
..."Sejauh apa pun kamu pergi jika memang takdirmu adalah aku, maka akan kembali bertemu dan disatukan dalam ikatan yang dinamakan akad pernikahan."...
...~~~...
Satu hari dari kepergian Hadwan ke Amerika, Iklima tidak bisa menahan rasa penasarannya karena semenjak dari pembicaraan terakhirnya di hari wisuda Hadwan sampai sekarang, belum ada kabar satu pun darinya. Hadwan tidak sama sekali memberikan kabar dan menjumpai gadis itu, padahal gadis itu sangat mendambakannya.
Bertapa menderitanya gadis itu dengan rasa sakit yang kian menyelimuti hatinya. Sakit karena cintanya yang terlalu dalam dan dibuat hancur sehancur-hancurnya oleh penolakan. Harapan yang semakin hari Iklima rasakan, ternyata membuatnya semakin menderita. Berharap bisa bersama dan saling mencintai, tapi semua itu hancur di tengah jalan.
Akan tetapi, keyakinannya akan doa dan takdir yang sangat besar, sehingga mengalahkan kekecewaan dan sakit di dalam hatinya. Iklima meyakini bahwa akan ada saatnya dia dan Hadwan kembali bertemu dan entah kapan itu terjadi, tapi yang pasti. Ia sangat yakin akan itu.
Satu bulan lebih tak bertemu, membuat Iklima nekad menjumpai rumah yang ditempati oleh Hadwan dan kakaknya. Dengan keberanian yang ia miliki, Iklima sekarang sudah berada tepat di depan rumah Hadwan.
Terlihat rumah itu sangat sepi, tapi Iklima tetep mengetuk pintu rumah tersebut. Namun, setelah beberapa kali ketukan, tidak kunjung ada yang keluar dari dalam rumah itu, sehingga membuat Ikima menunggu sebentar. Beberapa menit dari situ, datang seorang wanita yang berpakaian muslimah dan terlihat sangat anggun.
Iklima menatapnya dengan sorotan mata yang berbinar, karena ia sangat senang dengan kedatangan wanita cantik itu yang tidak lain adalah Anisa, kakaknya Hadwan.
"Assalamu'alaikum. Loh, Iklima kamu ada di sini?" sapa Anisa pada gadis yang terbilang sangat cantik itu.
"Wa'alaikumsalam. Iya Kak, maaf ya enggak bilang lebih dulu kalau mau ke sini," jawab Iklima sembari menyelami tangan Anisa.
"Iya, tapi kamu sejak kapan berada di sini? Sudah lama ya? Maaf loh Kak Anisa tadi ke restoran dulu jadi di rumah enggak ada orang," ujar Anisa dengan tersenyum ramah pada Iklima.
Iklima mengerutkan keningnya heran. "Emangnya Hadwan ke mana? Ikut juga ya ke restoran?" tanya Iklima secara spontan.
"Enggak kok, dia sudah pergi ...." Belum sempat Anisa menyelesaikan perkataannya, sudah dipotong saja oleh Iklima.
__ADS_1
"Pergi ke mana, Kak?" tanya Iklima sangat penasaran.
Anisa tersenyum dan menjawab dengan sejujurnya, "Dia pergi ke Amerika kemarin."
"Hah, Amerika Kak? Kemarin?" Iklima terlihat sangat terkejut dan tidak menyangka.
"Iya, kemarin dia pergi. Ya jadi Kak Anisa tinggal sendiri sekarang di sini," jawab Anisa yang kelihatannya mulai kembali sedih, tapi dia sudah mulai iklhas.
"Buat apa Kak Hadwan pergi ke Amerika, Kak?" Gadis itu kembali bertanya kepada Anisa.
"Loh emangnya Hadwan enggak beri tahu kamu ya, bawa dia mau pergi melanjutkan pendidikannya ke Universitas Angkasa di Amerika?" ujar Anisa yang kini terlihat keheranan.
"Enggak Kak, Kak Hadwan enggak sama sekali memberi tahu Ikima soal ini. Bahkan Iklima baru tahu hari ini dari Kak Anisa, andai kalau aku tahu dari kemarin, mungkin Ikima bisa bertemu dengannya untuk terakhir kalinya, sebelum kepergiannya yang akan cukup lama," kata Iklima sedih dan sangat tidak menyangka bahwa semua akan terjadi secepat ini.
Anisa tersenyum dan langsung memeluk tubuh Iklima. "Jangan sedih ya, Hadwan juga tidak pergi tanpa meninggalkan kabar kok. Dia menitipkan sesuatu ke Kak Anisa untuk diberikan kepadamu," kata Anisa.
"Bentar ya, Kakak ambilkan dulu ke dalam." Anisa pun bergegas masuk ke dalam rumahnya dan mengambil kotak pemberian dari Hadwan untuk Ikima.
Tidak lama dari itu, Anisa pun kembali dengan membawa kotak tersebut, lalu memberikannya kepada Iklima. "Nah ini, kamu terima ya."
"Ini apa, Kak?" tanya Iklima sembari menerima kotak itu.
"Kak Anisa juga kurang tau, coba kamu buka sendiri. Biar enak juga, sambil duduk di kursi sebelah sana ya," ujar Anisa dan Iklima pun menyetujuinya.
"Iya Kak," jawab Iklima dan langsung duduk di kursi berdekatan dengan Anisa.
__ADS_1
"Mau Kak Anisa ambilkan minum buat kamu?" tanya Anisa dengan sangat ramah karena sudah terlalu dekat juga, sehingga tidak saling canggung lagi.
"Eh, enggak papa Kak. Kak Anisa di sini saja," ucap Iklima dengan tersenyum.
"Udah enggak papa, kamu duduk saja di sini. Kakak ambilkan dulu ke dalam," kata Anisa yang langsung diangguki oleh Ikima.
Ikima memandang kotak berbentuk segi empat itu. Terlihat sangat indah karena dihiasi dengan pernak-pernik yang berkilau, setra boneka kecil yang terlihat di dalamnya.
Perlahan tangan lentik itu membuka kotak tersebut dengan hati yang berdebar tidak karuan. Di dalamnya terlihat sebuah boneka beruang berwarna putih kecil dengan kalung pita di lehernya, serta kalung berbentuk love yang sangat indah. Tak lupa juga ada sepenggal surat yang terdapat di dalamnya.
"Ikima, ini minumnya ya," ucap Anisa yang tiba-tiba saja datang menghampirinya dengan membawa secangkir teh hangat untuknya.
"Iya Kak, terima kasih. Maaf jadi merepotkan Kak Anisa," kata Iklima sedikit malu.
"Iya enggak papa kok. Coba kamu lanjutkan lagi itu buka kotaknya," ujar Anisa yang kini sudah duduk di sampingnya..
"Iya Kak, sebentar ya." Iklima pun kembali membawa sepenggal kertas itu, lalu membukanya.
Bertapa indahnya tulisan yang tertera dan begitu banyaknya jumlah kata yang telah dituliskan oleh seorang laki-laki yang bernama Hadwan itu. Kata demi kata mulai Ikima baca dan tanpa melewatkan satu kata pun, karena gadis itu sangat mendalami makna dari setiap kata yang disampaikan oleh Hadwan. Di mana itu adalah sebuah ungkapan yang berasal dari hati pemuda itu.
Sampai pada penghujung kata, tertulis sebuah kata yang sangat membuat Iklima bahagia dan tersenyum seketika. Ternyata itu sebuah kata-kata yang membuat Ikima semakin yakin bahwa Hadwan akan kembali kepadanya.
Mungkin waktu itu aku menolakmu dan membuatmu terluka, tapi percayalah. Tidak ada gadis satu pun yang seberani dirimu, aku beruntung dicintai olehmu, tapi maaf cinta ini salah. Aku memutuskan untuk pergi ke Amerika dan melanjutkan pendidikanku di sana, bukan karena semata-mata aku menghindar darimu, tapi karena itu aku berusaha untuk menjadi yang terbaik dan bisa kembali bersanding denganmu.
Jangan bersedih karena jika aku takdirmu, maka sejauh apa pun aku pergi, seberapa banyak yang mendekati, dan sejauh apa jarak di antara kita. Tatap jika namamu yang tertulis di lauhul mahfudz sana, maka kamu lah yang akan bersanding di pelaminan bersamaku.
__ADS_1
~Hadwan Harsa Haryaka to Iklima Karomatun Nazwa~