga nya bersamaan.
"apanya?" tanya Sky.
"lu apa Var?" tanya Enda.
"lah lu juga tanya gimana apa nya?"
"gua mah ya gitu...."
Bara menggeleng kan kepalanya, sudah lama sekali ia tak merasakan kehangatan persahabatan seperti ini. rasanya berada di tengah-tengah mereka membuat Bara ingin menghilang karena seperti nya ada dinding yang membatasi mereka.
"gua harus makasih sama Bara sih, karena kalo bukan berkat dia gua ngga bakal bisa ngedapetin Zeline"
martabak yang akan di masukkan ke mulut itu mendadak berhenti ketika mendengar ucapan Sky. Mereka saling lirik kemudian menatap Sky.
"lu.... Jadian sama dia?" tanya Enda.
"belum sih, cuma ya... sudah selangkah lebih dekat aja"
Enda mengangguk mengerti, memang tak mudah untuk mendapatkan hati Zeline yang sudah beku.
"gua sih dukung lu terus ky, jangan lupa kalo udah jadian sama Zeline kenalin tuh dua karyawan ke kita." ungkap Varo.
"lah bukannya udah kenal?"
"kenal Deket belum"
Sky mencebik. Ia pun beranjak dan ingin segera mengistirahatkan tubuh yang terasa sedikit lelah tapi juga bahagia.
"mau kemane lu?" tanya Varo.
"istirahat lah, udah tengah malem besok kerja"
"lu juga mau istirahat?" tanya Varo pada Bara.
__ADS_1
"iya, mungkin untuk beberapa hari ke depan gua bakal nginep disini karena gua pengangguran"