Gadis Yang Tak Tersentuh

Gadis Yang Tak Tersentuh
mencoba percaya


__ADS_3

"jadi, Zeline masih memilih orang tua lengkap? Dan itu adalah klien papa tuan Maheswari?" tanya nyonya Jessika.


nyonya Jessika memang belum di beri tahu mengenai asal usul Zeline. lagipula tuan Adersn mencari tau hal itu secara tersembunyi melalui seorang hacker bayarannya dan hacker itu juga yang langsung memberikan nya kepada Sky. Namun, saat itu Sky sedang ada proyek baru jadi tak sempat di temui oleh hacker bayaran tuan Adersn jadi nya tuan Adersn lah yang menerima file itu untuk pertama kali dan membaca sekilas.


"iya ma, tapi seperti itu yang Sky dengar dari obrolan mereka kalo sudah setahun lebih Zeline tak menemui kedua orang tua nya"


"tapi beberapa waktu lalu Sky sempat melihat Zeline di hajar oleh pak Maheswari di depan restoran milik nya"


nyonya Jessika ternganga, ingin tak percaya dengan apa yang di dengar tapi yang berbicara adalah putra nya. putra yang dari kecil selalu ia didik untuk berbicara jujur.


"kasian sekali gadis itu...."


"dan aneh nya tuan Maheswari memakai pakaian compang camping dan wajah nya sedikit di balur oleh lumpur sehingga mungkin orang-orang tidak akan mengetahui dirinya"


"licik juga pria itu" sahut tuan Adersn.


Meskipun ia pernah mendengar berita miring mengenai pria yang lebih tua darinya itu. Tapi untuk saat ini mungkin ia belum mau membicarakan.


"jadi mama rasa sikap orang tua nya lah yang membuat Zeline sulit sekali untuk di dekati. Mama lihat selain pada anak kecil dan Yuni ia tak dekat dengan siapapun"


"iya ma, bahkan Dea yang menjadi karyawan disana pun berterus terang bahwa merasa segan jika ingin bercanda dengan Zeline" jawab Sky.


"dan lagi, mengenai adik nya kenapa tidak ada keterangan apapun di kertas yang Sky terima pa?"


"papa kurang tau, nanti coba biar dia cari tau lagi"


"kau mencari tau tentang Zeline?"


"hhee,,,"


"sebenarnya papa rasa mudah untuk mendapatkan hati Zeline Ky, dia hanya mencari pria yang bisa di percaya nya. hanya percaya pada dia dan tidak peduli dengan omongan orang lain tentang dia apapun itu"

__ADS_1


"Sky setuju. Tapi sulit sekali membuat hati nya luluh. Saat itu dia sudah mau mengobrol dengan Sky meskipun hanya sepatah dua katah. tapi semenjak insiden ia di pukul oleh tuan Maheswari dan motor nya di ambil paksa Zeline jadi agak menjauh lagi"


"kau harus sabar, untuk mendekati seseorang yang memiliki trauma mendalam memang sedikit sulit nak. Tapi mama yakin Zeline tidak seperti itu jika trauma sudah berhasil kau obati"


***


"Zel.." panggil Yuni.


"masih kepikiran Tante Nadin?" lanjut Yuni duduk di sebelah Zeline.


Yuni melirik jam dinding yang terus berjalan dan telah menunjukkan pukul satu dini hari. Televisi masih menyala meskipun tanpa suara, menampilkan film action yang menurut Yuni sedikit mengerikan. Tapi sepertinya Zeline tak terganggu dengan film dari negara barat itu. Tapi yang pasti memang Zeline tak melihat nya, karena meskipun mata memandang ke arah televisi tapi ia terlihat melamun.


"Zel.." kali ini Yuni menyentuh bahu Zeline.


Dan sesuai dugaan bahwa saat ini Zeline sedang melamun, terbukti ketika bahu nya di sentuh Zeline berjingkat kaget.


"tidur Zel"


"sudah dini hari"


Zeline melirik jam, memang benar. Tapi entah mengapa perasaan ngantuk tidak menyerang nya sama sekali. Padahal ia ingin tertidur dengan pulas dan melupakan kejadian hari ini yang cukup menguras emosi nya.


"meskipun ngga bisa tidur tapi setidaknya mejem aja biar nanti juga tidur sendiri"


Zeline mengangguk, bukan karena memang ngantuk. Tapi karena ia merasa kasihan dengan sahabat yang sangat perhatian dengan nya ini. Awalnya tadi Yuni sudah tidur dan Zeline tau itu, tapi mungkin Yuni terbangun dan mendapati Zeline tak di samping nya jadi nya ia mencari Zeline.


Mereka masuk kamar dan terbaring dengan posisi masing-masing. Hanya perlu waktu sebentar dan Yuni sudah terlelap. berbeda dengan Zeline yang matanya masih begitu jernih belum mengantuk sama sekali. Ia mencoba memejamkan mata tapi bayang-bayang suram masa lalu lah yang justru muncul sehingga membuat Zeline membuka kembali matanya.


Zeline beranjak dari ranjang dengan pelan karena takut membangunkan Yuni kembali. Ia menatap wajah Yuni yang menghadap ke arah nya. Wajah ini lah yang selalu tersenyum dan marah dengan apa yang di lakukan Zeline. Yuni sudah seperti kakak bagi Zeline.


Zeline meraih sebuah tas usang berwarna hitam yang menggantung di dinding. Ia duduk di kursi hias milik Yuni dan mulai membuka tas usang itu. Ia mengambil sesuatu dari sana. Terlihat sebuah album berwarna coklat dengan sampul nya yang sudah mulai koyak dan warna nya hampir pudar.

__ADS_1


Di balik nya sampul album itu dan hal yang pertama di lihat nya adalah foto seorang bayi laki-laki kecil yang tampan. Dengan mata berkaca-kaca Zeline mengelus lembut foto itu dengan telunjuk nya. Di lembar kedua ada foto dirinya yang saat itu masih duduk di bangku SMA, masih dengan seragam SMA ia menggendong sang adik yang rewel karena sedang demam.


Ia membalik foto-foto dalam album itu dan rindu dalam hati kian menyeruak. air mata sudah berjatuhan membasahi sudut album itu. Ia rindu, rindu sekali. Di peluk dengan erat album itu seperti ia memeluk seseorang yang fotonya memenuhi album itu.


***


Yuni mengerjap ketika terdengar bunyi alarm yang begitu keras dan telah di sebelah telinga kanan nya. ia meraih ponsel yang di gunakan untuk memasang alarm itu pukul 5:30. Yuni melihat ke samping dan mendapati Zeline tertidur di kursi hias dengan wajah nya telungkup di meja.


Yuni beranjak, di raih nya selimut dan di selimut kan kepada Zeline. Di atas meja itu, Yuni dapat melihat sebuah album yang mungkin album itu lah yang membuat Zeline tertidur di meja.


"badan nya pasti pegal-pegal" lirih Yuni nyaris tak terdengar.


Yuni menutup album yang ia ketahui di dalam album itu terdapat banyak kenangan Zeline bersama Nizam, adik lelaki Zeline yang harus meninggalkan dunia lebih awal karena keegoisan orang tua.


Yuni membiarkan Zeline terlelap dan kemudian menuju kamar mandi. Mencuci muka, menggosok gigi dan kemudian ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Semenjak ada Dea pekerjaan resto semakin mudah di handle.


***


"mama mau kemana?" tanya Sky.


Sky melihat sang mama sudah berdandan dengan rapi padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi.


"mau antar Jeje sekolah"


"kok pake baju kaya gitu?"


"kenapa? Ngga suka?"


"mama mau pergi ke rumah calon mantu katanya kak" sahut Jeje yang sedang mengenakan sepatu di bantu oleh pelayan.


Sky ternganga, belum sempat ia bertanya kembali tapi mama nya sudah pergi dengan menggandeng Jeje yang sudah lengkap dengan seragam sekolah nya.

__ADS_1


__ADS_2