
..."Penolakan bukan berarti sebuah kekalahan, karena dari situlah aku belajar untuk mendapatkan dirimu dengan kesungguhan."...
...~~~...
"Iklima, coba lihat Hadwan. Aku penasaran sama dia. Kira-kira, siapa ya yang bisa mendekatinya? Kalau tidak aneh, aku juga akan tertarik," ujar Naina dengan jari telunjuk yang ditempelkan di pipinya.
"Enggak tahu, tapi pasti ada," jawab Iklima, padahal dirinya juga sangat penasaran dengan Hadwan.
"Eh, bagaimana kolo kita coba deketin dia. Mungkin Hadwan juga akan tertarik kepada salah satu dari kita," usul Naina yang seketika membuat Iklima dan Wardah menatapnya tidak percaya.
"Nai, kamu ini apa-apaan sih? Jangan gitu deh, enggak baik juga. Mana ada, orang lain mau dijadin ajang permainan!" tegur Wardah yang tidak menyukai usul dari Naina.
"Tapi, Wardah. Dia itu sangat aneh. Jadi, kan bikin aku penasaran," seru Naina dengan bibir yang berkerucut.
"Sudah, tidak papa, Wardah. Turuti saja dulu, Naina memang gitu," ujar Iklima menenangkan suasana.
"Tapi Iklima, semua itu tidak bener. Tidak baik juga," kata Wardah dengan sedikit merendahkan suaranya.
"Sudah, tidak papa ya. Nanti kita bicarakan lagi," ucap Iklima sembari berjalan kembali dengan kedua sahabatnya.
Wardah dan Naina menyetujui ucapan dari Iklima, dan segera melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kelas.
Sesampainya mereka bertiga di dalam kelas, Iklima dan Wardah menatap tajam Naina seakan meminta penjelasan.
"Nai, kamu tarik saja deh ucapan yang tadi itu. Tidak baik juga untuk persahabatan kita,"ujar Wardah, masoh dengan pendiriannya.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat." Naina tersenyum melihat reaksi dari kedua temannya.
"Syarat apa maksud kamu, Nai?" tanya Iklima. Dia terlihat kewalahan dengan permasalahan ini.
__ADS_1
"Aku mau Iklima yang deketin Hadwan, kalau enggak. Aku tetap lanjutin hal tadi," ucap Naina. Gadis itu sudah membuat Iklima terperanjat kaget.
"Apa? Semua itu tidak mungkin terjadi, Nai! Jangankan Hadwan, Danel saja sampai sekarang belum diterima oleh Iklima, apalagi Hadwan," protes Wardah yang tidak mau teejadi sesuatu kepada Iklima.
"Maka dari itu, aku mau melihat Iklima berpacaran dengan Hadwan." Naina tetap kepada pendiriannya.
"Nai!" Belum sempat Wardah melanjutkan ucapannya, Iklima susah lebih dulu menghentikannya.
"Sudah jangan berdebat lagi! Tidak papa, Iklima terima syarat dari Naina," ucap Iklima dengan penuh yakin.
Walaupun tidak diminta, Iklima akan melakukannya karena ia sudah mulai tertarik oleh sosok Hadwan.
"Iklima, apa yang kamu lakukan? Jangan begitu, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!" tegas Wardah.
"Sudah tidak papa. Aku juga tidak masalah asalkan enggak berbihan," balas Iklima sembari tersenyum tipis.
"Tuh kan, Iklima juga mau nerima syaratnya," ucap Naina yang langsung memeluk Iklima.
"Sudah ya, jangan marsh-marah lagi! Kasihan tuh, Wardah jadi gitu," kata Iklima, sedangkan Wardah. Dia masih saja belum mau berdamai dengan Naina.
Naina yang lama-lama merasa bersalah kepada Wardah, ia langsung saja meminta maaf lebih dulu.
"Maafkan aku Wardah, aku janji tidak akan lakukan itu lagi!" ucap Naina dan berhasil membuat Wardah kembali lagi tersenyum.
"Serius ya? Jangan buat persahabat kita bertiga jadi gini lagi." Wardah menatap wajah Naina dengan jarak yang begitu dekat.
"Iya," balas Naina dengan senyumnya yang manis.
Lantas, meraka berdua pun berpelukan, sedangkan Iklima hanya melihatnya dengan sangat bahagia. Walaupun demikian, Wardah dan Naina sering sekali berdebat, tetapi meraka berdua mudah sekali berdamai, mau sebesar apa pun masalahnya.
__ADS_1
***
Jam istirahat sudah berbunyi. Iklima kebetulan hari ini ada buku yang perlu dipelajarinya, sehingga membuat ia pergi ke perpustakaan untuk mengambil buku tersebut. Namun, hal yang tak terduga terjadi di sana.
Pada saat memilih buku di rak buku yang ada di perpustakaan. Tanpa disengaja, kedua bolq mata Iklima menatap dalam Hadwan yang berpaspasan berada di rak buku yang sama.
"Hadwan? Kamu juga ada di sini?" tanys Iklima dengan gugup.
"Jika aku di sini, berarti sedang apa?" Hadwan malah balik bertanya.
"Sedang mencari buku," jawab Iklima dengan polosnya.
"Itu tahu, kenapa masih saja nanya?" Hadwan dengan wajah dinginnya mengambil satu buku yang sedari tadi dicarinya.
Iklima tersenyum malu, mungkin sangat malu. Baru kali ini ada siswa yang bersikap dingin seperti itu terhadap Iklima
Namun, Iklima tahu. Hadwan bukan laki-laki yang berandalan, karena dia sangat berbeda dari yang lainnya.
Di saat Hadwan akan pergi dari hadapan Iklima. Dengan segera, Iklima menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" Iklima membuat Hadwan menghentikan langkahnya.
"Mau apa?" tanya Hadwan dingin.
"Emm ... bolohkan aku menjadi pacarmu?" ungkap Iklima dengan memejamkan matanya sejenak untuk mengstabilkan rasa gugupnya yang disertai rasa malu.
Hadwan tidak bereaksi apa pun, dia hanya diam saja dengan ekpresi yang masih sama, dingin dan cuek sehingga membuat Iklima merasa malu mengatakan hal itu.
"Maaf, untuk itu saya tidak bisa," jawab Hadwan dan melengang pergi dari hadapan Iklima.
__ADS_1
Gadis catik itu menatap tidak percaya, dengan penolakan yang baru saja Hadwan lontarkan kepadanya.