Gadis Yang Tak Tersentuh

Gadis Yang Tak Tersentuh
tak sengaja bertemu


__ADS_3

Acara membuat cake ala-ala Zeline dan Jeje telah selesai. Aktivitas menyenangkan yang membuat Jeje merasa sangat bahagia dan semakin ingin memiliki kakak seperti Zeline. Bisa di pastikan pulang nanti Jeje akan pamer kepada sang kakak karena telah berhasil mendekati Zeline.


"kakak pasti akan iri padaku ma" seru Jeje bahagia, di tangan bocah itu memegang seiris kue bolu tape yang tadi di buat oleh Zeline.


"kenapa bisa gitu?" tanya nyonya Jessika.


"iya lah. Aku lebih dulu bisa mendekati kak Zel sedangkan kak Sky hanya mampu memandang saja" seru Jeje.


nyonya Jessika hanya menggeleng kan kepala nya kemudian menatap ke arah sang suami yang sedang menyetir. tadi sore sebenarnya tuan Adersn menolak ke restoran Zeline tapi kemudian tuan Adersn berubah pikiran dan mengikuti nyonya Jessika dengan alasan ingin menikmati masakan restoran Zeline. Dan hasilnya tak mengecewakan karena rasanya cukup nikmat dan memanjakan lidah.


"besok kapan-kapan kita kesana lagi ya boy?" tanya tuan Adersn.


"iya papa"


"pa... Tadi papa lihat..????"


"papa lihat, kita bicarakan nanti di rumah bersama Sky"


nyonya Jessika mengangguk, entah apa yang akan di bicarakan oleh keduanya. yang pasti mereka berbicara dengan berbisik agar Jeje tak ikut mendengarkan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan yang lenggang. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kediaman mewah mereka.


***


"kamu ngga ikut De?" tanya Zeline pada Dea.


"enggak deh kak. Ngga enak sama bibi"


"ya sudah, kamu hati-hati ya"


"iya kak. Kakak juga hati-hati"


Zeline mengangguk, ia pun menyusul Yuni yang sudah menunggu nya di depan bersama Sari, karyawan baru mereka.


"Dea ngga ikut?" tanya Yuni.


Zeline menggeleng, ia pun naik ke mobil taksi yang sudah mereka pesan.


"de, ngga mau sekalian sama kita?" tawar Yuni.

__ADS_1


Dea yang baru saja berjalan menuju depan menggeleng.


"terima kasih kak tapi ngga usah. Kontrakan bibi Dea cuma di belakang restoran ini aja kok"


"bener?" Dea pun mengangguk yakin.


"ya udah hati-hati ya"


taksi pun berjalan. Zeline dan Yuni duduk di belakang sementara Sari duduk di depan.


Dea memandang ke arah taksi itu dengan tatapan sendu. Sebenarnya ia sangat ingin ikut serta tapi ia tak mungkin meninggalkan adiknya lagi. Meskipun sudah di tawari oleh Zeline agar mengajak adik nya juga tapi Dea merasa sungkan.


Dea merasa bersyukur karena Zeline sudah mau berbasa-basi dengan nya. Benar kata Yuni, Zeline perlu waktu untuk percaya kepada seseorang yang asing dan baru muncul di kehidupan nya. Dea memaklumi itu dan buktinya sekarang Zeline menjadi peduli pada adiknya. Dea melirik bungkusan plastik yang tadi di berikan oleh Zeline.


Kue bolu tape, bolu panggang mesis, dan beberapa kue donat sisa hari ini yang diberikan oleh Zeline untuk adik Dea. Dea merasa bahagia akhirnya bisa memberikan donat yang rasanya sangat enak itu kepada sang adik dan bibi nya. Dea berjalan dengan hati gembira, ia berjanji dalam hati akan selalu mengabdi pada Zeline dan bekerja sepenuh hati tak pernah menyia-nyiakan kepercayaan Zeline yang susah sekali di dapatkan.


hanya berjalan beberapa menit kontrakan sang bibi sudah terlihat. benar apa yang di katakan Dea kontrakan kecil itu berada tepat di belakang restoran Zeline hanya saja di batasi oleh tembok besar. Di teras bibi Dea dan seorang bocah yang bisa di tebak adalah adik dari Dea telah menunggu.


"itu mbak Dea..."


Dea pun berlari pelan menghampiri sang bibi kemudian mencium punggung tangan nya.


"ini bi dari bos Dea" Dea menyerahkan plastik itu pada sang bibi.


"wahh,, bos kamu baik banget de, ayo masuk dulu"


mereka masuk ke dalam kontrakan. di ruang tamu ada sofa yang sudah usang dan televisi kecil. Mereka duduk disana sementara bibi menuju dapur. Tak lama bibi kembali membawa segelas air putih dan piring.


"nih minum dulu"


"makasih bi"


Dea duduk sembari memangku sang adik. mereka memperhatikan bibi nya meletakkan beberapa iris kue bolu di piring.


"yang ini buat besok ya"


"iya Bi"

__ADS_1


Mereka memakan kue bolu pemberian Zeline masing-masing satu iris. Sementara adik Dea makan dua iris karena bibi sengaja memberikan lebih bocah itu.


"mbak Dea biar mandi ya, kamu tidur sama bibi"


Anak kecil itu mengangguk, mereka beranjak dan masuk ke kamar. Dea keluar dari kamar dengan sudah berganti pakaian tidur. Ia melihat sang bibi sedang menyimpan roti sisa tadi di kulkas kecil milik mereka.


Dea memeluk sang bibi dari belakang membuat wanita setengah baya itu terkejut.


"kamu ngagetin bibi aja de, gimana kalo bibi kena serangan jantung" seru bibi Dea menepuk pelan tangan Dea yang ada di perut nya.


"maaf bi.... tapi Dea mau bilang makasih banget karena bibi udah mau nampung aku sama Ilham"


"kamu ngomong apa sih, kamu itu keponakan Tante. Sudah pasti Tante sayang sama kamu dan lagipula Tante senang kalo kamu sama Ilham ada disini karena Tante tidak kesepian lagi"


Dea tersenyum, ia kembali memeluk sang bibi.


***


Berbeda dengan Dea yang sangat di sayangi oleh bibinya. Maka berbeda pula dengan Zeline yang belum pernah merasakan di peluk oleh kedua orang tua nya. Terkadang hidup memang sebercanda ini, Zeline di takdir kan lahir di tengah-tengah keluarga kaya tapi tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga. Bahkan sejak sekolah dasar ia sudah di tuntut untuk menghidupi dirinya sendiri meskipun tidak sepenuhnya.


saat ini taksi yang tadi di pesan oleh Zeline sudah sampai di area lapangan basket yang hendak mereka tonton. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Penonton sudah lumayan ramai. terlebih di kota metropolitan seperti ini hal yang wajar jika anak muda keluar malam untuk menonton sebuah pertandingan.


"kita duduk aja yuk, capek" seru Yuni.


Zeline dan Sari mengikuti Yuni. mereka mencari tempat duduk yang membuat mereka tetap bisa menyaksikan pertandingan.


Tak jauh dari tempat duduk mereka, lima pria sedang memperhatikan mereka. Salah dua di antara mereka terfokus pada Zeline. Gadis dengan celana jeans dan kemeja over size membuat dua pria itu semakin tertarik pada Zeline. Satu pandangan mata dengan tatapan kagum dan satu mata lagi menatap dengan tatapan sendu.


Merasa seperti di perhatikan Zeline menoleh ke sekitar. Hingga pandangan nya beradu pada dua pria yang melihat ke arah nya. wajah hangat Zeline berubah menjadi dingin. Hal itu di rasakan oleh Yuni dan satu pria tadi. sedang pria yang melihat ke arah lain hanya menunduk sendu.


Yuni menoleh ke arah dimana mata Zeline menatap dengan tajam. Mata Yuni bertubrukan dengan mata Sky. Namun bukan Sky yang menjadi fokusnya melainkan seseorang yang sedang duduk menunduk di samping Sky.


"Zel..."


"aku okay kok"


Yuni menghela nafas nya. Ia tau Zeline berbohong karena di antara mereka ada Sari.

__ADS_1


__ADS_2