Gamers Of Tersesat

Gamers Of Tersesat
Eps - 4 Cerita Masa Lalu l


__ADS_3

Dulu, aku adalah anak yang sangat manis dan ceria, aku selalu tersenyum pada siapapun, mau pada Ayah, Ibu, Teman, bahkan orang yang tidak kukenali pun ku beri senyuman, apalagi bersama Haruka, membuat jantung ku berdetak kencang ketika bertemu dengan nya.


Haruka kecil, dimana dia sangat lah lugu membuat dirinya sangat lah imut ketika dirinya bertanya.


"Kei, apa ini?" Haruka kecil menunjuk bunga berwarna putih seperti rambut nya. Saat menunjuk bunga, Haruka menunjukan sisi lugu nya, dimana mulut nya terbuka setengah dengan wajah raut lugu, membuat nya sangat imut.


Haruka kecil, sangat lah imut ditambah dengan paras nya yang cantik, yah walau beberapa tahun yaitu 8 tahun, dimana dirinya baru menginjaki kelas 1 bersama ku, tetap dapat tertebak kalau beberapa tahun lagi wajah Haruka akan sangat lah cantik.


"Owhh, ini.. Ini nama nya bunga mawar.. Kamu tahu tidak, kenapa bunga mawar ini berwarna putih?" Tanya ku yang saat itu masih kecil.


"Entah, memang kenapa?" Tanya Haruka kebingungan.


"Entah lah, aku juga tidak tahu.. Hehehe.." Ucap ku sambil mengaruk kan kepala ku yang tidak gatal.


"Huh, gak lucu.." Ucap Haruka mengembung kan pipinya sembari menyilang kan tangan nya.


"Ehemm.. Munkin akibat kamu terlalu cantik, jadi yah bunga nya tertular kecantikan mu, membuat bunga ini sangat cantik.. Munkin kalau diriku ingin menemui mu, aku dapat melihat mu di bunga ini.." Ucap ku mengusapi bunga mawar itu, sembari menunjukan wajah yang senang.

__ADS_1


Aku melihat Haruka membalikan wajah nya berlawanan dengan wajah ku, seperti nya dia sangat malu? entah lah, karna diriku tidak mengetahui apa yang ia lakukan. Beberapa saat kemudian Haruka pun mengembalikan wajah nya ke hadapan ku, walau tertunduk.


"Terimakasih.." Guman Haruka sangat pelan.


Aku yang tidak bisa mendengar membuat ku penasaran, untung aku dapat membaca gerakan bibir. Aku mendengar Haruka berterima kasih membuat ku merona merah. Yah walau aku mendapat kan terima kasih darinya, tetap diriku tidak bisa menahan diriku memerah.


Tak terasa waktu sudah mulai gelap, diriku lalu membawa Haruka bermain di rumah ku. Yah ayah nya Haruka tahu kalau Haruka akan bermain sebentar dengan ku, membuat dirinya lebih tenang. Dan saat itu ayah Haruka dan Ayah, Ibu ku mengadakan rapat bersama orang lain nya di tempat khusus.


Beberapa tahun pun berlalu, sekarang kami baru menginjaki kelas 5, dimana aku sedang dirumah bersama ayah ibu ku. Aku, sangat lah mengantuk sekali, membuat ku tertidur di tengah Ayah dan Ibuku. Aku tertidur lelap, sampai tidak menyadari kalau diluar sangat lah ribut.


Yah munkin karna kemarin kurang tidur, membuat ku jadi sangat mengantuk. Jam 11:47 malam, dimana awal penyerangan dimulai, terdengar suara ledakan demi ledakan, tembakan demi tembakan terdengar diluar, dan tetap, aku masih tertidur lelap.


Ibuku, dia membawa senjata P90, pistol kaliber 7,54 mm, membawa pisau di kaki serta tangan dan memakai armor terdapat saku yang terisi peluru. Mereka membawa ku ke tempat ruang bawah tanah, dimana jalan darurat mengarah ke hutan. Disana juga terdapat ruang gua dimana tersisi banyak sekali senjata dan tempat tidur, perawatan serta lain - lain.


Ibu ku menyimpan ku di tempat tidur dan meninggal kan ku sendiri di sini. Ibu ku berhenti sejenak memandangi ku lama lalu mencium kening ku. Ayah ku bertanya pada Ibu ku apa dia sudah selesai, mereka pun meningal kan ku disana lalu menutup pintu itu yang di mana di bawah kasur.


Dengan cepat mereka berlari ke arah Haruka, dimana mereka harus menjaga anak dari bos nya itu. 1 jam berlalu, di luar, bukan nya semakin mengecil, malah semakin membesar suara ledakan dan tembakan, membuat ku terbangun. Bukan karna suara, aku merasakan haus darah yang sangat kental, walau sangat jauh tetap aku dapat merasakan nya.

__ADS_1


Haus darah, suatu aura merah kebenciam serta kemarahan. Di dunia ini, terdapat yang nama nya Haus Darah, dimana semua orang memiliki nya. Dan saat ini, itulah yang kurasakan. Aku pernah merasakan haua darah dan aku juga mengenal haus darah milik siapa ini. Dulu, seorang pria berumur 30 tahun lebih, marah entah kenapa, tetapi dirinya tidak bisa mengontrol marah nya, membuat dirinya sedikit mengeluar kan nya.


Aku yang masih kecil merasakan haus darah, membuat diriku pingsan, bahkan diriku hampir mati tidak bisa bernafas. Walau hanya 10% yang di keluar kan, tetap kalau anak yang masih 10 kebawah merasakan haus darah, bahkan belum pernah merasakan haus darah membuat 75% anka kematian sangat lah besar.


Dan ya, Kei dapat bertahan sampai tidak mati, untung nya orang yang mengeluar kan haus darah itu keluar dari balik pintu, menunjukan seorang paruh baya, Forugi, Forugi Gilfari. Dia adalah orang yang mengeluar kan haus darah sekaligus ayah dari Haruka.


Ayah Haruka pun sontak kaget lalu memasukan haus darah nya, lalu membawa ku ke rumah sakit untuk diperiksa. Dan saat itu, aku jadi trauma dengan hal kemarin, membuat ku takut ketika bersama ayah Haruka. Ayah Haruka, tentu sadar dan bersalah, lalu pergi ke ayah dan ibuku untuk memberitahu kan aku ada di rumah sakit.


Tentu saja Ayah dan Ibuku memarahai Ayah Haruka, walau Ayah Haruka adalah bos nya, tetap mereka adalah teman seperjuangan di saat masa muda, tak luput dengan Ibu haruka. Sekarang, mereka memarahi Ayah Haruka, membuat Ayah Haruka menundukan berkali - kali ke ayah ibu ku.


Kei, yang sekarang akan terus mengingat haus darah milik Ayah Haruka, membuat membekas di kepala nya sampai kapan pun.


*** Kembali ke alur cerita.


Sekarang, aku di ingat kan kembali dengan Aura milik Ayah Haruka, membuatku bergidik, tetapi karna sudah pernah merasakan nya langsung, sekarang dirku 30% kebal terhadap aura milik Ayah Haruka, membuat diriku dapat berdiri, tetapi tetap nafas serasa sesak.


Semakin lama aku merasakan nya, semakin bisa aku mengontrol intimidasi milik Ayah Haruka, membuat diriku menjadi bisa bernafas lega. Sekarang aura milik Ayah Haruka akan menghilang 3% per menit, membuat ku menjadi senang dan lebih pokus untuk dapat menetralisir aura itu.

__ADS_1


Sekarang sudah 80% menghilang, membuat ku dapat berpikir sebentar. Dan sekarang aku sudah menyadari kalau Ayah dan Ibuku sudah tidak ada disana, dan ia pun menyadari kalau dirinya di tempat ruang bawah tanah. Ayah ku pernah memberitahu ku kalau di rumah ini terdapat ruang bawah tanah, dan sekarang tempat ini pun terpakai juga.


__ADS_2