
Zeline dan Yuni berjalan-jalan sore mengendarai motor baru yang mereka tau adalah pemberian Sky. Zeline awal nya ingin menolak, tapi menurut Yuni pasti Sky akan kecewa jika seandainya Zeline menolak niat baik Sky.
Yuni mengendarai motor dengan pelan atas permintaan Zeline. Gadis itu ingin menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapa rambut dan wajah nya. Cuaca yang cerah namun tidak panas karena hari sudah menjelang senja. Entah kenapa Yuni mengendarai motor itu sampai di komplek perumahan elit dan akhirnya mereka di hentikan oleh satpam yang berjaga di depan komplek itu.
"mau cari siapa mbak?" tanya satpam itu.
Zeline dan Yuni saling lirik dan menyenggol satu sama lain. karena sebenarnya mereka juga tidak berniat sampai komplek itu tapi entah karena motor baru atau kenyamanan cuaca membuat Yuni tak sadar hingga melajukan motor sampai di daerah elit.
Disaat mereka sedang bingung tiba-tiba sebuah mobil lewat di samping mereka. Satpam tak menghentikan mobil itu yang berarti mobil itu adalah salah satu orang yang tinggal di perumahan ini. Mata Yuni awas melihat mobil itu karena terasa tidak asing. Hingga kemudian ia menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar.
"kami mau bertamu ke rumah Tante Jessika pak" ucap Yuni santai.
Zeline mengernyit, ia kemudian melihat plang di atas gerbang komplek itu dan kemudian ia baru ingat jika dirinya pernah datang ke sana.
"saya itu yang pas ulang tahun Jeje nganter kue ulang tahun pak. tapi bapak pasti nggak tau karena saya waktu itu di dalem mobil"
Satpam itu terdiam, ia kemudian kembali ke gazebo yang terbuat dari bata itu. Satpam itu meraih gagang telepon dan berbicara dengan seseorang sembari sebentar-sebentar melirik ke arah Yuni dan Zeline.
Sebenarnya Yuni sudah harap-harap cemas takut jika nyonya Jessika lupa pada mereka namun sesaat kemudian kekhawatiran Yuni sirna ketika satpam itu mempersilahkan mereka.
"nyonya Jessika ada di rumah, silah kan bertamu. Maaf jika saya membuat tidak nyaman karena saya hanya menjalankan tugas sebagai keamanan" ucap satpam itu.
"terima kasih pak"
Mereka pun kemudian melajukan motor nya ke daerah perumahan nyonya Jessika.
"gi*laa kamu Yun, ngapain juga sampe sini. Padahal jarak resto sama perumahan ini lumayan jauh"
Yuni terkekeh mendengar gerutu an Zeline.
"itung-itung kita refreshing Zel"
"terus ngapain mau ke rumah Tante Jessika ?"
"mau ngucapin terima kasih sama anak nya karena udah beliin motor cantik"
Zeline ternganga, ia tidak setuju dan akan meminta Yuni memutar balik motor namun teriakan Yuni membuat harapan Zeline sia-sia.
"Tante Jessi...!!!" seru Yuni.
wanita yang di panggil pun menoleh. Sebuah senyum hangat mereka terima.
__ADS_1
"Zeline, Yuni!" seru nyonya Jessika.
Bersamaan dengan mereka sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di depan gerbang. Seorang pria tampan melongok kan kepalanya meminta para satpam rumah untuk membuka kan gerbang.
"pak, tolong buka ya" ucap pria itu.
Ia kemudian melirik ke arah spion dan melihat sang mama sedang mengobrol bersama dua gadis yang di kenal nya. Akhirnya pria yang tak lain adalah Sky itu keluar dari mobil.
"pak, masukkan mobil nya ya. Saya mau nyamperin mama"
Satpam itu segera melajukan mobil Sky dan membawa nya ke garasi sementara sang pemilik menghampiri tiga wanita berbeda usia yang mengobrol di pinggir jalan.
"sore ma" sapa Sky.
"sore sayang" balas nyonya Jessika kemudian memeluk singkat Sky dan mencium kening nya.
"yuk masuk dulu, kalian udah capek-capek sampe sini mampir dulu lah ke rumah Tante" ajak nyonya Jessika.
Yuni dengan senang hati menerima ajakan nyonya Jessika. Ia menggandeng lengan nyonya Jessika dan berjalan bersama wanita setengah baya itu meninggalkan Zeline dan Sky.
kedua orang itu sama-sama diam namun saling lirik. Hingga kemudian tanpa sengaja mata mereka bertemu beberapa saat namun kemudian Sky berjalan masuk ke halaman.
"Ky!!" seru Zeline.
"makasih.." ucap Zeline.
Sky mengernyit kemudian melihat ke samping Zeline dimana motor matic yang di beli nya tadi siang telah di pakai oleh gadis itu. Sky tersenyum senang dan kemudian mengangguk.
Zeline mengendarai motor itu dan masuk ke halaman rumah. ternyata tiga orang tadi sudah masuk ke dalam rumah.
Zeline melangkah menuju pintu yang telah terbuka. Ia mengernyit ketika di tengah pintu ada seorang bocah yang kemudian Zeline mengingat nya bahwa itu adalah putra bungsu nyonya Jessika.
"hai kak Zeline" sapa Jeje ceria.
"hai Jeje"
"yuk temani Jeje main di dalam" Jeje menarik tangan Zeline membawa nya ke ruang keluarga dan duduk di lantai yang beralas ambal tebal.
"kak Yuni mana?"
"kak Yuni ada di dapur sama mama lagi masak. Jeje seneng tau kalo kak Zeline mau makan malam disini bareng Jeje"
__ADS_1
"kenapa?"
"kan kak Zeline calon kakak Jeje jadi kakak harus sering-sering main ke rumah ini"
Zeline terdiam, entah bagaimana menjelaskan pada bocah di depan nya ini. Bocah itu sukses membuat jantung Zeline berolahraga sedang bocah itu malah asyik bermain robot.
Di dua tempat berbeda, dua orang yang mendengar ucapan Jeje hanya terkekeh geli.
***
Plak
Plak
"SUDAH KU BILANG JANGAN JUALAN NADIN! KAMU MAU BIKIN AKU MALU APA??!"
"tapi mas kalo aku ngga jualan aku ngga bisa masak"
"Halah alesan!! Dulu aja waktu Zeline masih di rumah uang 50 ribu seminggu bisa cukup"
"dulu Zeline juga bekerja mas"
"Halah kalian itu ibu sama anak sama aja, bikin susah. Bikin malu!"
Bu Nadin menangis tergugu di lantai, tangan nya memegang pipi yang terasa panas. belum sembuh memar kemarin hari ini sudah mendapat memar kembali.
entah daripada pria itu tau jika dirinya berjualan di pasar. padahal saat kembali tadi rumah dalam keadaan kosong karena pria itu belum kembali dari kantor.
rumah besar itu terasa sepi karena tidak ada satu pun pembantu yang di pekerjakan. Menurut suami nya, daripada untuk membayar pembantu lebih baik di tabung. lagi pula ada Bu Nadin yang menganggur dan seharusnya mengerjakan pekerjaan rumah.
"Zeline... Mama menyesal sayang. harus nya mama mengikuti nasihat mu"
Bu Nadin semakin terisak ketika sekelebat bayangan putri menari di ingatan nya. Harus nya memang ia tak bertahan dengan pria kaya dan royal pada orang lain tapi tak pernah royal kepada keluarga. Pria yang baik nya hanya untuk orang luar bukan keluarga nya sendiri.
"Nizam..." gumam nya lirih.
***
Uhuk uhuk...
"kak Zeline pelan-pelan kak" ucap Jeje menyodorkan segelas air kepada Zeline.
__ADS_1
Zeline meminum air itu hingga tersisa setengah. entah mengapa perasaan nya sedikit tidak enak. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan Jeje yang ada di samping nya.