Hadwan

Hadwan
Bab 17 : Kerusuhan


__ADS_3

..."Di balik sikapmu, aku menemukan kesempurnaan. Dan lebih lama mengenalmu, aku mulai belajar bahwa tidak semua yang dilihat itu seburuk yang orang lain kira."...


...~~~...


Di sebuah kamar, gadis cantik yang bernama Iklima itu terlihat ragu untuk berpakaian tertutup ke sekolah, tapi setelah dipikirkan kembali, ia mulai yakin bahwa yang dilakukannya itu tidaklah salah. Pada akhirnya, Iklima memutuskan untuk tetep menggunakan hijab ke sekolah meskipun kelak akan menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-temannya di sekolah.


Iklima tersenyum menatap pantulan dirinya dari balik cermin besar. "Apa pun yang terjadi, aku akan tetap menggunakannya walaupun mendapatkan kritik dari banyak orang," ucap Iklima yakin.


Setelah itu, Iklima menuruni tangga dan akan menghampiri orang tuanya. Terlihat kedua orang tua Iklima sedang sarapan pagi, lantas gadis itu pun ikut bergabung. Dan setelah sarapan, Iklima langsung saja berpamitan kepada mamanya.


"Ma, Iklima pamit berangkat ke sekolah dulu ya," ucap Iklima sembari mencium punggung tangan Mama Nadira.


"Jaga diri baik-baik ya dan hati-hati di jalannya," ucap Mama Nadira dengan mengelus lembut kepala Iklima yang ditutupi oleh hujab putih.


"Baik, Ma." Iklima langsung menghampiri ayahnya yang sudah berada di samping mobil.


Pada saat Iklima sudah berada di dalam mobil, ia langsung melambaikan tangannya kepada Mama Nadira dan dibalas senyuman oleh mamanya. Mobil pun melenggang pergi dari halaman rumah.


Lima belas menit kemudian, Iklima sudah sampai di sekolah SMAN Galaksi. Begitu cepat karena jalanan tidak terlalu macet seperti biasanya.


"Iklima, nanti pulangnya mungkin Ayah tidak bisa menjemputmu karena ada pekerjaan lebih yang mungkin pulangnya akan sedikit terlambat. Jadi, kamu pulangnya naik taksi saja ya," ucap Ayah Adam pada putrinya.


"Baik, Ayah. Iklima pamit belajar dulu," ujar Iklima soraya mencium punggung tangan ayahnya.


"Belajar yang rajin ya," ucap Ayah Adam sebelum kembali masuk ke dalam mobil.


"Iya, Ayah." Iklima berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah dengan semangat karena hari ini merupakan hari pertama Iklima menggunakan hijab ke sekolah.


Tatapan para siswa tiba-tiba saja tertuju kepada Iklima yang berjalan santai, sedangkan Daniel dan kawan-kawannya baru saja datang dan kaget melihat Iklima yang merubah penampilannya. Bukan karena kurang menarik, tapi jadi semakin bertambah cantik, maka tidak diragukan lagi jika Daniel akan semakin mendekati Iklima.


"Dan, lihat ke sana," seru Ragil yang sedang duduk santai di tangga dekat kelas sebelas.


"Ada apa?" tanya Daniel dengan wajah sedikit menyeramkan.


"Itu beneran Iklima, kan? Cantik banget," ucap Ragil yang semakin membuat Daniel ingin segera melihatnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Daniel mengalihkan pandangannya ke arah Iklima. Benar saja, Iklima terlihat sangat cantik dan Daniel semakin gencar melihatnya. Apalagi mendengar temannya sendiri memuji kecantikan wanita pujaannya.


Di saat Iklima hendak melewati Daniel dan temannya, seketika jalannya terhenti karena dihalangi oleh Daniel yang sengaja ingin mendekatinya dengan berbagai cara.


"Hai, Iklima. Kali ini penampilanmu berbeda, ada apakah denganmu?" Daniel tersenyum kepada Iklima.


"Enggak ada urusannya denganmu. Jadi, tolong biarkan aku pergi dari sini," pinta Iklima dengan nada yang masih ramah.


"Enggak bisa kayak gitu, sayang. Aku adalah pacarmu, semua yang kamu lakukan aku harus mengetahuinya," ujar Daniel ngaku-ngaku.


"Udah deh, Daniel. Aku itu bukan pacarmu! Jadi, kamu enggak perlu ikut campur tetang diriku," tegas Iklima yang membuat Daniel semakin tertarik untuk mendapatkannya.


"Jangan galak-galak dong, nanti cantiknya berkurang," ucap Daniel yang tanpa meminta izin mengarahkan tangannya ke wajah Iklima dan hendak mengusapnya, tapi langsung ditepis oleh gadis itu.


"Jangan coba macam-macam denganku!" Iklima memberikan tatapan tajam kepada Daniel.


"Aku juga tidak akan segan-segan mendekatimu," ujar Daniel tanpa merasa takut terhadap Iklima.


"Sudahlah, jangan ganggu aku lagi." Iklima mencoba menerobos tubuh Daniel dan temannya yang menghalangi jalannya.


"Aku tidak akan pernah mau menjadi pacarmu!" ucap Iklima dengan kesal.


Iklima yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Daniel, ia pun dengan sedikit nekad ingin menerobos pertahanan Daniel yang menghalangi jalannya untuk masuk kelas.


"Mau ke mana, Iklima? Meskipun kamu menolakku, aku tidak akan diam saja," ucap Daniel soraya menggenggam erat tangan Iklima.


Gadis cantik itu mengeluh kesakitan karena genggaman tangan Daniel yang sangat erat, membuatnya tidak bisa melakukan apa pun selain meminta pertolongan dari orang-orang.


Walaupun banyak orang yang melihat aksi Daniel terhadap Iklima, tidak ada yang berani membantu Iklima karena pengaruh Daniel sangat besar di sekolah itu.


"Hiks, lepaskan tanganku, Daniel. Kamu jahat! Aku semakin tidak menyukaimu," kata Iklima dengan derai air mata yang merembes keluar dari kedua bola mata indahnya.


"Jika kamu mengatakan itu lagi, aku tidak akan melepaskanmu!" ancam Daniel dengan sorot mata yang sangat tajam. Sekarang ia sedang tersulut emosi yang menggebu.


Iklima semakin meringis kesakitan dengan sikap Daniel yang sudah tidak wajar dan sangat menyakitinya.

__ADS_1


Dari kejauhan, seorang laki-laki tiba-tiba saja datang menghampiri Iklima. Tanpa merasa takut, dia langsung menghadapi Daniel.


"Lepaskan dia! Jangan sakiti perempuan jika anda masih ingin disebut sebagai seorang laki-laki," ucap Hadwan dengan tatapan yang sanggat dalam menatap wajah Daniel.


"Cih! Orang sepertimu tidak sebanding denganku, tidak ada hak bagi lo untuk ikut campur urusan kita," kata Daniel dengan angkuhnya.


"Gue bukan siapa-siapa bagi lo, tapi jika menyangkut seorang wanita. Aku tidak akan segan-segan berhadapan denganmu!" jawab Hadwan dengan sorot mata yang tajam.


"Lo siapa? Jangan berani macam-macam dengan Daniel jika masih ingin sekolah di sini," ujar Ragil dengan senyum sinisnya.


"Ya, mendingan kamu pergi aja dari sini, biar Iklima aman bersamaku," ucap Daniel soraya melirik Iklima yang sedikit ketakutan.


Hadwan yang sangat tidak suka dengan perlakuan Daniel terhadap Iklima, membuatnya kembali mendekati Daniel.


"Jangan coba macam-macam dengannya," ucap Hadwan yang langsung membuat Daniel menarik kerah bajunya.


"Sekali lagi saya ingatkan. Jangan sekali lagi ikut campur urusan gue jika masih ingin berada di sekolah ini!" ancam Daniel dengan tatapan seperti elang yang ingin mencengkeram mangsanya.


Mendapatkan ancaman seperti itu, Hadwan masih bersikap tenang dan tidak merasa takut sedikit pun, dia malah kembali menatap Iklima. Gadis itu membalas menatapnya dengan sendu.


"Daniel, lepaskan Kak Hadwan. Jangan sakiti dia, dia tidak bersalah." Iklima mendekati Daniel dan menyuruhnya untuk kembali membereskan urusannya.


Setelah Daniel melepaskan Hadwan, lantas dengan santainya Hadwan menggandeng tangan Iklima untuk pergi dari sana. Hal itu membuat Daniel marah besar dan langsung meninju Hadwan dari belakang.


"Jangan berani menyentuh perempuanku!" tegas Daniel yang membuat Hadwan hilang kendali dan tersungkur ke lantai karena ulah Daniel.


Namun, kali ini Hadwan tidak diam saja, dia melawan Daniel. Melihat keributan itu, salah satu siswa yang melihatnya langsung melaporkannya kepada pihak sekolah, sedangkan Iklima hanya bisa memohon untuk melepaskan Hadwan dari pemberontakan Daniel yang tidak wajar.


"Tolong hentikan, Daniel." Iklima memohon kepada Daniel dan mendekati Hadwan.


Tanpa disadari, perbuatan Iklima untuk menghentikan aksi Daniel itu membuatnya terkena pukulan dari tangan Daniel.


"Ah, hentikan!" Iklima memegang sebelah pipinya yang merah dan terlihat jelas ia sangat kesakitan.


"Iklima." Hadwan langsung mendekati Iklima dan segera membawanya ke ruang uks.

__ADS_1



__ADS_2