
..."Sekuat apa pun kamu menjauh, aku akan tetap menggapaimu sampai kamu lelah dan menerima diriku."...
...~~~...
"Apa dia menolakku? Sungguh, tidak dapat dipercaya," gumam Iklima dengan hati yang masih serba salah.
Meskipun begitu, Iklima mengatakan itu kepada Hadwan hanya untuk memenuhi syarat dari Naina, tapi setelah mendapatkan penolakan dari Hadwan. Iklima menjadi sangat tertarik untuk lebih jauh mengenal Hadwan.
Laki-laki yang dimaksud oleh Iklima itu, sekarang sedang berada di maja baca. Tangannya memegangi sebuah buku yang tadi sempat diambilnya.
Walaupun sedang membaca buku, Hadwan tetap sama. Dia tiadak pernah bergabung dengan banyak orang, Hadwan lebih memilih duduk di kursi yang masih kosong.
Iklima melihat itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya heran. Laki-laki yang sangat berbeda dari yang lain.
Dengan rasa ingin tahunya yang besar. Iklima dengan keberaniannya, berjalan menghampiri Hadwan, dan langsung duduk di hadapan laki-laki tersebut.
"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Iklima. Meskipun baru saja ditolak oleh Hadwan, ia tidak merasa malu untuk kembali mendekatinya lagi.
Hadwan meliriknya sekilas, dan kembali membaca buku yang berada di tangannya.
Merasa diabaikan oleh Hadwan, Iklima sengaja duduk di kursi yang berhadapan dengan Hadwan, karena ia juga tahu kalau laki-laki itu sangat terjaga, dan tidak mau berdekatan dengan seorang wanita.
Walaupun belum mendapatkan jawaban dari Hadwan, gadis itu tetap berada di sana sembari memandangi pria di hadapannya yang sedang membaca buku.
Dengan sikap Iklima yang seperti itu membuat Hadwan merasa tidak tenang, dan tidak baik juga bersama seorang wanita dalam waktu cukup lama. Apalagi Iklima terus memandangi dirinya, sehingga membuat Hadwan kembali menatap sekilas wajah gadis itu.
"Apa kamu mau terus-terusan menatapku seperti itu?" tanya Hadwan dengan menundukkan kepalanya.
Iklima yang sedang asik memandangi wajah laki-laki di hadapannya itu, sontak kaget dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Hadwan. Dia hanya bisa diam saja menahan rasa malu, dan hati yang tidak karuan.
__ADS_1
"Apa maksudmu ke sini hanya untuk diam saja? Jika itu benar, lebih baik kamu pindah ke tempat lain saja, karena saya tidak memerlukan kamu untuk membaca buku ini," ucap Hadwan kembali, dengan wajah yang sangat datar dan dingin.
"A--aku ... aku juga ingin membaca buku," jawab Iklima terbata sembari membuka buka yang sempat dibawanya tadi.
Hadwan menaikan alisnya heran. "Kenapa tidak sedari tadi saja membacanya?" tanya Hadwan, dan berhasil membuat Iklima merasakan ketegangan kembali.
"Ini mau baca kok," jawab Iklima. Dia nampak sibuk membuka lembaran buku yang hanya berisikan rumus matematika saja.
Hadwan menatap aneh kepada gadis tersebut, dengan pikiran yang kembali timbul pertanyaan.
"Apa kamu terbiasa membaca buku matematika di waktu senggang seperti ini?" tanya Hadwan, dan kembali mengucapkan sesuatu, "Baru kali ini aku melihat gadis sepertimu yang sangat senang membaca rumus matematika di jam istirahat."
Iklima merasa heran dengan semua pertanyaan dan ucapan yang baru saja Hadwan lontarkan. Lantas, ia pun melihat judul buku yang hendak dibacanya.
Wajah gadis cantik itu berubah menjadi merah merona, merasa malu dengan apa yang diperbuatnya barusan. Bagaimana bisa ia sampai salah mengambil sebuah buku? Dan itu sangat memalukan.
"Aku salah bawa buku ...," cicit Iklima yang membuatnya semakin menggemaskan.
Bukan karena banyak masalah, tetapi Hadwan memang sudah seperti itu dari semenjak masuk SMAN Galaksi, sehingga sangat jarang ada yang mau berteman dekat dengannya, walaupun dia sangat pintar.
Hadwan hanya menggelengkan kepalanya pelan, dan kembali membaca buku yang berada di tangannya.
Tidak lama dari itu, Iklima masih berada di sana seketika merasa sangat bosan, dan setelah perbincangan tadi, Hadwan tidak kembali mengeluarkan kata-kata sehingga membuat Iklima merasa diacuhkan. Walaupun demikian, ia sendiri yang tetap mau berada di sana, sedangkan Hadwan tidak menyuruhnya.
Hadwan yang sudah mengetahui hukum, ia hanya berusaha untuk tidak dekat dengan wanita, dan untungnya pada saat itu masih banyak orang di perpustakaan, sehingga Hadwan tidak merasa khawatir berduaan dengan Iklima.
Berapa menit kemudian, di Perpustakaan mulai banyak yang keluar dari sana, dan hampir menyisakan beberapa orang saja. Melihat itu, Hadwan langsung beranjak dari tempat duduknya, dan menyimpan buku yang telah selesai dibacanya.
Iklima dengan tenang, melihat Hadwan yang mulai melangkah meninggalkan Perpustakaan tersebut. Maka dari itu, ia pun langsung mengikutinya, bagaikan seorang bodyguard.
__ADS_1
Lama kelamaan, Hadwan menyadari jika Iklima yang sedari tadi mengikutinya. Lantas Hadwan berhenti dan bertanya, "Kenapa kamu mengikuti saya?"
Kali ini Iklima mulai berani mendekati Hadwan, sedangkan pria tersebut hanya bisa menjaga jaraknya dari Iklima.
"Bisakah kamu membantuku?" tanya Iklima dengan tidak yakin.
"Bantu apa?" Hadwan malah kembali bertanya.
"Bisakah kamu menjadi pacar pura-puraku dalam satu minggu ini? Aku siap membayar kamu berapa pun, asalkan kamu mau menerima tawaran dariku." Iklima menatap serius Hadwan, dengan tangan yang dilipat di atas perut.
"Maaf, saya tidak bisa! Dan perlu kamu tahu, saya tidak pernah mau menerima tawaran yang seperti itu, walaupun saya sangat membutuhkannya," jawab Hadwan dan langsung melenggang pergi dari hadapan Iklima.
Gadis berparas cantik itu mengeratkan kepalan tangannya dengan sangat kuat, ia merasa tertampar oleh jawaban dari pemuda tadi.
Bagaikan disambar petir, Iklima sangat merasa bersalah kepada Hadwan. Dia telah melakukan hal yang sangat konyol, sehingga membuat Hadwan menolak keras tawarannya.
Sebelum itu, Iklima sudah menduga bahwa akan jadi seperti ini, tapi ia tetap melakukan itu untuk busa membuat Naina senang. Akan tetapi, tanpa disadari olehnya, hal itu sangat merendahkan harga diri Hadwan.
"Apa yang baru saja aku lakukan? Sangat menyebalkan! Andai saja tadi aku tidak jadi mengatakan itu, mungkin kini Hadwan tidak akan marah seperti tadii," keluh Iklima. Dia menyesali semua perkataannya terhadap Hadwan.
Beruntungnya di sana tidak banyak orang, sehingga tidak ada yang mendengarkan dan melihat yang baru saja terjadi di antara mereka berdua.
Tidak lama dari itu, Iklima hendak menyusul Hadwan dan meminta maaf kepadanya. Namun, niatnya diurungkan karena Wardah dan Naina tiba-tiba saja datang menghampiri Iklima.
"Iklima, kamu sedang apa di sini?" tanya Wardah penasaran.
"Tidak sedang apa-apa, cuman baru saja keluar dari Perpustakaan," jawab Iklima sembari tersenyum, walaupun hatinya masih tidak tenang.
"Oh gitu. Ya udah, kita ke kelas saja," ajak Wardah kepadanya.
__ADS_1
"Iya, ayo ...," balas Iklima, dengan terpaksa ia mengurunkan niat awalnya untuk menyusul Hadwan, dan pergi bersama kedua sahabatnya.