Gadis Yang Tak Tersentuh

Gadis Yang Tak Tersentuh
memantau


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zeline sudah berpamitan pada Yuni untuk berangkat lebih awal karena sudah janjian dengan chef akan ikut serta ke pasar.


"tumben mau ikut belanja Zel?" tanya Yuni.


"iya pengen aja Yun, sekalian mau beli jajanan udah lama ngga makan jajan tradisional" jawab Zeline yang tengah menyisir rambut.


Yuni memandang lekat ke arah sang sahabat. Mereka bersama bukan baru kemarin atau pun setahun dua tahun tapi sejak SMA. Meskipun Zeline berkata jujur ingin beli jajanan tradisional tapi Yuni tau yang sebenarnya bukan lah itu.


"aku duluan ya, nanti jangan lupa beres-beres dulu sama Dea kalo aku belum Dateng"


Yuni mengangguk, ia mengikuti langkah Zeline yang hendak keluar dan memandang langkah Zeline yang semakin menjauh.


"gua tau lu lagi kangen sama Tante Nadin Zel, mata lu ngga bisa bohong" gumam Yuni lirih


ia kembali mengunci pintu saat Zeline sudah berjalan agak jauh. Yuni menguncir rambut nya kemudian bersiap bertempur di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri.


***


"maaf nunggu lama chef" ucap Zeline yang melihat chef sudah berdiri di depan restoran nya.


"enggak kok mbak. Saya juga baru sampai. Yuk berangkat nanti keburu siang"


Zeline mengangguk, ia naik ke mobil di samping chef. Sebenarnya setiap hari chef belanja sendiri ke pasar, hanya sekedar belanja karena nanti belanjaan itu akan di antar sendiri oleh orang-orang pasar yang sudah biasa mengantar ke restoran Zeline.


chef yang berusia sekitar 40 tahunan itu sesekali melirik Zeline. Berbeda dengan Yuni yang terkadang bercanda dengan nya untuk sekedar melepas lelah ketika bekerja, Zeline adalah kebalikan dari Yuni. Aura dingin dan cuek yang di pancarkan oleh Zeline membuat chef itu sungkan walaupun hanya untuk sekedar mengobrol biasa.


Obrolan mereka hanya sepintas tanya jawab seperlunya saja tanpa adanya candaan. Tapi pria yang sudah bekerja menjadi chef sejak restoran Zeline launching itu tau jika sebenarnya Zeline adalah gadis ramah dan baik hati dan sikap nya sekarang mungkin karena telah terjadi sesuatu dengan nya di masa lalu. Karena yang terlihat Zeline selalu menghindar dengan makhluk berjenis laki-laki. Dan sedikit banyak insiden beberapa waktu lalu membuat chef mengerti apa yang membuat Zeline menghindari laki-laki.


Ardi, chef yang di pilih oleh Zeline ketika pria itu tengah kebingungan mencari pekerjaan. dan dengan gampang Zeline langsung menerima nya hanya karena masakan nya yang enak dan mungkin akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli. Dan seperti dugaan Zeline Ardi yang memiliki bakat memasak memang layak jika menjadi seorang koki di restoran nya. Berkat kepandaian memasak Ardi restoran Zeline sedikit demi sedikit berkembang dan sekarang sudah bisa berdiri kokoh layak nya restoran modern zaman sekarang.

__ADS_1


larut dalam pikiran nya membuat perjalanan terasa sebentar. tak terasa mereka telah sampai di pasar tradisional. Zeline memang sengaja memilih pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan dapur resto milik nya. Selain karena harga nya yang terjangkau tapi dengan membeli di pedagang yang ada di pasar sama saja seperti membantu kehidupan mereka. itu yang selalu di tanam kan oleh Zeline kepada chef Ardi.


"mau ikut masuk mbak?" tanya Ardi.


"iya chef" jawab Zeline.


Ardi mengangguk, ia meninggalkan mobil pick up itu di parkiran dan mulai berjalan masuk ke dalam. Ardi mengeluarkan sebuah buku yang berisi daftar belanjaan yang akan di beli pada hari ini.


"chef belanja aja, saya mau keliling sendiri" ucap Zeline berlalu.


Ardi tercenung, ia berpikir bahwa mungkin Zeline ingin mengetahui daftar harga barang-barang di pasar makanya ingin ikut belanja tapi ternyata dugaan nya salah. Ia memandang punggung Zeline yang berjalan ke area lapak jajanan. Ardi lekas menyelesaikan belanja nya takut-takut jika Zeline akan menunggu nya di mobil karena mungkin saja Zeline hanya sebentar.


"buk, seperti biasa ya" ucap Ardi kepada penjual yang menjual bumbu-bumbu dapur.


"iya, itu siapa tadi Ar?"


"dia bos saya Bu"


Zeline memang cantik, siapa yang bisa menolak pesona gadis dingin yang telah sukses di usia muda itu. bahkan sejak SMA gadis itu sudah melakukan kerja part time meskipun ia masuk ke SMA dengan jalur beasiswa. Kerja part time dan kerja apa saja dari SMA sampai ia kuliah semester dua membuat Zeline memiliki tabungan dan akhirnya memutuskan membangun restoran mini yang kini sudah membesar seiring berjalan nya waktu.


"nanti saya ambil ya Bu, saya mau ke lapak daging dulu"


Ibu itu mengangguk dan menimbang bahan-bahan apa saja yang selalu di beli oleh Ardi.


berbeda dengan Zeline yang berdiri di area penjual jajanan tradisional. Kaki nya berhenti tepat di depan lapak sebuah penjual martabak mini. Seingat nya setahun yang lalu ketika terakhir ia datang kemari lapak itu bukan lapak martabak tapi jajanan tradisional seperti Mendut, nagasari, dan jajan lainnya.


Zeline menghela nafas, ia menghampiri penjual martabak itu dan memesan empat martabak dengan topik kacang dan mesis.


"mas, martabak kacang dua dan mesis dua ya"

__ADS_1


Mas-mas penjual itu mengangguk mengiyakan. Ia memandang Zeline yang tampak cuek, pria itu tersenyum tipis karena baru pertama kali melihat seorang gadis cantik berjalan-jalan di pasar.


"saya tinggal bentar ya mas"


Zeline menghampiri ibu-ibu yang menjual kue klepon. Zeline pun memesan 20 ribu dan dengan senang hati ibu itu langsung membungkus nya.


Zeline kembali ke lapak martabak dan ternyata martabak pesanan nya sudah selesai di buat.


"berapa mas?"


"50 ribu mbak"


Zeline merogoh tas nya dan mengulurkan uang berwarna biru kepada mas penjual. Ia pun pergi setelah mengatakan terima kasih. Zeline berjalan ke arah dimana mobil tadi di parkir. Dan ternyata chef Ardi sudah menunggu nya disana.


"maaf lama chef" ucap Zeline.


"tidak apa-apa mbak. Saya juga baru selesai menaikkan barang-barang"


Zeline mengangguk ia pun masuk ke dalam mobil di susul oleh chef Ardi. tepat ketika Zeline keluar dari area pasar seorang wanita setengah baya berjalan dengan membawa ember dan beberapa wadah kecil masuk ke area pasar. ia mencari tempat tepat di samping lapar martabak yang tadi di beli oleh Zeline.


"siang banget buk?" tanya mas-mas penjual martabak itu.


"iya mas, soalnya bangun kesiangan" jawab ibu itu sembari menyiapkan dagangan nya.


"wajah ibu kenapa?" tanya pemuda itu lagi.


Wanita itu menyentuh pipi nya yang mungkin sedikit memar, namun ia segera tersenyum dan menatap pemuda itu.


"enggak apa-apa, tadi saya tidak sengaja nabrak pintu"

__ADS_1


pemuda itu mengangguk mengiyakan meskipun ada sedikit ragu dalam hatinya.


__ADS_2