Gadis Yang Tak Tersentuh

Gadis Yang Tak Tersentuh
mama minta maaf


__ADS_3

Zeline menatap datar ke arah wanita setengah baya di depan nya. Meski aura dingin ia tampak kan namun jika di lihat dengan jeli lagi ada sebuah kesedihan terpendam dalam mata gadis itu. Dingin AC di ruangan itu tak mampu membuat hati Zeline ikut serta dingin. Bahkan Yuni yang duduk di antara Zeline dan ibu nya pun merasa kikuk.


Satu sisi ia merasa kasihan dengan wanita yang kini menangis terisak. Namun sisi lain ia pun paham dengan apa yang di rasakan oleh Zeline. Mungkin kalian akan berpendapat jika Zeline adalah anak yang egois karena tak pernah menemui kedua orang tua nya. Tapi jika kalian membaca bab sebelumnya, bukan kah wajar jika Zeline memilih pergi kalau di rumah hanya di jadikan samsak oleh ayah nya.


"gimana kabar kamu nak?" tanya Bu Nadin setelah perasaan nya tenang.


Tatapan mata tajam itu mampu menembus hati Bu Nadin. Gadis lembut nan ceria nya telah hilang berganti gadis dingin yang bahkan tak tersentuh melihat air mata nya. Namun hati kecil nya tak menyalahkan sikap sang putri, tidak sama sekali. karena memang semua ini adalah salah nya. Salah nya yang terlalu memegang prinsip bahwa suami adalah segalanya. tapi prinsip itu juga yang membawa nya ke jurang derita.


"sayang...."


Wanita itu mencoba meraih jemari Zeline yang ada di atas meja. Namun belum sempat menyentuh Zeline sudah menurunkan tangan nya. Yuni yang melihat itu merasa tak tega tapi tak bisa melakukan apapun.


Di luar restoran, Sky menatap bingung ke arah restoran yang bertuliskan close sementara. Di depan pintu Dea dengan seragam waiters nya tengah berdiri. seperti nya ia di tugaskan untuk memberi pengertian kepada pelanggan yang mampir agar tidak kecewa.


Sky mendekati gadis itu, Dea yang melihat itu bingung hendak berbuat apa. Ia mengetahui pria yang sedang berjalan ke arah nya itu adalah pria yang dekat dengan bos nya. Tapi saat ini ia di amanahi untuk menyetop sementara para pelanggan yang akan masuk.


"restoran tutup?" tanya Sky.


Dea mengerjapkan matanya kemudian melihat ke arah dalam yang tak terlihat dari luar karena memang kaca yang di pakai adalah kaca bukan tembus pandang.


"be-belum mas" jawab Dea.


"lalu?"


"mbak Zeline sedang a-ada tamu"

__ADS_1


"siapa?"


"itu......"


Belum sempat Dea berkata Sky sudah menerobos masuk. Entah apa yang di pikirkan oleh pria muda itu yang jelas ada gurat khawatir dalam wajah nya. Dan ketika ia masuk, ia mendapati tiga wanita yang berbeda usia tengah duduk bersama. Namun bukan obrolan hangat yang sedang di lakukan, melainkan saling diam dan mata Sky memicing ketika melihat seorang wanita yang mungkin seumuran sang mama terisak di depan Zeline. sedang gadis itu hanya memandang tajam dan dingin seperti biasanya.


Sky terpaku di tempat. Ia melihat sekeliling yang ternyata tidak ada satu pun pelanggan. kehadiran wanita setengah baya itu kah yang membuat Restoran tutup sementara. Sebenarnya siapa wanita itu. namun yang Sky rasa Zeline seperti tidak sadar dengan kehadiran nya. Posisi Yuni yang membelakangi pintu pun membuat Sky sukses menyusup.


Sky duduk di kursi yang paling dekat. ia ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Bukan bermaksud menguping pembicaraan hanya saja ia penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan dan kenapa perempuan setengah baya itu harus menangis.


"ayo pulang nak" ajak Bu Nadin.


"untuk siapa aku harus pulang?" tanya Zeline sinis.


"untuk mama nak"


Bu Nadin menggeleng.


"atau untuk di jadikan pembantu gratisan di rumah besar itu? Bukan kah suami anda adalah pengusaha apakah dia masih belum mampu membayar tenaga pelayan?" lanjut Zeline.


"selagi Nizam tak ada, aku tak akan kembali ke rumah yang lebih pantas di sebut sebagai neraka" tegas Zeline kemudian beranjak.


ketika Zeline berdiri, ia terpaku menatap punggung seseorang yang duduk membelakangi nya. Ia melihat ke arah pintu. Tulisan close masih menggantung tapi sepertinya pria itu memaksa masuk. Zeline menghela nafas kasar kemudian berlalu masuk ke dalam.


"Tante..." panggil Yuni.

__ADS_1


"Yun,, tolong bantu Tante buat bujuk Zeline untuk pulang ke rumah ya. Tante janji hal yang terjadi di masa lalu tak akan terulang kembali"


Yuni sebenarnya iba, tapi ia tak langsung mengiyakan sebab begitu banyak air mata buaya yang telah di keluarkan wanita setengah baya di depan nya ini.


"apakah Tante serius?"


"Tante serius ingin meminta Zeline pulang karena rindu kehadiran Zeline?"


"bukan karena Tante ingin menjadikan Zeline mesin ATM kan?"


Deg..


Bu Nadin terdiam, air mata kembali menetes di pipi nya kala mengingat kebod*ohan nya di masa lalu. Ia baru ingat jika ia sudah berulang kali meminta Zeline pulang dengan alasan rindu tapi ketika Zeline sampai di rumah bukan nya kasih sayang yang di dapat tapi justru amukan setiap harinya.


Bu Nadin lupa jika dulu ia selalu memperlakukan sang anak bak pembantu yang tidak boleh beristirahat barang sekejap.


"Yuni harap Tante tak lupa sedikit pun mengenai hal yang membuat Zeline lupa rumah. Apakah Tante tau yang Tante pernah lakukan membuat Zeline trauma mengenal orang lain. Bukan hanya Tante, bahkan om Maheswari pun sama"


Deg..


'jadi benar Zeline putri kandung Maheswari. Tapi kenapa di semua ijazah Zeline tak ada nama Maheswari sebagai embel-embel?' batin Sky.


"Zeline menjadi trauma untuk mengenal lelaki lain karena takut di perlakukan sama seperti om mahes memperlakukan Zeline. Seorang anak perempuan yang setiap harinya di tampar, di tendang bahkan di marahi tak hanya fisik nya yang terluka namun juga hati dan batin nya. Apa yang Zeline rasakan adalah kesakitan yang luar biasa. Disaat ia kehilangan seorang adik yang sangat di sayangi nya pun tak membuat om ataupun Tante berlaku lunak pada Zeline"


"apakah perlu Yuni ingat kan, dimana Tante dan om saat Zeline menangis di pojokan kamar karena merasa menyesal tak mampu membawa Nizam ke rumah sakit. Zeline merasa menjadi kakak yang gagal karena tak memiliki uang untuk membawa Nizam berobat. Saat itu Nizam hanya sakit demam biasa, tapi ketidakpedulian kalian membuat nya sampai meregang nyawa. dan kalian menyalah kan Zeline karena tidak mampu merawat adiknya"

__ADS_1


"bukan kah itu konyol, bukan kah seharusnya kalian lah yang di salah kan karena tidak be*cus mengurus anak. Lalu untuk apa menumpuk harta jika ketika melihat anak nya sakit saja pelit untuk membawa nya ke rumah sakit"


pukulan telak telah di rasakan oleh Bu Nadin. Sky terdiam tak percaya, tapi mendengar Yuni yang terisak ia menolak untuk tidak percaya.


__ADS_2