
"tapi Tante kan nggak mungkin kalo Zeline pergi dari rumah tanpa alasan" sela Varo heran.
Bu Nadin kikuk, ia menghapus air matanya kemudian menatap Varo dengan iba.
"maka dari itu Tante juga bingung, padahal Tante tidak merasa salah dengan Zeline tapi Zeline pergi begitu saja"
"tidak mungkin seperti itu Tante, pasti ada masalah. dan seharusnya sebagai orang tua Tante mendatangi Zeline dengan baik-baik bukan justru mengumbar nya dengan kami yang hanya teman Zeline. Lagipula saya ingat ketika pertama kali Tante kesini, saya mendengar apa saja yang Tante bicarakan dengan Zeline dan Yuni. termasuk tentang apa yang menjadi alasan Zeline pergi dari rumah. Seperti nya Tante adalah tipe orang tua yang selalu ingin benar sendiri dan bisa instrospeksi atas kesalahan. Tante melimpahkan semua kesalahan pada Zeline, padahal seharusnya kalian lah yang harus merasa malu dengan sikap kalian. Jika saya menjadi Zeline saya pun akan melakukan hal yang sama. pergi dari rumah" tegas Sky panjang lebar.
"saya permisi"
Sky beranjak menuju dapur, ia tak perlu bingung karena hanya tinggal lurus nanti akan bertemu pintu yang memisahkan antara dapur dan ruang depan. Lagipula ia juga sudah pernah masuk dapur restoran ini.
Sedang Varo dan Enda hanya saling lirik saja. Mereka tak tau harus melakukan apa. Karena jika benar dugaan mereka yang menjadi tujuan utama Bu Nadin adalah Sky bukan mereka.
Sedang Zeline, diam-diam ia tersenyum. Awalnya ia merasa ingin malas-malasan di kostan saja. Tapi ia merasa jenuh dan bosan. Akhirnya setelah menyeduh mie ia pun datang kesini. Setidaknya jika disini ia tidak akan hanya berdiam diri karena ada beberapa pekerjaan yang bisa ia lakukan. Meskipun sudah ada karyawan yang melakukan tapi apa salahnya sebagai owner ia turut membantu.
Tapi rupanya, belum juga masuk ke dalam restoran ia sudah di suguhi pemandangan menyayat hati. Dimana seharusnya seorang ibu menutupi dan membuat nama baik anak nya terjaga tapi justru menjelekkan tanpa jeda. Zeline hanya bisa menghela nafas kemudian berbalik dan memilih lewat jalan belakang daripada harus bertemu dengan sang ibu.
entah mengapa sedikit senyum tipis Zeline tersungging ketika mendengar jawaban Sky tadi. dan tiba-tiba mood nya menjadi lebih baik. dengan riang ia membuka pintu dapur dari samping dan bersamaan dengan Sky yang berniat keluar lewat pintu dapur.
senyum Zeline langsung luntur mendapati Sky di hadapannya. Bahkan mereka nyaris bertabrakan karena baik Zeline atau pun Sky sama-sama terburu-buru ingin membuka pintu. yang satu ingin keluar dan satu nya hendak masuk. Zeline hendak melangkah ke kiri dan kemudian Sky pun ternyata melangkah ke kanan yang membuat mereka tak bisa keluar atau pun masuk. Sky hendak ke kirim namun Zeline justru ke kanan. Begitu terus hingga beberapa kali dan akhirnya Sky pun mengalah.
"kamu dulu"
Zeline pun mengangguk kemudian masuk ke dalam sedang Sky memandang punggung Zeline dengan senyum tipis di bibir. Tak jauh berbeda dengan Zeline yang diam-diam tersenyum bahagia apalagi baru kali ini dekat dengan Sky bahkan aroma maskulin dari parfum Sky pun tercium di hidung nya.
"hayo!!! Kenapa senyum-senyum sendiri" ucapan Yuni serta tepukan pada bahu Zeline membuat gadis itu tersadar dan menatap kesal Yuni.
"apaan sih Yun"
"lu ngapain senyum-senyum, kesambet lu?"
"sembarangan!"
Zeline pun berlalu, meletakkan tas selempang nya di kursi kemudian melihat chef Ardi memasak.
"menu baru lagi chef?"
"iya mbak. He he, coba-coba masak kerang mix jagung kayak gini siapa tau laku banyak"
"semoga aja chef. baru di tinggal sehari udah dapat ide baru aja chef Ardi ini"
__ADS_1
Chef Ardi hanya terkekeh dan melanjutkan aktivitas nya.
"hai kak Zeline"
"loh, Jeje kok disini" ucap Zeline sumringah.
Yuni yang melihat itu bersyukur, entah karena apa tapi ia pun senang mood Zeline seperti nya sudah lebih bagus daripada tadi pagi.
"iya, lihat Jeje lagi bikin puding mangga loh sama kak Sari" ucap Jeje menunjukkan puding buatannya dengan bangga.
Zeline mengusap rambut Jeje dengan sayang kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tinggi nya dengan Jeje.
"Jeje suka puding?" tanya Zeline lembut.
"suka banget kak... Apalagi tadi Jeje di ajarin sama kak Sari cara buat nya juga"
"sama, Nizam pun juga suka sama puding tapi sayang belum sempat mencicipi puding Nizam sudah pergi"
Yuni menghentikan aktivitas nya mengaduk adonan kue. Hatinya bergemuruh bergetar pedih, ia melihat ke arah Zeline yang sedang menatap penuh rindu pada Jeje..
"Nizam? Siapa Nizam kak?"
Zeline langsung tersadar, seperti nya ia terlalu larut dalam pikiran nya.
"eeemm....." Jeje pun ragu hendak menjawab namun kemudian bocah itu menggeleng.
"ya sudah, Jeje ke depan lagi ya. puding nya di makan tapi jangan lupa makan nasi biar ngga sakit perut."
"siap kak Zel"
Jeje pun berlalu ke depan di dampingi oleh Sari, dan menghampiri Varo dan Enda. Rupanya wanita yang belum di ketahui siapa oleh Sari sudah tidak ada disana.
"mana kak kyky?" tanya Jeje.
"kak Sky udah nunggu di mobil, yuk kita kesana. Nanti di cariin sama mama loh"
Jeje pun mengangguk, dengan kedua tangan masih memeluk cup berisi puding mangga bocah itu keluar restoran dan langsung mendapati sang kakak sedang berdiri bersandar pada pintu mobil.
"lama banget"
"lama lah, kan lagi buat puding tadi. lihat ini"
__ADS_1
Sky memutar bola nya malas. Tapi bersyukur juga karena Yuni cukup peka. Sky pun tak mau jika sampai wanita tadi mencuci otak Jeje yang masih polos.
"mana kak Varo sama kak Enda?"
"ituuu...."
"ayo masuk, mama udah telepon nyariin kamu"
Jeje masuk ke mobil dan duduk di sebelah Sky.
"kok kakak ngga di depan?"
"iya, biar kak Varo aja yang nyetir"
Varo dan Enda masuk ke dalam mobil, sudah paham dengan tugas nya Varo pun langsung melajukan mobil nya menuju rumah Sky. Tak ada pembicaraan di antara mereka karena baik Sky maupun Jeje kompak tertidur.
***
Tok tok tok
Pintu kamar yang bertuliskan private room Adersn itu di ketuk oleh asisten rumah tangga. Di dalam tuan Adersn dan nyonya Jessika yang baru saja selesai membuat adik untuk Jeje pun saling pandang.
"bukain sana, mama mau mandi"
"mandi bareng aja ma"
"no!" tegas nyonya Jessika.
Dengan melilitkan selimut pada tubuh nya nyonya Jessika pun berlalu ke kamar mandi. Tuan Adersn memakai celana boxer nya kemudian membukakan pintu.
"ada apa bik?"
"maaf tuan, di depan sana ada mas Andra dan mas Bara"
"teman Sky?"
"iya tuan. tapi tuan muda belum kembali jadi....?"
"biarkan mereka duduk di ruang tamu bik. Katakan sebentar lagi Sky akan tiba"
"baik tuan"
__ADS_1
Pelayan itu mengangguk sopan kemudian berlalu.