
"memang nya kenapa?" tanya tuan Adersn.
"ck, papa tinggal jawab saja"
"lihat ma, putra mu itu"
nyonya Jessika hanya menggeleng melihat sang suami menggoda anak nya.
"apakah kau menyukai Zeline sayang?" tanya mama Jessika lembut.
Sky terdiam. Ia sebenarnya memiliki perasaan tertarik pada Zeline. Tapi ia tak tau apakah itu perasaan suka atau hanya sekedar penasaran saja.
"sayang...."
"sebenarnya Sky tidak tau ma" ucap Sky menunduk.
nyonya Jessika tersenyum, ia pun menghampiri sang putra yang ia yakin memang sedang jatuh cinta.
"apa yang kau rasakan?"
"maksud mama?"
"apa yang kau rasakan ketika berhadapan dengan Zeline? Apakah perasaan mu berdebar, atau merasa gugup atau bahkan kau terpesona dengan tatapan mata nya?"
Sky diam berpikir, apa yang di katakan sang mama benar semua. Ia sering merasa nervous jika berbicara dengan Zeline. Jantung nya bahkan berdebar-debar jika ingat dengan Zeline seperti saat ini.
"jika kau merasakan semua nya berarti kau jatuh cinta"
"mama tau, jika ingin mendekati gadis dingin seperti Zeline sedikit susah dan perlu banyak kesabaran. tapi jika kau benar-benar mencintai nya bahkan selama apapun waktu itu tidak akan terasa"
"sekarang tidur lah, pikir kan lagi baik-baik. Ngomong-ngomong mama akan senang jika bermenantu kan gadis seorang Zeline"
"bukan kah mama dekat dengan Yuni?"
"Yuni adalah gadis baik dan ramah, ia pandai bergaul dan bersosialisasi. tapi mama yakin jika Zeline tak beda jauh dari Yuni. dan mungkin karena suatu hal membuat Zeline menjadi cuek dan dingin"
Sky mengangguk setuju, ia pun mengecup pipi sang mama kemudian beranjak.
"kenapa kau mencium istri ku!" sentak tuan Adersn.
"istri papa adalah mama ku" ejek Sky.
"dasar anak kurang ajar"
__ADS_1
"dasar papa nggak mau ngalah sama anak"
"hentikan pa! Sky sekarang tidur"
Sky menjulurkan lidah nya mengejek sang papa sedang tuan Adersn mendelik membuat Sky berlari naik ke tangga. nyonya Jessika yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo kita juga tidur pa" ajak nyonya Jessika.
"ini masih terlalu sore ma. Bagaimana jika kita berolahraga terlebih dahulu"
Nyonya Jessika mengernyit, apakah suami nya ini gi*laa mengajak nya berolahraga di malam seperti ini dan lagipula mereka baru saja makan malam.
"kita akan olahraga di kamar ma, di atas ranjang kita" seru tuan Adersn menggendong istrinya.
"dasar papa" seru nyonya Jessika menepuk dada bidang sang suami.
***
Pagi hari menjelang, Bu Nadin sedang menata makanan di atas meja. Pagi ini ia memasak ikan nila goreng, sambal terasi dan sayur bening wortel kentang. Ia duduk di kursi menunggu sang suami datang. Tak lama suara langkah kaki mendekat, tanpa sepatah kata pun Bu Nadin mengambil piring, mengisi nya dengan nasi dan lauk yang tersedia kemudian memberikan nya kepada sang suami.
tanpa mengucapkan sesuatu atau sekedar berterima kasih suami nya itu langsung melahap habis nasi dalam piring nya dengan lahap.
"ingat Nadin, jangan sampai kau membuat malu aku hari ini"
Tapi harapan hanya lah harapan. Suami nya memang berhati batu. Selama menikah tak pernah sekali pun suami nya itu mengucap kan terima kasih atas apa yang telah ia lakukan. Tapi untuk pukulan dan tamparan tak pernah lewat sekalipun meski hanya untuk kesalahan kecil.
Suami nya memang pengusaha yang memiliki berhektar-hektar lahan perkebunan yang selama ini membuat suami nya kaya. tapi hanya suami nya, nyata nya kekayaan itu tak pernah sedikit pun di berikan kepada sang istri. nafkah yang di berikan pun hanya 50 ribu untuk satu Minggu. Di jaman moder seperti sekarang nafkah 50 ribu seminggu dapat apa.
Maka mau tak mau Bu Nadin harus memutar otak agar tetap bisa berbelanja meskipun nafkah nya hanya 50 ribu rupiah saja. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menanam sayuran di lahan kosong belakang rumah nya dan menjual kue-kue tradisional di pasar.
Tapi, mengetahui Bu Nadin berjualan membuat suami nya murka. Tanpa instrospeksi diri, suami nya itu justru memukuli nya karena membuat malu dengan berjualan jajan di pasar.
***
Yuni termangu menatap seorang perempuan setengah baya di depan nya. Dengan pakaian tertutup dan selendang yang menutupi sebagian wajah tak membuat Yuni lupa siapa yang kini berdiri di hadapan nya. Hanya saja wajah yang sedikit terlihat tua, dengan sedikit memar di sudut bibir membuat Yuni terpaku.
"Tante..." sapa Yuni.
perempuan itu hanya tersenyum tipis. Matanya melihat ke meja kasir di mana Zeline sedang melayani pembeli yang hendak membayar.
"apakah Zeline sibuk?"
Yuni menengok ke belakang, mungkin kesibukan itu akan bisa di atur jika Zeline ingin bertemu dengan wanita itu. tapi yang membuat Yuni berat apakah Zeline sedang memiliki mood bagus hari ini.
__ADS_1
"mungkin sedikit sibuk Tante, Tante duduk dulu biar Yuni panggil kan Zeline"
Perempuan itu duduk di kursi pojok ruangan, Yuni melihat pelanggan sudah kosong. Ia pun menghampiri Dea yang sedang membersihkan meja.
"de, tolong habis ini tulisan open di ganti close sementara ya"
"iya kak"
Meskipun sedikit bingung tapi Dea tetap mengiyakan perintah Yuni. setelah meja bersih Dea berjalan ke arah pintu dan kembali tulisan menjadi close.
Yuni menghampiri Zeline, menunggu sampai pembeli terakhir melakukan pembayaran. setelah selesai Yuni menyenggol lengan Zeline.
"nyokap lu" bisik Yuni.
Zeline mengedarkan pandangan nya. Tampak di sudut paling pojok seorang wanita tengah memandang nya dengan tatapan sendu. Zeline yang melihat itu hanya menatap datar. Ia melihat pintu restoran telah di tutup dan Dea sudah tak ada di sana. Ia menengok ke arah Yuni, dari tatapan matanya mengisyaratkan sebuah ucapan terima kasih.
"mau di temenin"
"boleh, tapi buatin teh hangat dulu ya"
Yuni mengangguk, mereka pun kemudian berjalan bersama. Yuni ke belakang dan Zeline menghampiri wanita itu, wanita yang sudah setahun terakhir tidak ia temui.
"Zeline... bagaimana kabar kamu sayang?" tanya wanita itu antusias. Ia hendak meraih tangan Zeline namun Zeline langsung menghindar.
"Zeline..." lirih perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.
"ada apa?" tanya Zeline datar.
"kau tak rindu dengan mama nak?"
"aku rindu dengan adikku"
"Zeline... Nak..."
"Tante di minum dulu teh nya" seru Yuni meletakkan teh di atas meja.
"terima kasih nak"
Yuni mengangguk kemudian duduk di kursi sebelah Zeline.
"maafin mama nak"
"maaf tidak akan membuat adikku kembali" ucap Zeline sarkas. pandangan matanya mampu menembus siapa pun yang menatap nya.
__ADS_1