
..."Menjauhimu untuk menjaga, menati untuk kembali, dan menehan rindu yang semakin menggebu sampai bersatu di dalam ikrar cinta bersamamu."...
...~~~...
Seorang laki-laki dengan celana jens dan baju kemeja kotak-kotak panjang yang dilipatkan sebatas lengan itu terlihat menggadeng sebuah koper di belakangnya. Pesawat yang ditumpangi pemuda itu sudah mendarat di Bandara Inernasioal Soekarno Hatta, Jakarta. Ya, sekarang Hadwan telah sampai di negri tercintanya, Indonesia. Itupun setelah menetap cukup lama di negara Amerika Serikat.
Hadwan langsung meminta supir membawakan kopernya ke mobil, sedangkan ia masih berdiri dan menatap susana yang ramai itu dengan senyuman.
"Aku kembali Iklima Karomatun Nazwa sesuai dengan janjiku," ucap Hadwan yang kemudian menyusul supirnya tadi. Pria itu pun bergegas masuk ke dalam mobil dan tak sabar ingin bertemu dengan kakaknya kembali, terutama dengan seseorang yang selama lima tahun ini menetap di dalam hatinya dan tak pernah terganti.
Dillihatnya jam dari tangannya yang sudah menunjukan pukul sebelas siang, Hadwan pun lanngsung meminta supirnya untuk mengantarkannya ke restoran milik Anisa dan dirinya, sebab ia sudah menduga bahwa jam segini kakaknya itu pasti sedang berada di restoran.
Kini laki-laki yang bernama Hadwan Harsa Harya itu sudah berhasil menyandang gelar dokter spesialis bedah dalam janngka waktu lima tahun. Begitu cepat bagi seorang Hadwan untuk menyelesaikan studinya di Amerika dengan gelar sarjana kedokteran. Bahkan teman-temannya masih banyak yang belum selesai dengan kuliahnya, Saras pun belum menyelesaikan kuliahnya dan Hadwan sudah lebih dulu selesai, sehingga membuat pria itu bisa pulang jauh lebih awal dari yang dikatakannya kepada Anisa.
Dia mengatakan akan kembali ke indonisa setelah delapan tahun di Amerika. Akan tetapi, ia malah sudah kembali setelah lima tahun di Amerika dan tepatnya tahun ini, hari ini, dan pada saat ini Hadwan sudah kembali menginjakan kakinya di tanah Indonesia dan dalam perjalanan pulang, sampai berjumpa kembali dengan kakak perempuannya.
Dengan sengaja pula Hadwan tidak memberitahukan, ataupun mengabari Anisa bahwa hari ini ia akan kembali ke Indonesia. Dia ingin memberikan kakaknya kejutan atas semua yang telah digapai olehnya selama lima tahun belajar di Amerika.
Kesulitan dan kesenangan Hadwan telah melalui semuannya dan hari ini adalah hari keberhasilannya, hasil dari perjuanganya yang hanya dengan bantuan beasiswa dan berbekal doa serta ridha dari kakaknya.
Setelah setengah jam menempuh perjalan yang padat dengan kendaraan, akhirnya Hadwan pun telah sampai di depan restoran yang dulu dikelola olehnya bersama kakaknya.
Terlihat semakin ramai sampai Hadwan pun melukiskan senyuman dibibirnya, pertanda bahwa ia sangat senang dengan keberhasilan kakaknya yang sudah sangat baik menhelola restoran peninggalan kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Perlahan Hadwan mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam restoran tersebut. Seketika juga suama pasang mata yang berada di restoran itu menatap kagum kepada Hadwan, semua pada membicarakan dirinya dengan kata-kata dan berbagai pujian untuk bisa menarik perhatian Hadwan. Namun, sangat disayangkan Hadwan tidak sama sekali melirik para wanita tersebut dan malah fokus ke depan.
Sampai di depan meja pemesanan, Hadwan pun bekata, "Ehem, coklat susunya satu."
"Iya sebentar ya Mas, saya bauatkan dulu," jawab Anisa yang seketika berbalik menghadap laki-laki itu. Namun, ia hanya menatap sekilas saja tanpa merasa curiga sama sekali karena Hadwan memakai kaca mata hitam, sehingga membuat Anisa tidak mengenalinya.
"Baiklah, saya tunggu di meja sebelah sana," ucap Hadwan yang langsung diangguki oleh Anisa.
Laki-laki yang bertubuh tinggi itu pun berjalan ke arah kanan dan menduduki kursi yang kosong. Melihat Hadwan yang duduk sendiri itu, menuai pujian dan keneranian wanita-wanita yang ada di sana tertarik untuk mendekati Hadwan, walaupun sekedar berkenalan saja. Namun, hal itu tidak direspon oleh Hadwan dan hanya maaf yang keluar dari mulutnya.
"Hai, saya boleh duduk bersamamu?" tanya seorang wanita cantik dengan pakain yang sangat menggoda.
"Maaf, saya hanya mau sendiri," tolak Hadwan yang seketika membuat gadis itu merasa kesal dan pergi meniggalkannya begitu saja.
Meraka tidak tahu saja kalau laki-laki yang digoda dan didekatinya itu adalah adik dari pemilik restoran yang terkenal ini. Bahkan sangat sulit untuk memdapatkan perhatian dan hatinya.
Sampai beberapa menit kemudian, Anisa pun membawakan pesanan dari Hadwan dan dengan sangat ramah wanita itu meletakannya di meja depan pria itu.
"Mas ini coklat susunya, selamat menikmati dan semoga suka," ucap Anisa setelah meletakan secangkir coklat susu itu.
"Iya, tapi tunggu sebentar." Hadwan menghentikan langkah Anisa yang hendak pergi meninnggalkannya.
"Iya, ada apa Mas? Apa ada yang masih diperlukan, atau ada yang kurang? Biar kami segera melayaninya dengan sangat baik," ucap Anisa dengan panjang lebar, seperti pada pelanggan lainnya.
__ADS_1
"Oh, tidak ada. Saya hanya ingin berbicara denganmu sebentar, bisa?" tanya Hadwan pada Anisa yang kelihatannya sedikit ragu.
"I--iya, baiklah." Anisa pun duduk berhadapan dengan pria itu yang tidak lain ia adalah Hadwan, adiknya sendiri.
Setelah melihat Anisa duduk, Hadwan pun mulai melontarkan pertanyaan kepadanya. "Apakah kamu mengenaliku?"
Anisa pun langsung menjawab, "Tidak, saya tidak mengenalmu."
"Apa kamu yakin dengan jawabanmu itu?" tanya Hadwan kembali yang ternyata masih memakai kaca matanya.
Setelah mendengar pertanyaan kedua dari laki-laki itu, sedikit membuat Anisa tertarik menatap wajahnya dengan cukup lama.
"Sepertinya saya tidak asing denganmu, tapi saya tidak mengenalimu. Apakah kita pernah ketemu?" tanya Anisa. Kali ini ia mulai menhenali pemuda itu.
"Tentu saja, kita pernah ketemu. Bahkan sangat sering bersama karena aku adalah ...." Hadwan menggantungkan ucapannya, lalu ia pun mulai membuka kaca mata hitamnya yang sedari tadi bertenggar di hidungnya yang mancung.
Anisa yang melihat itu hanya terdiam saja dengan apa yang dilakukan oleh pria di hadapannya itu. Dan bertapa terkejutnya Anisa di saat milihat wajah pria itu dengan tanpa menggunakan kaca mata.
"Hadwan, kamu adikku?" ungkap Anisa yang seakan tidak menyangka dan sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya pada saat ini.
Hadwan pun mengangaggukan kepalanya langsung, sebagai jawabannya.
Anisa dengan sangat bahagia langsung memeluk tubuh adiknya itu dengan perasaan haru bercampur bahagia. Tanpa disadari olehnya, air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk mata indahnya karena saking senangnya.
__ADS_1
Hadwan pun tidak berkutik apa pun, ia juga sangat senang bisa bertemu dan memeluk kakaknya kembali. Lima tahun tidak bertemu, itu sangat lama, sehingga membuat keduanya sangat rindu dan pada hari ini semua itu kembali dirasakannya. Hangatnya pelukan seorang kakak dan senyum yang mampu membuat keduanya sangat bahagia.