
Pagi telah menyapa, disana di restoran tingkat tiga itu sedang terjadi perang dingin antara Bara dan Andra yang saling diam sejak perselisihan tadi malam. Hal itu memang sudah biasa, baik Bara atau pun Andra tak ada yang mau memulai berbicara Karena mereka pasti akan saling berbicara jika keadaan hati sudah dingin nanti.
Andra memilih melanjutkan tidur nya karena tadi malam ia hanya tidur beberapa jam sampai menjelang subuh. Sedang Bara memilih membantu para karyawan entah di dapur atau pun mengantar pesanan karena ia sadar bahwa dirinya hanya lah pekerja disini karena memang Andra menganggap nya seperti itu.
"pak Bara kenapa sih ya? Kok hari ini cuek banget padahal biasanya ramah"
"biarin aja, mungkin lagi ngga mood"
Pembicaraan dua karyawan itu terhenti, memang untuk seseorang yang setiap hari terbiasa bercanda dan banyak bicara tapi tiba-tiba diam sudah pasti akan terlihat berbeda. itu yang terjadi pada Bara, pria muda itu hari ini hanya diam dan berbicara sepatah kata jika di tanya.
Sementara Andra di lantai atas sedang berbaring sembari menatap langit-langit kamar. Ia memikirkan ucapan Bara tadi malam. Kisah nya dengan Zeline siapa yang tidak tahu? Hanya saja kisah itu kini telah pupus, lenyap seiring berjalannya waktu. Kisah asmara yang terjadi beberapa tahun silam sebelum mereka masuk ke perguruan tinggi.
"sebenarnya kalo seandainya kamu bisa baik sama orang tua kamu dan ngga jadi anak yang pembangkang sudah pasti hidup kamu akan lebih baik Zel. kamu anak pengusaha tapi kamu harus repot-repot kerja part time hanya demi bisa sekolah. sedang aku yang hanya mantan kekasih mu di berikan modal oleh papa mu karena aku percaya bahwa dia orang baik."
Setelah berkata seperti itu Andra memejamkan matanya. tak peduli dengan kebisingan dunia luar yang sudah terik.
***
"Zel, lu kenapa sih diem-diem bae" ujar Yuni sedih.
Zeline menoleh, hari ini mood nya untuk berbicara hilang entah kemana. Begitu lemah perasaan Zeline sampai-sampai hanya karena tak sengaja bertemu dengan masa lalu mood nya menjadi berantakan. Namun sebenarnya bukan itu permasalahan utamanya.
"lu percaya kan sama Sky?"
Zeline berpaling, menatap ke arah sana dimana ada seorang tukang sayur keliling yang sudah di kelilingi ibu-ibu rempong yang berbelanja.
"gua yakin Sky beda sama Andra"
Yuni beranjak, ia keluar dari pagar kostan kemudian menghampiri mang sayur itu.
"mang ada kue lupis atau jajanan gitu?" tanya Yuni.
"wah mbak Yuni tumben beli di mang sayur, ngga kerja mbak?"
"enggak buk, kebetulan sudah ada karyawan baru yang di rekrut jadi kami berangkat nanti siang atau sorean aja. Lagipula Zeline lagi ngga enak badan"
Mereka menoleh sekilas ke arah Zeline yang duduk di teras. Mereka tersenyum dan di balas senyuman oleh Zeline. Wajah Zeline yang agak pucat membuat ibu-ibu percaya saja.
__ADS_1
"ini ada lupis ketan, sadar gulung, sempol ayam sama gorengan mbak" jawab mang sayur.
"saya mau semua dong mang"
Mang sayur pun dengan senang mengambil masing-masing satu bungkus jajanan yang tadi di sebut kan.
"totalnya jadi 20 ribu mbak"
"ini mang, yang 30 ribu buat bantu-bantu ibu-ibu bayar ya"
"wah makasih Lo mbak Yuni"
"sama-sama buk, saya permisi duluan ya"
Yuni pun duduk kembali di kursi sebelah Zeline.
"sarapan Zel, jangan sampai magh kamu kambuh"
Zeline mengambil Sempol ayam satu kemudian memakan nya. Mereka menikmati makanan itu dengan khidmat tanpa pembicaraan. hanya memandang ke arah depan dimana beberapa anak kecil bermain karena hari ini tanggal merah.
"mungkin siangan aja deh, aku agak pusing"
Yuni mengangguk, ia tau Zeline masih butuh istirahat.
"gua mau masak mie, lu mau?"
"boleh, mie goreng telur ceplok ya"
Yuni mengangguk dan masuk ke dalam. Selepas kepergian Yuni Zeline kembali melamun. Ia memikirkan bahwa sebenarnya ia sudah tau bahwa Sky memang berteman dengan Andra sejak lama tapi entah kenapa baru tadi malam muncul rasa tak percaya. Ia takut apa yang menimpa kisah nya dan Andra dulu akan terjadi padanya dan Sky. karena Zeline merasa sudah cukup nyaman dengan Sky meskipun Zeline tak terlalu menunjukkan nya.
***
"jadi waktu itu mama ketemu mama nya Zeline?" tanya Sky.
"iya. dan mama ngga nyangka loh kalo ternyata mama nya Zeline yang waktu sore itu jualan jajanan di pinggir jalan."
"ada yang dia bicarakan sama mama?"
__ADS_1
"enggak ada sih, cuma pandangan nya agak gimana gitu"
Sky terdiam, ia sudah meminta tolong kepada orang kepercayaan sang papa untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai trauma apa yang di alami oleh Zeline selain trauma dengan rumah tangga.
"apakah sudah ada hasil boy?"
"belum pa. Sky emang ngga minta cepet-cepet sih. Cuma ada yang aneh sama Zeline"
"apa?"
"tadi malam waktu Sky sama anak-anak nonton basket ngga sengaja ketemu Zeline juga. Awalnya Zeline senyum ramah sama Sky, tapi ngga tau kenapa tiba-tiba dia jadi dingin dan ketika Sky hampiri dia jadi ngehindar kayak awal-awal dulu. padahal akhir-akhir ini Sky udah bahagia karena Zeline mau komunikasi sama Sky meskipun hanya lewat chat dan telepon sebentar"
Kedua orang tua Sky terdiam. Memahami sifat Zeline lebih sulit daripada harus memahami rumus matematika dan rumus saham perusahaan. Tapi karena Sky menyukai gadis itu rasa penasaran membuat ia terus melangkah maju.
"gua rasa karena ada Andra deh ky" sahur Varo.
Varo datang sembari menggendong Jeje di punggung nya sedang Enda di belakang mereka membawa sepiring gorengan. Mereka memang terbiasa di rumah ini bermain bersama Jeje atau sekedar main PS dengan Sky.
"gua setuju, sebelum dia liat Andra di sebelah Lo kita sempet liat Zeline senyum kok tapi pas dia liat Andra senyum nya ilang" sahut Enda.
"terus ada hubungan apa Zeline sama Andra?" tanya Sky bingung.
"itu yang perlu kalian selidiki"
"lu pernah denger ngga sih kalo Andra, Bara, Zeline dan Yuni pernah satu sekolah pas waktu SMA dulu"
Sky menggeleng, untuk informasi seperti itu memang Sky tak terlalu peduli karena itu menurut nya tak penting lagipula ia merasa tak nyaman jika harus dekat-dekat dengan Andra.
"gua rasa ada sesuatu yang terjadi selama mereka masih SMA. Dan kita perlu selidiki ini, karena yang gua lihat Zeline tuh kek ngerasa ngga nyaman pas kita hampiri semalem. tapi matanya lebih tajam kalo dia lihat ke arah Andra" ucap Varo.
"kalo gitu siapa yang harus kita tanyain soal ini?"
"gua tau" seru Enda.
semua yang ada di situ menanti jawab Enda, namun baik Sky atau pun Varo seperti memiliki jawaban yang sama.
"Yuni!!!"
__ADS_1