
Kei POV~]
Tanpa mereka sadari, dari tadi aku mendengar kan hal itu dari kejauhan, mendengar kan itu semua. Yah memang benar kalau topeng ini juga dapat tembus pandang, tapi.. Kenapa Maru dapat mengetahui nya? Padahal aku tidak pernah mengatakan nya pada siapapun.
Awal nya aku ingin coba, aku memperaktekan nya pada Haruka saat itu, dan ternyata berhasil. Aku dapat tembus pandang, bahkan baju dalam nya pun sama, membuat ku melihat semua lekuk bentuk tubuh Haruka. Aku kagum padanya saat itu, aku melihat semua tubuh Haruka tidak ada yang cacat sedikit pun, membuat ku penasaran bagai mana cara dia memiliki tubuh yang sedikit pun tanpa luka?
Nah sebab itulah aku jarang memakai topeng ini, walau terdapat massage yang dapat men nonaktif kan nya. Oh ya, topeng ini juga dapat memuncul kan massage berbahaya, pemberitahuan dan lain - lain. Sama hal nya dengan iron man.
Tapi itu aku kesamping kan dulu, aku harus cepat - cepat membuka pintu batu, karna terlihat kalau hari sudah menjelang sore, dan terlihat penjagaan pun semakin di perketat.
Aku dapat melihat terdapat tombol di bawah tanah, dan di susul dengan tombol jebakan seperti piano, tetapi tidak ke samping, tetapi ber bentuk kotak besar, menghadap ke depan dan belakang, bahkan di sisi kanan kiri, atas memiliki dinding, dan terlihat sekali kalau itu tidak dapat di hancur kan dengan ledakan sekalipun.
Aku yang dapat melihat tombol mana saja yang benar, aku pun melompati nya. Sedikit saja aku menekan tombol salah, bisa - bisa kepala ku hilang tanpa tubuh.
Yap, Kalian salah tebak, Kei tak sengaja menginjak tombol salah membuat dirinya hampir terbunuh, untung saja dia memiliki reflek tinkat tinggi, membuat dirinya dapat menghindari itu dengan mudah.
Aku yang sudah menjauhi itu lalu melihat terdapat kampah yang terus berbulak balik, bahkan bukan ada satu, tapi puluhan, membuat diriki tidak percaya diri.
Sementara Haruka dan Maru yang masih terdiam, menghampiri ku dengan cepat, bahkan aku pun tidak tahu kapan mereka datang.
"Kei, apa kau tidak apa - apa..?"
__ADS_1
"Apa kau sudah tidak mar-"
Dengan cepar diriku di pukul tepat di perut sama hal nya dengan Maru yang tidak salah apa terkena tonjok. "Dasar! Laki - laki mesum!" Ucap Haruka yang membalikan badan menyilang kan tangan. Sebenar nya Haruka sangat lah malu dan kecewa, tetapi sekarang dia sedang memikir kan rencana untuk mengahancur kan topeng ku, membuat dirinya menyeringai iblis pada kami.
"Ha-Naruka, apa kau sehat.." Tanya ku yang bergidig ketakutan. Sekarang diriku sudah berubah 50%. Seperti nya berkat Maru, aku dapat lebih terbuka lagi pada Haruka. Aku, yang selalu memasang wajah datar, sekarang aku terkadang memberikan perasaan pada wajah ku ini.
" Owhh Tidak! Tidak apa - apa, Tidak apa - apa!" Ucap Haruka yang meninggi kan suara nya.
***
Sepertinya, kami sudah di luar rencana, terlihat kalau kami kebanyakan kehilangan waktu. Aku pun berinsiatif untuk melankah cepat, dengan mudah diriku dapat menghindari semua kampak yang kecepatan berhenti 0,9 detik itu.
Aku pun dengan cepat membuka kotak yang tertumpuk tanah, dan terlihat terdapat tombol merah [Entah kenapa tetapi kebanyakan tombol berbahaya selalu berwarna merah. Yah aku tahu itu, tetapi.. Kenapa kebanyakan bom memiliki kabel berwarna merah? Apa mereka terlalu bodoh untuk memberikan cara untuk menjinak kan nya? Hmm kalau itu aku, aku tidak akan melakukan nya.]
"Hei, cepat kemari.. Seperti nya kita harus lebih cepat.." Ucap ku yang memanggil mereka. Dengan cepat mereka berlari ke arah ku, tanpa aku sadari lagi, mereka sudah ada di dekat ku.
Karna aku lah yang memimpin, membuat diriku lah yang harus menjelas kan rencana nya. Sebenar nya aku ingin mengamati lebih lanjut tempat ini, tetapi.. Aku tak perlu melakukan nya karna aku memiliki topeng ini.
Aku dapat mengetahui tempat dimana selalu ada orang dan dimana para tahanan di kurung.
"Oke, kita hanya perlu menghindari mereka saja.. Jangan sekali pun menyerang mereka bahkan membunuh nya, kalau di kepun pun kalian jangan pernah.." Ucap ku serius.
__ADS_1
"Eh? Kenapa?" Haruka.
"Mereka telah memasang peledak di tubuh mereka, jadi ketika di bunuh atau di siksa, mereka dapat meledak kapan ku.. Sama hal nya dengan bom berjalan.." Ucap ku serius.
"Jadi kurang lebih nya begitu.. Kalau begitu seperti nya kita harus bergerak dengan cepat, dan sekarang aku tahu kalau Haruka dapat menyetara kan kecepatan kita dengan waktu 30 menit lebih.. Masalah nya, apa paman di tahan sangat lah jauh?" Tanya Maru.
Memang benar kalau kita harus bergerak cepat, tapi..
"Bisa saja kalau kita hanya kesana, tapi.. Untuk kembali juga harus memerlukan 30 menit.. Apa kau bisa Haruka?" Tanya ku.
"Tentu saja, dulu ayah ku bilang aku dapat men istirahat kan diriku hanya dalam 3 menit dan ternyata itu berhasil.. Jadi kalian hanya perlu menunggu ku sama 3 menit.." Ucap Haruka yang mempercaya kan.
"Baik, itu lebih dari cukup untuk ku.. Tapi masalah yang lebih penting lagi.. Paman di kurung di tengah aula di bawah jurang, bahkan terdapat 1000 orang yang menjaga, tapi beda kalau mereka tidak memiliki tubuh peledak.. Apa kalian tidak apa?" Tanya ku yang sedikit lemas.
"Tidak masalah, aku akan mengikutimu, bahkan ke alam baka sekalipun.." Ucap Maru yang menunjukan tangan nya ketengah.
"Yah walau diriku masih sayang sama ayah dan ibu, tetapi aku tidak mau kehilangan kalian.. Jadi aku akan ikut dengan kalian bersama.." Ucap Haruka yang menumpuk kan tangan di atas tangan Maru.
Aku terdiam, dengan wajah datar. Tetapi.. Aku tak menyadari air mata ku mengalir tanpa peringatan, bahkan wajah ku yang selalu datar, tersenyum kembali seperti dulu. Tanpa aku sadari tangan ku sudah menumpuk dengan mereka.
Seperti nya tutup pintu yang ada di dalam hati ku terbuka kembali oleh mereka, tangisan ku yang dulu pergi kembali datang, senyuman ku yang hilang kembali tersenyum, wajah ku yang tak memiliki rasa kembali merasakan rasa.. Sekarang~, aku merasa beban yang ada di bahu ku serasa hilang, membuat diriku lega.
__ADS_1
"Seperti nya kau sudah lebih terbuka pada kami.." Ucap Maru yang selalu datar jadi senyum. Baru kali ini aku melihat senyuman nya, bahkan ia pun baru kali ini melihat senyuman ku. Sepertinya, kami memiliki kesamaan yang sangat sama, bahkan nasib pun sama.
"Bukan, bukan Kei saja.. Tapi, Maru, kau juga sama.. Seperti nya sekarang kalian dapat terbuka satu sama lain.." Ucap Haruka yang mulai tersenyum. Lalu kami pun mengangangkat tangan kami lalu menarik nya kebawah.