Hadwan

Hadwan
Bab 7 : Mulai mendekat


__ADS_3

..."Tidak butuh ungkapan untuk mendapatkannya, karena dia akan datang dengan keistimewaannya."...


...~~~...


Di koridor sekolah, Ikbal sengaja menanyakan tentang Iklima kepada Hadwan.


"Hadwan, ada hubungan apa kamu dengan Iklima?" tanya Ikbal yang mendapatkan tatapan dingin dari Hadwan.


"Tidak ada apa-apa," jawab Hadwan yang fokus dengan langkah kakinya.


"Jangan bohong deh. Lagi pula, tidak ada salahnya kalau kamu dekat dengan seorang wanita," ujar Ikbal yang memang selama kenal dengan Hadwan, ia tidak pernah melihat Hadwan dekat dengan seorang wanita, kecuali kakaknya.


Hadwan menghembuskan napasnya sejenak, dan menghentikan langkahnya. "Memang enggak ada salahnya, tapi itu tidak baik, karena bagaimanapun perempuan akan tetetap menjadi fitnah terbesar bagi laki-laki," jawab Hadwan dengan nada yang sedikit rendah, karena takut terdengar oleh banyak orang.


"Apa, fitnah? Lalu bagaimana itu bisa terjadi? Terus apa kamu tidak akan pernah mendekati wanita sampai kapan pun?" tanya Ikbal dengan kening yang berkerut.


"Bukan gitu, Bal. Dalam hadits Al-Bukhari sudah dijelaskan yang artinya, 'aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih besar bagi laki-laki selain dari perempuan, (HR Al-Bukhari)'. Hadits ini juga diriwayatkan beberapa imam hadits lainnya, yaitu Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah."


"Oh, gitu," balas Ikbal dan kembali berucap, "Wan, dia bukan wanita biasa loh. Gadis itu sudah terkenal di sekolah ini dengan kepintarannya, ditambah kecantikannya. Namun sayang, kamu tidak meresponnya, padahal dia sudah mulai mendekatimu."


Bukanya membalas ucapan dari Ikbal, Hadwan malah tidak penasaran dengannya, dan tetap berjalan lurus.


Untuk itu, Ikbal sangat diacuhkan, tetapi dia sudah biasa oleh sikap Hadwan yang tertutup.


Lantas, Ikbal pun segera mengikuti langkah Hadwan yang mulai menjauh


***


Waktu terus bergulir, dan tanpa terasa bel pulang sekolah berbunyi. Para siswa SMAN Galaksi mulai keluar dari dalam kelasnya, dan banyak juga yang sudah di luar kawasan sekolah.


Begitu pula dengan Hadwan, dia sudah keluar dari dalam kelas dan tanpa disadari olehnya, Iklima melihatnya dari kejauhan. Lantas, gadis yang disegani para kaum Adam itu menghampirinya.


"Iklima, kamu mau ke mana?" tanya Naina yang melihat Iklima berjalan ke arah Hadwan.


"Aku mau ke sana dulu, kalian duluan saja pulangnya," jawab Iklima yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Naina dan Wardah.


"Baiklah, kita duluan ya," ucap Wardah dan pergi dari hadapan Iklima.


Rasa penasaran yang sangat besar membuat Iklima ingin terus mencari tahu tentang Hadwan, walaupun sangat tidak ada manfaatnya.

__ADS_1


Iklima sengaja mengikuti Hadwan dari belakang, dan itu diketahui oleh Hadwan. Lantas, dia pun menoleh ke belakang. Namun, dia tidak melihat orang yang mengikutinya, karena Iklima bersembunyi di balik tembok yang tidak jauh dari tempatnya.


Merasa terus diikuti, Hadwan tanpa aba-aba membalikan tubuhnya, dan Iklima segera berpura-pura memainkan ponselnya.


"Saya tahu jika sedari tadi, kamu sedang mengikuti saya. Lalu, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Hadwan dingin.


Iklima terlonjak kaget, dan reflek menatap wajah tampan Hadwan yang mampu membuat hatinya berdetak lebih kencang, tidak seperti biasanya.


"Apa? Em ... enggak kok. Aku lagi nunggu Ayahku," sengkal Iklima yang tidak mau mengakuinya.


"Oh, baiklah. Maaf," ujar Hadwan dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Ih, kok gitu responnya? Ngeselin deh," gerutu Iklima. Niat ingin membuat Hedwan penasaran, malah kebalikannya.


Hadwan sudah menjauh dari hadapan Iklima, sehingga tidak mendengarkan gerutuan Iklima yang sedang sangat kesal.


Setelah melihat Hadwan menjauh, Iklima tidak diam saja. Dia tetep mengikuti laki-laki itu. Namun, di saat ingin mendekatinya, Ayah Adam menangil dirinya.


"Iklima," panggil Ayah Adam yang baru saja keluar dari mobil mewah.


"Ayah?" Iklima menoleh ke samping, dan ternyata benar, ada Ayah Adam yang memangilnya.


Iklima hanya tersenyum lebar saja menanggapi pertanyaan dari Ayah Adam.


"Kenapa enggak dijawab?" tanya kembali Ayah Adam yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Iklima.


"Enggak papa, Yah," jawab Iklima. Gadis itu langsung mencium punggung tangan ayahnya.


"Kalau begitu, ayo kita segera pulang. Mamamu sudah menunggu di rumah," ajak Ayah Adam sembari tersenyum yang di mana jarang banyak orang bisa melihatnya.


"Baik, Ayah." Senyum Iklima tidak pernah pudar jika sudah bersama dengan ayah dan mamanya, karena kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh kedua orangtuanya selalu membuat Iklima merasa lengkap.


Sesampainya mereka berdua di depan mobil. Ayah Adam dengan terletan membukakan pintu mobil untuk putri kesayangannya.


"Silakan masuk Tuan Putri," ucap Ayah Adam yang sengaja ingin menggoda Iklima.


"Ayah tidak perlu, Iklima juga bisa sendiri," balas Iklima malu-malu.


"Khusus buat putri Ayah, harus di spesialkan." Ayah Adam memperlakukan Iklima bagaikan seorang putri raja.

__ADS_1


"Ah, Ayah bisa aja." Iklima terus-terusan dibuat tersenyum oleh ayahnya.


"Terima kasih, Ayah," ucap Iklima soraya masuk ke dalam mobil mewah milik ayahnya.


Ayah Adam hanya tersenyum simpul dan segera menutup pintu mobilnya, lalu berputar arah untuk mengemudikan mobil menuju rumah.


Di sepanjang jalan, Iklima hanya memandang kaca mobil yang ada di sampingnya. Merasa ada yang berbeda dari putrinya, lantas Ayah Adam menanyakan keadaannya.


"Iklima, baik-baik saja, kan?" tanya Ayah Adam yang masih fokus mengendarai mobil.


Tidak ada jawaban dari Iklima, dan hal itu membuat Ayah Adam yakin kalau putrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Coba cerita sama Ayah. Di sekolah tidak terjadi apa-apa, kan?" tanya kembali Ayah Adam.


Kali ini Iklima mendengarkan pertanyaan dari ayahnya, lantas ia pun menoleh kepada Ayah Adam.


"Tidak terjadi apa-apa, Yah," jawab Iklima sedikit malu, karena tidak menjawab pertanyaan Ayah Adam yang pertama.


"Lalu, kenapa melamun?"


"Lagi lihat pemandangan luar, hehe ...," jawab Iklima sembari tertawa kecil.


"Oh, kirain apa," ucap Ayah Adam dan kembali fokus mengendarai mobilnya, melewati jalanan yang sangat ramai, dengan kendaraan.


Dua puluh menit kemudian, mobil Ayah Adam sudah memasuki garasi rumah, dan di sambut hangat oleh Mama Nadira.


"Assalamualaikum," ucap salam Ayah Adam dan Iklima pada saat memasuki rumahnya yang kini sudah menjadi kebiasaan di rumah itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Nadira yang langsung mencium punggung tangan Ayah Adam, sembari mengambil alih tas yang ada di tangan suaminya.


"Mama, Iklima enggak di sambut juga?" tanya Iklima dengan bibir yang ditarik ke depan, seakan cemburu dengan perhatian yang diberikan mamanya kepada Ayah Adam.


"Eh, enggak kok sayang. Sini mau apa dulu? Biar Mama siapin, itu Mama sudah buat makanan. Mau makan dulu?" tanya Mama Nadira yang berbuat Iklima tertawa, bukanya senang.


"Haha ... Mama, Iklima becanda kok. Enggak papa, Ayah saja yang ditanya, Iklima cuma menggoda saja. Lihat wajah Ayah pasti sudah cemberut, karena lebih perhatian kepada Iklima," ujar Iklima yang membuat Mama Nadira menatap suaminya, dan benar saja. Ayah Adam memasang wajah masam.


Lantas, dengan begitu. Iklima dan Mama Nadira tertawa bersama-sama. Begitulah Ayah Adam jika sedang cemburu. Namun, semua itu membuat keluarga mereka terlihat sangat bahagia.


__ADS_1


__ADS_2