
"hah???" beo Varo dan Enda bersamaan.
"bukannya lu karyawan tetap di restoran si Andra?" tanya Enda.
"awalnya, tapi mulai hari ini gua bakal resign dari restoran itu"
"why?"
Bara tersenyum tipis mendapati pertanyaan Varo.
"pengen cari suasana baru aja, perusahaan Sky mampu nampung gua ngga ya?" tanya Bara.
"kalau masalah itu kita ngga tau, coba lu tanya sama Sky besok" usul Varo.
"udah ah, kuy tidur. kalo besok kesiangan ngga enak sama bapak CEO"
"kalian mau tidur dimana?" tanya Bara yang melihat kedua temannya berdiri.
"di kamar Sky, tapi mau narok ini dulu" jawab Varo melirik kotak martabak yang tersisa.
Bara pun mengangguk, ia pun beranjak dan masuk ke dalam kamar tamu yang sudah di siapkan oleh pembantu tadi.
Varo menuju dapur untuk meletakkan martabak itu ke dalam kulkas. Lumayan masih bisa di makan besok pagi untuk sarapan. Terlahir dari keluarga yang sederhana dan pas-pasan membuat Varo sangat menghargai makanan. sedang Enda lebih dulu menapaki tangga dan membuka pintu kamar Sky.
Terlihat Sky sudah tertidur pulas sembari bibir nya tersenyum entah apa yang di mimpikan oleh pria itu.
"yang lagi kasmaran emang beda" gumam Enda menatap Sky.
Enda merebahkan tubuhnya dan membelakangi Sky. tak lama ia sudah berlabuh ke alam mimpi menyusul Sky.
Ceklek..
"ya elah, udah pada tidur bae di bocah" gerutu Varo.
Ia pun membaringkan tubuh di tengah-tengah antara Sky dan Enda. Tidur telentang sembari menatap langit-langit kamar Sky. sebuah senyum seseorang tampak hadir disana hingga Varo memejamkan mata dan bibir nya menyunggingkan senyum ketika ternyata gadis pujaan nya hadir dalam mimpi nya.
berbeda dengan Bara yang masih rebahan dengan berbantal kan kedua tangan nya. menatap langit kamar yang agak gelap karena cahaya yang sengaja di buat temaram. Bohong jika ia tak merasa iri dengan kedekatan antara Varo, Enda dan keluarga Sky. Jika mereka seperti layaknya keluarga tapi dirinya memang seperti tamu yang di hormati. Tapi bukan itu keinginan Bara.
Ia menghela nafas kasar, melirik jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 dini hari. Maka mau tak mau ia pun memejamkan matanya agar besok tidak kesiangan.
__ADS_1
***
Di lain tempat, di sebuah lantai atas restoran Andra. Pria itu kini sedang berdiri di atas roof toof, memandang ke arah luar. dingin nya semilir angin menjelang pagi tak membuat ia bergeming sama sekali. Ia tengah melamun, memikirkan apa-apa saja yang sudah ia lalui. Matanya tampak layu seperti seseorang yang sedang memikirkan beban hidup.
"pikirkan, jika sampai kau pergi dari restoran itu apa yang akan kau lakukan?"
Pertanyaan itu selalu membayangi Andra seharian ini. Restoran ini memang bukan hasil jerih payahnya, uang pembangunan ini dari tuan Maheswari. Ia bisa di bangunkan sebuah restoran ini karena dulu lebih membela tuan Maheswari daripada Zeline. tapi sekarang Andra menyesali semua nya. terlebih ketika tau bahwa Sky mulai mendekati Zeline, dan sial nya Zeline justru luluh pada ketulusan Sky.
Andra memukul udara. Merutuki kebodohan nya. Bisa-bisanya ia berada di pihak yang salah padahal jelas bahwa ia tak mengetahui permasalahan yang terjadi.
"sial. Jika bukan karena hasutan tua bangka itu ngga bakal gua putus dari Zeline dulu"
"lebih sial lagi kenapa Sky pake ikut-ikutan naksir Zeline juga"
Merasa kesal dengan dirinya, akhirnya Andra memutuskan untuk turun dan memasuki kamar nya. mencoba memejamkan mata meskipun rasa kantuk tak kunjung datang. Hingga menjelang subuh baru lah Andra bisa memejamkan mata dan tertidur dengan pulas.
***
Berbeda dengan Andra yang baru tidur. Trio sekawan saat ini sudah berdiri di balkon kamar. Menikmati semilir angin pagi sembari mengobrol receh. Hal yang memang selalu mereka lakukan jika mereka menginap di rumah mewah itu.
"kemarin kita buntutin si mahes" ungkap Varo.
"parah nya ternyata rumah itu di biarkan kosong dan hanya di rawat sama pembantu. Apa ngga mau bawa istri dan anaknya kesana" seru Varo.
Sky hanya menjadi pendengar bagi kedua temannya. karena memang ia sendiri sudah mengetahui hal itu.
"darimana kalian tau?"
"lah kan kita udah bilang kalo kita ngikutin" jawab Enda.
"darimana kalian tau kalo rumah itu kosong?" tanya Sky lagi malas.
"kita tanya sama pembantu nya" jawab Varo terkekeh.
"bisa-bisanya" ucap Sky.
"kita penasaran bro, rumah besar dan mewah kayak gitu ya kali di anggurin" ucap Enda.
"ya,,, gua pun ngga ngerti sama pola pikir tuh bapak-bapak" jawab Sky.
__ADS_1
"oh iya, nanti gua izin ngga ke kantor. Gua mau ada perlu"
"dih, anak CEO pake izin segala" ledek Varo.
"ya elah apaan sih, gua tuh sama kek kalian. Kita masih sama-sama staf biasa"
"ya kalo kita mah iya, kalo lu mah beda. bentar lagi juga mewarisi jabatan CEO" ucap Enda.
Sky hanya terkekeh mendengar itu, perasaan nya pagi ini sedang bahagia. Itu karena ketika bangun tidur sudah mendapat ucapan selamat pagi dari Zeline dan gadis itu bilang ingin membawa Sky ke suatu tempat. Ohh,, siapa yang tidak bahagia jika di ajak berkencan oleh calon kekasih. Berkencan? Setidak nya itu yang di pikirkan oleh Sky.
***
"semangat banget... Mau kemana nih mbak?" ledek Yuni kepada Zeline.
"widihh, ada martabak nih. Ahh babang Sky tau aja kalo si adek Zeline suka sama martabak" lanjut Yuni.
"apaan sih" ucap Zeline tersipu.
"itu sengaja beli buat kamu" lanjut nya.
Yuni hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia lekas menikmati martabak yang baru ia keluarkan dari kulkas itu. terasa dingin namun memang itu lah yang ia suka. mereka sering membeli martabak namun tak langsung di makan saat hangat karena mereka lebih suka memakan martabak yang sudah dingin tapi dingin nya karena di masukkan ke dalam kulkas atau freezer.
"nanti aku izin ngga berangkat ya Yun" ucap Zeline.
"mau kemana?" tanya Yuni.
"ada deh"
"mau kencan lagi? belum puas ya kencan semaleman"
"apaan sih. Aku mau ajak Sky ketemu Nizam"
Yuni termangu, martabak yang akan di masukkan ke mulut masih mengambang. Ngomong-ngomong tentang Nizam, Yuni pun merasa rindu dengan bocah itu. Yuni meletakkan kembali martabak di tangan nya kemudian menghampiri Zeline yang sedang memasak nasi goreng. Di peluk nya tubuh Zeline dari belakang.
"lu kan pemilik restoran itu Zel, lu bebas mau Dateng atau enggak" ucap Yuni.
"makasih ya Yun, aku kangen banget sama Nizam"
Yuni memeluk erat Zeline untuk menguatkan gadis itu. Pagi ini mereka mengawali hari dengan galau.
__ADS_1