
[Kei POV~]
Tinggal 10 hari lagi, Hari di mana pelatihan bersama paman Porugi. Saat itu kami harus mendapat kan pengakuan darinya dengan cara mengalahkan dia di hutan selama 10 hari ini, dan saat itu sangat lah susah untuk mendekati nya, bahkan ketika kombinasi menyerang bersama, paman Porugi dapat dengan mudah menghancurkan dan menankis nya.
Dan hari ke sepuluh, kami dapat mengetahui cara bertarung paman Porugi. Awal nya kami sangat lah sulit menebak pergerakan paman Porugi, tetapi hari demi hari kami mengerti dan hari kesepuluh, kami menjalan kan rencana saat itu, dan kami pun dapat menang darinya dengan susah payah.
"Hmm, bagus - bagus.. Tak sia - sia aku meluang kan waktu ku dengan kalian.." Ucap paman Porugi tersenyum lebar.
"Iya - iya.. Berisik, paman apa boleh kami beristirahat dulu..? Kami sangat lelah sekali, dari kemarin kami belum tidur.." Ucap ku lemas sekali.
"Iya ayah, aku sangat lelah.." Ucap Haruka yang menguap.
Saat itu, karna lelah dan pegal, kami lalu tertidur kelelahan. Paman Porugi hanya mengeleng - geleng kan kepala saja lalu menyuruh orang untuk membawa mereka.
Aku, yang baru bangun terlihat kalau aku sekarang di rumah ku, dan hal pertama yang kulihat, aku melihat bak air hangat untuk berendam.
"Hmm sepertinya ini sudah paman siap kan.. Kalau begitu aku berendam dulu saja.." Ucap ku sembari melepas baju ku lalu berendam.
"Ahhh~ Nikmat nya.. Sepertinya ini mengandung obat - obatan? Biarlah, aku ingin tidur lagi.." Tanpa di ucap kan pun ia sudah tertidur kembali.
Selama beberapa jam, ia terbangun dari tidur nya. "Ehh kok aku masih malah tertidur?" Ucap ku yang kaget melihat diriku di dalam bak mandi. "Hmm tapi aneh, kenapa air ini masih hangat? Apa jangan - jangan.. Mereka tadi masuk dan menganti nya..?" Guman ku pelan.
__ADS_1
Tentu saja Kei sangat kaget, ia kaget ketika merasakan air yang hangat ini tidak berkurang dari awal pertama, membuat dirinya memikir kan kemunkinan nya.
Karna tidak lagi peduli, ia lalu membersih kan dulu. Saat ia berdiri, ia merasakan kulit dan tulang yang memar dan sakit menjadi sembuh tanpa sisa, bahkan kulit yang ada sayatan pun sudah menghilang. Sekarang kulit ku serasa semakin muda dari sebelum nya, dan diriku pun sekarang tubuh ku jadi hampa.
Aku berpikir pasti kalau Haruka pun sama dengan diriku, jadi aku pun pergi ke ruang meja makan.
Memang benar apa yang di katakan Kei, Haruka pun sama hal nya dengan Kei. Beberapa hari pun berlalu, dan sekarang ini adalah hari pertama kali masuk Smp, Haruka dan Kei seperti biasa, mereka sekarang selalu bersama tetapi tetap Kei tidak mau bersama nya.
Walau Kei hanya membuka sedikit pintu hatinya, tetap Haruka sangat senang walau di dekat nya saja. Di kelas, aku sebanku dengan seseorang yang sama sepertiku, ia sangat pendiam dan dia tidak selalu tersenyum.
Yah munkin kalian dapat mengenal nya, Ya dia Maru, dia adalah teman ke dua ku setelah Haruka. Awal pertemanan kami tidak di awal, awal - awal nya sih kami diam dan diam, kelama - lamaan kami jadi menjalin hubungan pertemanan.
Dan saat itu juga, Haruka penasaran dan ia pun sama, ia jadi suka. Baik, kembali ke topik. Saat kami memiliki hobi yang sama, kami setiap hari selalu membicarakan Anime, Komik dan Novel. Dan saat itu Maru juga mengajak Kei untuk ke rumah nya.
Karna paksaan, aku pun ikut dengan nya ke rumah nya. Ketika sampai di rumah nya, aku melihat rumah Maru hampir sama dengan ku, ia memiliki ukuran yang sama. Ketika masuk, aku melihat ada 3 komputer komplit terpasang.
"Maru, apa kau suka game?" Tanya ku. Maru pun menganguk pelan. "Owhh, kalau begitu apa aku boleh coba?" Maru yang mendengar itu lalu menawar kan bermain bersama, mereka pun jadi main bareng.
Dan saat itu hubungan kami menjadi lebih dekat, dan aku pun dapat menebak kalau Ayah dan Ibu Maru sudah tiada, dan ia tinggal di sini sendirian. "Hei Maru, apa aku boleh mengajak Haruka kesini? Kemarin ia ingin sekali bermain dengan kita.." Tanya ku.
"Tentu, kau bisa mengajak nya.. Lagian kan ada 3 komputer nya, jadi tenang saja.." Ucap Maru santai.
__ADS_1
Aku pun menganguk lalu bermain kembali. Ke esokan hari nya dan seterus nya, kami selalu bersama dan bahkan di sekolah dan rumah. Maru, ia mengerti kalau aku sudah tidak memiliki Ayah dan Ibuku, dan ia pun mengerti bagaimana ia di tinggal kan orang tua nya. Munkin, Maru sama dengan diriku, yang awal cerita yang menyenang kan menjadi seperti ini.
Maru pun sudah tahu dengan identitas Haruka yang seorang putri dari keluarga Gilfari, dan ia tak mempermasalah kan nya. Rumah antar kami dan rumah Maru sangat lah jauh, berbeda kalau ke arah sekolah, kami selalu bertemu dengan nya jadi kami selalu jalan bareng.
Saat kami berjalan ke arah sekolah, kami di cegat puluhan orang, mereka memakai baju serba hitam dan topeng, seperti nya keluarga Kiri sudah mulai bergerak.
"Maru, kau pergi duluan saja.. Aku akan hadapi dia.." Ucap ku yang menyuruh ia pergi. Maru hanya terdiam mendengar itu, tak lama ia pun maju lalu memegang bahuku.
"Tidak, seorang teman tidak meninggal kan teman nya, jadi.. Ayo kita lawan mereka bersama.." Ucap Maru gagah.
"Apa kau bisa bertarung..?" Tanya ku. Maru pun menganguk. "Bagus, kita lawan bersama.."
"Hei kalian, apa kalian melupakan ku..?" Tanya Haruka yang sangat kecewa. "Huh dasar laki - laki, semua nya emang sama.." Ucap Haruka yang mengembungkan pipi nya.
"Iya, iya.. Sini, tolong bantu kami.." Ucap ku. Maru kaget ketika mendengar itu, ia pun menanyakan nya padaku. Aku pun berbisik pada nya, "Dia sangat lah kuat, dia sama seperti monster.." Bisik Ku pada Maru.
Tentu Maru tidak percaya dengan ku, sampai ia melihat Haruka yang tiba - tiba berlari menankap salah satu tangan orang musuh, ia mematah kan nya dengan satu gerakan yang sangat patal untuk musuh.
Maru melebar kan mulut nya ketika melihat itu, "Tuh kan, apa yang aku katakan, benar kan?" Tanya Ku. Maru pun menganguk pelan dengan mulut nya terbuka lebar.
Oke selamat menikmati~
__ADS_1