Hadwan

Hadwan
Bab 12 : Meminta Maaf


__ADS_3

..."Memaafkan bukanlah sebuah hal yang rumit, melainkan sebuah penyesalan atas segala perbuatan. Namun, mengharapakan cinta darimu, bagaikan menanti jawaban yang kurang pasti."...


...~~~...


Setelah melihat Hadwan pergi dari mejanya, Iklima segera meminta izin untuk pergi ke toilet, karena ingin menemui Hadwan


"Maaf semuanya, Iklima izin ke belakang sebentar," ucap Iklima yang membuat kedua keluarga menatapnya.


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya," balas Mama Nadira yang dapat meredakan rasa risau Iklima.


"Iya, Ma." Iklima langsung pergi menuju ke arah dapur, tanpa diketahui oleh keluarganya.


Sesampai Iklima di dapur, kedua matanya memicingkan mencari sosok pemuda yang dicarinya. Namun, Iklima tidak menemukannya, dan hanya ada seorang perempuan dengan menggunakan hijab dan pakaian gamis, terlihat sedang menyiapkan makanan untuk para pengunjung.


Dengan keberaniannya, Iklima menghampiri wanita tersebut dan menanyakan Hadwan kepadanya.


"Maaf, permisi." Iklima mendekati wanita itu dan membuatnya berbalik menghadap pada dirinya.


"Kak, boleh tanya, kalau laki-laki yang tadi mengantarkan makanan, sekarang ada di mana?" tanya Iklima, nampak wanita itu menatap heran kepadanya.


"Maaf, sebelumya. Ada perlu apa dengannya?" Anisa tidak menjawab, melainkan kembali bertanya.


"Ada yang perlu aku katakan, Kak. Bolehkah saya bertemu dengannya?" Iklima sangat mengharapkan bisa bertemu dengan Hadwan.


"Sebentar, Kakak panggilkan dulu," ujar Anisa—kakak perempuan Hadwan.


"Baik, Kak. Terima kasih banyak," ucap Iklima sembari tersenyum gembira.

__ADS_1


"Sama-sama," balas Anisa dan tersenyum kepada Iklima.


Anisa berjalan meninggalkan Iklima sendiri, lalu pergi menemui Hadwan yang berada di tempat istirahat. Lantas, Anisa pun masuk ke dalam kamar tersebut, dan terlihatlah Hadwan yang sedang membaca Al-Qur'an dengan suara yang sangat merdu.


Tanpa menggangu adiknya, Anisa mendekati Hadwan dan duduk di sampingnya. Hadwan yang menyadari itu, segera menyelesaikan tadarusnya, lalu menyimpannya kembali kepada tempatnya.


"Dek, di depan ada yang nyariin kamu," ucap Anisa seketika membuat Hadwan langsung menatap wajah kakaknya dengan penuh pertanyaan.


"Siapa, Kak?" tanya Hadwan sembari merapihkan kembali penampilannya.


"Kakak tidak tahu, tapi dia seorang wanita," jawab Anisa dengan hati-hati. Dia juga tahu bahwa adiknya selama ini selalu menjaga diri, dan tidak pernah berpacaran, tapi baru kali ini ada seorang wanita yang mencari adiknya.


Hadwan terdiam, dia langsung berjalan keluar untuk menemui seseorang yang mencarinya itu. Lantas, Anisa pun mengikutinya dari belakang.


Setelah menunggu, Iklima akhirnya bisa bertemu dengan Hadwan.


Hadwan berjalan menghampiri Iklima, gadis itu nampak sangat senang melihat kedatangannya.


"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan," jawab Hadwan, sedangkan Anisa hanya menatap adiknya dengan heran.


Iklima terdiam, dia melihat Anisa yang masih berada di sana, sehingga membuatnya merasa tidak enak jika berbicara dengan adanya Anisa.


"Bolehkah kita membicarakannya berdua saja?" tanya Iklima dengan tertunduk, takut menyinggung hati Anisa.


"Maaf, saya tidak bisa." Hadwan hendak pergi meninggalkan Iklima. Namun, hal itu dihadang langsung oleh Iklima.


"Tinggu! Baik, aku akan mengatakannya sekarang," ucap Iklima, sehingga membuat Hadwan kembali menghadap kepadanya.

__ADS_1


"Katakanlah, apa yang ingin kamu bicarakan," ujar Hadwan dengan nada suara yang masih datar.


Iklima menghembuskan napasnya dalam, dan langsung mengatakan apa yang ingin disampaikannya, "Hadwan, aku ingin meminta maaf atas kejadian kemarin yang tanpa aku sadari, semua itu merupakan perbuatan yang tidak baik. Maka dari itu, aku sangat bersalah, dan memohon maaf sebesar-besarnya kepadamu."


"Saya sudah memaafkanmu," jawab Hadwan dan spontan membuat Iklima menetap wajah laki-laki yang berada di hadapannya.


"Be--benarkah itu?" tanya Iklima dengan tidak percaya, ia bisa semudah itu mendapatkan maaf dari Hadwan.


"Apa perlu saya ulangi lagi?" tanya Hadwan pada Iklima dengan serius.


"Jangan!" Iklima menggelengkan kepalanya, dan kembali berucap, "Terima kasih sudah memaafkanku."


Hadwan hanya menganggukkan kepalanya saja, dan kembali melanyani para tamu restoran.


Setelah kepergian Hadwan, Anisa sengaja mendekati Iklima yang masih terdiam di tempatnya.


"Maafkan Adik saya ya. Dia memang seperti itu," ucap Anisa sembari mengelus lembut pundak Iklima.


Anisa rasa, Iklima merupakan anak yang baik, cuman belum berhijab saja. Dan ia lihat dari kedua bola mata gadis itu, ada sebuah rasa penyesalan yang sangat besar, itu membuat Anisa sangat yakin, kalau ada yang terjadi di antara adiknya dan gadis cantik tersebut.


"Jangan gitu, Kak. Seharusnya aku yang minta maaf sama Kakak dan Hadwan, karena telah membuatnya tersinggung," balas Iklima sembari menatap Anisa.


Iklima baru mengetahui bahwa Anisa itu kakaknya Hadwan, sehingga membuatnya semakin tidak enak. Apalagi setelah melihat Hadwan, ia semakin tidak karuan.


"Tidak papa, nanti Kakak coba tanya sama Hadwan. Jangan sedih ya, besok pasti dia enggak akan marah lagi," kata Anisa sehingga membuat Iklima mengembangkan senyuman indahnya.


"Terima kasih banyak, Kak. Maaf merepotkan, biar aku saja nanti yang selesakan masalahnya," ujar Iklima sembari tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu, Iklima kembali menghampiri meja keluarganya yang masih berada di restoran tersebut.



__ADS_2